Di tengah panas Kalimantan yang tak kunjung reda, Budi Santoso-seorang sales biasa di Palangkaraya menemukan kehidupan yang berubah drastis setelah sebuah “sistem” misterius muncul di kepalanya. Awalnya hanya alat untuk naik level dan bertahan hidup, sistem itu kini menjadi satu-satunya harapannya saat alam mulai bermutasi dengan kejam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
"Aku belum butuh makanan atau uang. Yang aku perlukan sekarang hanya bensin. Apakah ada sumbernya? tanya Budi.
Jumlah orang di TPA ini semakin bertambah setiap hari. Berburu jadi semakin sulit. Setiap hari harus menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mencari mangsa. Itulah salah satu alasan kenapa bensin begitu penting baginya.
Budi tahu daging hewan mutan punya efek khusus bisa menambah kekuatan atau membuat tubuh lebih tahan. Makanya dia sengaja hanya membidik yang level biru (mutasi tingkat menengah). Sayangnya, pertahanan Kota Banjar sangat kuat. Tentara dan TNI langsung menghabisi organisme level biru begitu mereka muncul dari hutan atau pinggiran sungai. Untuk mendapatkan sebagian buat diri sendiri, harus pergi ke tempat yang lebih jauh, di luar jangkauan pos militer.
Sudah punya motor trail hasil curian, tapi bensin? Sulit sekali didapat.
“Mas, bensin sekarang barang yang dikontrol ketat. Jalur laut dari luar pulau sudah ditutup total karena badai mutasi di Selat Karimata. Lewat darat dari Balikpapan atau Pontianak masih mungkin, tapi transportasinya sangat sulit. Semua orang harus menghemat. Memang masih ada stok di rumah, tapi harganya...” Ucap Fatir dulu pemilik usaha angkutan truk langsung berbinar saat bicara bisnis.
Budi tersenyum tipis. “Asal bisa dapatkan bensinnya, harganya terserah.”
Fatir tampak tergoda untuk menaikkan harga tinggi-tinggi, tapi segera menahan diri. Banyak orang masih menyimpan bensin dari kendaraan yang terlantar di jalan. Lagipula, orang seperti Budi bukan tipe yang mudah ditipu. Kalau hari ini ditipu, besok bisa ada balasan. Di zaman sekarang, tatanan sudah runtuh lebih baik tidak menciptakan musuh.
“Karena Mas orangnya lugas, saya juga tidak akan meminta harga tidak masuk akal. Cukup adil saja: sepuluh kilo daging per liter. Kalau dicek di pasar gelap, ini sudah termasuk murah,” kata Fatir sambil menepuk dada.
“Tergantung, apakah daging tikus mutan diterima?” tanya Budi.
“Wah, anda siap berburu besar ya? Boleh sekali! Saya langsung hubungi orang, suruh antar bensin ke sini,” jawab Fatir dengan semangat.
Orang-orang di sekitar langsung mundur, tahu kesempatan sudah hilang. Tak lama, tim pemburu lain datang dan langsung dikerubungi.
Kesepakatan selesai. Budi berjalan ke warung kecil di dekat situ, membeli sebotol es teh, lalu jongkok di atas batu yang relatif bersih. Masih sore, langit belum gelap total. Bukan waktu berburu terbaik.
Tikus mutan memang keluar siang hari, tapi paling ganas dan aktif di malam hari. Kadang pemburu beruntung menemukan gerombolan besar di kawasan kecil, lalu pulang dengan untung besar. Tapi risikonya juga tinggi bisa belasan orang tewas dalam satu malam.
Di masa sulit seperti ini, nyawa manusia terasa murah. Tekanan hidup membuat TPA ini terus menarik orang-orang nekat.
Semakin gelap, tempat itu semakin ramai. Dari dalam TPA terdengar suara mencicit ribuan ekor. Pendatang baru mulai gugup, napas mereka tersengal.
Kerumunan mulai menyalakan obor bambu dan senter dari handphone. Sekitar jadi lebih terang.
Budi tidak menyiapkan obor. Penglihatannya tajam, indranya kuat. Cahaya bulan samar-samar saja sudah cukup untuk melihat bentuk tanah dan pepohonan. Malah obor bisa mengganggu saat bertarung.
Dia menatap langit: bulan purnama tergantung besar, menyelimuti tanah dengan cahaya perak. Malam yang bagus untuk berburu.
Malam semakin larut, orang-orang mulai maju ke dalam TPA.
Tiba-tiba terdengar jeritan ketakutan, disusul tembakan beruntun. Bau amis darah mulai menyebar di udara.
TPA kembali menjadi medan perang antara manusia dan tikus mutan.
Budi masih duduk sebentar, meneguk es teh terakhir, membuang botolnya, lalu berdiri.
Peristiwa seperti ini terjadi setiap hari, dia sudah terbiasa.
Tapi malam ini terasa berbeda. Pertempuran dimulai terlalu cepat, jeritan lebih banyak dari biasanya. Keributan langsung pecah. Beberapa orang berlari kembali dengan wajah pucat ketakutan kebanyakan pendatang baru.
Budi segera melangkah maju.
“Mas Budi, ikut juga?” tiba-tiba seorang pemuda tinggi kurus memanggil.
“Iya. Ada apa? Kenapa banyak yang kabur?” Budi mengenalnya. Namanya Andi. Nama yang anggun, tapi orangnya individualis seperti dirinya. Dulu pasti pernah belajar bela diri, jago memakai golok. Badannya kuat kalau Budi tidak lincah, mungkin sulit mengalahkannya. Tapi mereka hanya saling kenal sekilas.
“Kita bertemu gerombolan tikus yang sangat besar. Begitu bertarung, langsung banyak yang tumbang. Katanya ada yang melihat ‘sosok besar’ di tengah-tengah mereka,” jelas Andi.
“Oh, gerombolan besar!” Budi langsung tergerak. “Maksudnya sosok besar itu raja tikus mutan?”
“Mungkin. Kalau bukan, orang-orang tidak akan kabur begitu saja. Malam ini ada gerombolan besar adalah kesempatan emas. Saya yakin cukup untuk makan empat sampai lima hari. Harga raja tikus level pemimpin sekarang sangat tinggi. Biasanya kalau muncul, langsung dibantai tentara. Ini satu-satunya kesempatan. Saya tidak bisa sendiri. Mau tidak kita tim bareng dan maju?”
“Apakah dampak positif dari mengonsumsi hewan mutan sudah diketahui semua orang? Tapi memang tidak mengherankan. Dengan kemampuan penelitian pemerintah yang kuat, efek yang jelas seperti itu pasti cepat tersebar ke publik. Bahkan para pemburu di sini pasti sudah tahu banyak,” pikir Budi dalam hati.
Dia sudah lama bersiap memburu organisme level biru. Bagaimana mungkin dia melepaskan kesempatan ini? Begitu dia memutuskan, sebuah pesan tiba-tiba muncul di benaknya.
[Misi opsional, misi level E-: Memburu dan membunuh raja tikus dalam tiga hari. Harus dibunuh sendiri. Misi gagal jika dibunuh oleh orang lain (Terima/Tolak).]
“Misi level E-? Apa-apaan ini?” Budi terkejut dan langsung memarahi dirinya sendiri dalam hati.
Ini pertama kalinya dia menerima misi level E-. Bahkan saat membunuh ular raksasa dulu, hanya level F+. Sekarang langsung lompat ke E-.
Budi ragu sejenak, tapi kemudian memikirkan betapa sulitnya meningkatkan level. Dia menggertakkan gigi dan menerima. Hanya beda satu tingkat! Lagipula, seperti kata Andi tadi, ini kesempatan satu-satunya. Mungkin harus menunggu lama sekali untuk mendapat misi E- lagi. Apalagi dengan dua peralatan level biru muda yang dimilikinya, dia tidak percaya dirinya akan mati di tangan tikus itu.
“Baiklah, kita berpisah dulu dan kumpulkan orang-orang yang bisa dipercaya. Nanti kita kumpul lagi di sini,” kata Budi sambil menggertakkan gigi.
“Setuju!” Andi mengangguk cepat lalu berlalu.
Karena Budi sudah lama di TPA ini, dia punya beberapa kenalan. Tak butuh waktu lama, dia sudah mengumpulkan lima orang.
Kelima orang itu dari satu tim. Dulu mereka penjaga keamanan di perusahaan tambang, sekaligus pensiunan TNI. Mereka kompak, selalu saling bantu, jadi termasuk tim kuat di TPA. Pernah sekali Budi menyelamatkan nyawa mereka saat serangan gerombolan tikus besar, jadi hubungan mereka cukup dekat.
Tak lama, Andi kembali membawa kelompok lain. Mereka saling kenal sekilas karena cukup terkenal di kalangan pemburu. Selain Dani yang individualis, ada kelompok kecil beranggotakan tiga orang.
Ketiganya bersenjata api, tapi bukan senjata biasa. Akurasi tembakan mereka tinggi sekali. Pemimpinnya pria paruh baya bernama Bos Janip. Katanya dulu anggota geng di daerah pedalaman, keras kepala, emosional, dan siap membunuh siapa saja yang menentangnya. Makanya tak ada yang berani macam-macam dengannya.
Budi sedikit mengangkat alis. Kerja sama ini terasa agak riskan.
Jeritan ketakutan terus terdengar dari dalam TPA. Semakin banyak orang yang mundur!
“Semua sudah saling kenal sekilas. Waktu terbatas, jadi saya langsung ke intinya,” kata Andi sambil melirik ke arah keramaian di kejauhan. “Kalian pasti tahu harga raja tikus sekarang. Banyak yang mengincarnya.”
“Jangan banyak omong. Langsung bicara pembagian hasilnya biar nanti tidak ada salah paham,” potong Dani. Dia tinggi besar, hampir dua meter, memegang parang besar di satu tangan dan perisai setinggi satu meter di tangan lain. Perisai itu sudah dimodifikasi: tujuh bilah pisau tajam dilas di permukaannya. Kalau kena perisai itu, bisa langsung tewas.
Andi menatapnya tajam, amarah sempat melintas di matanya. Tapi dia cepat mengendalikan diri. “Baiklah, soal pembagian. Ini kerja sama pertama kita, belum saling kenal betul. Supaya tidak ada salah paham, saya usulkan: dibagi rata. Tapi yang berhasil membunuh raja tikus dapat dua bagian. Kalau tidak ada keberatan, kita langsung bergerak sekarang sebelum raja tikus dibunuh orang lain dan kita pulang tangan kosong.”
Tak ada yang keberatan. Ini tim dadakan, belum terlalu saling percaya. Pembagian seperti itu paling adil.
“Kami setuju bagi rata. Tapi saya tegaskan dulu: kalau ada yang tidak bekerja keras, langsung keluar,” kata Bos Janip sambil memandang semua orang.
“Setuju,” jawab Dani singkat.
Budi juga mengangguk.
Orang-orang yang dibawa Budi secara alami menjadikannya pemimpin kelompok kecil mereka.
Total anggota operasi ini menjadi 11 orang. Meski terlihat seperti satu tim, mereka bukan dari satu kelompok. Kerja sama belum solid. Tapi masing-masing adalah pemburu kuat di TPA ini. Begitu masuk ke area TPA, mereka langsung maju cepat.
Tikus mutan ukuran kecil tak mampu menghalangi langkah mereka. Begitu menghadang, langsung dibantai.
Karena target utama adalah raja tikus, tak ada yang ambil daging tikus biasa takut membebani diri. Beberapa pemburu lain yang melihat mereka maju dengan percaya diri langsung ikut di belakang. Tim pun membesar seperti bola salju yang menggelinding.