Setelah memergoki kekasihnya berselingkuh membuat Nina Safira kehilangan akal sehatnya. Dia datang ke sebuah bar berniat untuk menghibur diri, namun hal tak terduga terjadi, akibat kecerobohannya dia mabuk berat dan bermalam bersama pria asing di sebuah hotel. Bukannya menyelesaikan masalah tapi malah menambah masalah. Lantas tindakan apa yang diambil Nina setelah kehormatannya terenggut oleh pria yang belum dikenalnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika Dw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33. Takkan Tinggal Diam
"Ini tidak boleh terjadi! Dia tidak boleh mengambil harta milikku! Aku harus melakukan sesuatu!"
Semenjak pertengkarannya dengan suaminya Zoya tidak biasa hidup dengan tenang, bahkan untuk sekedar mengistirahatkan tubuhnya saja tidak mampu.
Masih terngiang-ngiang ucapan suaminya membuatnya benar-benar kelabakan seperti cacing kepanasan. Wiryo benar-benar orang yang tidak tahu diri, sudah diangkat derajatnya tapi malah jadi kacang lupa kulitnya.
"Tante, sebenarnya ada apa sih? Aku lihat dari kemarin Tante kelihatannya begitu gelisah. Kalau ada masalah cerita saja sama aku, barang kali aku bisa bantu."
Maura sepulang dari kuliah langsung menemuinya di balkon. Sejak pertengkarannya dengan Wiryo Zoya memilih untuk sendiri, bahkan tidak mau berbagi masalahnya dengan Maura.
Zoya menoleh dengan kepalanya menggeleng. "Tidak ada apa-apa Maura," jawabnya dengan memaksakan diri untuk tersenyum. "Tumben kamu sudah pulang? Biasanya jam segini mana ada di rumah."
"Aku sedang nggak mood buat nongkrong. Teman-teman pada sibuk dengan keluarganya, jadi nggak ada waktu buat temani aku."
"Oh..., jadi begitu rupanya? Kalau nggak ada teman baru pulang cepat," sindir Zoya. "Terus gimana sama cowok kamu itu? Siapa namanya...?"
"Bagas?" Jawabnya cepat.
Mengingat ucapan Bagas terlalu membuatnya sakit hati. Pria itu memaki-makinya dan menganggapnya sebagai wanita murahan setelah berhasil merusak hubungannya dengan Nina. Padahal kejadian di hotel itu sudah disepakati bersama, tapi ujung-ujungnya ia yang disalahkan.
"Kayaknya hubunganku dengan Bagas sudah berakhir, Tante. Dia nggak mau ketemu aku lagi."
Zoya terbengong. "Loh..., kok bisa begitu? Bukankah kalian udah~~
"Iya Tante, aku udah nyerahin kehormatanku sama dia, tapi apa yang aku dapatkan? Dia hanya mempermainkanku saja. Dia nggak benar-benar mencintaiku!"
Zoya merasa kehidupannya tidak ada bedanya dengan kehidupan keponakannya, sama-sama dimanfaatkan oleh laki-laki. Ternyata semua laki-laki itu sama saja, tidak ada yang bisa menghargai perasaan perempuan.
"Maura, kamu masih sangat muda. Kamu berhak menentukan kebahagiaanmu sendiri. Buang saja laki-laki yang tidak bisa dipertahankan." Mengingat dirinya sudah menjadi korban keserakahan suaminya, ia mengingatkan pada keponakannya agar tidak melakukan kesalahan yang sama." Jangan sampai seperti Tante."
Maura mengerutkan keningnya." Memangnya apa yang sudah terjadi sama tante? Apakah Om Wiryo juga mengkhianati Tante?"
"Iya Maura, dia menyakiti perasaanku. Aku nggak pernah mengerti rencana liciknya. Diam-diam dia meminta aku buat tanda tangan atas pengesahan hak milik perusahaan, dan ternyata sekarang aku disingkirkan. Dia ingin kembali pada masa lalunya. Dia ingin kembali pada anak istrinya dengan membawa perusahaan yang kumiliki, Maura!"
"A—apa?" Refleks bola mata Maura seolah hendak lompat. Dia sangat terkejut mendengar penjelasan dari wanita yang dianggapnya sebagai orang tua keduanya. "Tante, memangnya apa yang membuat Om Wiryo tega melakukan semua itu? Tidak akan ada asap kalau tidak ada api, tentu permasalahan ini tidak akan muncul begitu saja tanpa ada penyebabnya."
Zoya yang awalnya ragu untuk mencurahkan isi hatinya kepada Maura, kini ia merasa lebih lega saat Maura mau menjadi teman curhatnya. Awalnya ia pikir Maura tidak begitu peduli dengan perasaannya, ternyata ia salah menilai, gadis itu masih memiliki kepedulian yang besar.
"Aku juga tahu permasalahannya Maura," cicit Zoya. "Awal mulanya dia pulang larut malam dan saat aku tanya katanya dia habis ketemu sama Pak Hermawan. Aku pikir hubungan bisnis dengan Pak Hermawan sudah benar-benar berakhir, tapi kenapa dia masih datang untuk menemuinya? Aku yakin pasti ada sesuatu yang tidak beres."
Sudah kehilangan banyak saham perusahaannya kini masih timbul masalah baru. Entah sampai kapan permasalahannya bakalan berakhir. Ia bingung, kenapa Hermawan sesadis itu tak ingin memberinya kesempatan.
"Terus Tante nggak ada niatan buat bertanya apa yang tengah dibicarakan oleh om Wiryo dengan Pak Hermawan begitu?"
Maura ikut sedih. Jika sampai Wiryo mengambil perusahaan milik tantenya sudah pasti ia bakalan jatuh miskin. Semua barang-barang branded yang dimilikinya bisa terjual habis untuk menyambung hidup.
"Aku udah tanya, tapi dia nggak mau jawab. Dia hanya bilang bertemu dengan pak Hermawan menemukan banyak hal, termasuk mengenai percetakannya. Itu yang membuat aku bingung Maura! Kok bisa pak Hermawan tahu perceraiannya Wiryo dengan istrinya? Sebenarnya apa hubungan pak Hermawan dengan istrinya mas Wiryo?"
"Tante, ini tidak bisa dibiarkan. Tante harus bersikap tegas pada Om Wiryo. Bukankah Tante memiliki data-data perusahaan? Cepat selamatkan surat itu, jangan beri dia kesempatan untuk mengambilnya dari tangan Tante."
Zoya menggeleng. "Apa yang bisa diselamatkan Maura? Kakak kamu sudah menyerahkan perusahaan itu kepada Om Wiryo. Bahkan aku sudah tanda tangan persetujuan atas diangkatnya menjadi pimpinan Roya Grup."
"Apa Tante...? Jadi Tante sekarang sudah tidak memiliki kekuasaan lagi?"
Zoya manggut-manggut dengan wajah cemasnya. Dia tak berdaya. Dia merasa tertipu oleh mulut manisnya.
"Kenapa Tante begitu bodoh?!"
Maura pikir Zoya cukup tegas dibandingkan dengan ibu kandungnya sendiri. Bahkan ibu kandungnya sendiri rela dibuang ke desa setelah menanggung aib melahirkan tanpa seorang suami. Di saat ibunya tidak berdaya dan harus patuh kepada keputusan yang diambil oleh orang tuanya Zoya lah yang berjuang untuk membesarkannya. Zoya melawan orang tuanya demi mempertahankan dirinya yang memang pantas untuk hidup lebih baik.
Ketegangan diantara mereka berakhir ketika Wiryo tiba-tiba datang dan menemuinya di balkon. Maura yang tak ingin terlalu ikut campur urusan rumah tangga mereka memutuskan untuk pergi, membiarkan mereka berdua mengatasi permasalahannya.
"Bagaimana? Apa kau sudah mengambil keputusan?"
Pria itu masih juga dingin, seolah-olah dia orang yang paling berkuasa di rumah itu.
"Keputusan apa?" tanya Zoya dengan muka sinisnya. Sejak suaminya berubah sikap ia juga langsung merubah sikap tak kalah dingin.
"Aku memintamu untuk bersikap baik terhadap anakku. Aku rasa tawaranku itu tidaklah menyulitkanmu!"
Zoya menaikkan ujung bibirnya menyeringai. "Apa Kau pikir aku terlalu bodoh sampai-sampai aku harus tunduk padamu?"
Dia terlihat tenang meskipun hatinya begitu ingin menjerit. Dia tidak ingin kegelisahannya diketahui oleh Wiryo dan akan semakin membuat Wiryo semena-mena terhadapnya.
"AKU TIDAK MAU BERURUSAN DENGAN ANAKMU ATAU BAHKAN MENGAKUINYA SEBAGAI ANAK TIRIKU!" Zoya menekan di setiap ucapannya. "Selama bertahun-tahun kita hidup bersama, hanya ada Maura di antara kita, dan aku hanya menganggap Maura sebagai keluarga pelengkap kita, tidak ada orang lain."
Zoya akan berjuang keras untuk mempertahankan apa yang menjadi haknya. Dia tidak rela kalau sampai Wiryo memiliki niatan licik ingin mengambil semua harta peninggalan orang tuanya.
"Kalau sampai kau membawa anakmu ke sini aku tidak akan pernah mengizinkannya." Kembali dia memberikan peringatan. "Ini rumahku, aku memiliki hak atas rumah ini. Jadi aku yang paling berhak untuk menentukan siapa yang boleh tinggal di sini."