Di balik dinding suci sebuah pondok pesantren, tersembunyi seorang buronan. Reyshaka El Zhafran atau Shaka—tak pernah membayangkan hidupnya akan berakhir di tempat yang paling ia hindari. Demi lolos dari kejaran polisi, pengedar narkoba itu nekat bersembunyi di pesantren milik Ustadz Haidar, seorang ulama yang dikenal bijak dan disegani.
Awalnya, Shaka hanya ingin selamat. Namun hari demi hari, ketenangan, nasihat, dan ketulusan Ustadz Haidar perlahan meruntuhkan tembok keras di hatinya. Untuk pertama kalinya, Shaka mulai mengenal arti penyesalan dan harapan untuk berubah. Semua menjadi semakin rumit saat ia bertemu Hanindya Daisha Ayu—putri sang ustadz yang berhati lembut dan shalihah. Tanpa disadari, perasaan itu tumbuh diam-diam, menyiksa shaka dalam keheningan.
Tapi bagaimana mungkin seorang mantan pengedar narkoba seperti dirinya pantas mencintai perempuan sebersih Hanindya?
Terlebih, Hanindya telah dijodohkan dengan Ustadz Ilyas—lelaki yang jauh lebih layak dibanding dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Ustadz Ilyas tersenyum kecil.
“Alhamdulillah.” Shaka sedikit bingung, Ustadz Ilyas lalu mendekatinya pelan. “Itu bagus.” Shaka menatap ustadz itu diam-diam. “Kalau seseorang mulai ingin memperbaiki dirinya...” lanjut Ustadz Ilyas lembut. “Hal pertama bisa dimulai dari dirinya sendiri.”
Entah kenapa kalimat itu membuat Shaka terdiam. Ustadz Ilyas lalu menepuk pelan bahu Shaka.
“Nanti setelah shalat Ashar selesai saya carikan tukang cukur buat kamu.”
Shaka sedikit terkejut.
“Serius ustadz?”
“Iya.” Lelaki muda itu tersenyum kecil. “Kebetulan saya punya kenalan yang kerja di barbershop dekat sini.”
Dan untuk pertama kalinya sejak datang ke pesantren itu, Shaka merasa sedikit lega.
“Iya ustadz...” gumamnya pelan. “Terima kasih.”
Ustadz Ilyas mengangguk sambil tersenyum.
“Semoga ini jadi awal yang baik buat kamu.”
Tak lama kemudian adzan Ashar mulai berkumandang.
“Allahu Akbar... Allahu Akbar...”
Suara adzan menggema lembut memenuhi area pesantren. Para santri mulai berdatangan ke musholla. Shaka berdiri di salah satu saf depan sambil mengenakan baju koko putih pemberian Ustadz Haidar tadi pagi. Baju itu masih terasa asing di tubuhnya namun anehnya, ia juga merasa nyaman memakainya. Beberapa santri sempat meliriknya diam-diam. Ada yang masih terlihat takut namun ada juga yang mulai berani tersenyum kecil padanya.
Dan kali ini Shaka mencoba membalas senyum itu meski terlihat kaku. Setelah shalat Ashar selesai, para santri mulai keluar perlahan dari musholla. Ustadz Ilyas yang masih duduk di dekat tiang musholla langsung mengambil ponselnya. Shaka duduk tidak jauh darinya sambil menunggu.
“Assalamualaikum, Rif.” Suara Ustadz Ilyas terdengar santai sementara Shaka memperhatikannya diam-diam. “Iya ini saya.”
Beberapa detik suasana terasa hening. “Oh masih di barbershop?” Ustadz Ilyas tersenyum kecil. “Bisa minta tolong datang ke pesantren sebentar?”
Shaka menunduk pelan sambil memainkan jemarinya sendiri. Entah kenapa ia mendadak gugup. Ustadz Ilyas kembali berkata,
“Ada anak pesantren baru yang mau dirapikan rambutnya.” Beberapa detik kemudian lelaki itu tertawa kecil. “Iya, yang rapi ya.”
Tak lama setelah telepon selesai, Ustadz Ilyas menoleh pada Shaka.
“Dia bentar lagi datang.”
Shaka mengangguk kecil. Sekitar tiga puluh menit kemudian, sebuah motor masuk ke halaman pesantren. Seorang lelaki muda berusia sekitar akhir dua puluhan turun sambil membawa tas peralatan cukur. Namanya Arif. Ia langsung menghampiri Ustadz Ilyas sambil tersenyum.
“Assalamualaikum ustadz.”
“Waalaikumsalam.”
Ustadz Ilyas lalu menunjuk ke arah Shaka yang duduk di teras samping musholla.
“Nah itu orangnya.”
Arif menoleh dan detik berikutnya matanya sedikit membesar.
“Wah...” gumamnya pelan.
Jujur saja penampilan Shaka memang cukup menyeramkan. Tubuh tinggi besar, tatapan tajam, rambut panjang berantakan, ditambah beberapa cincin besi di jarinya. Namun Arif cepat-cepat tersenyum ramah.
“Mari mas.”
Shaka berdiri pelan lalu duduk di kursi yang sudah disiapkan di teras.
Angin sore berhembus pelan saat kain penutup mulai dipasang di tubuh Shaka.
Arif memperhatikan rambutnya sebentar.
“Mau model gimana?”
Shaka langsung menoleh ke arah Ustadz Ilyas.
“Yang rapi aja ustadz.”
Ustadz Ilyas tersenyum kecil.
“Yang penting bersih dan enak dilihat.”
Arif mengangguk.
“Siap.”
Tak lama kemudian suara gunting mulai terdengar.
Ctak... ctak...
Helai demi helai rambut panjang Shaka mulai jatuh ke lantai. Shaka menatap kosong ke depan. Entah kenapa saat melihat rambut-rambut itu jatuh, ia merasa seperti sedang meninggalkan bagian lama dari hidupnya. Bagian gelap yang selama ini melekat padanya. Arif terus merapikan rambutnya dengan hati-hati sementara Ustadz Ilyas duduk di dekat mereka sambil memperhatikan. Beberapa santri yang lewat diam-diam ikut melirik penasaran.
“Eh itu kak Shaka ya?”
“Iya kayaknya.”
“Dia potong rambut.”
“Beda banget nanti pasti.”
Bisik-bisik kecil terdengar pelan namun Shaka memilih diam. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya ia benar-benar mencoba berubah.
Sekitar hampir satu jam kemudian, Arif akhirnya selesai.
“Nah.” Ia melepaskan kain penutup dari tubuh Shaka. “Coba lihat.”
Shaka perlahan menoleh ke cermin kecil yang diberikan Arif dan detik berikutnya ia sedikit terdiam. Rambutnya sekarang jauh lebih pendek dan rapi. Wajahnya yang tadinya tertutup rambut kini terlihat jelas. Tatapan tajamnya memang masih ada, namun penampilannya tidak lagi seberantakan sebelumnya. Ia terlihat jauh lebih bersih dan lebih dewasa.
Ustadz Ilyas tersenyum puas.
“Nah begitu lebih bagus.”
Shaka masih menatap dirinya sendiri di cermin. Ia hampir tidak mengenali wajahnya sendiri. Namun di saat itulah mata Ustadz Ilyas tiba-tiba tertuju pada beberapa cincin besi di jari Shaka dan kalung rantai yang terlihat di lehernya. Senyumnya perlahan memudar.
“Shaka.”
Shaka menoleh.
“Iya ustadz?”
Ustadz Ilyas menatap aksesoris itu beberapa detik sebelum berkata pelan,
“Sekarang coba lepaskan itu semua.”
Shaka sedikit bingung.
“Cincin sama kalungnya?”
“Iya.” Shaka terdiam, Ustadz Ilyas lalu berkata pelan, “Kamu tahu kan kalau laki-laki tidak dianjurkan memakai perhiasan berlebihan seperti perempuan.”
Shaka menunduk melihat cincin di tangannya.
Benda-benda itu sudah lama melekat padanya. Semacam simbol kehidupan jalanan yang dulu ia jalani. Ustadz Ilyas kembali berkata pelan,
“Dalam Islam laki-laki diajarkan untuk menjaga fitrah dan kesederhanaannya.” ia lalu mengutip sebuah ayat dengan suara tenang. "يٰبَنِىۡۤ اٰدَمَ خُذُوۡا زِيۡنَتَكُمۡ عِنۡدَ كُلِّ مَسۡجِدٍ وَّكُلُوۡا وَاشۡرَبُوۡا وَلَا تُسۡرِفُوۡا ۚ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الۡمُسۡرِفِيۡنَ, Dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.”
(QS. Al-A’raf: 31)
Ustadz Ilyas menatap Shaka dengan penuh pengertian.
“Perhiasan yang berlebihan untuk laki-laki sering kali hanya menumbuhkan kesombongan atau membuat seseorang kehilangan jati dirinya.” Shaka diam mendengarkan, Lalu Ustadz Ilyas kembali berkata, “Kalau kamu benar-benar ingin memulai hidup baru... maka lepaskan juga hal-hal yang mengikatmu dengan kehidupan lama.”
Kalimat itu membuat Shaka pelan pelan mengerti. Tangannya perlahan bergerak menuju cincin di jarinya lalu tanpa berkata apa-apa lagi, tangannya mulai bergerak melepas cincin di jarinya. Cincin besi itu terasa dingin di telapak tangannya. Arif yang masih berdiri di dekat kursi diam-diam memperhatikan sementara Ustadz Ilyas hanya tersenyum kecil. Setelah itu Shaka mengangkat tangannya ke leher, jemarinya menyentuh rantai kalung yang selama ini selalu ia pakai. Kalung itu dulu hadiah dari salah satu teman jalanan nya yang sekarang entah masih aman atau tidak.
Shaka sempat diam beberapa detik lalu perlahan ia membuka pengait kalung itu dan melepaskannya. Rantai besi itu jatuh ke tangannya dan entah kenapa saat benda itu terlepas dari lehernya, Shaka merasakan dadanya terasa sedikit lebih ringan. Belum selesai sampai disana, Shaka lalu menyentuh telinga kirinya, tempat dimana tindikan kecil berwarna hitam masih terpasang di sana. Ia kembali terdiam sebentar lalu perlahan melepas anting itu.
Dengan ikhtiar, tawakal dan kesabaran, setiap langkah menuju jodoh bisa menjadi jalan ibadah yang diridhai Allah.
Kondisi dalam hubungan percintaan barangkali tidak akan semulus kelihatannya.
Tentu saja setiap orang akan selalu berharap mendapatkan pasangan yang ia cintai dan mencintai dirinya. Akan tetapi, dalam hidup tentu harus realistis.
Tidak semua yang kita inginkan itu bisa terwujud.
Apa yang menurut kita baik, belum tentu baik menurut Allah.
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui".
Percayakan kepada Allah yang Maha Mengetahui, Allah Sang Pemilik Hati Manusia. Jodohmu sudah diatur oleh-Nya...🤭
Sholawat ini diciptakan oleh Imam Bushiri, penyair sekaligus ulama yang tersohor di kalangan umat Muslim.
Kata burdah secara bahasa diartikan sebagai mantel.
Dalam riwayat lain, disebutkan bahwa burdah berasal dari kata bur’ah yang berarti shifa (kesembuhan).
Sholawat Burdah sendiri merupakan sajak-sajak pujian kepada nabi Muhammad SAW, pesan moral, nilai-nilai spiritual, semangat perjuangan, dan sebagainya.