Tania Kartika harus menelan pil pahit saat alat tes kehamilan menunjukkan dua garis merah yang cukup jelas. Ia hanya bisa memejamkan mata, mengingat malam panas sebulan yang lalu bersama Lingga Perdana, sang mantan terjadi tanpa pengaman. Sungguh Tania tak menyangka hanya sekali melanggar, langsung jadi.
Bagaimana nasib Tania sekarang? haruskah ia menghilangkan janin ini, apalagi Lingga sudah menjadi suami dari seorang model? Beginilah nasib percintaan yang kalah akan strata sosial.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MISTERIUS
Di saat Tania sedang menikmati era new mom dengan mood yang mulai membaik, ada Lingga dan keluarganya yang masih dibuat puyeng dengan kasus Calista. Semenjak saling serang perihal KDRT, kejelekkan Calista tiba-tiba muncul satu per satu, video syur, foto toplessnya, bahkan laporan dan riwayat penggunaan alat kontrasepsi keluar secara berkala, seolah ada pihak yang sengaja menghancurkan karir Calista diam-diam.
Papa Calista marah sekali, dan menuduh Lingga dalang di balik kejadian beruntun ini. "Akan aku gugat dengan perjanjian kakek kamu!" ancam papa Calista menemui Lingga di kantornya, perceraian mereka pun terputus tak segera ada keputusan karena kasus yang bergulir, pihak Calista tak mau cerai sebelum Lingga membayar kompensasi harta atas pengajuan perceraian ini.
Jelas Lingga tak mau membayar, toh Calista juga menodai kesepakatan di antara mereka. Alhasil, kasus hukum dibiarkan pending oleh Lingga, suka-suka maunya Calista bagaimana. Sedangkan Calista sendiri mendapat teror dari pihak bos simpanannya, Lingga belum hancur, maka kamu yang hancur. Ancaman untuk Calista masih berlangsung dan makin memojokkan reputasi Calista. Nama model cantik itu sudah rusak, karena tingkah lakunya tak secantik wajah.
Wanita liar.
Ani-ani.
Gak ada bakat. Eh ada sih, bakat ngangkang.
Begitulah komentar netizen menyebut nama Calista. Ia juga membayar ganti rugi pada brand-brand yang bekerja sama dengannya atas berita dan foto-foto tak beretika itu tersebar.
Sekali mengkhianatiku, maka kamu akan merasakan akibatnya. Jangan pernah melawan aku yang punya kuasa dan uang. Si bos akan menekan Calista sampai perempuan itu bisa menghancurkan Lingga yang telah lancang menyangkut si bos sebagai selingkuhan Calista dalam pernikahan Calista-Lingga.
"Aku harus bagaimana, Tik?" sesal Calista melindungi Adit sampai begini, sampai dirinya yang hancur. Kenikmatan sesaat berefek sangat besar dalam hidup dan karirnya.
"Gua angkat tangan, Calista. Si bos terlalu berat untuk kamu lawan," ujar Cantika yang tak bisa berbuat apa-apa. Bahkan dia harus mewakili Calista menghadap manajemen, Calista tak berani menampilkan batang hidungnya di khalayak umum.
"Papaku terus mendesak juga, uangnya sudah habis!" Calista makin bingung, putus dari si bos, pasti transferan juga putus. Sedangkan sang papa sudah terlalu bergantung dengan uang sang putri.
"Heran sama bokap lo, Cal. Bukannya jual beli obat-obatannya laku ke berbagai jaringan ya. Kok masih menodong ke kamu sih," Cantika pun ikut pusing memikirkan kehidupan sang model saat ini.
Calista menggelengkan kepala, ia tak punya keberanian untuk bertanya pada sang papa uang hasil kerja beliau ke mana kok sampai minta transferan ke dirinya.
"Makan aja dulu, gue tinggal. Gue mau urus Yesika, model baru, tugas dari manajemen sekarang gue diminta handle model baru itu," ujar Cantika yang terpaksa harus mengikuti aturan manajemen agar ia punya pemasukan juga. Tak mungkin bergantung pada Calista lagi, meski dia masih setia menampung model itu di apartemennya.
Calista hanya mengangguk, tapi dia sudah punya rencana setelah ini. Makanan yang disediakan Cantika tak ia sentuh, begitu pintu apartemen tertutup, Cantika sudah berangkat Calista mengambil cairan obat nyamuk, ia sudah muak dengan kehidupan yang tak adil baginya.
Kepalanya terlalu berisik, rasanya sangat capek. Ia menegak cairan itu hingga habis, tenggorokannya langsung panas, dan kepalanya langsung pusing. "Tik, Tika, aku mau mati kayaknya," ucap Calista setelah menegak cairan itu sembari memegang tenggorokannya.
Selang 10 menit, ia kemudian memuntahkan isi perutnya secara brutal, sampai dari hidung juga. Calista menjerit ketakutan dan kesakitan saat ia memuntahkan darah, sadar sudah melewati ambang batas tubuhnya. Calista tertidur dengan mata yang mendelik dan cairan darah di sekitar mulut hingga pipi di kamar apartemen Cantika.
Cal, nanti kalau kamu butuh makan order aja ya, aku gak pulang karena harus ke luar kota, diminta Mbak Rin (senior di manajemen mereka) mendampingi model lain. Cantika sengaja mengirim pesan pada Calista.
10 menit, 30 menit, sampai keesokan harinya tak ada balasan. Cantika mulai curiga. Gak biasanya Calista begini. Pikiran buruk mulai menyerang.
"Mas Gil, sudah di manajemen gak?" tanya Cantika via telepon pada salah satu tim manajemen yang biasa ia mintai tolong.
"Udah kenapa?" tanya Ragil balik.
"Mas, bisa minta tolong cek Calista di apartemen gue gak? Dari kemarin siang aku chat gak ada balasan, aku balik nanti sore soalnya!" pinta Cantika khawatir.
"Hah? Calista di apartemen lo? Sembunyi atau gimana?" tanya Ragil gak penting.
"Iya, udah nanti aku jelaskan, yang penting sekarang Mas Ragil ke apart aku deh, aku khawatir dia kenapa-napa, Mas."
"Oke, setengah jam lagi aku ke sana bareng Mutia!" tak mungkin Ragil ke sana sendiri, ia tak mau menjadi pahlawan kesiangan. Kondisi Calista sekarang tidak normal, khawatir saja Ragil dikuntit wartawan dan jadi incaran mereka untuk dimintai keterangan tentang Calista.
Ragil ke sana bersama dua orang, Mutia dan Sofyan, saat jam makan siang. Ragil juga sudah mendapat pin apartemen Cantika. Ketika pintu terbuka, suasana apartemen sangat sepi. Mutia buru-buru menyalakan kamera, sengaja merekam siapa tahu ada kejadian tak terduga, mereka jelas butuh rekaman autentik.
"Kok gak ada siapa-siapa, Tik? Aku panggil dari tadi loh," Ragil sengaja video call pada Cantika, dan kamera ponselnya diedarkan ke area apartemen.
"Cari di kamar, Mas. Dia berada di kamar yang ada gantungan babinya itu," tunjuk Cantika tak sabar. Ragil dan kedua temannya pun bergerak ke arah yang dipinta Cantika, pintu tak terkunci dan saat Mutia masuk lebih dulu, sekedar cek siapa tahu Calista mandi atau apa kan sesama perempuan gitu loh, tapi sebuah teriakan melengking hingga Ragil, Sofyan dan Cantika langsung bertanya. "Kenapa, Mut?" tanya mereka kompak.
"Mati!" jawab Mutia sembari gemetar, Sofyan langsung membuka lebar pintu kamar, dan dia langsung beristighfar melihat badan Calista miring dengan mendelik dan area itu penuh dengan muntahan isi perut dan darah.
"Sumpah, sumpah, panggil security!" Ragil ikut panik, mereka tak berani mendekat, bahkan ponselnya sampai jatuh. Sofyan yang masih waras daripada Mutia langsung menelepon pihak security apartemen. Sedangkan Cantika terus mengomel kenapa? Ada apa? Tapi Ragil hanya bilang Calista mati, bunuh diri.
"Arahkan kamera nya ke Calista Mas!" pinta Cantika sembari membentak, dan spontan perempuan cantik itu menjerit ketakutan, penampilan Calista sudah terbujur kaku dengan kondisi yang tak layak.
Pihak apartemen datang dan segera menghubungi ambulance dan juga kepolisian, tak berani mendekat ke arah Calista.
Ketiga orang dengan wajah pucat ikut pihak kepolisian, dan tubuh kaku Calista dibawa ke rumah sakit untuk diotopsi, apartemen Cantika diberi garis polisi dan disegel, Cantika sudah berada di perjalanan pulang, diminta langsung ke rumah sakit saja oleh Ragil.
buat calista jatuh sejatuh-jatuhnya bahkan untuk merangkak pun ga bisa thor,,, buat pak dokter carikan jodoh yg lain yg lbh baik dri tania toh ibunya pak dokter jg udh menjauh dri tania kasian klo harus dipaksakan berjodoh dgn pak dokter... sekian terima gajih
GO go Tania semangat