NovelToon NovelToon
KUTUKAN DARAH SABTU KLIWON Puncak Teror Siluman Ular Kalingga

KUTUKAN DARAH SABTU KLIWON Puncak Teror Siluman Ular Kalingga

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Balas Dendam / Fantasi
Popularitas:711
Nilai: 5
Nama Author: Tina Martince

Sinopsis: Kutukan Darah Sabtu Kliwon

"Setiap Sabtu Kliwon, tubuhku mengeluarkan bau kematian—dan makhluk itu datang menjemputku."

Sekar gadis biasa, memiliki kutukan turun-temurun. Setiap malam Sabtu Kliwon, tubuhnya mengeluarkan aroma bunga kenanga dan tanah kuburan—panggilan bagi makhluk ular purba bernama Kalingga. Makhluk itu mengklaim Sekar sebagai permaisuri dan tidak akan berhenti sampai ia menyerahkan jiwa dan raganya.

Siapa pun yang mencoba melindungi Sekar akan mati mengenaskan.

Namun Sekar tidak mau menyerah. Dengan bantuan Bintang, seorang praktisi spiritual pemberani, dan Gani, pemuda kota yang nekat mempertaruhkan nyawanya demi cinta, Sekar berjuang melawan kutukan yang membelenggunya. Perlahan, kulit Sekar mulai bersisik, jiwanya digerogoti kegelapan, dan waktu terus berjalan menuju malam penentuan.

Pertarungan terakhir terjadi di Istana Sisik Hitam—tempat semua kutukan berawal. Di sana, Sekar harus memilih antara menjadi manusia atau menjadi ratu ular selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Martince, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18: Teror di Rumah Bintang

Malam itu, kegelapan tidak sekadar turun menggantikan siang; ia merayap seumpama cairan hitam yang kental, menyumbat setiap pori-pori udara di sekitar kediaman Bintang. Setelah melarikan Sekar kembali ke rumah Rahayu dalam kondisi pingsan yang kritis, Bintang pulang ke rumahnya sendiri dengan tubuh yang remak. Dada pemuda itu masih terasa seumpama dihantam palu godam, dan setiap kali dia mencoba menarik napas dalam, rasa anyir darah segar kembali naik ke pangkal tenggorokannya.

Rumah Bintang adalah sebuah bangunan lawas bergaya limasan yang dikelilingi oleh kebun pekarangan yang cukup luas. Di sana tumbuh pohon mangga, rumpun bambu kuning, dan puluhan pot tanaman hias milik ibunya. Biasanya, tempat itu mengalirkan hawa tenang yang meneduhkan jiwa. Namun, begitu jarum jam dinding melompati angka sebelas malam, keheningan yang janggal mendadak mengunci seluruh perimeter pekarangan tersebut.

Suara jangkrik yang biasanya bersahut-sahutan di sela-sela rumput mendadak senyap total. Katak-katak pohon yang biasa bernyanyi menyambut sisa gerimis sore tadi seolah-olah lenyap ditelan bumi. Sunyi yang tercipta bukan sunyi yang damai, melainkan jenis keheningan mati yang biasa terjadi tepat sebelum sebilah pisau algojo diturunkan ke leher korbannya.

Bintang duduk di tepi ranjang kamarnya yang temaram, hanya diterangi oleh sebuah lampu minyak kecil yang berada di sudut ruangan. Dia bertelanjang dada, memperlihatkan gumpalan lebam kehitaman yang melingkari seluruh tulang rusuknya—bekas hantaman ekor energi ghaib Kalingga di pelataran masjid beberapa jam yang lalu. Dengan jemari yang gemetar, dia mengoleskan minyak zaitun yang telah dirajah ayat-ayat syifa ke atas kulitnya yang membiru.

Sreeet... sss...

Tiba-tiba, telinga batin Bintang menangkap suara dengungan frekuensi tinggi yang teramat tipis namun tajam. Suara itu mirip seperti gesekan logam kuno yang ditarik di atas batu nisan. Bersamaan dengan itu, bulu kuduk di sekujur tubuh Bintang berdiri tegak dengan kekakuan yang belum pernah dia rasakan selama melakukan laku tirakat di lereng Gunung Lawu.

Hawa dingin yang ekstrem, sejenis hawa sedingin es yang bercampur dengan uap kuburan, mendadak berembus masuk menembus sela-sela ventilasi kayu kamarnya. Udara di dalam ruangan itu mendadak mengental. Saking padatnya tekanan udara baru tersebut, api di dalam lampu minyak kecil yang berada di sudut ruangan mendadak mengecil, memucat menjadi warna hijau neon yang ganjil sebelum akhirnya padam sepenuhnya.

Bintang menghentikan gerakan tangannya. Matanya membelalak dalam kegelapan yang pekat.

BRAAAKKK!

Sebuah hantaman raksasa yang teramat berat mendadak menghantam bagian tengah atap rumah limasan itu. Guncangannya begitu masif, membuat seluruh fondasi tiang kayu bangunan tua tersebut bergetar hebat. Beberapa potong reng dan usuk kayu terdengar berderak patah di atas plafon, disusul rontoknya debu dan semen putih yang jatuh menyebar ke atas lantai kamar Bintang seumpama abu jenazah.

Bintang spontan melompat dari ranjang, memasang kuda-kuda sembari mencengkeram erat sisa butiran tasbih gaharu yang kini digenggamnya di telapak tangan kanan.

Hantaman itu bukan berasal dari benda mati. Bintang bisa mendengarnya dengan sangat jelas; sebuah beban hidup yang teramat besar—bobot yang setara dengan bobot puluhan ton daging—kini sedang merayap perlahan di atas genteng rumahnya.

Sreeet... kreteek... sreeet...

Suara gesekan kasar itu terdengar ritmis dan mengerikan. Itu adalah suara gesekan jutaan sisik tebal yang keras, memotong permukaan genteng tanah liat satu per satu saat mahluk itu meliukkan tubuh raksasanya di atas atap. Beban itu bergerak dinamis, memutar mengelilingi struktur atap rumah seolah-olah sedang merajut simpul jerat yang siap meremukkan seluruh bangunan dalam sekali rontokan.

Kalingga telah datang. Dia tidak mengutus jin suruhan atau dedemit rendahan; sang penguasa kegelapan bumi itu sendiri yang menggeser sepotong dimensinya untuk mengeksekusi manusia yang telah lancang mencampuri urusan ranjang ghaibnya.

"Laa hawla wa laa quwwata illa billahil 'aliyyil 'adzim!" teriak Bintang, suaranya menggelegar membelah kegelapan kamar. Dia mulai merapal ayat-ayat penjaga dengan intonasi yang keras dan penuh penekanan spiritual, mencoba membangun benteng pertahanan ghaib dari dalam kamarnya.

Namun, balasan dari luar terdengar jauh lebih mengintimidasi.

Dari atas kamar yang berderit, terdengar suara desisan ganda yang teramat nyaring dan panjang, menggema langsung ke dalam gendang telinga dan pangkal otak Bintang hingga membuat kepalanya mendadak pening luar biasa. Desisan itu seolah-olah mengandung jutaan racun saraf ghaib yang merontokkan konsentrasi hafalan ayat di dalam benak Bintang.

Di tengah siksaan suara desisan itu, hidung Bintang mendadak menangkap aroma baru yang menyeruak masuk secara paksa. Aroma itu bukan lagi wangi bunga sedap malam atau cendana mewah milik Sekar, melainkan bau anyir bangkai reptil yang membusuk, bercampur dengan uap belerang yang sangat tajam dan menyengat dada. Bau itu begitu korosif hingga membuat mata Bintang terasa perih membakar dan air matanya mengalir deras tanpa bisa ditahan.

Tuk... Tuk... Tuk...

Sebuah suara tetesan cairan terdengar jatuh dari sela-sela kayu kamar yang retak. Tetesan itu jatuh tepat di atas lantai tegel semen di hadapan Bintang.

Bintang menundukkan kepala, memfokuskan pandangannya dalam keremangan ghaib. Begitu cairan kental berwarna hijau tua kehitaman itu menyentuh permukaan lantai tegel, sebuah fenomena mengerikan terjadi. Cairan itu berdesis keras, mengeluarkan asap putih yang berbau asam yang teramat pekat.

Cesssss!

Lantai tegel semen yang keras itu mendadak meleleh, berlubang dan hancur terkorosi secara instan seumpama disiram oleh cairan asam pekat tingkat tinggi. Itu adalah muntahan bisa ular Kalingga—sebuah manifestasi energi kutukan yang materi ghaibnya mampu merusak realitas fisik di dunia fana. Jika tetesan itu mengenai kulit manusia, daging dan tulang di bawahnya dipastikan akan mencair menjadi bubur dalam hitungan detik.

Tetesan itu kian bertambah banyak, jatuh dari berbagai sudut seumpama rintik hujan maut yang siap menenggelamkan Bintang di dalam kamarnya sendiri.

"KAU TELAH MENGUSIK PERMAISURIKU, MANUSIA CACAT!"

Sebuah suara bariton yang teramat berat, berwibawa, namun sedingin es kutub mendadak bergaung langsung di dalam rongga kepala Bintang. Suara itu tidak merambat melalui udara, melainkan getaran pikiran murni yang dikirimkan oleh sang siluman ular untuk meremukkan kewarasan sang pemuda. "NYAWA HARUS DIBAYAR NYAWA, DAN MALAM INI AKU AKAN MEMBAWA JIWAMU UNTUK MENJADI PUPUK DI DASAR SENDANGKU!"

Dinding-dinding kayu limasan itu mulai mengerang kaku, melengkung di bawah tekanan tak kasat mata yang kian menghimpit dari segala penjuru. Bintang terdesak ke sudut ruangan, melompat mundur demi menghindari genangan bisa ghaib yang kian melebar di atas lantai tegelnya. Cairan hijau pekat itu terus mendidih, mengikis semen dan memakan fondasi lantai hingga mengeluarkan asap putih beracun yang menyesakkan dada.

Napas Bintang memburu kencang. Ia tahu, jika ia terus menghirup uap korosif ini, paru-parunya akan melepuh dari dalam.

"Yaa Hayyu Yaa Qayyum, bi rahmatika astaghiits..." Bintang merapal asmaul husna dengan sisa kesadaran yang kian menipis. Kedua lututnya bergetar hebat. Rasa sakit dari luka lebam di dadanya seakan dipicu kembali oleh hawa terkutuk Kalingga, membuat jantungnya berdegup dalam ritme yang abnormal.

KRAAAKKK! CHUUT!

Satu bagian di sudut kamar runtuh total. Dari celah kegelapan jebolnya atap plafon sekaligus hancurnya genteng tanah liat di atasnya, memperlihatkan yang terbuka, tidak ada genteng yang terlihat, melainkan gulungan kulit bersisik emas kelabu yang luar biasa besar, bergerak meliuk lambat tepat di atas kepala Bintang. Ukuran tubuh ular ghaib itu begitu masif hingga satu lekukannya saja mampu menutup seluruh ruang ventilasi. Sepasang mata emas sebesar tampah melongok turun dari sela kayu yang patah, menatap Bintang dengan tatapan predator yang mutlak dan tak tersentuh oleh ampunan.

Bersamaan dengan tatapan itu, hawa dingin yang luar biasa ekstrem melesat menghantam tubuh Bintang. Sang pemuda langsung jatuh berlutut, lumpuh total. Seluruh ototnya kaku seumpama membeku menjadi es, sementara darah segar kembali merembes keluar dari hidung dan sela-sela pori-pori kulit dahinya.

Teror itu tidak hanya mengunci kamar Bintang, melainkan meluas ke seluruh area pekarangan rumah dalam hitungan menit.

Di luar rumah, proses pembusukan massal sedang terjadi secara instan. Energi ghaib Kalingga yang bermuatan racun bumi tingkat tinggi memancar dari atap rumah, luruh ke bawah seumpama kabut tebal yang membakar kehidupan. Rumpun bambu kuning yang biasanya berdiri kokoh meneduhi sisi kiri rumah mendadak menguning pucat, batangnya mengering dan retak-retak mengeluarkan lendir hitam yang berbau busuk.

Pohon mangga tua yang sedang berbuah lebat di dekat pagar luar mengalami nasib yang lebih mengerikan. Daun-daun hijaunya menggulung kaku, berubah hitam legam seolah-olah baru saja dilewati oleh semburan api neraka, lalu rontok massal menutupi tanah. Puluhan pot tanaman hias milik ibunya yang tertata rapi di teras depan layu serempak; batangnya melunak, membusuk menjadi bubur organik berwarna cokelat pekat dalam hitungan detik.

Kehidupan di sekitar rumah Bintang seolah diekstrak paksa oleh kehadiran sang penguasa sendang. Tanah pekarangan yang subur mendadak pecah-pecah, mengeluarkan uap panas bercampur bau anyir bangkai yang menandakan bahwa tempat itu telah dikutuk dan ditandai oleh Kalingga sebagai wilayah eksekusi.

Bintang yang berada di dalam kamar bisa merasakan matinya energi alam di sekitarnya. Benteng pertahanan ghaib yang ia bangun dengan ayat-ayat suci perlahan retak, terkikis oleh absolutnya kekuatan sang siluman ular purba.

"KAU HANYALAH SEBUTIR DEBU DI ATAS TANAHKU, MANUSIA BODOH," gema suara Kalingga kembali merobek isi kepala Bintang, membuat pemuda itu mengerang kesakitan sembari memegangi kedua telinganya yang mulai mengeluarkan darah. "JANGAN PERNAH KAU DEKATI LAGI PENGANTINKU, ATAU SELURUH DARAH KETURUNANMU AKAN KUJADIKAN ALIRAN RACUN DI DASAR BUMI!"

Di ambang batas kesadarannya, tepat sebelum matanya tertutup oleh kelelahan spiritual yang ekstrem, Bintang menolak untuk menyerahkan jiwanya pada ketakutan. Ia tahu, ketakutan adalah makanan utama bagi entitas seperti Kalingga untuk meruntuhkan iman manusia.

Dengan sisa kekuatan terakhirnya, Bintang menghantamkan telapak tangan kanannya yang masih menggenggam sisa butiran tasbih ke atas tanah di sela-sela tegel yang belum hancur. Ia tidak lagi merapal ayat pengusir, melainkan sebuah doa pasrah yang berserah penuh pada pemilik kehidupan mutlak.

"Yaa Allah... jika malam ini adalah akhir dari duniaku... jangan biarkan jiwa ini tunduk pada mahluk terkutuk ini..." bisik Bintang, parau dan dalam.

WUUUUUSHHH!

Sebuah kilatan energi putih tipis—sejenis pendaran ghaib yang murni dari ketulusan laku tirakatnya selama bertahun-tahun di Gunung Lawu—memancar keluar dari telapak tangan Bintang, membentuk lingkaran pelindung kecil radius satu meter yang menahan tetesan bisa korosif di atas kepalanya. Pendaran itu tidak mampu mengalahkan Kalingga, namun cukup untuk membuktikan bahwa roh Bintang menolak untuk takluk.

Melihat perlawanan batin yang begitu keras dan murni dari sang pemuda, Kalingga mengeluarkan desisan panjang yang sarat akan kejengkelan ghaib. Sang siluman ular tampaknya enggan menghabiskan energinya lebih banyak hanya untuk membunuh satu manusia keras kepala di luar wilayah sendangnya, terutama karena tujuannya malam ini sudah tercapai: memberikan peringatan berdarah yang tak akan pernah dilupakan oleh Bintang sepanjang hidupnya.

Perlahan, beban puluhan ton di atas atap rumah mulai bergeser menjauh. Suara gesekan sisik emas itu terdengar merayap turun dari genteng, menuju ke arah kebun yang telah mati membusuk, sebelum akhirnya lenyap sepenuhnya bersamaan dengan kembalinya suara angin malam yang normal.

Saat fajar menyingsing di ufuk timur, suasana di kediaman Bintang tampak seumpama wilayah yang baru saja dihantam bom kimia.

Kamar Bintang hancur berantakan; atapnya berlubang besar, dan lantainya dipenuhi lubang-lubang hitam akibat kikisan bisa ular yang kini telah mengering menjadi kerak belerang yang keras. Bintang terkapar pingsan di sudut ruangan dengan tubuh dipenuhi noda darah kering dan debu plafon, namun napasnya masih berembus teratur. Dia berhasil bertahan hidup dari malam eksekusi ghaib sang raja ular.

Namun, harga yang harus dibayar terlalu mahal. Ketika ibunya terbangun dan membuka pintu depan, wanita tua itu berteriak histeris melihat seluruh pekarangan rumah mereka telah berubah menjadi hamparan tanah mati yang hitam, gersang, dengan puluhan pohon yang membusuk total dalam semalam.

Teror Kalingga telah selesai untuk malam ini, namun pesan yang ditinggalkannya tertulis dengan sangat jelas di atas tanah yang rusak: Siapa pun yang mencoba membersihkan Sekar, akan menghadapi kehancuran yang mutlak.

Dari balik sisa kesadarannya yang perlahan kembali saat mendengar jeritan ibunya, Bintang membuka mata dengan pandangan yang kian menggelap oleh tekad. Dia menyadari satu hal; untuk mengalahkan Kalingga, dia tidak bisa lagi menyerang dari luar. Dia harus masuk ke dalam inti misteri sumpah darah itu sendiri: silsilah keluarga Sekar dan rahasia kelam yang disembunyikan oleh Rahayu.

1
Tina Martince
Halo! Terima kasih banyak sudah membaca Kutukkan Darah Sabtu kliwon dan meluangkan waktu untuk memberikan pesan ini. Senang sekali mendengar kalau kamu menyukainya! Dukungan dari pembaca seperti kamu sangat berarti buat saya. Semoga karya-karya selanjutnya juga bisa menghibur, ya!"
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!