Agus adalah seorang pemuda yang hidup dalam jeratan ekonomi. Di rumahnya yang sederhana, ia harus berbagi beban dengan ayahnya, Marjuki, yang mulai sakit-sakitan, dan ibunya, Asmah, yang hanya bisa pasrah pada keadaan. Di tengah rasa sepi, Agus mengunduh sebuah aplikasi jodoh dan bertemu dengan Nor Rahma.
Bagi Agus, Rahma adalah sosok yang terlalu sempurna. Rahma memiliki pekerjaan tetap, pendidikan yang baik, dan paras yang menawan. Hubungan mereka yang bermula dari layar ponsel berlanjut ke arah yang lebih serius. Namun, tantangan muncul saat Rahma meminta bukti keseriusan berupa komitmen untuk melamar dan membangun masa depan yang stabil.
Agus terjepit. Di satu sisi, ia sangat mencintai Rahma. Di sisi lain, pendapatannya sebagai pekerja serabutan tidak pernah cukup untuk menabung, apalagi membiayai pernikahan yang layak. Keluarga Agus tidak memiliki simpanan sama sekali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22
Suara sirine ambulans meraung-raung membelah kesunyian malam yang pekat, menciptakan kilatan cahaya merah dan biru yang bergantian memantul di langit-langit mobil yang sempit. Di dalam kabin belakang yang berbau tajam antiseptik dan oksigen, Agus duduk di kursi besi kecil yang dingin, tepat di samping tandu tempat bapaknya terbaring. Tubuh Agus terguncang-guncang setiap kali ban ambulans menghantam lubang jalanan yang belum diperbaiki. Setiap guncangan itu terasa seperti palu yang menghantam pergelangan kaki kirinya yang kini sudah membengkak hingga menyerupai batang pisang.
Agus mencengkeram pinggiran tandu dengan tangan kanannya yang masih menyisakan kerak semen di sela-sela kuku. Ia menatap wajah bapaknya di bawah cahaya lampu neon ambulans yang bergetar. Pak Marjuki tampak sangat rapuh. Selang oksigen yang terpasang di hidungnya berembun setiap kali bapaknya mencoba menarik napas pendek-pendek. Mata bapak agus terpejam rapat, namun keningnya berkerut, menandakan rasa sakit yang luar biasa sedang berkecamuk di dalam paru-parunya.
Di seberang Agus, seorang perawat puskesmas sibuk memeriksa tabung oksigen dan memantau denyut nadi bapak agus. Perawat itu sesekali melirik Agus, mungkin merasa terganggu dengan aroma debu semen dan keringat yang menguap dari baju kuli panggulnya. Agus menyadari pandangan itu. Ia merasa sangat kecil di dalam ruangan yang serba putih dan bersih ini. Ia menunduk, menatap sepatu ketsnya yang ujungnya mulai menganga lagi karena lemnya lepas akibat dipaksa berjalan jauh tadi malam.
Ting.
Ponsel di saku celananya bergetar sekali lagi. Agus merogohnya perlahan. Ia berharap itu adalah balasan dari Nor Rahma, namun layar retak itu hanya menunjukkan sisa baterai yang tinggal lima persen. Pesan yang ia kirim tadi masih berstatus centang satu. Rahma mungkin sudah tertidur, atau mungkin ia sedang menatap langit-langit kamarnya dengan rasa kecewa karena laki-laki yang ia cintai tidak kunjung memberi kabar pasti.
Agus memejamkan matanya, menyandarkan kepalanya pada dinding ambulans yang bergetar hebat. Di dalam kegelapan di balik kelopak matanya, ia melihat bayangan Rahma yang sedang memegang kue manis, tersenyum menantinya di teras rumah yang bersih. Kontras itu begitu menyakitkan. Di dunia Rahma, malam ini mungkin berakhir dengan mimpi indah dan aroma seprai yang wangi. Di dunia Agus, malam ini adalah perjuangan antara hidup dan mati, diiringi suara sirine yang memekakkan telinga dan aroma amis darah yang sesekali tercium dari arah mulut bapaknya.
"Sabar ya, Pak. Sebentar lagi sampai," bisik Agus, meskipun ia tidak tahu apakah bapaknya bisa mendengarnya. Ia memegang tangan bapaknya yang terasa sedingin es. Tangan yang dulu kasar karena mencangkul di sawah orang, kini hanya tinggal tulang yang dibalut kulit pucat.
Ambulans melaju semakin kencang saat memasuki perbatasan kota. Lampu-lampu jalan yang berwarna kuning terang mulai berkelebat lewat di jendela kecil ambulans. Agus melihat gedung-gedung tinggi yang megah, beberapa di antaranya masih menyalakan lampu hiasnya. Ia teringat perumahan Cempaka Indah. Mungkin di salah satu sudut kota yang terang itu, Rahma sedang bernapas dengan tenang, tidak tahu bahwa di dalam mobil yang lewat dengan sirine ini, Agus sedang hancur berkeping-keping.
"Mas, tolong pegangi lengan Bapaknya. Kita akan belok tajam," instruksi perawat itu tiba-tiba.
Agus segera menahan pundak ayahnya saat ambulans menikung dengan kecepatan tinggi memasuki gerbang Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP). Gerbang itu besar dan dijaga oleh beberapa satpam berseragam lengkap. Ambulans tidak berhenti, terus meluncur menuju area Instalasi Gawat Darurat (IGD) yang lampu neonnya bersinar sangat terang, hampir menyilaukan mata.
Saat pintu belakang ambulans dibuka dengan sentakan keras, udara kota yang sedikit lebih hangat namun berpolusi masuk ke dalam kabin. Beberapa petugas paramedis berseragam hijau segera mendekat membawa tandu dorong yang lebih besar dan canggih.
"Pasien rujukan dari Puskesmas Sejahtera! Pendarahan paru, suspek infeksi berat, saturasi menurun!" teriak perawat yang menemani Agus tadi.
Agus turun dari ambulans dengan kaki yang gemetar hebat. Ia harus menumpukan seluruh berat badannya pada kayu penyangganya agar tidak tersungkur di aspal IGD yang halus. Ia melihat ayahnya dipindahkan dengan sangat cepat ke atas tandu dorong. Roda-roda tandu itu berderit nyaring di atas lantai koridor rumah sakit yang mengkilap.
Agus mencoba mengejar, namun langkahnya sangat lambat. Ibu agus dan Lukman yang mengikuti dengan motor baru saja sampai dan memarkirkan kendaraannya dengan tergesa-gesa. Ibu agus berlari menyusul Agus, wajahnya penuh ketakutan melihat keramaian dan kesibukan di IGD yang seolah tidak pernah tidur itu.
"Gus, Bapakmu dibawa ke mana?" tanya ibunya dengan suara tercekik.
"Ke dalam, Bu. Ayo," jawab Agus singkat.
Mereka masuk ke dalam ruang IGD. Ruangan itu sangat luas, dipenuhi dengan ranjang-ranjang pasien yang hanya dipisahkan oleh tirai kain tipis. Suara monitor jantung yang berbunyi tit... tit... tit... bersahutan dengan suara rintihan pasien lain dan perintah-perintah tegas dari para dokter jaga. Bau klorin dan obat-obatan di sini jauh lebih kuat daripada di puskesmas.
Agus berdiri di dekat meja pendaftaran, membiarkan ibunya mendekati tirai tempat ayahnya diperiksa. Ia melihat ke sekeliling. Orang-orang di sini tampak sibuk. Ada keluarga pasien yang menangis, ada yang mondar-mandir menelepon, dan ada pula yang duduk termenung dengan wajah hampa. Agus merasa dirinya seperti noda hitam di tengah ruangan yang serba putih ini. Debu semen di bajunya mulai berjatuhan ke lantai, menciptakan bercak-bercak abu-abu di bawah kakinya.
Seorang petugas administrasi pria dengan seragam rapi memanggilnya. "Keluarga Pak Marjuki?"
Agus melangkah mendekat, mencoba berdiri setegak mungkin meski keringat dingin membasahi punggungnya. "Iya, saya anaknya."
"Bapak Marjuki masuk kategori pasien gawat darurat. Kami akan lakukan tindakan stabilisasi terlebih dahulu. Namun, untuk rawat inap dan pemeriksaan rontgen serta laboratorium lengkap, Anda harus segera mengurus berkas administrasi di bagian depan. Apakah Bapak Marjuki memiliki asuransi atau BPJS?" tanya petugas itu tanpa ekspresi, jarinya bergerak cepat di atas keyboard komputer.
"Tidak ada, Pak. Kami pasien umum," jawab Agus dengan suara rendah. Ia teringat kembali pada uang seratus tujuh puluh ribu yang tadi ia kumpulkan dengan susah payah. Di puskesmas, uang itu terasa besar. Tapi di sini, di bawah gedung bertingkat ini, ia merasa uang itu mungkin hanya akan habis untuk biaya pendaftaran.
"Kalau pasien umum, Anda harus membayar uang muka untuk jaminan perawatan sebesar dua juta rupiah sebelum Bapak dipindahkan ke ruang ICU atau ruang rawat inap khusus paru," ucap petugas itu datar, matanya tetap menatap layar monitor.
Dua juta rupiah.
Angka itu menghantam Agus seperti palu godam. Ia merasa lututnya benar-benar lemas sekarang. Seratus tujuh puluh ribu saja ia harus mengemis di pinggir jalan dan memeras keringat di pasar induk sepanjang malam. Dari mana ia harus mencari dua juta rupiah dalam waktu sekejap?
Agus menoleh ke arah tirai tempat bapaknya berada. Ia melihat seorang dokter sedang menekan-nekan dada bapaknya, sementara perawat lain memasang berbagai kabel ke tubuh kurus itu. Ia merasa dunianya seolah sedang runtuh untuk kesekian kalinya. Di sakunya, ponselnya bergetar terakhir kali sebelum akhirnya benar-benar mati karena kehabisan daya. Cahaya di layar retak itu padam, menyisakan kegelapan total bagi komunikasi Agus dengan dunia luar, termasuk dengan Nor Rahma.
Ia berdiri diam di tengah lorong IGD yang sibuk. Di satu sisi, bapaknya sedang bertarung dengan napas yang sisa satu-satu. Di sisi lain, angka dua juta rupiah berdiri tegak seperti tembok raksasa yang tidak bisa ia panjat. Agus menyadari bahwa sirine ambulans tadi bukanlah tanda penyelamatan, melainkan lonceng yang memulai babak baru dari penderitaannya yang paling dalam.
"Tuhan... aku harus ke mana lagi?" bisik Agus lirih, sementara debu semen di wajahnya kini bercampur dengan air mata yang tidak bisa lagi ia bendung. Malam masih sangat panjang, dan di kota yang terang ini, Agus merasa lebih buta dari sebelumnya.