NovelToon NovelToon
STILL ME

STILL ME

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:342
Nilai: 5
Nama Author: Heynura9

Nara tumbuh di keluarga yang mengajarinya satu hal sejak kecil jangan merepotkan.
Dua puluh dua tahun kemudian, Nara lulus kuliah. Bukan dengan pesta tapi dengan catatan pengeluaran ibunya sejak ia lahir, dan permintaan untuk mulai "membalas."
Nara butuh kerja. Butuh uang. Butuh keluar.

Ia datang ke Adristo Group untuk interview posisi admin. Yang tidak ia tahu ia salah masuk ruangan. Dan orang di depannya bukan HRD.
Ia Rayan Adristo. CEO. Tiga puluh tahun. Dingin, efisien, dan sedang mencari istri kontrak untuk enam bulan ke depan demi menghentikan ibunya yang terus-terusan mengatur kencan buta tanpa izin.

Still Me adalah cerita tentang perempuan yang tumbuh tanpa kehilangan dirinya. Tentang belajar bahwa mencintai seseorang tidak berarti menyerahkan diri. Dan bahwa menjadi utuh bukan tentang menemukan orang yang melengkapi tapi tentang akhirnya berani berdiri sebagai dirimu sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

STILL ME CHAPTER 24: Fasilitas Karyawan Palsu

​Sejak insiden mi instan kuah soto di jam dua pagi itu, ada pergeseran tektonik yang sangat halus dalam rutinitas kami berdua.

​Dinding es pembatas antara Sayap Barat dan Sayap Timur tidak sepenuhnya runtuh kami masih terlalu gengsi dan terlalu rasional untuk tiba-tiba bersikap hangat tapi setidaknya, sekarang ada celah ventilasi di dinding tersebut.

​Perubahan itu termanifestasi dalam bentuk transaksi bisu di pagi hari.

​Tiga hari setelah malam itu, saat aku keluar kamar pukul setengah enam pagi untuk berangkat kerja, aku menemukan secangkir kopi hitam pekat yang masih mengepul dari mesin espresso puluhan juta milik Rayan, tergeletak sendirian di atas kitchen island. Tidak ada post-it, tidak ada pesan, dan Rayan sudah menghilang ke ruang kerjanya.

​Karena pantang menolak asupan kafein gratis, aku meminumnya. Sebagai balasan dan karena aku benci merasa berhutang budi secara kalori aku menggoreng satu telur mata sapi tingkat kematangan medium, menaburinya dengan sedikit lada hitam, lalu meletakkannya di atas piring keramik mahal tepat di sebelah tempat ia biasa membaca berita pagi.

​Kami tidak pernah membahas rutinitas barter ini. Rayan membuat kopi, aku membuat telur atau roti panggang. Sebuah simbiosis mutualisme kelas pekerja dan triliuner yang berjalan tanpa kata-kata.

​Kedamaian yang efisien itu berlangsung persis selama sembilan hari.

​Hingga suatu malam, di hari Selasa, layar ponselku yang tergeletak di atas karpet menyala terang, membelah konsentrasiku dari deretan angka di Microsoft Excel.

​Caller ID: Ibu.

​Alarm bahaya di kepalaku langsung berbunyi. Aku menarik napas panjang, menetralkan ekspresi wajahku meski tidak ada yang melihat, lalu menggeser tombol hijau.

​"Halo, Bu?" sapaku datar.

​"Halo, Nara. Kamu lagi sibuk, Nak? Belum tidur kan?" Suara Ibu di seberang sana terdengar luar biasa manis. Terlalu manis. Level kemanisan ini biasanya berbanding lurus dengan besarnya permintaan yang akan menyusul.

​"Lagi ngerjain sisa data kantor, Bu. Ada apa?"

​"Nggak ada apa-apa, Ibu cuma mau bilang makasih. Uang tiga juta dari kamu bulan ini udah masuk pas tanggal satu kemarin. Ibu udah belikan stok daster baru buat di toko. Bapakmu juga seneng lihat kamu udah mapan di perusahaan besar," puji Ibu panjang lebar.

​Aku hanya menggumamkan kata 'syukurlah' sebagai respons formal. Jari-jariku mulai mengetuk-ngetuk mousepad laptop. Menunggu punchline-nya.

​"Nah... kebetulan minggu depan itu ada resepsi nikahannya anak Bude Yanti di Bekasi, Ra," lanjut Ibu, nadanya mulai masuk ke wilayah negosiasi. "Ibu sama Bapak mau datang. Rencananya Ibu sekalian mau mampir ke Jakarta, mau nengok kamu sehari-dua hari. Ibu mau nginep di mess karyawan eksekutif kamu itu. Penasaran Ibu, perusahaan sebesar Adristo Group pasti mess-nya bagus banget kan? Kapan lagi Ibu bisa ngerasain tidur di tempat elit."

​Jantungku rasanya baru saja tergelincir dari tulang rusuk dan jatuh menabrak lambung.

​Otakku langsung mengalami system failure selama tiga detik penuh.

​Nginep di mess karyawan? Di sini?! "Ehm... Bu," suaraku bergetar sedikit, berusaha keras mempertahankan nada normalku. "Mess ini... peraturannya sangat ketat. Fasilitas ini khusus ring satu. Pihak luar, bahkan keluarga inti sekalipun, dilarang keras masuk apalagi menginap demi alasan keamanan data perusahaan. Satpam di bawah tidak akan kasih izin."

​Sebuah kebohongan logis dan birokratis. Seharusnya ini cukup untuk memukul mundur orang awam.

​Namun, ini Sri Wahyuni. Logika birokrasi tidak mempan melawannya jika sudah berbenturan dengan egonya.

​"Loh, masa seketat itu, Ra? Ibu kan ibumu sendiri, bukan mata-mata pabrik!" Nada suara Ibu langsung naik, berubah menjadi jurus guilt-tripping andalannya. "Masa manajer kamu nggak punya hati nurani? Ibu jauh-jauh dari kampung, kangen sama anak sendiri, masa cuma mau numpang tidur semalam aja nggak boleh? Kamu bilang aja sama HRD-mu, Ibu cuma mau lihat kasur tempat kamu tidur, habis itu Ibu pulang!"

​Sialan. Kalau Ibu sudah menggunakan kartu 'kangen' dan nada suara terzalimi seperti ini, aku tidak bisa menolaknya mentah-mentah tanpa membuatnya semakin curiga. Sri Wahyuni yang merasa ditantang akan berubah menjadi agen investigasi yang lebih ulet dari detektif swasta.

​"Nara... Nara coba tanyakan dulu ke HRD besok ya, Bu. Nara nggak bisa janji," kataku akhirnya, mencari jalan keluar sementara.

​"Nah, gitu dong. Diusahakan ya, Nak. Ibu tunggu kabarnya. Udah dulu, Ibu mau nutup toko. Assalamualaikum."

​Tut.

​Sambungan terputus.

​Aku meletakkan ponsel itu ke atas karpet seolah benda itu baru saja bermutasi menjadi granat aktif. Aku berdiri dari posisi dudukku, lalu mulai mondar-mandir di ruang tengah penthouse.

​Tamat. Riwayatku benar-benar tamat.

​Kalau Ibu datang ke Jakarta dan memaksaku menjemputnya, ke mana aku harus membawanya? Aku tidak mungkin membawanya ke lantai empat puluh Menara Adristo ini. Kalau Ibu sampai menginjakkan kaki di penthouse senilai ratusan miliar ini, melihat lift pribadi berdaun emas, dan bertemu Rayan... rahasiaku akan terbongkar hancur lebur.

​Sri Wahyuni tidak akan melihat Rayan sebagai menantu. Ia akan melihat Rayan sebagai mesin ATM berjalan tanpa PIN.

​Ibu akan tahu bahwa uang tiga juta per bulan itu hanyalah remah-remah. Buku catatan merah itu akan berevolusi menjadi naga raksasa. Ia akan menuntut Rayan membelikan rumah, mobil, modal usaha, dan akan menggunakan status 'ibu mertua' untuk memeras Adristo Group. Kontrak rahasiaku akan meledak menjadi skandal nasional. Nenek Ratih akan memburuku dan menuntut balik ganti rugi pelanggaran kontrak.

​Tanpa sadar, aku mulai menggigiti kuku ibu jariku. Kebiasaan lama yang selalu muncul saat persentase kepanikanku menembus angka sembilan puluh persen.

​"Kamu menggigiti kukumu seperti hewan pengerat yang sedang kelaparan. Hentikan. Itu tidak higienis."

​Aku terlonjak kaget, langsung berbalik.

​Rayan berdiri di ujung lorong Sayap Barat. Ia mengenakan kaos polo hitam santai, menyandarkan sebelah bahunya ke dinding marmer. Tangannya bersilang di depan dada. Ia menatapku dengan alis terangkat sebelah, mengamati rute mondar-mandirku yang mungkin sudah meninggalkan jejak terbakar di atas karpet Persia-nya.

​"Sistem saya sedang mengalami crash parah, Rayan. Tolong jangan ganggu saya," desisku, kembali melanjutkan langkah mondar-mandirku, mengusap wajahku dengan kedua tangan.

​Rayan tidak pergi. Ia malah berjalan mendekat, masuk ke zona demiliterisasi, lalu duduk di salah satu kursi bar di dapur.

​"Ada apa?" tanyanya tenang. "Perusahaan logistikmu itu mau bangkrut?"

​"Lebih buruk dari itu," jawabku frustrasi, berhenti melangkah dan menatapnya. "Ibuku. Dia mau datang ke Jakarta minggu depan. Dan dia bersikeras mau menginap di 'mess karyawan' tempatku tinggal."

​Kening Rayan sedikit berkerut. Ia butuh waktu satu detik untuk memproses implikasi dari informasi tersebut. Otak CEO-nya dengan cepat menghubungkan titik-titik bahayanya.

​"Dia tidak tahu tentang pernikahan kontrak ini. Dia mengira kamu tinggal di asrama perusahaan," Rayan menyimpulkan dengan cepat. "Kalau dia melihat tempat ini..."

​"Kalau dia melihat tempat ini, Rayan, hidup kita berdua tamat," potongku cepat, berjalan mendekati kitchen island. "Kau belum pernah bertemu ibuku. Kalau dia tahu aku menikah dengan seorang miliarder, dia tidak akan peduli soal kontrak atau Non-Disclosure Agreement. Dia akan memeras perusahaanmu sampai ke akar-akarnya, dan kalau kau menolak, dia akan membocorkannya ke media infotainment."

​Aku menumpukan kedua tanganku di atas meja marmer, menundukkan kepalaku.

​"Aku tidak bisa membiarkan itu terjadi. Aku harus cari alasan. Aku harus bilang HRD menolak mentah-mentah. Atau aku akan memalsukan surat peringatan dari kantor"

​"Jangan bodoh," sela Rayan, memotong racauan panikku dengan suara baritonnya yang mantap. "Semakin keras kamu melarangnya, semakin dia akan mencari tahu. Penolakan hanya akan melahirkan kecurigaan."

​Aku mendongak menatapnya. "Lalu aku harus apa? Menyuruhnya tidur di sofa lobi bawah sambil kuberi obat tidur?"

​Beberapa minggu yang lalu, jika aku mengeluhkan masalah ini, Rayan mungkin akan dengan mudah merespons: "Ini cek seratus juta. Berikan pada ibumu dan suruh dia pulang ke kampung halamannya." Tapi malam ini, pria di depanku ini tidak melakukan itu. Setelah obrolan jam dua pagi kami, ia mengerti bahwa memberiku (atau ibuku) uang tunai sama saja dengan menginjak harga diriku dan memvalidasi taktik manipulasi ibuku.

​Rayan menatapku dalam diam selama beberapa detik. Ia sedang mengkalkulasi sebuah solusi.

​Perlahan, ia merogoh saku celananya, mengeluarkan ponsel hitamnya. Ia menekan nomor panggilan cepat.

​"Daniel," sapa Rayan begitu telepon tersambung. Suaranya kembali masuk ke mode tiran korporat yang dingin dan presisi.

​"Ya, Pak Rayan? Ada yang bisa dibantu?" terdengar suara Daniel di seberang sana, yang entah kenapa selalu standby meski ini sudah hampir tengah malam.

​"Cari unit apartemen studio kelas menengah di daerah Sudirman atau Karet. Sesuatu yang layak dihuni, tapi tidak terlalu mewah. Standar fasilitas untuk karyawan level supervisor," instruksi Rayan tanpa basa-basi. "Sewa untuk satu bulan."

​Aku membelalakkan mataku. Napasku terhenti.

​"Isi apartemen itu dengan perabotan standar. Bawa beberapa setelan baju kerja wanita yang tidak terlalu mahal, alat mandi, dan pastikan kulkasnya terisi bahan makanan biasa," lanjut Rayan. Matanya menatap tepat ke mataku saat ia memberikan instruksi. "Besok sore, access card dan kuncinya harus sudah ada di meja kerja saya."

​"...Baik, Pak. Akan saya eksekusi segera," jawab Daniel dengan nada pasrah seorang asisten yang sudah kebal dengan instruksi absurd bosnya di tengah malam.

​Rayan mematikan sambungan telepon. Ia meletakkan ponselnya kembali ke atas meja marmer.

​Aku masih berdiri terpaku. Mulutku sedikit terbuka.

​Rayan tidak memberiku uang suap. Ia membangunkan sebuah infrastruktur logistik palsu untuk mendukung kebohonganku.

​"Kamu..." Aku menelan ludah, suaraku tiba-tiba terdengar sangat pelan. "Kamu baru saja menyuruh Daniel menyewa apartemen untuk dijadikan lokasi syuting?"

​"Itu bukan lokasi syuting. Itu 'mess karyawan'-mu untuk minggu depan," jawab Rayan datar. Ia bersandar ke sandaran kursi, menatapku dengan sorot mata yang tenang namun tajam. "Kamu bisa menjemput ibumu, membawanya ke apartemen itu, dan membiarkannya menginap di sana selama beberapa hari sampai ia puas."

​Aku menggeleng pelan, masih tidak percaya dengan tingkat efisiensi solusi ini.

​"Rayan, ini... ini berlebihan. Menyewa apartemen penuh hanya untuk skenario dua hari? Biayanya"

​"Biaya sewa apartemen studio selama sebulan jauh lebih murah daripada kerugian fluktuasi saham Adristo Group jika rahasia pernikahan kita bocor ke tangan paman saya lewat jalur keluargamu, Nara," potong Rayan rasional.

​Ia memiringkan kepalanya sedikit.

​"Anggap saja ini anggaran mitigasi risiko (Risk Mitigation Budget). Lagipula, saya berinvestasi satu miliar pada integritasmu. Saya harus memastikan investasi itu aman dari gangguan eksternal."

​Logika yang tidak bisa dibantah. Dingin, pragmatis, dan sangat masuk akal dari sudut pandang seorang eksekutif. Namun, jauh di lubuk hatiku, aku tahu ini lebih dari sekadar perlindungan aset. Rayan sedang melindungiku dari monster masa laluku sendiri, dengan cara yang paling terhormat yang bisa ia lakukan tanpa merendahkan batasanku.

​Ketegangan yang sejak tadi mengunci otot bahu dan leherku, perlahan mencair. Aku menghela napas panjang, sebuah senyum tipis yang sarat akan rasa lega dan takjub terbentuk di bibirku.

​"Terima kasih," ucapku tulus. Hanya dua kata itu. Tapi aku tahu, ia memahami bobot di baliknya.

​Rayan tidak membalas senyumanku, tapi tatapannya melembut sedetik sebelum ia memalingkan wajahnya.

​"Simpan terima kasihmu," balasnya seraya berdiri dari kursi. "Mulai besok malam, setelah pulang kerja dari kantormu, kamu harus mampir ke apartemen itu. Susun barang-barang pribadimu di sana agar tempat itu terlihat seperti benar-benar dihuni. Ibumu tidak boleh menemukan satu pun cacat logika di TKP."

​Aku mengangguk mantap. Mode Staf Analis Dataku kembali mengambil alih. "Siap, Bos. Operasi Kamuflase Mess Karyawan akan dieksekusi dengan tingkat presisi seratus persen."

​Rayan berjalan melewatiku menuju Sayap Barat. "Selamat bekerja, Partner."

​Aku menatap punggungnya yang menghilang di balik lorong. Jantungku kembali berdetak dengan ritme normal.

​Buku catatan merah Ibuku mungkin sedang dalam perjalanan menuju ibu kota. Tapi untuk kali ini, aku tidak sendirian menghadapi pertempuran itu. Di belakangku, ada sebuah mesin korporat bernilai triliunan rupiah yang siap memanipulasi realita demi memastikan aku tidak jatuh ke lubang yang sama.

​Sri Wahyuni, bersiaplah menyambut mess karyawan fiktif paling mahal dalam sejarah tata kota Jakarta.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!