Kembali lagi dalam kisah seru perjalanan hidup seorang wanita dari keluarga Nugraha, siapa dia?, yuk ikuti ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tolonglah Oma
Makan siang sedikit tegang, Mega bahkan beberapa kali merasa was-was, kenapa jika dua orang di satukan selalu saja terasa panas, bukan hanya suhu ruangan tapi juga ucapan dan pikiran.
"Aman?" tanya Harry.
"Menurut mu?" jawab Mega pelan.
"Mungkin badai setelah ini" Harry merasa ada yang akan terjadi.
"Aku berharap kita segera berpisah Harry" jawab Mega.
"Berpisah untuk bertemu, tak masalah"
"Ck, jangan bercanda, aku tidak ingin mereka bersatu untuk sementara waktu, bisa geger dunia persilatan, dan aku juga yang pusing tujuh keliling, BERAT!" Mega terasa ingin menyerah saja ketika Sera selalu saja tak bisa berdamai dengan partnernya.
Harry tertawa lirih, lalu di tahan untuk beberapa waktu saat Graven melihat nya walaupun sekilas.
Sementara Sera tak peduli sama sekali dengan orang di depannya, makan se nyamannya, tanpa mau pusing-pusing dengan laki-laki yang sering menatapnya, semoga tidak keselek itu orang, batin Sera.
Pada akhirnya, acara makan siang selesai, Sera yang ingin segera pergi dari sana, beranjak lebih dulu, namun dia juga terkejut saat tiba-tiba saja ada tangan yang menariknya.
"Apa?" tanya Sera dengan tatapan serius.
"Ada yang ingin aku bahas, soal tempat yang aku minta di Megatan Company" Grevan sengaja mencegah Sera pergi setelah mempersilahkan tamunya untuk keluar lebih dulu.
Sera duduk kembali, bukan karena dia mengikuti perintah Graven begitu saja, tapi lebih pada menjaga emosinya karena Graven tanpa sungkan masih memegang tangannya.
"Aku sudah duduk, lepaskan tangan mu"
"Okey" Graven menurutinya.
"Begini, aku rasa aku sudah berpikir dengan lebih fleksibel, soal ruangan itu aku minta tepat di sebelahmu"
"APA?!, kamu bercanda?"
Jelas sekali Sera terkejut, jarak berkilo-kilo saja membuat nya makin stres tiap hari, lah ini hanya beberapa meter dari nya, setiap hari?, oh my God, rasanya Sera ingin sekali menjambak Graven sekarang juga.
"Aku sudah tak bisa menolak mu untuk masuk ke Megatan Company karena acc dari kanjeng Oma, dan sekarang tempat harus berada di sebelahku juga, lalu sebentar lagi apa?, mau kamar yang ada di Mansion Oma juga?"
"Mungkin, nanti aku pikirkan" sahut Graven tanpa dosa.
"Graven!" teriak Sera dengan mata yang sudah melotot kearahnya.
"Apa aku melakukan kesalahan?" tanya Gravan seolah tidak sedang terjadi apapun.
"Menurut mu?, dari awal kamu sudah apa ha?!"
"Dari awal aku melihat sesuatu dari mu Sera" Grevan mencondongkan tubuhnya sedikit berbisik, dan dengan lembut tapi bikin Sera makin kesal saja, mengatakan_
"Aku selalu melihat banyak wanita yang menatapku dengan penuh harapan, penuh keinginan seperti mencari sesuatu, dan aku lihat kamu juga begitu, aku tak keberatan, karena itu seperti sebuah rasa ketertarikan, nggak masalah, itu alami Sera dan aku memberimu celah dengan berada di dekatku lebih lama, setiap hari"
Sera langsung mengatur jarak kembali, menatap Graven seperti ingin menguliti, dasar Laki-laki tidak punya malu sama sekali.
"Jadi kamu kira aku tertarik?, dengan ingin kau menyingkir dari hidupku, tidak menganggu ku, aku sungguh heran kenapa laki-laki setampan dan sesempurna dirimu begitu menyebalkan!" teriak Sera, berdiri secepatnya dan jangan sampai apapun menghalanginya lagi untuk pergi, bisa di obrak abrik tempat ini.
Graven melihat itu semua, melihat bagaimana reaksi Sera, dan bagaimana mata indah itu menatapnya dan bahkan bibir sek-si bagai candu yang ingin sekali disentuh mengucapkan kekaguman dengan mengatakan dia tampan dan sempurna, Graven suka.
Harry masuk setelah ada panggilan, berjalan ke arah Graven dengan menghela nafas panjangnya, sesaat lalu dia juga menjadi korban kelakuan Graven dengan mendapat tatapan horor dari Sera saat berpapasan.
"Kenapa Tuan Graven suka sekali mencari gara-gara dengan Nona Sera?"
"Aku hanya menegaskan saja, besok siapkan tempat di Megatan Company, dan pastikan ruangan ku ada tepat di samping CEO nya, paham?"
"Ya Tuhan _"
Harry benar-benar tak mengerti lagi, bagaimana sosok atasan yang selalu serius dalam segala hal bisa berubah drastis saat bertemu dengan CEO Megatan Company, tapi kalau dipikir-pikir, siapa yang tak tertarik melihat wanita yang begitu_?
"Aku akan membelah kepalamu jika berani memikirkan wanita ku" suara itu membuat Harry ter lonjak dan_
"Ma maaf Tuan" Harry segera pergi sebelum Graven benar-benar melakukan kata-katanya, itulah kenapa, Graven mudah sekali bisa melangkah pasti kemana arah tujuannya, dia selalu bisa membaca pikiran siapapun yang ada di sekitarnya, sial!
*
*
Entah perjalanan yang panjang, atau hanya perasaan Sera saja sekarang.
"Masih lama?" tanya Sera.
"Sepuluh menit lagi kita sampai Nona" jawab Mega setelah lama berdiam dan akhirnya Sera mau bicara.
"Besok, siapkan ruangan Graven Rudolf, di sebelah ruangan ku, begitu juga asistennya, ada di sebelah ruangannya"
"Apa?!, dilantai yang sama?" tanya Mega terkejut.
"Hem, jangan tanya bagaimana dan mengapa, dia sudah dapat acc Oma dan aku tidak bisa berbuat apa-apa"
"Oh ya Tuhan, baiklah Nona, pantas anda begitu terlihat stress sekali, tapi mau bagaimana lagi, kita ambil saja hikmahnya Nona, kerjasama kita akan semakin mudah"
"Semoga saja"
Akhirnya tiba, Mega tak lagi bicara, dan membuka pintu untuk Sera.
Berjalan masuk menuju ke Ruangan kerjanya, Sera masih tidak bisa menerima, tapi harus melakukannya, dan otomatis Graven Rudolf mulai sering berada dalam otaknya.
"Dasar Sinting!" gumamnya, dan melemparkan tubuh lelahnya di atas kursi.
Hampir lima menitan, Sera meletakkan kepala di atas meja, dan sesaat kemudian menemukan jalan keluarnya, "OMA!!" teriaknya.
Ponsel yang ada di dalam tas segera beralih dengan cepat, menekan tombol sakti yang biasa dia hubungi.
"Halo Oma?!" ada secercah harapan di mata Sera.
"Ada apa Sera?, kamu sedang bekerja kan?"
"Tentu saja Oma, dan bisakah Oma membantuku sekarang, aku cucu Oma kan?"
"Hem, tentu saja sayang, ada apa hem?"
Sera menceritakan keinginannya, untuk belajar mandiri menjalankan Megatan Company, ingin lebih serius dengan tidak ingin ada orang yang mengganggu konsentrasinya.
"Jadi_, siapa yang berani menganggu mu sampai sejauh itu?" tanya Oma Alena.
Yes, akhirnya, Sera merasa berhasil menggiring opini Oma, sebentar lagi pasti berhasil!, pikirnya.
"CEO Rudolf Company Oma, dan dia terlalu ikut campur, menyebalkan dan membuat hari-hari ku tidak tenang, dia seperti robot, bekerja tak tau waktu dan sering memaksaku Oma"
"Memaksa?"
"Iya, memaksaku harus berada di acara meeting tepat waktu dan memberiku waktu beberapa menit saja, aku sampai menggunakan heli kesana, belum lagi tugas berat yang setiap hari ada, dia menyebalkan Oma, aku tidak bisa nafas, sesak dan ingin mati saja"
Aneh, bukan suara orang yang marah atau setidaknya khawatir, justru Sera mendengar tawa dari sang Oma.
"Maaf sayang, untuk hal ini, Oma angkat tangan"
Cklek
"OMA!!"
Waduh, Oma di pihak siapa ini ya?, yuk komen nya.
Eh jangan lupa waktunya VOTE ya.
Bersambung.
tp tdk lepas jg dr titisan gestrek omanya 🤭🤭