Sebuah kisah dengan intensitas teka-teki yang beruntun, corak gaib yang tiba-tiba menghiasi hari. Diawali romansa yang terputus kematian, mengundang esensi ikatan lain yang sarat akan muatan Apokalipstik. Berlanjut dengan hancur leburnya hati Laura, tenggelam dalam samudera kegelapan yang tak berdasar sejak kepergian demi kepergian orang-orang yang ia cintai. Namun, takdir itu rupanya belum usai menyiksanya; metanol kesedihan semakin pekat menyelimuti jiwanya saat rasa penasaran yang mematikan datang seperti racun, dan memabukkan seperti arak kadar tinggi, mulai mencengkram penuh pikirannya. Muncul melalui mimpi di tengah perasaan duka, tiga sosok gadis misterius, bagaikan bayangan dari alam berbeda, terus menghantuinya hari demi hari, merasuk pilu seperti bisikan penuh enigma yang menyimpan sebuah kunci rahasia besar. Kunci yang kemudian menuntunnya pada kisah yang datang merangkak dari bawah batu nisan tua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.H Rahman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Area pekuburan ketiga yang dikunjungi Laura terletak di luar area keramaian, sedikit terpencil dari pemukiman, kontras dengan kondisi pekuburan pertama dan kedua. Dan kali ini, setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, melewati jalan-jalan berliku yang mulai sepi, Laura mendapati dirinya di sebuah lahan terbuka yang luas, terasa begitu hening dan mencekam. Begitu ia keluar dari mobil, matanya langsung disuguhi pemandangan yang membuat bulu kuduknya merinding: begitu banyak semak belukar yang tumbuh tinggi, bahkan lebih tinggi daripada tubuhnya, seolah berusaha menelan seluruh area itu. Beberapa nisan tampak hancur, patah, atau bahkan tertutup lumut tebal, sebagian lainnya miring tak beraturan, seolah-olah telah lama ditinggalkan. Secara umum, area pekuburan ini tampak tak terawat, lebih seperti hutan kecil yang dibiarkan liar daripada tempat peristirahatan terakhir. Barangkali, karena di sana hanya terdapat sedikit makam, maka tempat ini lebih seperti area yang diabaikan, terlupakan oleh waktu dan manusia.
Belum jauh melangkah, bahkan belum sepenuhnya menyibak rimbunnya semak belukar, tatapan Laura langsung terpaku ke arah sebuah makam tua yang terletak tepat di bawah sebuah pohon besar yang usianya mungkin ratusan tahun, akarnya menjalar seperti urat nadi raksasa di permukaan tanah. Pemandangan itu, satu makam yang di atasnya ada selimut kain merah, seperti sengaja diletakkan, seakan-akan mengingatkannya tentang sesuatu yang sangat penting, sebuah kepingan terpisah yang hampir ia temukan. Namun, perasaannya serasa terganjal, ada semacam penghalang tak terlihat yang membuatnya tidak dapat mengatakannya, seperti ada tabir tipis yang menutupi ingatan. Tidak ada tulisan nama yang jelas di malam itu; hanya ada nisan batu tua yang sudah terkikis dan dipagari oleh sisa-sisa pagar kayu tua yang kini terlihat rapuh, nyaris menyatu dengan tanah. Tidak ada orang lain di sana, hanya ada dirinya yang dipagari oleh ketakutan dirinya sendiri.
"Aku merasakan ada sesuatu yang ganjil, entah kenapa kepalaku tiba-tiba merasa pusing dan berdenyut-denyut," keluh Laura dalam hati, sambil tetap bertahan berdiri di sana, menahan dorongan untuk berbalik dan lari. Kali ini, dia benar-benar merasakan adanya semacam panggilan, sebuah teriakan yang kuat namun terselubung, seolah datang dari kedalaman tanah. Ada ratapan yang menyedihkan namun seakan coba dialihkan, suara tawa lepas yang terputus-putus, dan suara-suara aneh lainnya yang samar-samar namun jelas terdengar dari bawah gerbang itu. Suara-suara itu bukan berasal dari dunia nyata, melainkan dari kedalaman jiwanya, dari ingatan yang terkunci, atau mungkin dari sesuatu yang jauh lebih tua, sesuatu yang telah bersemayam lama di tempat sunyi ini. Laura merasa terdesak, seolah ia berada di ambang jurang yang siap menelannya.
Seakan detik melambat, seakan napas merayap, seakan jantung mengeruh, seakan kedua kakinya mengeluh, waktu membeku di tempatnya, seakan ia kembali ke arah langkah di belakangnya, ditarik mundur oleh kenyataan lain. Itulah yang dirasakan oleh benak Laura, ketika ia mendengar sebuah orkestra suara perpaduan tak nampak yang dipentaskan secara gaib. Suara-suara itu bukan hanya berasal dari dekat makam tua di bawah pohon besar, melainkan bergaung dari hampir seluruh makam yang ada di sekelilingnya, menciptakan simfoni bisikan, rintihan, dan kadang jeritan yang terputus-putus, seolah ribuan arwah mencoba berkomunikasi serentak. Bulu kuduknya berdiri, lebih jauh melampaui ketakutannya, ia mendapat semacam getaran energi aneh yang meresap ke dalam dirinya.
Ketika suara-suara misterius itu memudar lenyap, seperti kabut yang dihembus angin, Laura segera mendesak kedua kakinya untuk kembali bergerak, menuju ke arah tujuan utamanya di pekuburan ini; pusara Ariana. Hatinya berdebar oleh tiupan panik, namun ada sebuah titian keyakinan yang menuntunnya.
Di sana sama seperti keadaan makam Roni, hanya tampak nisan kayu baru yang kokoh namun sederhana, bertuliskan nama lengkap yang ia kenal baik: Lea Ariana Fajari, lengkap dengan tanggal kematiannya. Di atas pusara itu terdapat lebih banyak taburan bunga segar dan beberapa pot kecil dengan tanaman hias yang masih hijau, menandakan bahwa ada beberapa orang yang mungkin sebelumnya telah beberapa kali berkunjung, tak peduli seberapa mengerikan dan terpencilnya lokasi ini.
Laura kian mendekat, payung merah yang tadinya melindunginya dari matahari, kini ia jadikan semacam tongkat bertumpu. Ia hanya sekadar berdiri di sana, di hadapan pusara sahabatnya yang lain. Matanya seakan membaca apa yang tak tertulis di nisan itu, atau bahkan apa yang tak pernah ditulis oleh tangan manusia, tak pernah pula ditulis oleh rangkuman ensiklopedia, sebab ini adalah tentang mati, tentang apa yang sebenarnya ada di balik bangkai manusia, dan tak dapat dijangkau hanya dengan sentuhan pengetahuan tekstualitas. Laura menatap ke dalam tanah, mencoba merasakan kehadiran Ariana, mencari jawaban lain atas pertanyaan-pertanyaan universal yang tak terucapkan oleh lidah pembicara maut.
Tetapi, menyangkut berbagai fenomena aneh dan gaib di pekuburan, atau bahkan di kehidupan, itu bukanlah hal yang asing bagi dirinya. Mental dan jiwanya telah diasah, telah ditempa menjadi sekeras dinding besi oleh serangkaian pengalaman hidup yang meski baru saja ia alami, tetapi luar biasa. Laura seakan hidup untuk bergaul dengan kegaiban, dengan dimensi-dimensi yang tak terlihat oleh mata yang tak memiliki keyakinan. Laura hanya perlu mendengarkannya, dengan penuh nyali keberanian, dengan membuka seluruh inderanya, itu akan menjadi sebuah pelajaran yang sangat berharga bagi dirinya. Pelajaran tentang misteri hidup dan mati, tentang pesan-pesan dari alam lain, dan tentang kekuatan yang tersembunyi di balik tabir realitas. Ia tahu, setiap bisikan, setiap sensasi aneh, adalah bagian dari sandaran pengetahuan yang sedang ia bangun, sebuah peta menuju pemahaman yang lebih luas tentang kehidupan setelah kematian.
"Engkau harus bijaksana..."
Suara itu, tiba-tiba menyeruak, menggetarkan seluruh atmosfer di sekitar Laura. Seruan itu terdengar seperti guntur yang tersembunyi, suara laki-laki yang sangat besar dan serak, namun memiliki resonansi yang begitu kuat hingga terasa memporak-porandakan kesunyian dan menembus jiwanya. Laura terkesiap, jantungnya berdebar kencang. Dalam sekejap mata, ia mendapati bayangan sesosok makhluk yang luar biasa. Makhluk itu menyerupai manusia, namun memiliki delapan tangan yang kokoh, masing-masing dengan jari-jari panjang dan kuat, mencengkeram kekosongan. Padanya terdapat banyak simbol yang biasa ditemukan di tempat peribadatan tanah suci. Ia berdiri tegak dengan jubah putih bersih yang menutupi seluruh tubuhnya, berkibar halus seolah terbuat dari sutra alam baka. Di penutup dadanya terpampang suatu kekokohan yang terbuat dari titanium murni, berkilauan dengan manik berlian hitam dan lazuli biru tua, memancarkan cahaya misterius yang dingin. Pesona samarnya begitu kuat, mengunci, sekaligus mengintimidasi. Tingginya mencapai empat meter, menjulang di antara nisan-nisan, dengan mata merah menyala yang memancarkan penerawangan sekaligus kekuatan tak terbatas. Hanya dalam hitungan detik, makhluk itu menghilang di antara juntai dedaunan lebat dari pohon besar di samping makam, meninggalkan jejak aroma damar yang kuat, semerbak wangi mistis yang membelai indra penciuman Laura dengan kesan yang sangat membius.
Batin Laura terjatuh seketika, menekan dan memberi semacam interupsi, sebuah arahan khusus yang sangat jelas agar ia tetap membuka kepekaan ontologisnya, menerima realitas di luar kemunafikan, dan terbuka untuk selalu siap menerima perkataan-perkataan gaib yang menjadi wacana estimasi pendengarnya. Ini bukan delusi, ini adalah pesan. Pesan yang membutuhkan penerimaan yang tangguh dan bijaksana. Beberapa bayangan di benaknya bermunculan mengabarkan tentang identitas-identitas malaikat, atau mungkin makhluk-makhluk lain yang ia tidak dapat memastikannya.
Tak terasa, langit petang telah menguning tua, warnanya berubah menjadi jingga gelap yang melankolis, dan atmosfer kekelaman di pekuburan itu kian bertambah pekat, diselimuti bayang-bayang panjang. Akan tetapi, entah mengapa Laura tetap tak bergeming sedikit pun dari tempat di mana ia berdiri. Dia memilih untuk menunggu dan bersabar, meski di sana saat ini tak lagi terdengar atau tampak sesuatu apapun. Hanya kesunyian berseling desir angin dan gemerisik dedaunan. Kesunyian itu terasa menekan, memintanya agar segera pergi dari tempat itu.
Tetapi, di sudut yang berbeda, tiba-tiba Laura melihat kemunculan seekor kucing hitam legam, bulunya halus berkilat, sedang berjalan dengan langkah santai namun kokoh di antara makam-makam yang sepi. Kucing dewasa itu lalu menjejak salah satu pusara yang tak lagi terawat, yang nisannya sudah miring dan nyaris terkubur rumput. Dengan dua tangannya yang lincah, ia mulai menggali lubang kecil di tanah makam itu. Tak perlu lagi Laura kesulitan menebak, instingnya sudah memberitahu. Beberapa saat kemudian, kotoran menjijikkan itu dijatuhkan di atas sana, di dekat batu nisan yang hanya menyisakan setengah bagian bawah, sebuah tindakan profan yang mengganggu kesakralan tempat itu. Pemandangan itu, meskipun menjijikkan, justru mengembalikan Laura pada realitas, mengingatkannya pada aspek fisik dan biologis dari kematian, dan tentu ada semacam hikmat yang tersembunyi di baliknya.
Ratusan kelelawar dengan sayap hitamnya yang lebar mulai beterbangan di antara sela langit yang didinding cakaran dahan berdaun rapat, membentuk siluet-siluet misterius di langit senja. Suara sayup dari tempat peribadatan di kejauhan mulai terdengar, menandakan senjakala yang telah berada di ambang, siap menelan cahaya terakhir untuk hari itu.