NovelToon NovelToon
Pendekar Naga

Pendekar Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Idwan Virca84

Di tengah puing-puing yang membara, takdir mempertemukan Rangga dengan sosok misterius, Pertapa Gila Tanpa Tanding. Sang pertapa bukanlah orang sembarangan; di balik pakaian compang-camping dan tawa yang nyeleneh, ia adalah pemegang rahasia Pedang Naga Emas Seribu Langit, pusaka sakti yang konon mampu membelah awan dan menggetarkan bumi. Rangga kemudian dibawa ke lereng Gunung Kerinci yang berselimut kabut, sebuah tempat terpencil di mana waktu seolah berhenti berputar.
Selama lima belas tahun, Rangga dididik dengan keras di bawah gemblengan sang Pertapa Gila. Ia tidak hanya belajar olah kanuragan dan ilmu meringankan tubuh yang membuat gerakannya seringan kapas, tetapi juga ditempa secara spiritual untuk mengendalikan api dendam yang membara di dadanya. Sang pertapa mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada tajamnya bilah pedang, melainkan pada kemampuan hati untuk tetap tegak di jalan kebenaran. Rangga tumbuh menjadi pemuda yang gagah perkasa..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Idwan Virca84, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27 : Murid Padepokan Bambu Kuning

Rangga kini berdiri di tengah pelataran Desa Bambu Kuning yang sudah dipenuhi penduduk yang penasaran. Suasana riuh rendah oleh bisik-bisik dan hujatan kecil.

Ia masih memakai caping bambu yang sengaja ia tarik sedikit ke bawah, wajahnya tertutup bayangan hitam, memberikan kesan misterius sekaligus mencurigakan.

“Tenanglah,” ucap seorang tetua desa yang berjalan perlahan dengan tongkat kayunya. Suaranya yang berwibawa membuat suasana sedikit mereda. “Kita dengar dulu penjelasannya.”

“Penjelasan apa lagi?!” sergah gadis galak dengan nada tinggi. “Kami melihatnya sendiri saat dia mendekati tempat kami mandi!”

Rangga hanya mengangkat bahu dengan santai, tak sedikit pun terlihat gentar.

“Aku hanya lewat dan ingin mandi,” katanya singkat, suaranya terdengar jujur namun datar.

“Bohong!” teriak para gadis serempak, membuat beberapa pemuda desa mulai memandang Rangga dengan tatapan bermusuhan.

Tetua desa mengelus jenggot putihnya yang panjang, matanya yang bijak mencoba menembus kegelapan di bawah caping itu.

“Anak muda, buka capingmu. Biar kami melihat wajahmu dengan jelas.”

Rangga diam sejenak. Ia merasakan tatapan ratusan mata menghujam ke arahnya.

“Untuk apa?” tanyanya balik.

“Untuk memastikan kau bukan penjahat buronan atau mata-mata musuh,” jawab tetua dengan nada tenang namun tegas.

Gadis galak menyeringai puas. “Pasti wajahnya mesum dan licik!”

Rangga menghela napas panjang, kepasrahan terlihat dari bahunya yang turun sedikit.

“Baiklah…”

Ia perlahan mengangkat tangannya dan membuka caping bambu itu.

Seketika, suasana yang tadinya riuh berubah menjadi sunyi senyap. Semua orang terdiam, seolah tersihir.

Wajah tampan terpampang di sana; bersih, tenang, dengan sorot mata yang tajam namun memiliki kelembutan yang aneh. Garis wajahnya menunjukkan kedewasaan dan wibawa seorang pendekar pilih tanding.

“Dia… tampan…” bisik salah satu gadis di barisan belakang dengan wajah merona.

“Eh… tapi tetap saja dia pengintip!” cepat-cepat gadis galak itu menimpali, meski ia sendiri sempat terpana sejenak melihat wajah asli tawanannya.

Rangga tersenyum tipis, sebuah lengkungan bibir yang sangat samar namun mempesona.

“Terima kasih atas pujiannya, meski tuduhannya masih ngawur,” katanya santai, menatap lurus ke arah gadis galak itu.

“Kau masih berani bercanda?!” bentak gadis galak, mencoba menutupi rasa salah tingkahnya.

Tetua desa mengangkat tangannya, meminta ketenangan kembali.

“Cukup! Anak muda, siapa namamu?”

“Rangga Nata.”

“Rangga Nata…” tetua itu mengulang nama itu dengan kening berkerut. “Nama yang tidak asing bagi telingaku…”

Tiba-tiba, seorang penduduk pria yang kemarin ikut bertempur berseru dengan suara keras.

“Dia! Dia yang kemarin mengalahkan perampok! Dia pendekar yang menyelamatkan kita!”

Seketika suasana langsung gempar! Penduduk saling berpandangan dengan wajah tak percaya.

“Apa?! Dia?!”

“Pendekar sakti yang menyelamatkan desa kita?!”

Gadis-gadis yang tadi menangkapnya kini saling pandang dengan wajah pucat dan mulut ternganga.

“Tidak mungkin…” gumam gadis galak. Ia menatap Rangga dari ujung kaki hingga ujung kepala, mencoba mencocokkan sosok pemuda tampan ini dengan cerita pendekar yang mengamuk kemarin.

Rangga menggaruk kepalanya yang tidak gatal, merasa sedikit risih dengan perhatian yang berlebihan.

“Ya… mungkin itu aku,” jawabnya santai.

“Hah?!”

Suasana langsung berubah drastis. Amarah penduduk desa menguap begitu saja, berganti dengan rasa hormat dan syukur. Tetua desa pun membungkuk sedikit sebagai tanda hormat yang mendalam.

“Maafkan ketidaktahuan kami, Tuan Rangga… Kami telah berbuat lancang terhadap penyelamat kami sendiri.”

Rangga cepat-cepat mengangkat tangan, merasa tak enak hati.

“Jangan begitu, Kek. Aku hanya lewat dan kebetulan bisa membantu.”

Gadis galak itu menggigit bibirnya, wajahnya kini merah padam karena rasa malu yang luar biasa. Ia merasa ingin menghilang dari tempat itu sekarang juga.

“Jadi… kau benar-benar tidak mengintip kami?” tanyanya dengan suara yang mengecil.

Rangga menatapnya datar, namun ada sedikit kilatan jahil di matanya.

“Kalau aku mau mengintip… dengan ilmuku, aku tidak akan berdiri di tempat terbuka hingga bisa tertangkap oleh kalian.”

Beberapa penduduk pria tertawa kecil mendengar jawaban jujur itu. Gadis galak kian memerah wajahnya hingga ke telinga.

“Maaf…” gumamnya pelan, kepalanya tertunduk dalam.

Rangga tersenyum tipis, merasa kasihan melihat gadis itu.

“Sudahlah. Aku tidak memasukkannya ke hati.”

Salah satu gadis lain yang tadinya ikut menyerang, kini justru mendekat dengan mata berbinar-binar penuh kekaguman.

“Kalau begitu… kau benar-benar hebat seperti cerita orang ya?”

Rangga mengangkat bahu dengan ekspresi yang sulit ditebak.

“Biasa saja. Masih banyak yang lebih hebat di luar sana.”

“Bisa ajari kami sedikit ilmu silat?” tanya gadis itu penuh harap.

“Eh, tunggu dulu!” sela gadis galak, mencoba mengembalikan kewibawaannya meski suaranya masih terdengar canggung. “Jangan langsung percaya begitu saja!”

Rangga terkekeh pelan melihat tingkah laku mereka yang labil.

“Kalian ini cepat sekali berubah pikiran,” katanya, nadanya kini lebih bersahabat.

Tetua desa tertawa renyah, suasana di pelataran desa menjadi hangat.

“Hahaha! Anak muda, kau memang menarik juga selain berilmu tinggi.”

“Malam ini sebaiknya kau menginap saja di dalam desa, kami akan siapkan hidangan terbaik,” kata tetua dengan tulus.

Rangga menggeleng pelan, pandangannya beralih ke arah hutan yang mulai gelap ditelan malam.

“Terima kasih, Kek. Tapi aku lebih suka berada di luar desa, di bawah langit terbuka.”

“Kenapa? Di dalam sini lebih nyaman.”

Rangga menatap tajam ke arah kegelapan hutan di sisi barat. Batinnya merasakan sesuatu yang tidak beres.

“Perampok itu belum benar-benar selesai.”

Seketika semua orang terdiam. Keceriaan tadi lenyap berganti dengan rasa waswas yang kembali merayap.

“Kau yakin mereka akan kembali menyerang?” tanya tetua dengan nada khawatir.

Rangga mengangguk mantap.

“Mereka adalah kelompok yang tidak akan diam setelah dipermalukan begitu rupa. Harga diri mereka lebih tinggi dari nyawa mereka sendiri.”

Gadis galak itu tiba-tiba maju selangkah, sorot matanya yang galak kini berganti dengan tekad yang kuat.

“Kalau begitu… kami dari Padepokan Sriti juga akan membantu menjaga desa!”

Rangga menatapnya sekilas, sedikit terkejut dengan keberanian gadis itu.

“Kalian?”

“Jangan remehkan kami! Kami mungkin tidak sehebat kau, tapi kami siap mati melindungi tanah kelahiran kami!” balasnya cepat dengan suara lantang.

Rangga tersenyum tipis, ada rasa hormat yang muncul di hatinya.

“Baiklah… tapi ingat satu hal, jangan gegabah. Lawan yang akan datang tidak akan main-main.”

Gadis itu mendengus, mencoba menyembunyikan rasa senangnya karena diterima bergabung.

“Kau juga jangan sok hebat sendirian di luar sana.”

Rangga tertawa kecil, ia merasa gadis galak ini punya sifat yang unik.

“Kesepakatan yang adil.”

Malam semakin larut dan sunyi. Desa Bambu Kuning tampak gelap, penduduk diminta memadamkan lampu untuk kewaspadaan.

Rangga kembali ke dahan pohon mangga liarnya. Aroma buah mangga yang masak tercium lebih kuat di tengah udara malam yang dingin.

“Sepertinya malam ini akan lebih menarik dari yang kuduga…” gumamnya pada diri sendiri.

Ia bersandar santai, menatap langit yang bertabur bintang-bintang. Pikirannya melayang sebentar pada kejadian di sungai tadi.

“Dan gadis-gadis itu… benar-benar merepotkan jika sedang marah…”

Ia tersenyum kecil, mengingat ekspresi mereka yang berubah dari singa menjadi kucing saat tahu siapa dia sebenarnya.

“Tapi… setidaknya desa ini tidak membosankan.”

Angin malam yang kencang berhembus pelan, menggerakkan dedaunan mangga yang lebat.

Matahari baru muncul di ufuk timur, Rangga menggeliat pelan di atas pohon mangga.

Suasana tampak mati, namun bagi telinga terlatih seperti Rangga, ia mendengar sesuatu.

Di kejauhan, di antara kerapatan pohon-pohon bambu, bayangan-bayangan hitam mulai bergerak lincah dan tanpa suara. Mereka mengepung dari berbagai sudut.

Rangga membuka matanya lebar-lebar.

“Ah… akhirnya datang juga tamu-tamu tak diundang itu…” katanya pelan, suaranya sedingin es.

Sorot matanya seketika berubah, kilatan cahaya tajam memancar dari manik matanya, siap menyongsong badai yang akan segera pecah di bawah pohon mangga itu.

Bersambung...

1
Ilman Xd
cerita apa ini dawk
anggita
ada visualisasi gambar tokohnya👌. like iklan👍☝
Idwan Syahdani: makasih kk udah mampir...
total 1 replies
angin kelana
lanjuuuuuttt mudah2n cerita selanjutnya makin seru...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!