NovelToon NovelToon
Diam-diam Membalaskan Dendam

Diam-diam Membalaskan Dendam

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Balas Dendam
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: nita kinanti

Setelah mendapatkan donor mata, Zivanna hampir tidak pernah bisa tidur nyenyak. Mimpi setiap malam dia bermimpi aneh bahkan terkadang buruk yang sering membuatnya terbangun dengan jantung berdebar tidak karuan.

Zivanna berpikir mungkin dirinya sedang stress jadi untuk sementara dia akan tinggal bersama neneknya di desa.

Tetapi siapa sangka ketika tinggal di desa, mimpi aneh Zivanna semakin menjadi-jadi menyebabkan dia sering mondar-mandir ke puskesmas dan bertemu Alvaro, dokter tampan yang membantunya menangani masalahnya.

Ternyata, mimpi-mimpi yang selalu mengganggu Zivanna berasal dari potongan penglihatan pemilik mata sebelumnya yang telah mengalami begitu banyak siksaan.

Dibantu oleh Alvaro, Zivanna akan membalaskan dendam pemilik penglihatan sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nita kinanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

26. Dipaksa?

Setelah menempuh perjalanan mengandalkan ingatannya, Alvaro akhirnya sampai di rumah Zivanna.

Pantas gadis itu tidak menjawab teleponnya, rupanya dia dan neneknya sedang berada di teras, berbincang dengan seseorang yang Alvaro ingat adalah laki-laki yang tadi pagi meminjamkan sepeda motor. Cahyo! Ya, Alvaro ingat laki-laki itu sekarang.

"Al, ada apa? Kok balik lagi?" Zivanna yang melihat langsung menyapa meski tanpa berdiri dari tempat duduknya. Kakinya yang terluka membuatnya tidak bisa kesana kemari sesuka hatinya. Apalagi ada Minah di sisinya yang sangat overprotektif terhadap cucu satu-satunya itu.

"Aku lupa memberimu antibiotik tadi. Untuk pencegahan agar lukanya tidak infeksi." Alvaro mengarang alasan agar tidak mencurigakan. Laki-laki itu berjalan memasuki teras kemudian bergabung bersama Minah, Zivanna dan Cahyo.

Lalu mereka berempat terlihat percakapan. Sangat akrab. Zivanna tidak terlihat ketakutan. Hingga akhirnya Cahyo pamit dan mengalami mereka satu persatu sebelum pergi.

"Terima kasih ya, Cahyo. Untung tadi kamu lewat. Jadi Zivanna bisa langsung di bawa ke puskesmas," kata Minah ketika laki-laki itu bersalaman dengannya.

"Maaf ya, tadi bawa motor kamu pergi. Kamu jadinya harus berangkat kerja jalan kaki," kata Alvaro selanjutnya, ketika mereka bersalaman.

"Nggak apa-apa, Dok. Tadi keadaannya mendesak. Lagi pula saya juga sudah biasa jalan kaki," jawab Cahyo ramah.

Terakhir Zivanna, Cahyo berkata, "Semoga kakimu lekas sembuh."

Zivanna mengangguk. "Terima kasih."

"Saya permisi." Laki-laki mengangguk kemudian pergi membawa sepeda motornya yang tadi pagi di pinjam.

"Untung tadi ada kamu juga, Alva. Kalau tidak, pasti sekarang nenek sudah mengerahkan seluruh pekerja untuk mencarinya," kata Minah sambil menatap gemas cucunya.

"Orang pengen jalan-jalan masa nggak boleh?" gumam Zivanna

"Tapi setiap kali jalan-jalan ada aja gebrakannya. Kemarin hilang, ini tadi kena pecahan kaca, entah besok apalagi."

"Besok nggak jalan-jalan, orang kakinya sakit," jawab Zivanna yang membuat Minah menghela nafas dalam-dalam menahan sabar.

"Kamu lihat dia, Alva. Kalau dia nggak di sini nenek kangen, tapi kalau di sini hipertensi nenek jadi sering kumat. Coba kamu hadapi dia. Kalau betah seminggu saja, kamu sudah lulus jadi calon suaminya," Minah bersungut-sungut.

"Apa sih, Nek? Tiba-tiba langsung calon suami?!" Wajah Zivanna merona. Malu karena ucapan neneknya. Gadis itu memilih pergi dengan alasan ingin mandi.

"Kamu lihat kan tadi? Zizi aslinya gadis yang ceria. Dia memang sedikit bandel dan sulit diberitahu tapi dia yang membuat suasana rumah jadi hidup. Kalau boleh memilih, Nenek lebih suka Zizi yang ngeyel itu daripada Zizi yang murung seperti sekarang."

Alvaro tadi memperhatikan perdebatan cucu dan nenek ini. Benar yang dikatakan Minah. Kalau sedang "waras" Zivanna terlihat seperti gadis manja dan keras kepala yang sulit diberitahu alias ngeyel. Sangat berbanding terbalik dengan Zivanna yang saat ini dia kenal. Alvaro jadi penasaran seperti apa sosok Zivanna sebelumnya.

"Dia sering melamun lalu tiba-tiba menangis. Nenek sampai kasihan melihatnya. Nggak apa-apa hipertensi nenek sering kumat, asal dia kembali ceria seperti sebelumnya. Tapi bagaimana caranya?"

"Kata Anita sekarang dia juga menutup diri, menjauhi teman-temannya tidak mau berhubungan dengan mereka lagi. Bukankah itu hanya memperburuk keadaannya? Nenek pingin dia punya teman, agar bisa cerita-cerita, tidak semuanya dipendam sendirian."

"Nek, kalau diizinkan, saya ingin membantu Zizi. Apa boleh?"

"Tentu saja boleh. Kami tidak tahu bagaimana caranya untuk menyelamatkan Zizi. Kalau kamu bisa menolongnya nenek bersyukur sekali."

"Tapi pertama-tama saya ingin berbicara dengan papanya Zizi dulu karena ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan. Apakah saya boleh meminta nomornya, Nek?"

"Iya, tentu saja." Minah memanggil Rani, meminta perempuan itu untuk menuliskan nomor Wisnu di sebuah kertas lalu memberikannya pada Alvaro.

"Kalau kamu ingin bicara langsung dengan Wisnu juga bisa. Besok sabtu dia akan datang," terang Minah. Anak laki-lakinya itu akan datang akhir pekan ini untuk melihat kondisi Zivanna, dan mengajaknya kembali ke kota kalau anak itu bersedia.

"Yang penting saya bisa bicara dulu dengan Pak Wisnu. Soal pertemuan, nanti menyusul tidak apa-apa," jawab Alvaro. "Ada satu lagi permintaan saya, Nek."

"Apa itu?"

"Tolong rahasiakan ini dari Zizi, ya Nek. Saya khawatir dia akan semakin kepikiran dan kondisinya semakin buruk kalau diberi tahu sekarang."

Ini baru dugaannya saja. Dia ingin memastikannya dulu. Kalau memang semua seperti yang dia pikirkan Alvaro baru memberitahu Zivanna.

Dengan berbagai pertimbangan akhirnya Alvaro memilih merahasiakannya dari Zivanna agar tidak semakin membebani pikiran gadis itu.

* * *

Ini hari yang cukup melelahkan bagi Alvaro. Setelah tadi bolak balik ke desa Suka Makmur akhirnya sekarang dia duduk tenang di dalam rumah sederhananya.

Handphone belum terlepas dari tangannya sejak dirinya tiba. Setelah menghubungi Wisnu dan mendapat informasi mengenai tempat dan tanggal Zivanna melakukan operasi, Alvaro masih harus menghubungi beberapa orang lagi.

Banyaknya koneksi dan juga profesinya sebagai seorang dokter memudahkan Alvaro untuk mendapatkan informasi yang diinginkan, meskipun itu bersifat sangat rahasia.

Tidak membutuhkan waktu lama Alvaro menerima beberapa surat elektronik yang berisi informasi mengenai indentitas pendonor kornea mata untuk Zivanna.

"Rahayu Eka Dewi, usia dua puluh lima tahun, alamat desa Suka Makmur rt.05, kecamatan Suka Jaya," gumam Alvaro berulang.

Dia membaca email itu sampai beberapa kali, untuk memastikan jika dirinya tidak salah baca.

Selanjutnya, Alvaro mencari informasi di rumah sakit pusat, dimana terakhir Ayu di rawat untuk memastikan tanggal dan harinya sama dengan tanggal operasi Zivanna.

Yang lebih mengejutkan lagi adalah keluarga pendonor yang memberikan persetujuan atas donor kornea itu.

"Suci Suyanti," Alvaro kembali bergumam. Itu adalah nama Suci, perawat yang selalu mendampinginya. Tidak salah lagi. Di sana tertulis jika Suci Suyanti adalah adik dari pendonor.

Alvaro memijat pelipisnya, sampai tidak bisa berkata-kata. Selama ini Suci mengatakan jika Ayu si penjual jajanan adalah tetangganya. Bahkan ketika Alvaro tidak sengaja melihat Suci menemani Ayu ketika gadis itu sedang di rawat di puskesmas, perawat itu berkata jika dirinya kasihan karena Ayu yatim piatu karena itu dia menemaninya.

Sejenak Alvaro teringat kata-kata Zivanna. Gadis itu mengatakan jika di dalam mimpinya, perawatnya itu sangat jahat. Alvaro menjadi ragu. Apakah dia benar jahat?

Kalau membaca ini Alvaro yakin bukan Ayu yang memiliki inisiatif untuk mendonorkan kornea matanya. Alvaro bahkan yakin Ayu tidak tahu apa itu donor mata. Yang gadis itu tahu hanyalah tepung dan kelapa parut.

Sedangkan Suci, dia adalah seorang perawat. Dia tahu banyak hal dibandingkan dengan Ayu. Apakah gadis itu dipaksa mendonorkan matanya? Apakah karena itu dia menghantui Zivanna melalui mimpi-mimpinya?

1
Ma Em
Ayo Zivana balaskan dendam Ayu pada Suci juga pada Ida karena perbuatan mereka hdp Ayu jadi menderita .
Ma Em
Ayo Alvaro cari bukti yg kuat agar orang2 yg sdh jahat pada Ayu akan dapat hukuman yg setimpal ,terutama Bu Ida dan Suci hrs di beri pelajaran itu agar dia sadar dan sekalian masukan ke penjara .
Ds Phone
itu lah sebab nya
Ma Em
Semangat ga Alvaro segera membuka semua tabir yg Zivana hadapi dan Zivana bisa sehat kembali tdk diteror dgn mimpi mimpinya .
Ds Phone
dia jahat dengan ayu
Ds Phone
rasa mata tu dia punya
Ds Phone
cucu sorang memang susah hati
Ds Phone
dia ingat dia ayu
Ds Phone
cari kesepatan
Ds Phone
memang jahat perumpuan tu
Ds Phone
mimpi teruk lagi lah tu
Ds Phone
orang jahat dah cemburu
Ds Phone
dia melihat semus nya
Ds Phone
dia lihat apa perbuatan jahat meraka
Ds Phone
maaf sebab dah buat jahat
Ds Phone
muking dia kena rogol
Ds Phone
semua nya ada kaitan
Ds Phone
ada saja yang dengki
Ds Phone
ada apa dengan dia
Ds Phone
semua dalam mimpi nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!