NovelToon NovelToon
Memories Of Verovska

Memories Of Verovska

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mafia / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Four Forme

Cassie datang ke Verovska dengan satu tujuan, menyelesaikan kuliahnya dan pulang.
Sederhana. Seharusnya.
Namun negara itu tidak ramah pada orang asing.
Dinginnya menusuk tulang,
orang-orangnya menjaga jarak,
dan kesepian menjadi hal yang harus ia telan setiap hari.
Cassie belajar bertahan sendiri.
sampai ia bertemu Liam.
Pria yang tidak hanya mengubah hidupnya,
tapi juga menyeretnya ke dalam dunia yang tidak pernah ia pahami.
Dan sejak saat itu, Verovska tidak lagi sekadar tempat asing.
Ia berubah menjadi sesuatu yang… tidak bisa ia tinggalkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four Forme, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dia Hantu?

Pagi datang tanpa warna. Langit Verovska tertutup awan pucat, membuat seluruh kota terlihat seperti foto lama yang lupa diberi kontras.

Cassie keluar dari kamarnya setelah bersiap seadanya. Rambutnya diikat cepat, tas kerjanya menggantung di bahu.

Sambil menyampirkan tasnya, ia menatap ke arah jendela yang berembun. Ia berharap Ethan benar-benar melakukan patroli lebih sering di area ini, dan yang paling penting, ia berharap tidak perlu lagi berpapasan dengan Liam di lorong, di lift, atau di sudut mana pun di Raven's Gate.

​Dengan ragu, ia memutar kunci pintunya. Ia mengintip lewat celah kecil, memastikan lorong itu kosong.

Sepi

Hanya ada suara angin yang bersiul melewati celah jendela apartemen yang rusak.

​Cassie melangkah keluar dengan sangat hati-hati, berusaha tidak membuat suara sekecil apa pun. Ia memilih menggunakan tangga biasa daripada lift. Ia tidak mau terjebak lagi di dalam kotak besi sempit itu dengan siapa pun.

​Namun, tepat saat ia melewati lantai dasar dan hendak menuju pintu keluar lobi, ia melihat sesuatu yang membuatnya terpaku. Sosok pria tinggi dengan mantel abu abu gelap yang sedang berdiri membelakanginya, terlihat sedang menghisap rokok dengan santai.

​Asap rokoknya melayang di udara dingin. Cassie tahu persis siapa itu dari lebar bahunya. Pria itu seolah sengaja menunggu di sana, tepat di satu-satunya jalan keluar yang harus dilewati Cassie untuk menuju halte bus.

Langkah kaki Cassie terasa berat, seolah sepatu botnya terbuat dari timah. Selain kuis dadakan dari dosennya di kampus yang selalu membuat kepalanya pening, kehadiran Liam kini menjadi beban mental yang jauh lebih berat. Setiap kali ia melihat sosok itu, jantungnya berdetak dalam ritme yang kacau, tidak beraturan, dan menyakitkan.

​Saat jaraknya dengan Liam semakin terkikis, Cassie menundukkan kepala. Mulutnya komat-kamit, membisikkan kata yang sama berulang kali seperti sedang merapalkan mantra pelindung diri.

​"Abaikan... abaikan... abaikan..."

​Namun, mantra itu hancur berantakan. Tepat saat Cassie berada di sampingnya, sebuah tangan besar dan kuat menyambar lengannya, menariknya berhenti dengan sentakan pelan namun tegas.

​Deg.

​Cassie yakin, di detik itu juga jantungnya benar-benar berhenti berdetak. Seluruh aliran darahnya terasa membeku. Pikirannya melayang pada adegan pembunuhan malam itu, ia merasa nyawanya kini benar-benar berada di ujung tanduk, siap untuk dicabut oleh pria di depannya ini. Cassie memejamkan mata rapat-rapat, menunggu hal buruk terjadi.

​VROOOM!

​Suara raungan mesin motor kurir makanan yang melaju kencang nyaris menyerempet mereka tepat di depan gerbang. Angin dari motor itu menghempas rambut Cassie yang terurai.

​Liam melepaskan cengkeramannya, lalu sedikit menaikkan suaranya untuk mengalahkan deru angin dan suara motor.

"Kau ini kenapa? Kau bisa mati tertabrak!"

​Cassie tersentak. Ia membuka matanya, menatap Liam dengan tatapan nanar dan napas yang memburu. Tanpa menjawab sepatah kata pun, ia menyentak tangannya agar terlepas sepenuhnya, lalu segera melangkahkan kakinya secepat mungkin, setengah berlari meninggalkan Liam yang masih berdiri di sana.

​Di dalam hatinya, Cassie mengomel habis-habisan dengan penuh emosi. Bisa-bisanya dia bertanya kenapa? Memangnya gara-gara siapa aku sampai ketakutan setengah mati begini?

​Cassie terus berjalan tanpa menoleh ke belakang, meski ia bisa merasakan punggungnya terus ditatapi oleh sepasang mata gelap milik Liam yang seolah tak melepaskan mangsanya begitu saja.

***

Hari Cassie berjalan seperti jarum jam tua yang akhirnya kembali menemukan ritmenya. Shift di kafe padat, tapi stabil. Tidak ada mantel gelap di bangku seberang. Tidak ada sosok tinggi yang berdiri terlalu lama di sudut jalan. Hanya pelanggan yang datang dan pergi, pesanan kopi yang berdenting, dan obrolan ringan yang berputar seperti roda kecil yang menjaga pikirannya tetap bergerak.

Ia mengantarkan latte, membersihkan meja, dan sempat bercanda dengan Marla soal pelanggan yang memesan cappuccino tanpa foam, yang menurut Marla sama saja seperti memesan awan tanpa langit.

Tidak ada bayangan Liam yang menempel di sudut matanya.

Tidak ada sensasi diawasi.

Saat ini Cassie merasa seperti mahasiswa biasa yang hanya sibuk bertahan hidup dengan jadwal kerja dan tugas kuliah.

Seusai kerja, langkah Cassie membawanya ke perpustakaan lagi. Ia duduk di meja yang sama seperti kemarin, membuka buku referensi, menyalin catatan, menandai paragraf dengan stabilo yang mulai menipis tintanya.

Perpustakaan terasa netral, seperti wilayah tanpa perang. Ia menyukainya.

Ketika keluar dari sana, langit sudah berubah menjadi lembaran hitam dengan lampu kota yang bertabur seperti serpihan logam kecil. Perut Cassie kembali menggeram, dan seperti déjà vu ia berbelok ke kedai pinggir jalan yang sama.

Bukan karena ia jatuh cinta pada makanan di kedai itu.

Jauh dari itu.

Rasanya biasa saja. Rotinya kadang terlalu kering, supnya yang terasa hambar.

Tapi harganya masuk akal.

“Sup dan roti,” katanya pada penjual.

Ia berdiri menunggu sambil menggosok tangannya, menghirup aroma roti panggang yang bercampur asap kendaraan. Malam terasa dingin tapi jinak, seperti anjing liar yang sedang malas menggonggong.

Di dalam bus menuju Old District, Cassie duduk di dekat jendela. Lampu kota meluncur seperti garis-garis cahaya yang meleleh. Ia memeluk tasnya sambil menatap keluar tanpa tujuan.

Ketika bus melewati kantor polisi pusat distrik. Cassie tanpa sadar menegakkan badannya lagi. Matanya kembali menyapu jendela kaca bangunan itu, berharap malam itu ia melihat satu sosok yang ia rindukan.

Seragam rapi.

Senyum hangat.

Tatapan hazel yang terasa seperti lampu meja belajar di tengah mati lampu.

Ethan.

Cassie menempelkan pipinya sedikit ke kaca jendela, mencoba melihat lebih jelas. Beberapa polisi terlihat keluar masuk gedung, tapi lagi lagi tidak ada wajah yang ia cari.

Bus terus melaju.

Cassie menghela napas pelan. Napas panjang seseorang yang sadar harapan kecilnya lewat begitu saja seperti halte yang tidak dituju.

Bus berhenti di halte Raven’s Gate. Cassie turun sendirian. Pintu bus menutup di belakangnya dengan bunyi mekanis.

Jalan menuju apartemen diselimuti gelap. Lampu jalan di area itu seperti lupa tugasnya. Beberapa mati total, beberapa lainnya menyala setengah hati, menciptakan pulau-pulau cahaya kecil yang dipisahkan lautan bayangan.

Cassie merapatkan jaketnya sambil berjalan cepat. Sepatunya beradu dengan aspal retak, suaranya terdengar terlalu keras di tengah sunyi.

Ia berbelok memasuki halaman Raven’s Gate.

Dan tentu saja.

Liam ada di sana lagi.

Berdiri di depan lobi, bersandar di pilar retak yang sama, seperti patung penjaga bangunan yang terlalu hidup untuk disebut dekorasi. Mantelnya malam itu hitam pekat, nyaris menyatu dengan bayangan di belakangnya.

Cassie berhenti sebentar, menatapnya dengan ekspresi lelah yang hampir putus asa.

Apa dia manusia… atau memang hantu penunggu lobi?

Pikiran itu muncul begitu saja, dan Cassie hampir percaya pada teorinya sendiri.

Ia memutuskan untuk pura-pura tidak melihat. Ia berjalan lurus, melewati Liam, langsung menuju tangga.

“Sup dan roti lagi?” suara Liam terdengar santai dari belakangnya.

Lift berdenting terbuka sebelum Cassie sempat menjawab. Ia masuk cepat, menekan tombol lantai tiga dengan jari yang masih bergetar.

Saat pintu lift menutup, Cassie sempat melihat bayangan Liam masih berdiri di tempat yang sama, bersandar santai pada pilar retak, seperti bagian permanen dari kegelapan Raven’s Gate.

***

Kamar 304 kembali menyambut Cassie dengan keheningan yang familiar saat ia membuka pintu. Ia langsung mengunci pintu dua kali, lalu menambahkan pengunci rantai kecil yang dipasang miring di kusen. Bunyi klik berlapis itu memberinya rasa aman yang rapuh, seperti menumpuk selimut tipis melawan badai musim dingin.

Cassie masuk ke kamar mandi sempit. Air hangat dari shower jatuh seperti hujan musim panas yang tersesat ke negeri dingin. Ia berdiri di bawahnya lebih lama dari biasanya, membiarkan uap memenuhi ruangan, menutupi kaca cermin hingga buram.

Air mengalir melewati rambut dan pundaknya, dan untuk beberapa menit, suara tetesan itu menenggelamkan gema memori. Tidak ada suara tulang patah. Tidak ada bisikan ancaman.

Setelah selesai mandi, Cassie mengenakan piyama tebal dan duduk di tempat tidur dengan selimut dilipat di pangkuannya.

Ia meraih ponsel, membuka media sosial. Scroll. Scroll lagi.

Video kucing yang terpeleset dari sofa.

Mahasiswa lain mengeluh tentang tugas kuliah.

Iklan sepatu musim dingin yang terlalu mahal.

Cassie tersenyum kecil pada beberapa postingan, membalas satu komentar teman lama dari kampung halaman. Ia mencoba menenggelamkan pikirannya dalam banjir informasi ringan, seperti menutupi luka dengan perban warna-warni yang tidak benar-benar menyembuhkan, tapi cukup mengalihkan pandangan.

Nama Liam sempat muncul di kepalanya. Ia langsung menggeser layar lebih cepat, seperti mengusir nyamuk yang terlalu dekat dengan telinga.

“Lupakan,” gumamnya pelan. “Dia cuma penghuni apartemen. Cuma itu.”

Beberapa menit kemudian, ponsel masih menyala di samping bantal saat kelopak matanya mulai berat. Tubuhnya akhirnya menyerah pada kelelahan yang tertunda sejak malam berdarah itu.

Cassie tertidur, napasnya perlahan menjadi stabil, sementara di luar jendela, angin Verovska menggesek kaca dengan suara lirih seperti seseorang yang mencoba berbisik tanpa masuk.

1
Sri
Diihh
Harley
sama2 menurunkan ego 🥲
Harley
nurut2 aja
Ella Elli
Cassie sih lagian batuu, di bilang diem aja di rumah 😭
Malah memperburuk keadaan
Harley
iyuhh
Ella Elli
hmmm Cassie 😒
Harley
masih penasaran sama si ethan ethan itu
Donna
Paling nanti kalo ketemu sama amanda lagi, galau lagi
Donna
Idih amanda muluuu
Ella Elli
Harusnya kalo belum bisa lupain masa lalu, jangan memulai hubungan yang baru dulu.
Kasian Cassie 😭
Donna: Setujuuu
total 1 replies
Harley
lanjutttt
Harley
Seru dan ringan dibaca di waktu luang~
Harley
lanjuttt
Harley
lebih bertanggung jawab cenah wkwk
Harley
aman aman 🤭
Harley
sooo deep 🙂
Ella Elli
Tembak yang bener etdah
Harley
orang Italia lokal jg bilang padaku kalo mafia2 di novel 'it's scam' katanya wkwk
Four Forme: jauh dari bayangan ya haha
total 1 replies
Harley
kerja apaan tuh 👀
Hafiz Baihaqi
wey apa nih 🤣
Four Forme: hehe 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!