Bagi Adnan Mahendra, hidup adalah maha karya presisi. Sebagai arsitek ternama di Surabaya, ia percaya bahwa fondasi yang kuat akan membuat bangunan abadi.
Namun, dunianya yang simetris runtuh dalam perlahan ketika laporan demi laporan Jo Bima yang tidak lain asisten Adnan sendiri. Mengungkap sisi gelap Arini, istri yang sangat ia puja dengan ketulusan cinta sejatinya.
Namun di balik wajah cantik dan senyum lembutnya, Arini telah membangun istana kebohongan. Bersama pria lain di sudut-sudut kota Surabaya yang panas tanpa sepengetahuannya.
Akankah cinta mereka bertahan, akankah pondasi rumah tangga yang di bangun Adnan tetap berdiri kokoh? ketika Bagaskara masa lalu Arini kembali mengusik ketenangan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bagus Effendik89, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siaran Langsung dari Neraka
Pada sudut Kota Tua yang pengap, waktu seolah berhenti di dalam studio. Tanpa suara dan kata-kata, hanya embusan dosa dan tatapan geliat hasrat semata dan fokus lensa Jingga.
Udara di sana berat oleh aroma sisa pergumulan keringat. Parfum yang menguap, dan bau logam dari cairan pembersih lensa. Pintu studio masih terkunci rapat dari dalam.
Sebuah palang kayu tua melintang, memastikan tidak ada dunia luar yang boleh menginterupsi ritual pemuasan ego ini. Seakan semua ikut bisu menutup mata dari luar pintu sesuai keinginan Bagaskara.
Bagas duduk di tepi sofa kulit yang sudah retak-retak. Tepat di sebelah kasur kecil yang biasanya hanya digunakan untuk properti pemotretan. Ia hanya mengenakan celana pendek tanpa atasan.
Memamerkan tubuhnya yang atelis. Namun menyimpan kelicikan di balik setiap ototnya di tangannya. Sebuah gelas kristal berisi wine merah pekat bergoyang pelan.
Matanya tertuju pada Arini. Istri dari pria paling berkuasa di lingkaran arsitek Surabaya itu kini terbaring tak berdaya di bawah selimut tipis. Tanpa sehelai benang pun menutupi kulit porselennya. Arini tampak seperti mahakarya yang baru saja dijarah.
Bagas meneguk wine-nya hingga tandas, merasakan hangatnya alkohol membakar kerongkongan. Ia tersenyum puas, sebuah seringai kemenangan yang ditujukan pada bayangan seorang pria yang bahkan tidak ada di ruangan itu.
"Aku menang, Adnan," batinnya bersorak.
"Kamu boleh memiliki namanya di atas kertas hukum, tapi aku memiliki jiwanya, tubuhnya, dan setiap inci rahasianya malam ini."
Beberapa saat kemudian, Arini mengerang pelan. Ia terbangun dengan rambut yang berantakan menutupi wajahnya. Matanya sayu, kelelahan yang luar biasa terpancar dari raut wajahnya yang pucat.
Bagas tidak memberikan jeda sedikit pun sejak sore tadi. Rindu yang bercampur nafsu binatang telah membuat Bagas memaksa Arini melakukan hal-hal yang melampaui batas. Hingga enam kali pengulangan yang menguras tenaga tiada henti.
"Sudah bangun, Sayang?" suara Bagas terdengar serak dan menggoda.
Arini menarik selimutnya lebih erat, menutupi dadanya yang naik turun. Ia menatap jam dinding tua di sudut ruangan. Angka menunjukkan pukul dua belas tengah malam. Ketakutan seketika menyergapnya seperti air dingin.
"Bagas ini sudah jam dua belas," bisik Arini, suaranya parau.
"Aku harus pulang. Adnan... Adnan mungkin sudah di Surabaya atau setidaknya dia akan mencariku."
Bagas terkekeh, ia menuangkan segelas wine lagi dan menyodorkannya ke bibir Arini, "Minum dulu. Tenanglah. Adnan tidak akan tahu. Dia sedang sibuk dengan dunianya yang membosankan di Jakarta."
Arini memalingkan wajah, menolak gelas itu, "Tidak, Bagas. Kejadian malam ini tolong, ini rahasia kita berdua. Cukup sampai di sini. Jangan sampai Adnan tahu. Aku bisa hancur, keluargaku bisa hancur."
Bagas meletakkan gelasnya di meja dengan dentingan keras, matanya berkilat licik. Ia merangkak naik ke atas kasur. Mengepung tubuh Arini di bawah bayangannya.
"Hancur? Kamu baru saja mulai hidup, Arini. Kenapa harus takut pada pria kaku itu? Sekali lagi, ya? Sebagai perpisahan untuk malam ini."
"Tidak, Bagas! Aku benar-benar harus pergi!" Arini mencoba mendorong dada Bagas, namun tenaganya sudah terkuras habis.
Bagas tidak mendengarkan. Ia tahu ia telah memiliki Arini seutuhnya. Ia tahu Arini telah menyerahkan benteng terakhirnya dengan gerakan kasar namun penuh perhitungan.
Bagas kembali menyerang, membungkam protes Arini dengan ciuman yang mematikan logika. Arini, yang sudah terbiasa tunduk pada dominasi, akhirnya hanya bisa pasrah.
Ia mengikuti arus nafsu yang ditawarkan Bagas. Membiarkan dirinya tenggelam sekali lagi dalam dosa yang tak ter maafkan. Sekali lagi pada dekapan sepenuhnya dari lelaki lain selain suaminya.
Arini sempat ingin berteriak dalam hatinya yang terus meneriakkan kata maaf dari bayangan senyum kaku suaminya yakni Adnan Sang Arsitektur. Tapi tubuhnya berkata lain, tubuhnya malah tak menolak sentuhan-sentuhan dari tangan-tangan berbau aroma setan dari Bagaskara.

Di sisi lain kota, di dalam rumah mewah yang sunyi, Adnan tidak berada di tempat tidur. Ia berada di ruang kerja kedap suara miliknya sebuah ruangan dengan teknologi mutakhir yang hanya diketahui olehnya dan Jo jua Bima.
Lampu ruangan itu padam, hanya cahaya dari deretan monitor besar yang menerangi wajah Adnan yang tampak seperti patung lilin. Dingin dan tak bernyawa tak berdenyut, tak bernafas. Ponselnya di atas meja bergetar berurutan.
Pesan dari Jo mendarat, laporan urgen, Pak. Target terdeteksi di lokasi permanen, Kamera aktif, apa Bapak siap atas segala kemungkinan di dalamnya? Pak maaf.
Pesan dari Bima masuk selanjutnya, laporan mendesak, Pak. Transmisi dimulai, sangat penting untuk Bapak lihat sekarang. Pak saya juga minta maaf atas malam ini. Atas laporan saya, tapi ini harus Bapak lihat. Saya sudah berdiskusi panjang dengan Jo dan kami tak ingin Bapak terpuruk.
Jo dan Bima telah berhasil menjalankan rencana cadangan yang sangat berisiko. Sore tadi, saat Arini berjalan menuju mobilnya setelah bertemu Bagas di halte.
Jo yang menyamar sebagai pejalan kaki berpura-pura tidak sengaja menabrak Arini. Di tengah kekacauan kecil itu, tangan Jo yang terlatih telah menyisipkan sebuah kamera mikro. Sekecil kepala jarum pentol, ke dalam lipatan jahitan tas tangan Arini. Adnan mengeklik sebuah ikon di layar monitor utamanya.
Seketika, sebuah gambar muncul. Sudut pandangnya berasal dari tas Arini yang tergeletak di atas meja rias kecil di studio Bagas, menghadap langsung ke arah kasur.
Darah Adnan seolah membeku di dalam nadinya. Jantungnya berdenyut dengan irama yang menyakitkan. Namun wajahnya tetap datar, tanpa ekspresi.
Di layar berukuran 50 inci itu, Adnan melihat istrinya. Arini, wanita yang selama tiga tahun ini ia jaga kehormatannya. Wanita yang baru saja dibelanya di depan mertuanya di Malang.
Sedang berada dalam pergulatan adegan dewasa dengan Bagaskara. Siaran langsung itu begitu jernih. Adnan bisa mendengar rintihan Arini, bisa melihat setiap inci kulit istrinya yang dijamah oleh pria yang paling ia benci.
Ia melihat Arini yang pasrah. Ia melihat Arini yang tidak lagi berontak. Hanya mengikuti alur nafsu yang terus diciptakan Bagaskara.
Adnan tidak berteriak. Ia tidak membanting barang-barang di ruang kerjanya. Ia hanya duduk diam, matanya terpaku pada layar. Merekam setiap detail pengkhianatan itu ke dalam memorinya. Setiap gerakan mereka adalah paku yang tertancap di peti mati cintanya.
Ia melihat jam di monitor. Pukul 00.15.
Di dalam ruangan kedap suara itu, Adnan berbisik pada kegelapan. Suaranya sangat pelan namun mengandung janji kehancuran yang mutlak.
"Kamu sudah memilih nerakamu sendiri, Arini dan aku... aku akan memastikan pintunya terkunci rapat dari luar." Adnan meraih ponselnya, mengetik satu pesan singkat untuk Jo.
“Simpan rekaman ini. Kirimkan satu salinan ke ponsel Ayah mertua sekarang juga. Tanpa sensor, tanpa terpotong, utuh.”
“Kalian tidak usah merasa bersalah, kalian tetap ikut denganku. Semua ini Arini yang memilihnya sendiri. Merpati itu sudah lupa arah jalan pulang. Merpati itu sudah memilih sarang lain di luar sana.”
Keputusan telah diambil. Adnan tidak lagi bimbang, rasa Kasihan yang sempat muncul di Malang tadi telah mati bersama setiap desah napas istrinya di layar itu. Kini, yang tersisa hannyalah seorang arsitek yang sedang merancang runtuhnya sebuah dinasti kebohongan.
Tapi aku adalah lelaki yang tak akan mengingkari janji pada orang tua. Arini aku akan menunggumu pulang. Kali ini aku akan sedikit memberi kelonggaran. Tapi kamu tak akan lagi menemukan sosok Adnan yang selama ini kamu kenal. Begitulah ucapan hati seorang Adnan yang telah mati rasa atas cintanya.
Sori thor itu pendapat saya ... tapi tetap samangag bikin ceritanya ...