Di mata dunia, aku adalah Nyonya Kalandra yang terhormat. Di mata suamiku, aku hanyalah penipu yang menjijikkan."
Dua tahun Isvara bertahan dalam pernikahan dingin karena sebuah Perjanjian Pra-Nikah yang membelenggunya. Andra, suaminya yang dulu memujanya, kini hanya menyisakan kebencian sedalam samudra setelah rahasia identitas Isvara terbongkar.
Andra tidak tahu, di balik aura tegas Isvara yang disegani banyak orang, jantung wanita itu sedang menghitung mundur sisa detaknya. Isvara tidak butuh dimaafkan, dia hanya ingin bertahan sampai napas terakhirnya habis tanpa ada yang perlu merasa kehilangan.
Saat Isvara akhirnya menyerah dan berhenti membujuk, mampukah Andra tetap membencinya ketika menyadari bahwa "penipuan" terakhir Isvara adalah menyembunyikan kematiannya sendiri?
"Kebencianmu adalah alasan jantungku masih berdetak, Andra. Tapi sekarang, aku sudah lelah."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia Dibalik Nafas Terakhir Isvara
Kelopak mata itu terbuka perlahan. Hal pertama yang tertangkap oleh indra penglihatan Isvara adalah langit-langit apartemennya yang putih bersih, disinari oleh cahaya lampu pendant yang redup. Bau antiseptik yang tajam menyeruak masuk ke rongga hidungnya, bercampur dengan aroma terapi lavender yang sengaja dipasang untuk menenangkan sarafnya.
Isvara melirik lengan kirinya. Bekas jarum infus masih menyisakan rona kebiruan di kulit pualamnya yang pucat. Dua hari. Dua hari ia bertaruh nyawa dalam sunyi, membiarkan tubuhnya yang ringkih beristirahat dari gempuran emosi yang hampir menghentikan detak jantungnya.
"Sudah bangun?" Suara bariton Dokter Liana memecah kesunyian. Liana berdiri di ambang pintu kamar dengan stetoskop yang masih melingkar di lehernya. "Kamu tidur seperti orang mati, Vara. Kalau bukan karena dosis penguat jantung yang kusuntikkan semalam, mungkin aku sudah harus memanggil ambulans."
Isvara tidak menjawab. Ia mencoba bangkit, duduk di tepi ranjang meski kepalanya masih terasa berdenyut hebat. Ia memijat pelipisnya perlahan, lalu menatap Liana dengan mata elangnya yang mulai kembali bersinar dingin dan tajam. Tidak ada setitik pun jejak kelemahan di sana. Isvara yang rapuh dua hari lalu telah ia kubur dalam-dalam di balik selimut sutranya.
"Lepaskan perban di lenganku, Liana. Aku harus pergi," ucap Isvara datar.
Liana mendengus frustrasi. "Pergi? Kamu baru saja melewati masa kritis, Vara! Jantungmu baru saja mulai stabil, dan kamu sudah ingin memakai high heels setinggi sepuluh senti lagi? Kamu benar-benar gila harta atau gila kerja?"
Isvara menoleh, menatap sahabat sekaligus dokternya itu dengan tatapan yang mampu membungkam siapa pun. "Ini bukan tentang harta, Liana. Ini tentang harga diri. Aku tidak akan membiarkan keluarga Prayudha berpikir bahwa mereka berhasil membunuhku dengan satu tamparan."
Dua jam kemudian, Isvara sudah berdiri di area konstruksi proyek Prayudha Signature Tower, proyek prestisius milik Papa mertuanya, Tuan Prabu Prayudha. Mengenakan blazer hitam formal yang dipadukan dengan celana kulot berwarna senada, Isvara tampak seperti penguasa di tengah debu dan deru mesin konstruksi. Helm proyek putih melingkar di kepalanya, menutupi bekas memar yang sudah ia samarkan dengan concealer tebal.
Sinta dan Rima berjalan di belakangnya, mencatat setiap detail yang dikomentari Isvara. Para mandor dan arsitek lapangan tampak tegang. Isvara tidak hanya berkeliling; ia memeriksa setiap sudut, memastikan spesifikasi material sesuai dengan cetak biru yang ia buat. Profesionalisme Isvara adalah sesuatu yang tidak bisa dibantah oleh siapa pun, bahkan oleh musuh-musuhnya sekalipun.
"Bagian fasad di lantai dua belas harus diperiksa ulang. Saya tidak mau melihat ada celah pada sambungan kacanya," titah Isvara pada kepala proyek. Suaranya stabil, tidak menunjukkan bahwa dua hari lalu ia hampir kehilangan nyawanya.
Setelah tiga jam berkeliling di bawah terik matahari, langkah Isvara terhenti saat melihat sosok pria paruh baya yang berdiri angkuh di dekat area lobi yang hampir selesai. Tuan Prabu Prayudha. Pria itu menatap menantunya dengan pandangan yang sulit diartikan antara apresiasi atas kerja keras Isvara dan kebencian atas asal-usul wanita itu.
"Peninjauan yang luar biasa, Isvara," ucap Tuan Prabu dengan suara berat.
"Sesuai dugaanku, kau tidak pernah main-main dengan pekerjaanku."
Isvara melepas helm proyeknya, menyerahkannya pada Rima. "Pekerjaan adalah garis hidup saya, Tuan Prabu. Saya dibayar untuk memberikan kesempurnaan, dan itulah yang saya berikan."
"Mari bicara. Ada cafe kecil yang tenang di ujung blok ini. Ada hal yang ingin saya konfirmasikan padamu terkait proyek Bali," ajak Tuan Prabu.
Isvara terdiam sejenak. Ia tahu persis ke mana arah pembicaraan ini. Ia tahu bahwa "ular-ular" di rumah Prayudha pasti sudah membisikkan sesuatu pada pria ini. Namun, Isvara tidak akan lari. Ia justru ingin menyelesaikan ini secepat mungkin.
Di dalam cafe yang tenang dan bernuansa kayu tersebut, suasana terasa sangat mencekam. Tuan Prabu duduk di hadapan Isvara, memesan kopi hitam pekat. Sementara Isvara hanya duduk tegak, tangan bersedekap, tanpa memesan apa pun.
Tuan Prabu mengerutkan kening. "Kenapa tidak memesan minuman, Isvara? Cuaca di luar sangat panas."
Isvara menatap mertuanya lurus-lurus. Tidak ada rasa takut di matanya. "Saya di sini bukan untuk bersosialisasi atau menikmati minuman, Tuan Prabu. Saya di sini untuk bekerja. Jadi, mari kita langsung pada intinya saja."
Isvara menjeda sejenak, membuat suasana semakin tegang. "Apakah Anda ingin konfirmasi tentang istri Anda yang mencoba menyabotase proyek Bali dengan memaksa mengganti material marmer melalui tangan anak Anda? Atau Anda ingin menanyakan mengapa saya berani melawan otoritas istri Anda di depan umum?"
Tuan Prabu langsung tersenyum sinis. Senyuman yang menunjukkan bahwa ia baru saja melihat sisi Isvara yang paling menarik. Kecerdasan dan keberanian menantunya ini memang luar biasa, sekaligus sangat berbahaya.
"Kamu sangat to the point, Isvara. Itu sifat yang jarang dimiliki wanita di lingkaran kita," ujar Prabu sambil menyesap kopinya.
"Tuan Prabu," potong Isvara, suaranya merendah namun tajam seperti sembilu. "Saya ingin menegaskan satu hal. Saya menyuruh semua orang yang bekerja dengan saya untuk bersikap profesional, sekalipun mereka memiliki hubungan darah atau hukum dengan saya. Jika keluarga Anda masih membutuhkan otak saya, standar saya, dan visi saya untuk membangun kerajaan Prayudha, maka jangan pernah perlakukan saya seperti sampah."
Isvara berdiri, merapikan bajunya dengan gerakan yang sangat elegan. "Pernikahan saya dengan Adrian mungkin adalah sebuah kesalahan bagi Anda, tapi firma saya adalah investasi terbaik yang pernah Prayudha Group miliki.
Camkan itu."
Saat Isvara membalikkan badan untuk keluar dari cafe, langkahnya mendadak membeku. Di ambang pintu, berdiri seorang pria dengan setelan jas abu-abu gelap, menatapnya dengan ekspresi yang sulit dibaca.
Adrian.
Pria itu tampak membeku di posisinya. Selama dua hari ini, Adrian didera perasaan yang tidak menentu. Ia benci pada Isvara, namun rumah yang sepi dan dinding yang kosong tanpa foto wanita itu telah mengusik ketenangannya.
Melihat Isvara tiba-tiba muncul di sini, bersama papanya, setelah menghilang tanpa jejak, membuat jantung Adrian berdegup dengan ritme yang aneh.
Ada rasa lega yang ia benci, namun juga kemarahan yang meluap karena wanita ini muncul seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Isvara tidak menunjukkan keterkejutan yang berlebihan. Ia menarik napas pendek yang sedikit menyakitkan bagi jantungnya lalu memasang wajah profesionalnya yang paling dingin.
"Selamat siang, Pak Adrian," sapa Isvara dengan sopan namun sangat formal, seolah mereka hanyalah rekan bisnis yang kebetulan bertemu di jalan. "Proyek Papa Anda berjalan sesuai jadwal. Detail revisinya sudah saya serahkan pada tim lapangan. Saya permisi."
Isvara berjalan melewati Adrian begitu saja. Aroma parfum bunga lili yang samar menyapu indra penciuman Adrian saat Isvara melintas di sampingnya. Adrian tidak mampu bergerak, tidak mampu mengeluarkan kata-kata. Ia hanya bisa menoleh, menatap punggung Isvara yang menjauh dengan langkah kaki yang tetap tegak di atas high heels-nya.
Adrian kemudian berjalan mendekati meja papanya dengan wajah yang kaku. "Apa yang dia bicarakan, Pa? Kenapa dia bisa di sini bersama Papa?"
Tuan Prabu menatap putranya, lalu meletakkan cangkir kopinya. Ia tersenyum tipis, namun matanya menatap tajam pada Adrian.
"Kamu dengar apa yang istrimu katakan tadi, Adrian?" tanya Prabu. "Dia baru saja memperingatkan kita semua. Dia bilang, jika kita masih butuh otaknya, jangan perlakukan dia seperti sampah. Dan aku harus mengakui... wanita itu memiliki nyali yang lebih besar daripada gabungan kau dan ibumu."
Prabu berdiri, menepuk bahu Adrian yang masih membeku. "Hati-hati, Adrian. Kau mungkin merasa sedang menginjak-injaknya dengan perjanjian pra-nikah itu, tapi wanita itu... dia tidak sedang bertahan hidup. Dia sedang membangun kerajaannya sendiri di bawah hidungmu."
Adrian terdiam, menatap kursi kosong yang baru saja diduduki Isvara. Ia merasa ada sesuatu yang bergeser dalam hidupnya, dan untuk pertama kalinya, Adrian merasa dialah yang sedang berada dalam posisi terancam, bukan Isvara.
Aku sesak Isvara...