NovelToon NovelToon
Terjebak Di Kamar Presdir Kejam

Terjebak Di Kamar Presdir Kejam

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mafia / CEO
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Maya sabir

Milly, seorang pelayan hotel yang polos dan akan berubah menjadi mimpi buruk. Saat membersihkan Penthouse mewah milik Arkananta Mahendra presdir muda yang terkenal kejam, perfeksionis, dan tak tersentuh ia justru menemukan sang Presdir tergeletak tak berdaya akibat racun, tepat di bawah ranjangnya.
Sialnya, Milly memegang gelas beracun itu tepat saat pengawal masuk. Dituduh sebagai pembunuh bayaran, Milly disekap oleh Arkan yang selamat dari masa kritis. Namun, alih-alih menyerahkannya ke polisi, Arkan yang paranoid terhadap musuh bisnisnya justru memanfaatkan kecerobohan Milly.
"Kau punya dua pilihan, Gadis Ceroboh. Membusuk di penjara atas tuduhan pembunuhan, atau menjadi istri kontrakku untuk memancing musuhku keluar."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya sabir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 24

Satu minggu berlalu bagai kedipan mata. Hari yang dinanti atau lebih tepatnya, medan perang yang dijanjikan .akhirnya tiba.

Kamar utama mansion Mahendra dipenuhi oleh para penata rias dan perancang busana yang dikirim langsung atas perintah Arkan. Di sudut ruangan, sebuah gaun malam mahakarya desainer Milan berbahan beludru hitam pekat dengan aksen berlian mikro di bagian kerah tergantung anggun. Gaun itu tidak berlebihan, namun memancarkan kelas dan kemewahan yang sunyi sangat kontras dengan gaun-gaun penuh payet yang biasa disukai sosialita baru.

Saat Milly keluar dari ruang ganti, seluruh ruangan mendadak hening.

Kacamata bulatnya yang biasa melorot kini digantikan oleh lensa kontak jernih, membingkai sepasang matanya yang bulat dan tegas. Rambutnya disanggul modern dengan menyisakan beberapa helai lembut di sisi wajahnya. Gaun itu melekat sempurna di tubuhnya, memperlihatkan hasil latihan punggung tegak bersama Madam Evelyn selama seminggu penuh.

"Luar biasa..." gumam sang penata rias tanpa sadar. Gadis panti yang ceroboh itu kini benar-benar bertransformasi menjadi seorang bangsawan muda yang memikat.

Pintu kamar terbuka, menampakkan Arkan yang sudah mengenakan tuksedo hitam formal. Langkah kaki pria itu mendadak terhenti di ambang pintu. Sepasang mata elangnya menatap Milly dari atas ke bawah tanpa berkedip. Ada kilat kekaguman yang begitu pekat yang tak bisa ia sembunyikan.

Milly yang ditatap seperti itu mendadak merasa canggung. Jiwa aslinya kembali bergejolak. Ia memajukan bibirnya sedikit. "Bagaimana, Pak Suami? Apa saya terlihat seperti orang yang salah kostum?"

Arkan berdeham pelan, berusaha menguasai kembali ekspresi dinginnya meski jantungnya sempat berdesir hebat. Ia berjalan mendekat, lalu mengulurkan lengannya yang kokoh. "Kamu terlihat... siap untuk merubuhkan keangkuhan mereka, Nyonya Mahendra. Mari kita pergi."

Ballroom hotel bintang lima tempat perjamuan amal Mahendra Foundation digelar sudah dipadati oleh ratusan tamu dari kalangan jetset, pejabat tinggi, dan sorotan lampu kamera jurnalis. Gelas-gelas kristal berisi sampanye berdenting di mana-mana, diiringi obrolan bernada tinggi tentang saham, aset, dan gosip terbaru.

Di salah satu sudut utama, Sofia Mahendra dan Nenek Ambar berdiri bersama Clarissa Gunarto yang malam itu tampil memukau dengan gaun sutra merah menyala.

"Apakah anak itu benar-benar berani datang?" desis Sofia sambil mengedarkan pandangannya ke pintu masuk. "Tante harap dia tidak memakai kemeja flanelnya ke sini."

Clarissa tersenyum anggun, memegang segelas minuman dengan jari lentiknya. "Tenang saja, Tante. Datang atau tidak, malam ini posisinya di samping Arkan akan selesai. Saya sudah memastikan semuanya berjalan sesuai rencana."

Tepat pada saat itu, bisikan-bisikan di dalam ballroom mendadak mereda. Fokus semua orang, termasuk puluhan kamera wartawan, serentak beralih ke arah pintu masuk utama yang baru saja dibuka lebar.

Arkananta Mahendra melangkah masuk. Namun, yang membuat seluruh ruangan menahan napas adalah sosok wanita yang berjalan dengan anggun di sampingnya, jemari mungilnya tersampir dengan begitu tenang di lengan sang Presdir. Langkah kakinya di atas heels 9 cm terasa begitu mantap, punggungnya tegak lurus, dan senyum tipis di wajah cantiknya memancarkan aura percaya diri yang tak tergoyahkan.

"Siapa wanita di sebelah Arkan? Cantik sekali," bisik salah seorang istri komisaris di dekat Sofia.

"Bukannya itu gadis panti yang digosipkan?" sahut yang lain dengan nada tak percaya.

Wajah Sofia dan Nenek Ambar seketika menegang, sementara gelas di genggaman Clarissa bergetar halus. Senyum di wajah Clarissa lenyap dalam sekejap, digantikan oleh rasa tak percaya yang bercampur dengan kedengkian yang membakar dada. Gadis panti yang seminggu lalu terlihat berantakan dan bodoh, kini berjalan di karpet merah dengan keanggunan yang bahkan menyaingi para putri konglomerat lama.

Arkan membawa Milly langsung menuju meja utama, tempat Sofia, Nenek Ambar, dan Clarissa duduk. Atmosfer di meja itu seketika mendingin hingga ke titik beku saat pasutri baru itu mendudukkan diri.

"Selamat malam, Eyang, Ibu," ucap Arkan datar, tanpa riak emosi.

Milly mengangguk hormat dengan gerakan kepala yang diukur sempurna persis seperti standar etiket tertinggi yang diajarkan Madam Evelyn. "Selamat malam, Tante Sofia, Eyang Ambar. Senang bisa melihat Anda berdua dalam kondisi sehat malam ini."

Nenek Ambar mengetukkan jarinya di meja, matanya menatap tajam. "Kamu rupanya bisa menyewa penata rias yang baik, Milly. Tapi ingat, gaun mahal tidak bisa menyembunyikan asal-usul seseorang."

Clarissa yang ingin segera memicu rencana jahatnya, memberi isyarat halus dengan lirikan matanya kepada seorang pelayan pria yang sedang membawa nampan berisi jus anggur merah pekat di belakang kursi Milly.

Pelayan itu mengangguk samar, melangkah mendekat ke arah Milly dengan berpura-pura tersandung kaki kursi. "Ah maaf, Nyonya!" seru pelayan itu sengaja, memiringkan nampannya tepat di atas bahu Milly agar cairan merah itu menumpah dan menghancurkan gaun beludru hitamnya sebelum sesi lelang dimulai.

Namun, Clarissa meremehkan satu hal. Milly bukanlah sosialita manja yang lambat bereaksi. Hidup bertahun-tahun di panti asuhan mengurus anak-anak yang hobi melempar barang membuat refleks tubuh Milly sangat cepat dan taktis.

Sebelum setetes pun cairan merah itu menyentuh gaunnya, Milly dengan gerakan memutar yang halus dan cepat langsung menangkap tepi nampan besi tersebut dengan tangan kirinya, menyeimbangkannya kembali hanya dalam waktu satu detik dengan kekuatan yang mengejutkan. Sementara tangan kanannya dengan tenang mengambil selembar tisu kain di atas meja.

Kejadian itu berlangsung begitu cepat hingga para tamu di sekitar mereka terkesima.

Milly berdiri dengan anggun, menatap pelayan yang kini gemetar ketakutan karena gagal menjalankan tugas dari Clarissa. Dengan senyum manis yang sangat tenang, Milly mengusap sedikit bercak air yang hampir menetes di tepi nampan.

"Hati-hati, Mas," ucap Milly lembut namun suaranya terdengar jelas oleh semua orang di meja utama. "Lantai marmer ini memang agak licin untuk mereka yang berjalan dengan... maksud tersembunyi. Sayang sekali kalau minuman mahal ini harus kotor, bukan begitu, Clarissa?"

Milly membalikkan pandangannya, menatap lurus ke arah Clarissa dengan kilat mata yang menusuk tajam, membuat Clarissa membeku di tempatnya dengan wajah yang mulai kehilangan warna. Ujian pertama baru saja dimulai, dan Milly baru saja membalikkan keadaan dengan telak.

Suasana di meja utama mendadak menjadi begitu kaku hingga rasanya selembar tisu pun bisa memicu ledakan. Clarissa mengepalkan kedua tangannya di bawah meja, berusaha keras menjaga senyum palsunya agar tidak retak di depan sorotan kamera yang sesekali mengarah ke meja mereka.

Sofia Mahendra buru-buru berdeham, mencoba mengalihkan perhatian sebelum kepanikan Clarissa semakin terlihat jelas. "Sudahlah, itu hanya kecerobohan pelayan baru. Jangan membesar-besarkan masalah sepele, Milly. Perjamuan ini diadakan untuk amal, bukan untuk pamer ketangkasan."

Milly kembali duduk dengan keanggunan yang sempurna, melirik Arkan sekilas melalui sudut matanya. Di sampingnya, Arkan menaikkan sudut bibirnya tipis, sangat tipis hingga hampir tak terlihat, namun Milly tahu itu adalah bentuk apresiasi tertinggi dari sang "Pak Suami".

"Tentu saja, Tante Sofia," jawab Milly manis, menyandarkan punggungnya dengan santai. "Mari kita fokus pada esensi acara malam ini."

Nenek Ambar hanya mendengus dingin, sementara Clarissa buru-buru meminum air putihnya untuk membasahi tenggorokannya yang mendadak kering. Namun, kilat kekalahan di mata Clarissa segera berganti menjadi binar kelicikan yang baru. Rencana pertama memang gagal karena ketangkasan fisik Milly yang di luar dugaan, tetapi rencana kedua tidak akan bisa dihindari dengan refleks tubuh.

Sesi lelang akan segera dimulai, Milly. Kita lihat bagaimana otak pantimu itu mengenali barang antik bernilai miliaran,* batin Clarissa penuh racun.

Tak lama kemudian, pembawa acara di atas panggung utama mengumumkan bahwa sesi lelang amal Mahendra Foundation resmi dibuka. Sesuai dengan tradisi tahunan, sebagai istri dari pimpinan tertinggi Mahendra Group, Nyonya Besar yang baru bertugas untuk membuka lelang barang pertama sekaligus membacakan deskripsi nilai sejarahnya di atas podium.

"Dan sekarang, mari kita sambut Nyonya Millyanita Mahendra untuk memandu lelang benda bersejarah pertama malam ini!" seru pembawa acara, disambut tepuk tangan riuh dari seluruh penjuru ballroom.

Sebelum Milly bangkit dari kursinya, seorang pelayan senior orang dalam yang sudah dibayar mahal oleh Clarissa berjalan mendekat dan menyerahkan sebuah gawai tablet serta map kulit berisi lembar panduan lelang ke atas meja Milly.

"Ini berkas panduan Anda, Nyonya muda," ucap pelayan itu dengan kepala tertunduk, lalu segera mundur dengan cepat.

Milly menerima map tersebut, tidak menyadari bahwa lembar deskripsi di dalamnya telah ditukar oleh Clarissa. Barang asli yang seharusnya dilelang adalah sebuah lukisan cat minyak abad ke-19 karya pelukis legendaris Eropa bernilai jutaan dolar, namun deskripsi yang diselipkan Clarissa adalah deskripsi untuk replika lukisan pasar seni lokal yang harganya tidak lebih dari beberapa ratus ribu rupiah.

Arkan berdiri, mengulurkan tangannya untuk membantu Milly bangkit. "Jangan tegang. Cukup baca apa yang tertulis di sana," bisik Arkan lembut di dekat telinga Milly.

"Siap, Pak Suami," jawab Milly dengan senyum kecil penuh percaya diri.

Dengan langkah yang anggun dan berwibawa, Milly berjalan membelah kerumunan tamu menuju atas panggung. Sorot lampu sorot mengikutinya, mempertegas kilau berlian mikro di kerah gaun beludru hitamnya. Ketika ia berdiri di balik podium, seratus pasang mata kelas atas Jakarta menatapnya dengan berbagai spekulasi.

Clarissa yang duduk di meja utama menegakkan punggungnya, matanya berbinar penuh kemenangan yang tertunda. Ia sudah tidak sabar mendengar Milly mempermalukan dirinya sendiri di depan para kolektor internasional dengan menyebutkan nominal dan sejarah yang salah..

Milly membuka map kulit di hadapannya. Begitu matanya membaca baris pertama deskripsi yang tertulis di kertas itu, ia langsung menyadari ada sesuatu yang tidak beres.

Sebagai gadis yang terbiasa hidup teliti dalam mengelola anggaran panti asuhan dan sering membaca berbagai buku di perpustakaan lama, otaknya mendadak menangkap kejanggalan besar. Di atas panggung, sebuah lukisan megah berbingkai emas murni yang memancarkan aura klasik eropa dipajang dengan jelas, namun teks di tangannya justru menjelaskan tentang "Lukisan Replika Cat Air Kanvas Lokal dengan Estimasi Harga Lima Ratus Ribu Rupiah."

Milly melirik ke arah meja utama. Di sana, Clarissa sedang menatapnya dengan senyum penuh kemenangan yang tertahan, sementara Sofia tampak bersedekap dada menanti kehancurannya.

Milly menarik napas pendek. Jiwa keras kepala dan taktisnya seketika mengambil alih. Ia tidak meletakkan kertas itu, melainkan menutup map kulit tersebut dengan hentakan pelan yang tegas, lalu menatap lurus ke arah ratusan tamu tanpa selembar panduan pun.

"Selamat malam, para hadirin yang terhormat," suara Milly menggema melalui mikrofon, terdengar begitu jernih, tenang, dan penuh wibawa. "Sebelum kita memulai penawaran untuk mahakarya luar biasa di samping saya ini, saya ingin menyampaikan sebuah kejutan kecil."

Seluruh isi ballroom mendadak senyap, tertarik oleh intonasi suara Milly yang begitu memikat.

Milly berjalan beberapa langkah menjauh dari podium, mendekati lukisan besar tersebut dengan gestur seorang kurator seni yang berpengalaman. "Seseorang yang tampaknya sangat... 'peduli' dengan debut saya malam ini, telah dengan sengaja menukar teks panduan saya dengan deskripsi sebuah lukisan replika murah."

Bisik-bisik langsung pecah di antara para tamu. Wajah Clarissa di bawah panggung seketika membeku.

Milly tersenyum sangat manis, menatap lurus ke arah meja utama. "Namun, mereka lupa satu hal. Menjadi bagian dari keluarga Mahendra berarti harus menghargai nilai seni yang sesungguhnya. Lukisan di hadapan Anda ini adalah 'The Silent Evening' karya pelukis master Prancis abad ke-19. Kanvasnya memiliki serat gandum ganda yang khas, dan guratan kuasnya menggunakan teknik impasto murni yang tidak akan pernah bisa ditiru oleh replika murah seharga lima ratus ribu rupiah."

Arkan yang duduk di bawah panggung langsung menyandarkan punggungnya, menatap istrinya dengan binar mata yang luar biasa bangga. Milly tidak hanya menghindar dari jebakan, dia sedang menguliti si pelaku di depan umum.

"Oleh karena itu," lanjut Milly dengan nada suara yang naik satu oktav, memancarkan kepemimpinan mutlak seorang Nyonya muda Mahendra. "Kita akan membuka lelang malam ini bukan berdasarkan kertas palsu yang diselipkan di meja saya, melainkan berdasarkan nilai kehormatan yang asli. Lelang dibuka pada angka dua puluh miliar rupiah. Silakan."

Tepuk tangan bergemuruh hebat di dalam ballroom, mengalahkan rasa syok para tamu atas keberanian dan kecerdasan Nyonya Mahendra yang baru. Sementara itu, di meja utama, Clarissa Gunarto merasakan seluruh tubuhnya bergetar hebat karena malu dan murka. Rencananya hancur berantakan, dan malam ini, Milly baru saja menancapkan taringnya sebagai permaisuri singa yang takkan bisa mereka jatuhkan lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!