Enam tahun lalu, Alisha Husnah melangkah keluar dari kediaman mewah keluarga Raffasyah dengan hati hancur. Sebuah skandal menjijikkan yang dirancang rapi memaksanya percaya bahwa suaminya, Fardan, telah berkhianat. Alisha pergi, membawa rahasia besar tentang janin yang dikandungnya.
Kini, takdir membawa mereka bertemu dalam sebuah proyek besar. Fardan, sang CEO dingin yang menyimpan dendam atas kepergian istrinya, memberikan ultimatum kejam: kembali padanya atau kehilangan hak asuh atas putra mereka, Ghifari.
Namun, baik Fardan maupun keluarga besar Raffasyah tidak menyadari satu hal. Ghifari bukan sekadar bocah biasa. Dibalik wajah imutnya, tersimpan kecerdasan genius yang ia warisi dari ayahnya. Sementara orang tuanya terjebak dalam perang dingin dan sisa-sisa cinta yang luka, Ghifari mulai bergerak dibalik layar.
Dia bukan hanya ingin menyatukan Ayah dan Ibunya saja. Tapi misinya ingin membongkar topeng busuk para penghuni "istana" yang memisahkan keluarganya. Si kecil siap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JEJAK YANG TERHAPUS.
"Katakan sejujurnya atau aku akan mematahkan lehermu sekarang juga, Sherly!"
Suara Fardan menggelegar di dalam kamar hotel yang masih remang. Tangan kekarnya mencengkeram leher Sherly yang meringkuk di balik selimut. Napas pria itu memburu, matanya memerah menatap wanita yang kini gemetar di bawah kuasanya. Fardan hanya mengenakan celana pendek, tubuh bagian atasnya polos, namun ia tidak merasakan sisa gairah apa pun di sana.
"Fardan, lepaskan... sakit," rintih Sherly, wajahnya memucat.
"Apa yang kita lakukan semalam? Jawab!" tekan Fardan, cengkeramannya semakin kuat.
Sherly menelan ludah dengan susah payah, matanya bergerak gelisah ke arah sudut ruangan. "Ki—kita melakukannya, Fardan. Kau yang memintaku... kau bilang kau bosan dengan Alisha."
Fardan melepaskan cengkeramannya dengan kasar hingga Sherly terbatuk. Ia berdiri dan memeriksa tubuhnya sendiri. Tidak ada tanda-tanda aktivitas seksual yang ia rasakan. Bagian intimnya terasa bersih, tidak ada sisa cairan atau sensasi yang biasanya tertinggal setelah berhubungan badan. Pria itu menatap Sherly dengan tatapan menghina.
"Kau berbohong. Aku tidak merasakan apa pun di tubuhku. Katakan yang sebenarnya!"
"Aku tidak bohong! Alisha... Alisha yang merencanakan ini semua!" Sherly berteriak, suaranya gagap dan pecah. Ia segera meraih ponselnya dan menunjukkan sebuah potongan klip video singkat. "Lihat ini! Alisha yang menyuruh pelayan membawaku ke sini. Dia ingin menjebakmu agar punya alasan untuk menceraikanmu dan mengambil hartamu!"
Dalam video yang sudah diedit sedemikian rupa itu, terlihat siluet Alisha sedang berbicara dengan seorang pelayan di lorong, lalu pelayan itu membukakan pintu untuk Sherly. Fardan mengepalkan tinjunya hingga buku jarinya memutih. Amarah membakar dadanya. Ia tidak memedulikan Sherly lagi, segera menyambar kemejanya dan berlari keluar menuju parkiran.
"Alisha, jika ini benar permainanmu, kau akan menyesal," desisnya di balik kemudi mobil yang melaju membelah jalanan subuh.
Sesampainya di mansion Raffasyah, suasana sudah kacau. Ratna, ibunya, duduk di ruang tengah dengan mata sembap yang dipaksakan. Di atas meja, selembar kertas putih tergeletak dengan tanda tangan yang sangat ia kenali.
"Dia pergi, Fardan. Istrimu yang tidak tahu untung itu pergi setelah merampok harga dirimu," ratap Ratna sambil menyodorkan sebuah tablet.
Fardan melihat rekaman CCTV ruang tengah. Di sana, Alisha terlihat menandatangani surat cerai dengan wajah datar. Audio yang sudah dimanipulasi itu memperdengarkan suara Alisha yang terdengar sangat dingin: "Aku tidak pernah mencintai Fardan. Aku menikahinya hanya untuk hartanya, dan sekarang aku sudah bosan."
"Cukup!" Fardan membanting tablet itu ke lantai hingga hancur berkeping. "Dewa! Kemari kau!"
Dewa, asisten pribadinya, muncul dengan kepala tertunduk. "Iya, Tuan?"
"Cari Alisha sekarang! Tutup semua akses bandara, pelabuhan, dan stasiun. Lacak ponselnya. Aku ingin dia berlutut di depanku sebelum matahari terbenam!" perintah Fardan dengan suara yang menggetarkan seisi rumah.
Namun, jam berganti hari, dan hari berganti minggu. Laporan Dewa selalu sama.
"Maaf, Tuan. Ponsel Nyonya Alisha mati total sejak malam itu. Terdeteksi terakhir di sebuah menara telekomunikasi dekat pinggiran kota, setelah itu hilang. Semua CCTV di area tersebut mati secara misterius."
Fardan menatap jendela ruang kerjanya yang menghadap cakrawala Jakarta. "Bagaimana dengan rekening banknya? Paspornya?"
"Tidak ada aktivitas, Tuan. Seolah-olah beliau lenyap ditelan bumi. Sahabatnya, Sarah, juga mengaku tidak tahu apa-apa dan bersumpah tidak bertemu dengannya."
Fardan tertawa getir, tawa yang terdengar sangat menyakitkan. Rasa cintanya yang begitu besar kini membusuk menjadi kebencian yang mendarah daging. Ia merasa harga dirinya diinjak-injak oleh wanita yang selama ini ia puja.
"Dia ingin membalas dendam karena aku menjebaknya dulu? Baiklah. Jika dia ingin bebas, aku berikan kebebasan itu," ujar Fardan dengan nada dingin yang mematikan. "Dewa, hentikan pencarian. Jangan pernah sebut nama wanita itu lagi di rumah ini."
Keputusan itu disambut sorak kegembiraan oleh Ratna dan Maya. Dua bulan kemudian, di bawah tekanan ibunya yang berpura-pura sakit jantung, Fardan akhirnya setuju untuk menikahi Sherly. Namun, pernikahan itu hanyalah neraka bagi Sherly.
Di malam pertama mereka, Sherly mencoba mendekati Fardan yang sedang duduk di tepi ranjang. Ia mengenakan gaun tidur transparan dan mencoba membelai bahu suaminya. "Fardan, ayo kita mulai hidup baru."
Fardan langsung berdiri dan mendorong tubuh Sherly dengan kasar hingga wanita itu tersungkur ke lantai. "Jangan pernah sentuh aku dengan tangan kotormu, Sherly. Kau di sini hanya untuk menyenangkan ibuku, bukan untuk menjadi istriku."
"Tapi aku istrimu yang sah sekarang!" teriak Sherly sambil menangis.
"Kau hanya pajangan. Tidurlah di sofa atau di lantai, aku tidak peduli," jawab Fardan sebelum melangkah keluar menuju ruang kerja yang kini menjadi kamar tidurnya.
Tiga bulan berlalu dalam dinginnya sikap Fardan, hingga suatu pagi Sherly memberikan pengumuman mengejutkan di meja makan. "Aku hamil, Ma. Ini anak Fardan."
Ratna bersorak gembira, memeluk Sherly dengan erat. "Akhirnya! Pewaris Raffasyah akan segera lahir!"
Fardan yang sedang menyesap kopi hitamnya hanya menatap Sherly dengan pandangan kosong. Ia tahu ia tidak pernah menyentuh wanita itu seujung kuku pun sejak mereka menikah.
"Kau hamil?" tanya Fardan, suaranya sangat tenang namun mencekam.
"Iya, Sayang. Kau mungkin lupa karena saat itu kau mabuk," bohong Sherly dengan percaya diri.
Fardan tidak menjawab. Ia hanya melirik Dewa. "Siapkan dokter pribadi dan peralatan tes DNA tercepat yang bisa dibeli uang. Aku ingin hasilnya hari ini juga."
"Fardan! Apa-apaan kau? Sherly sedang hamil, jangan lukai perasaannya!" bentak Ratna.
"Jika ini anakku, aku akan membesarkannya. Jika bukan, bersiaplah untuk keluar dari rumah ini tanpa alas kaki," ujar Fardan dingin.
Hasil tes DNA keluar sore harinya. Fardan melemparkan amplop cokelat itu ke wajah Sherly di depan ibu dan kakaknya. Sherly membukanya dengan tangan bergetar, dan seketika wajahnya pucat pasi. Probability of Paternity: 0%.
"Siapa ayahnya? Pelayan mana yang kau tiduri di belakangku?" tanya Fardan sambil berjalan mendekati Sherly.
"Fardan, aku bisa jelaskan... aku hanya ingin kau memperhatikanku," tangis Sherly pecah.
Fardan menjambak rambut Sherly dan menyeretnya menuju pintu depan mansion. "Dewa, bawa surat cerainya sekarang. Sherly, kau diceraikan secara tidak hormat malam ini juga. Keluar dari rumahku!"
Ratna mencoba menghalangi, namun tatapan mematikan Fardan membuatnya bungkam. "Jika Ibu masih membelanya, silakan ikut pergi bersamanya."
Malam itu, Fardan berdiri di balkon kamarnya, menatap bulan sabit yang menggantung di langit. Sherly sudah pergi, namun kekosongan di hatinya justru semakin lebar. Ia telah berubah menjadi monster yang tidak memiliki perasaan. Baginya, semua wanita adalah penipu, sama seperti Alisha.
"Kau menang, Alisha. Kau berhasil mengubahku menjadi iblis," bisik Fardan pada kegelapan.
Ia tidak tahu bahwa di belahan dunia lain, Alisha sedang berjuang melawan rasa mual di sebuah apartemen kecil di London. Ia juga tidak tahu bahwa benih yang tumbuh di rahim Alisha adalah miliknya.
perjuangan
tapi di sebutkan anak anak maya