NovelToon NovelToon
The Price Of Power

The Price Of Power

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Penyelamat
Popularitas:408
Nilai: 5
Nama Author: Kharisa Patasiki

Di balik kemegahan istana presiden, cinta hanyalah sebuah bidak yang dikorbankan demi takhta.

Adrian (Ian) menggunakan Rhea, seorang mahasiswi kedokteran, sebagai tunangan kontrak untuk membalas dendam pada ibu tirinya, Cansu. Namun, di balik kebencian itu tersimpan rahasia kelam tentang pengkhianatan dan pengorbanan yang dipaksakan oleh ambisi politik sang Perdana Menteri.
​Saat rahasia masa lalu terbongkar dan nyawa menjadi taruhan, mereka harus menyadari satu kenyataan pahit: di puncak kekuasaan, setiap kemenangan selalu meminta tumbal.
​Kekuasaan memiliki harga, dan mereka harus membayarnya dengan air mata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kharisa Patasiki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17: DIAGNOSIS JANTUNG YANG BERDEBAR

​Jika Ian adalah gunung es yang tenang namun mematikan, maka Vier adalah api yang menari—sulit ditebak, ceria, dan selalu punya cara untuk melarikan diri dari ketegangan keluarga Diningrat. Namun, akhir-akhir ini, api itu tampak sedikit redup. Bukan karena sedih, melainkan karena sedang terpesona.

​Vier, yang sedang menjalani tahun terakhir pendidikan kedokterannya di rumah sakit yang sama dengan Rhea, dikenal sebagai "Pangeran Bangsal". Sikapnya yang santai dan senyumnya yang menawan membuat para perawat dan pasien sering kali salah fokus. Namun, semua itu berubah sejak seorang pasien baru masuk ke Kamar 402.

​Namanya adalah Nara. Ia bukan putri konglomerat atau anak pejabat. Nara adalah seorang pelukis jalanan yang didiagnosis menderita anemia aplastik kronis. Wajahnya pucat, namun matanya memiliki binar tajam yang seolah bisa membaca isi kepala siapa pun yang menatapnya.

​Pagi itu, Vier masuk ke kamar Nara dengan stetoskop yang tergantung malas di lehernya. Ia membawa papan jalan medis, namun matanya justru tertuju pada sketsa yang sedang dibuat Nara di atas tempat tidur rumah sakit.

​"Lagi-lagi menggambar jendela?" tanya Vier sambil berdiri di samping tempat tidur. "Apa pemandangan di luar sana begitu menarik?"

​Nara tidak berhenti menggerakkan pensilnya. "Jendela adalah satu-satunya bagian dari ruangan ini yang tidak berbau obat, Dokter Adhirdja. Dan di luar sana, ada kehidupan yang tidak peduli apakah aku akan mati besok atau tidak."

​Vier tertegun. Biasanya, pasien akan memujinya atau mengeluh tentang rasa sakit, tapi Nara selalu memberinya jawaban yang filosofis dan sedikit pahit.

​"Kamu tidak akan mati besok," ucap Vier tegas. "Karena dokter yang menanganimu adalah aku. Dan aku tidak suka kalah."

​Nara akhirnya mengangkat wajahnya. Ia menatap Vier lama, lalu tersenyum tipis—sebuah senyum yang membuat jantung Vier terasa seperti baru saja disetrum alat pacu jantung. "Keangkuhan keluarga Diningrat ternyata menurun padamu juga, ya?"

​Vier berdeham, mencoba mengalihkan rasa gugupnya dengan mengecek infus Nara. "Ini bukan keangkuhan, ini profesionalisme."

​"Lalu kenapa tanganmu gemetar saat memegang botol infusku?" goda Nara.

​Vier terdiam. Benar saja, tangannya sedikit tidak stabil. Ia segera menarik tangannya kembali. "Itu karena... aku belum sarapan. Kopi di kantin tadi sangat buruk."

​Di sisi lain rumah sakit, Rhea sedang berjalan bersama Ian yang kebetulan sedang berkunjung untuk memberikan donasi peralatan medis terbaru. Mereka melihat Vier keluar dari Kamar 402 dengan wajah yang memerah dan senyum konyol yang tidak kunjung hilang.

​"Apa yang terjadi dengan adikmu?" tanya Rhea sambil menyenggol lengan Ian.

​Ian menyipitkan mata, memperhatikan adiknya yang hampir menabrak tiang infus di koridor. "Sepertinya dia baru saja terkena virus yang lebih mematikan daripada bakteri mana pun di rumah sakit ini."

​"Maksudmu?"

​"Dia jatuh cinta," jawab Ian datar. "Dan melihat ekspresi bodohnya itu, sepertinya dia jatuh cinta pada orang yang sulit."

​Ian berjalan menghampiri Vier dan langsung menjewer telinga adiknya dari belakang.

​"Aduh! Kak! Sakit!" teriak Vier kaget.

​"Berhenti memasang wajah seperti ikan koki yang kekurangan oksigen, Vier. Kamu sedang di rumah sakit, bukan di lokasi syuting drama romantis," tegur Ian dingin, namun ada nada jahil di suaranya.

​"Kak, dia luar biasa," bisik Vier setelah berhasil melepaskan diri. "Namanya Nara. Dia tidak peduli aku ini seorang Diningrat. Dia bahkan bilang aku ini 'dokter sombong yang terlalu banyak pakai parfum'."

​Rhea tertawa. "Baguslah. Akhirnya ada yang bisa menjinakkan ego besarmu itu, Vier."

​Namun, kehidupan cinta di keluarga Diningrat tidak pernah sederhana. Sore harinya, Yusuf memberikan laporan pada Ian saat mereka sedang berada di mobil.

​"Tuan Muda, mengenai pasien bernama Nara yang didekati Tuan Muda Vier... ada sedikit masalah," ucap Yusuf.

​"Apa?"

​"Nara adalah putri dari salah satu aktivis yang dulu paling keras menentang kakek Anda. Ayahnya dipenjara di masa lalu karena urusan politik dengan keluarga Diningrat. Jika berita ini sampai ke telinga publik atau sisa-sisa pendukung Pradikta, ini bisa menjadi skandal baru."

​Ian menghela napas panjang. Ia memijat keningnya. "Dunia ini benar-benar sempit. Kenapa adikku harus jatuh cinta pada orang yang punya sejarah darah dengan kita?"

​"Apakah saya harus memberitahu Tuan Muda Vier untuk menjauh?" tanya Yusuf.

​Ian terdiam sejenak. Ia teringat bagaimana Cansu dipisahkan darinya karena urusan sejarah dan ambisi. Ia teringat betapa hancurnya hidup mereka karena dipaksa menyerah pada keadaan.

​"Jangan," jawab Ian mantap. "Biarkan dia. Kali ini, biarkan seorang Diningrat memperjuangkan apa yang ia mau tanpa campur tangan politik. Pantau saja keamanannya. Jangan sampai ada orang Pradikta yang mendekati gadis itu."

​Malam harinya, Vier menyelinap ke taman atap rumah sakit membawa sekotak martabak manis. Di sana, Nara sedang duduk di kursi roda, menatap langit Jakarta yang minim bintang.

​"Dokter tidak boleh membawa makanan manis untuk pasien anemia," ucap Nara tanpa menoleh.

​"Aku bukan dokter sekarang. Aku hanya pria biasa yang kebetulan punya kartu akses ke semua pintu di gedung ini," sahut Vier sambil duduk di lantai di samping kursi roda Nara.

​Mereka berbagi martabak dalam keheningan yang nyaman.

​"Nara," panggil Vier pelan. "Jika kamu tahu siapa aku sebenarnya... maksudku, tentang sejarah keluargaku... apa kamu masih mau bicara denganku?"

​Nara menatap ke depan. "Aku sudah tahu, Vier. Aku tahu siapa ayahmu, siapa kakekmu, dan apa yang mereka lakukan pada ayahku."

​Vier membeku. Tangannya berhenti menyuap martabak. "Dan kamu tetap membiarkanku masuk ke kamarmu setiap pagi?"

​Nara menoleh, menatap mata Vier dengan dalam. "Ayahku selalu bilang, mawar tidak bersalah atas durinya, dan anak tidak bersalah atas dosa orang tuanya. Kamu berbeda, Vier. Kamu memilih menyembuhkan orang, bukan menghancurkan mereka seperti keluargamu yang lain. Itu sebabnya aku menyukaimu."

​Mendengar kata "menyukai", Vier merasa seolah seluruh kembang api di dunia meledak di kepalanya. Ia meraih tangan Nara yang kurus dan pucat, lalu mencium punggung tangannya dengan sangat hormat.

​"Aku akan menyembuhkanmu, Nara. Bukan sebagai seorang Diningrat, tapi sebagai pria yang ingin melihatmu melukis jendela yang asli di Italia nanti."

​Komedi terjadi saat Mbok Yem dan Pak Totok mengetahui hal ini melalui Yusuf.

​"Aduh! Mas Vier sudah punya calon!" seru Mbok Yem sambil mengulek sambal dengan semangat. "Pak Totok, kita harus siapkan jamu kuat buat Mas Vier, biar nggak loyo kalau jagain pasien!"

​"Mbok, Mas Vier itu dokter, bukan pasien!" sahut Pak Totok sambil tertawa. "Tapi saya setuju, kita harus buatkan rendang buat dikirim ke rumah sakit. Orang sakit itu butuh daging!"

​Yusuf hanya menggelengkan kepala. "Tolong, Mbok. Jangan kirim rendang ke bangsal isolasi. Saya yang akan kena marah pihak manajemen rumah sakit."

​Namun, di tengah kehangatan itu, sebuah bayangan hitam mengawasi dari kejauhan. Seseorang sedang memotret Vier dan Nara yang sedang bergandengan tangan di taman atap. Foto itu segera dikirimkan ke sebuah tablet milik seseorang yang sedang berada di dalam sel penjara yang mewah.

​"Diningrat kecil sedang bermain api," gumam sebuah suara parau. "Mari kita lihat, apakah cinta bisa bertahan saat kenyataan pahit mulai diungkapkan."

​Bab ini di tutup dengan Vier yang tertidur di kursi samping tempat tidur Nara, sementara Ian mengawasinya dari balik pintu kaca dengan tatapan yang penuh perlindungan. Perjuangan cinta di keluarga Diningrat baru saja memasuki babak yang lebih emosional dan penuh risiko.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!