Alvian Wira. Di panggung internasional, dunia mengenalnya sebagai Hades, Dokter Dewa, karena kemampuan medisnya luar biasa. Tapi setelah kembali ke Indonesia, dia hanya seorang dokter umum biasa yang mendirikan sebuah klinik kecil di pinggir kota.
Konflik kepemilikan tanah membawanya ke sebuah pernikahan dengan anak direktur rumah sakit terkenal, Clarissa Amartya. Dokter SpJP yang hanya ingin fokus dengan karirnya, tapi dipaksa menikah dengan ancaman mencabut izin prakteknya.
Clarissa yang dingin seperti kulkas, Alvian yang pecicilan dan suka menggoda. Dua kepribadian tinggal bersama, perlahan menumbuhkan perasaan.
Namun, ketika perasaan itu mulai tumbuh, masalah datang silih berganti, hingga mengungkap kebenaran tentang masa lalu Alvian. Tentang siapa dia sebenarnya, dan alasan kenapa dia menyembunyikan semuanya.
Apakah Clarissa bersedia menerima Alvian? Terlebih setelah mengetahui jika Alvian yang ia kenal selama ini, hanyalah topeng untuk menutupi identitas dan masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sayap perak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 : Tiket +1
Sekarang jam dua siang. Klinik hanya melayani satu-dua pasien karena sejak pagi gerimis tak kunjung berhenti.
Mbak Sari duduk di meja admin, menghitung stok amoxilin sambil nyemil kerupuk cap udang. Bunyi kriuk-kriuk. "Dok, amoxilin tinggal 3 papan. Beli lagi nggak?"
Alvian Wira di ruang periksa terlihat sibuk, padahal cuma coret-coret buku ekspedisi. Dia gambar bintang kecil, terus bintang kedua, iseng kayak nilai anak SD.
HP di meja bergetar. Sebuah nomor tidak dikenal dengan foto profilnya dokter muda, jas RS Sentral, lagi tersenyum.
[Dok Alvian? Saya dr. Bayu, jaga IGD RS Sentral semalem. Makasih ya, Dok. Pasien kolaps kiriman dokter selamat. Kata dr. SpJP kami, kalau RJP telat 1 menit aja, pasien bisa lewat. Keluarga pasien mau ketemu dokter buat ucap makasih. Bisa?]
Alvian baca, senyum tipis. Jarinya pegal setelah tekan dada orang 7 menit semalam. Dia balas, "Alhamdulillah. Saya di klinik aja sampai jam sembilan, Dok. Silakan mampir. Gratis kok ketemunya."
Kirim. HP ditaruh. Dia melihat tangannya sendiri, masih ada bekas merah di telapak. Dia mengepal, membukanya lagi. Lanjut gambar bintang ketiga di buku.
Rumah Pondok Indah. Jam empat sore.
Clarissa pulang pagi untuk pertama kalinya dalam sebulan. Hujan deras, dia masuk melepas jasnya yang basah sedikit di bagian bahu. Kakinya berhenti di anak tangga ketika mau ke lantai dua. Melihat lakban hitam yang menempel dengan catatan tulisannya tepat di anak tangga ketujuh.
"..."
Clarissa naik ke lantai 2. Masuk kamar, lalu duduk di kursi kerja membuka laptopnya. Layar menyala, sebuah inbox muncul tertera dari Sekretariat Kolegium Kardiologi Indonesia yang mengingatkan tentang seminar yang akan diadakan 3 hari lagi, di Nusa Dua, Bali.
Di lampiran juga menekankan konfirmasi nama peserta +1 untuk cetak ID card dan finalisasi booking hotel. Batas waktu H-2, jam dua belas siang.
Sejenak Clarissa mengabaikan semua paragraf itu dan hanya fokus pada bagian topik. "Tata Laksana Henti Jantung di Fasilitas Kesehatan Primer. Golden Period & Rantai Keselamatan."
Otaknya langsung memutar ulang kejadian semalam. Trotoar Tebet, gerimis. Alvian jongkok di samping pasien sambil menekan dada. Satu, dua, tiga. Kecepatannya stabil, napas bantu menggunakan ambu bag. Tidak ada teriak, tidak ada panik.
Clarissa mengerutkan kening. Dia ingat kuliah S1 dosen pembimbingnya pernah bilang, "RJP itu gampang di buku. Di lapangan, 90% orang panik. Sedikit yang benar-benar menyelamatkan nyawa."
Tap. Clarissa menutup laptop. Tidak keras, tapi cukup tegas.
Dia pergi ke dapur yang ada di lantai satu. Membuka kulkas, mengambil botol air putih. Setelah minum beberapa tegukan, pandangannya sontak menyisir ke sekitar.
Aneh. Entah kenapa rumah terasa sepi dan sunyi.
___
Jam sembilan malam, Alvian sampai di rumah. Tiap mandi, mengganti kaos lalu memakai celana pendek. Pergi ke ruang tamu, menyalakan TV dan selonjoran.
"...pasien henti jantung selamat berkat pertolongan cepat dokter klinik di Tebet. Menurut dr. Bayu dari RS Sentral, tindakan dokter tersebut sangat tepat. Ini jadi contoh emas penanganan di luar RS."
Ada video rekaman HP warga. Buram, goyang, tapi terlihat jelas wajah dokter tersebut.
Alvian tersedak. Batuk sekali lalu cepat-cepat mengambil remot, mengecilkan volume sampai 0.
Pintu kamar atas terbuka, Clarissa turun dengan baju rumah, celana bahan dan rambut dicepol. Alvian yang menatap hampir tak sempat berkedip.
" ... Ini jadi contoh emas penanganan di luar rumah sakit. Tindakan brilian seorang dokter yang memiliki jiwa murni."
Tanpa sengaja volume TV tiba-tiba naik. Alvian melirik TV, lalu melirik Clarissa, lagi. Ekspresinya tak berubah, tapi matanya terlihat fokus.
Alvian buka mulut, "Beritanya lebay."
Namun Clarissa masih berdiri tanpa mengatakan sesuatu. Berjalan ke dapur, lalu kembali setelah mengambil cemilan malamnya.
"Huft..." Nafas lega Alvian.
__
Di kamar, lampu meja nyala Clarissa masih menyala. Laptop terbuka, e-mail yang sama masih utuh dengan bagian kursor bersiap mengisi nama +1, yang sampai sekarang Clarissa tidak tahu harus mengisinya dengan nama siapa.
Dia sandaran di kursi, memutar pulpen di tangannya sambil berpikir.
"Apa aku harus mengajaknya?"
Clarissa bisa saja mengabaikan +1 dan datang seorang diri ke seminar. Namun jika sampai hal itu terjadi, maka besar kemungkinan dirinya akan satu kamar dengan orang asing karena kamar yang disediakan memiliki kamar tidur ganda.
Dibanding harus berbagi kamar dengan orang asing, walau itu perempuan, bukankah lebih baik dengan Alvian? Setidaknya, pria itu suaminya, dan ia yakin tidak akan berani macam-macam terhadapnya.
"..."
Clarissa taruh pulpen. Membuka laci, mengambil 2 tiket yang sudah diprint. Saat itu HP di meja bergetar. Pesan dari Papa.
[Clar, jadi ke Bali sama siapa? Papa nggak bisa karena ada rapat. Kamu jangan sendirian ya. Nanti Mama kamu khawatir.]
[Ajak Alvian aja. Dia kan suamimu. Itung-itung refreshing. Papa udah bilang ke dia minggu lalu kamu ada acara di Bali. Biar sekalian.]
[Dia anak baik, pasti mau temani kamu.]
Clarissa yang membacanya tidak bisa tidak mengerutkan kening. Dia masih mempertimbangkan apakah harus mengajak Alvian, tapi Papa nya sudah mengirim pesan seperti itu.
___
Di sisi lain Alvian juga sudah menerima pesan dari dr. Hendra.
[Clarissa lusa ada seminar di Bali. Kamu temanin dia, ya, Saya tidak bisa karena ada rapat penting.]
[Saya sudah pesanin kamu ke Clarissa. Katanya dia mau ngomong, tapi gengsi.]
Alvian belum membalas pesan itu tetapi pesan lain dari kontak yang sama muncul berderetan.
[Kamu harus inisiatif. Jika Clarissa tidak mau, kamu harus pikirkan cara tetap ikut.]
[Udah, ya. Saya masih sibuk.]
Alvian garuk kepala, melihat ke lantai atas. Dia berdiri mau naik tetapi saat lihat lakban langkahnya terhenti.
"Istri, Papa bilang kamu mau ke Bali, ikut seminar? Bagaimana jika aku ikut? Kasihan Istri pergi sendiri, nggak ada yang bantuin bawa koper."
Alvian mengirim pesan. Centang biru dua, tapi tak langsung ada balasan.