"Dia adalah anakku, bukan anak haram"
~Rosita Salsabila Akbar~
"Mereka tak pernah benar-benar ada karena cinta. Mereka disampingku hanya untuk harta dan kedudukan, bahkan mereka akan mundur perlahan karena malaikat kecil yang selalu ada di sisiku. Tapi kau, bagaimana dengan kau?"
~Rosita Salsabila Akbar~
"Aku tak pernah benar-benar mencintai wanita sebesar ini"
~Bimantara Eka Julian~
"Melihatlah ke arahku! Dan jangan katakan itu lagi, karena itu sangat menyakitkan buatku"
~Bimantara Eka Julian~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon r_eka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sakit Sekali
Sita masih sibuk memainkan tabletnya, memeriksa laporan yang baru saja dikirim asistennya beberapa menit yang lalu.
Wanita itu sudah sekitar seperempat jam yang lalu tiba di salah satu restoran terbesar di kota itu. Padahal, jamuan makan siang baru akan dimulai setengah jam lagi. Ia memang sengaja berangkat lebih awal, agar waktunya tidak habis di jalan.
Menunggu sambil bekerja, membuat Sita tidak sadar bahwa waktu jamuan segera tiba. Beberapa undangan, yang tak lain adalah para pengusaha muda, sudah mulai berdatangan. Termasuk Tara, yang pada kesempatan itu datang bersama sang tunangan.
"Silahkan tuan, tempat anda disini", terdengar seorang pelayan restoran yang sedang menunjukkan tempat pada Tara. "Untuk nona, silahkan anda duduk di sebelah sana", kata pelayan itu lagi pada Rachel, tunangan Tara.
"Sayang, aku kesana dulu ya", kata Rachel sambil mencium pipi Tara.
Rachel menghentikan langkahnya, tatkala ia mengindra perempuan yang duduk satu meja dengan suaminya. "Nona Sita!" Sapanya, membuat sang empunya nama segera mengangkat kepalanya.
"Nona Rachel", kata Sita sedikit terkejut. "Apa kabar?" Sapanya.
"Seperti yang kamu lihat", kata Rachel dengan senyum yang manis. "Oh ya, aku titip kekasihku ya, jangan sampai ada yang menggodanya", kata Rachel sambil melirik nakal ke arah Tara, namun pria dingin itu hanya bersikap datar.
Sita hanya menanggapi ucapan Rachel dengan senyum tipis dan membiarkan wanita nan elegan itu berlalu meninggalkannya dan Tara yang kini masih berdua saja di mejanya.
Acara jamuan makan siang itu berlangsung sangat menyenangkan. Sita benar-benar menikmati acara itu, bukan hanya karena menu makanannya yang lezat, tapi baginya berkumpul bersama orang-orang yang seprofesi, berbagi ilmu dan pengalaman memberinya kesan tersendiri. Belum lagi si pengundang juga memberikan banyak ilmu baru untuk mengembangkan usahanya.
Sita baru saja keluar dari salah satu kamar mandi restoran, namun saat akan berjalan menuju wastafel, ia terpeleset. Kakinya yang sebelumnya sempat terkilir beberapa waktu lalu, mengalami hal yang sama saat ini, bahkan sepertinya lebih parah, karena membuatnya sampai tak bisa berdiri, meskipun ia berusaha sangat keras.
"Anda kenapa?" Kata Tara yang melihat kondisi Sita. Pria itu kemudian berjongkok, berniat untuk membantu Sita berdiri.
"Awww!" Seru Sita kesakitan, tatkala Tara membantunya berdiri.
"Anda tidak apa-apa?" Tanya Tara. Ia mengembalikan Sita ke posisi semula saat melihat wanita yang di tolong ya nampak benar-benar kesakitan.
"Ini sakit sekali", kata Sita sambil memegangi kakinya yang terkilir dan menahan sakit.
"Sepertinya ini cukup parah. Biarkan aku menggendong anda, tidak mengapa bukan?" Kata Tara.
"Emmmm...... ", Sita nampak gugup memandang ke arah Tara, namun akhirnya dia mengangguk.
Dalam sekali gerakan, Sita sudah berada di gendongan Tara. Hal itu membuat Sita sangat malu, sehingga ia memilih membuang muka dari Tara. Sementara Tara hanya bersikap seperti biasa, dingin dan cuek dengan kondisi yang ada.
Masuk ke ruang jamuan, dengan kondisi yang tidak biasa. Tara dan Sita menjadi pusat perhatian orang-orang yang ada di ruangan yang sangat luas itu, tak terkecuali Rachel. Rachel bukan hanya kaget, tapi dia juga cemburu melihat fakta di depannya, bahkan wanita itu nampak menghentakkan satu kakinya ke lantai karena kesal.
Seorang pria yang tak lain adalah Dimas bangkit dari duduknya dan berjalan cepat ke arah Tara dan Sita. "Dia kenapa?" Tanya Dimas yang ternyata juga hadir di jamuan makan siang itu.
"Dia terkilir, parah sepertinya, hingga kakinya bengkak dan ia tak bisa berdiri dan berjalan", kata Tara.
"Biar aku yang membawanya ke rumah sakit! Kakak urusi Rachel saja, lihat calon istri kakak itu!" Ucap Dimas sambil matanya melirik ke arah Rachel yang berdiri tak jauh dari mereka sambil cemberut.
"Aku bisa ke rumah sakit sendiri", kata Sita, tegas menolak.
"Tidak mungkin dengan kondisi anda begini. Biarkan sepupu saya yang membantu Anda", kata Tara, yang kemudian menyerahkan begitu saja Sita ke gendongan Dimas.
Di dalam mobil, menuju rumah sakit, Sita hanya diam. Ia sibuk melihat ke luar kaca jendela mobil yang nampak titik-titik air menempel di sana karena cuaca saat itu sedang gerimis.
"Apa masih sakit?" Tanya Dimas sambil sekilas melihat ke arah Sita. Sita hanya mengangguk.
"Bagaimana kabar Gala?" Tanya Dimas lagi.
Dan pertanyaan Dimas itu sukses membuat Sita menoleh ke arah laki-laki yang rambutnya di cepol rapi itu.
"Kenapa kamu menatapku seperti itu?" Kata Dimas yang melihat Sita melotot ke arahnya. "Aku hanya bertanya kabar Gala. Apa tidak boleh?" Kata Dimas lagi.
"Aku tidak suka kamu tanya-tanya tentang anakku", kata Sita sinis sambil menatap lurus ke depan.
"Baiklah, maafkan aku!" Kata Dimas. Mata pria itu masih melirik ke arah Sita. Ntah apa yang ada di pikirannya, nampak laki-laki itu tersenyum tipis tiba-tiba.
Tak berapa lama mobil yang mereka tumpangi, sudah masuk ke area parkir rumah sakit. Dimas yang baru saja keluar dari mobil, segera membuka pintu mobil untuk Sita.
"Panggilkan perawat saja agar membawakanku kursi roda, agar kamu tidak perlu susah-susah menggendongku", kata Sita sesaat setelah pintu mobil terbuka.
"Tidak perlu! Aku masih sanggup membawamu sendiri ke dalam", jawab Dimas, yang kemudian langsung menggendong paksa Sita yang sempat hampir menolak.
"Kamu pulang saja, tak perlu menungguku. Aku masih bisa mengurusi diriku sendiri. Lagipula aku tidak mau merepotkanmu", kata Sita yang baru saja mengakhiri percakapannya di telepon dengan salah satu asistennya.
"Tidak apa, aku tak merasa di repotkan. Aku sedang tidak ada pekerjaan dikantor", kata Dimas, yang tentu saja membuat Sita kesal, karena sebenarnya dia ingin menghindari bertemu dengan Dimas.
"Nona Rosita!" Panggil seorang perawat yang baru saja membuka pintu ruangan dokter spesialis ortopedi.
Tanpa diminta, dengan gerakan cepat Dimas bangkit dan mendorong kursi roda Sita, masuk ke ruang pemeriksaan. Sita hanya bisa menerima apa yang dilakukan oleh Dimas, karena tak mau ribut.
Sekitar hampir 30 menit, Sita ada di ruang pemeriksaan untuk menjalani beberapa pemeriksaan. Yang terakhir dokter, membungkus bagian kaki Sita yang sakit dengan perban untuk mengurangi pembengkakan.
"Pelan-pelan", kata Dimas sambil membantu Sita turun dari ranjang pemeriksaan, untuk duduk kembali ke kursi rodanya.
"Pak, ini obat yang dibutuhkan bu Rosita sudah saya tuliskan di resep. Tolong di kontrol untuk rutin sesuai aturan minum obatnya", kata dokter sambil menyerahkan resep pada Dimas.
"Baik, dok", jawab Dimas.
"Bu Rosita harus istirahat total selama 3hari. Semoga istri anda lekas sembuh", kata Dokter
" Tapi dok___", Sita hendak menolak pernyataan dokter, namun Dimas lebih dulu menyela ucapannya.
"Baik dok, saya akan menjaga istri saya dengan baik", kata Dimas dengan senyum puas berhasil membuat Sita jengkel.
Keluar dari ruangan pemeriksaan, sudah nampak Bayu dan Ratih menunggu atasannya di ruang tunggu pasien. " Anda tidak apa-apa bu Sita?" Tanya Ratih dengan raut wajah khawatir.
Sita tersenyum tipis. "Tidak apa-apa, jangan terlalu khawatir", kata Sita. " Ayo kita pulang!", lanjutnya.
Dengan cepat Ratih mengambil alih mendorong kursi Roda yang tadi di dorong oleh Dimas. "Permisi", kata Ratih pada Dimas.
"Oh ya, sebentar", Sita meminta Ratih berhenti mendorong. Lalu wanita itu menoleh ke arah Dimas. "Kamu boleh pulang. Aku akan pulang bersama mereka. Terimaksih atas bantuanmu", kata Sita.
"Aku akan memastikan kamu pulang kerumah sampai selamat. Lagi pula aku tidak bisa pulang karena mobilku masih tertinggal di restoran", kata Dimas.
"Tidak perlu! Kamu akan diantar pulang oleh Bayu. Aku akan pulang bersama Ratih!" Sita menolak permintaan Dimas.
"Ayo tih, kita pulang!" Kata Sita, yang kemudian pergi meninggalkan Dimas yang termangu sendiri di lorong rumah sakit.
yang penasaran sama visualisasinya abang Dimas, nih...ganteng kagak?
_____________
Mohon maaf author baru muncul. Berhubung dua minggu ini pekerjaan di RL begitu berat, jadi author kesulitan membagi waktu buat nulis. Semoga selanjutnya author nulisnya bisa rutin lagi🙏
Happy Reading😉😉😉
smga sehat" trs dan bs lnjut lg thor
nah semangat thor, semoga sukses.
memang ada sih yang bilang biar penasaran.
mending mantan penjahat ya kan
buat perjanjian pranikah antara mila dan rafi misalnya " apabila rafi ketahuan selingkuh maka gugur kepemilikkan saham"