Elisa tidak pernah menyangka novel yang baru semalam ia baca akan menjadi awal petaka hidupnya. Saat membuka mata, ia sudah berada di tubuh Lady Nandikara, putri bangsawan dari Wilayah Timur yang terkenal cantik, tapi angkuh, bermulut tajam, dan paling dibenci semua orang.
Tapi bagusnya, Lady Nandikara itu hanya karakter pendukung saja, yang Elisa ingat, dia muncul hanya sesekali, tokoh yang tidak penting.
Ketika mengetahui posisinya dalam novel, Elisa mengambil satu keputusan. Dia tidak akan ikut campur dalam alur cerita. Cukup hidup tenang, menjadi gadis pendiam, lalu bertahan sampai akhir.
Namun, rencananya mulai berantakan. Ketika sepasang mata tajam dan sedingin es milik Putra Mahkota mulai terpaku padanya. Sejak saat itu, kedamaian yang selama ini ia rencanakan dengan matang perlahan hancur, Elisa terseret ke dalam obsesi seorang pria yang tak pernah menerima penolakan.
Semakin Elisa berusaha menjauh dari alur cerita, semakin takdir menyeretnya ke pusat konflik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saasaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tatapan Sang Putra Mahkota
Raja Simon melangkah ke depan, berdiri di atas panggung kecil yang telah disiapkan di tepi hutan. Sorak tepuk tangan para bangsawan langsung terdengar memenuhi area perburuan. Semua orang menaruh perhatian kepada sang penguasa kerajaan.
Dengan senyum yang begitu lebar, Raja Simon mengangkat satu tangannya, memberi isyarat agar suasana kembali tenang.
"Para Duke, Marquis, Count, Baron, serta seluruh bangsawan yang menjadi tamu kehormatan kerajaan. Aku mengucapkan selamat datang dan terima kasih atas kehadiran kalian dalam perburuan tahunan kerajaan." Suara sang raja terdengar lantang dan penuh wibawa.
"Mulai hari ini, perburuan resmi dibuka. Selama tujuh hari ke depan, kalian akan menunjukkan kemampuan terbaik kalian. Semoga acara ini berlangsung dengan aman, meriah, dan membawa kehormatan bagi setiap keluarga bangsawan."
Tepuk tangan kembali bergemuruh. Beberapa bangsawan saling bertukar senyum, sementara para pemuda tampak semakin bersemangat membayangkan hadiah yang telah dijanjikan oleh sang raja.
Namun, di balik pidato resminya, ada alasan lain yang membuat Raja Simon begitu bahagia hari itu. Tatapannya berkali-kali tanpa sadar mengarah kepada putra mahkotanya yang berdiri tak jauh di sampingnya. Pangeran Erlan.
Sudut bibir Raja Simon kembali terangkat. Rasanya sudah bertahun-tahun ia menantikan pemandangan seperti ini.
Setiap kali perburuan tahunan diadakan, Erlan selalu menolak hadir. Berbagai alasan diberikan, tetapi Raja Simon tahu putranya memang tidak tertarik menghadiri acara yang dipenuhi para bangsawan. Bahkan sebagai seorang ayah sekaligus raja, ia tidak pernah mampu mengalahkan keras kepala putra mahkotanya itu.
Karena itulah, kehadiran Erlan hari ini terasa begitu istimewa. Bukan karena dipaksa. Bukan pula karena diperintah. Melainkan karena keinginannya sendiri. Hal itu saja sudah cukup membuat hati Raja Simon dipenuhi rasa syukur.
Tatapan sang raja kemudian turun pada pakaian berburu yang dikenakan Erlan. Pakaian khusus yang hanya dikenakan peserta perburuan. Artinya, Putra mahkota benar-benar berniat mengikuti perlombaan.
Senyum Raja Simon semakin sulit disembunyikan. Apa Erlan akhirnya mengincar salah satu lady bangsawan?
Pikiran itu membuat dadanya dipenuhi kebahagiaan. Bukankah alasan terbesar ia mengundang begitu banyak keluarga bangsawan tahun ini adalah agar Erlan memiliki kesempatan bertemu para gadis bangsawan dari seluruh penjuru kerajaan?
Jika dugaannya benar, maka seluruh usahanya tidak sia-sia.
Siapa tahu, setelah perburuan ini berakhir, putra mahkota yang selama ini selalu menutup hati akhirnya menemukan seseorang yang berhasil menarik perhatiannya.
Sementara itu, Elisa masih sibuk mengoceh di samping kakaknya."Suri, kalau nanti kau melihat keberadaan Lady Agnes, tolong beritahu aku."
"Iya," jawab Suri asal, bahkan matanya sama sekali tidak berpindah dari arah lapangan.
Elisa mengernyit. Ia mengikuti arah pandangan kakaknya dan mendapati hampir semua gadis bangsawan tengah menatap ke satu sosok yang sama, yaitu Pangeran Erlan.
Pria itu berdiri tegak di samping sang raja dengan pakaian berburu berwarna hitam. Tatapannya dingin, wajahnya datar tanpa sedikit pun senyuman, tetapi justru itulah yang membuat banyak wanita diam-diam mencuri pandang.
"Apa yang menarik darinya? Wajahnya selalu saja cemberut, dia pikir tampan seperti itu," bisik Elisa, yang hanya didengar olehnya. Lalu dia kembali menoleh pada kakaknya."Suri!" panggilnya sedikit kesal.
"Hm?"
"Kau dengar tidak sih yang kukatakan?"
"Dengar."
"Apa?"
Suri terdiam beberapa detik sebelum terkekeh canggung."Coba ulangi sekali lagi."
Elisa langsung mendesah panjang."Ya ampun, ternyata kau benar-benar tidak mendengarkan."
Suri hanya tersenyum tanpa rasa bersalah. Perhatiannya kembali melayang ke arah putra mahkota. Merasa terus diabaikan, Elisa kembali ikut melirik ke arah yang sama.
Namun baru beberapa detik menoleh, jantungnya langsung seperti berhenti berdetak. Tatapan tajam Pangeran Erlan ternyata sudah lebih dulu mengarah kepadanya. Mata pria itu begitu dingin dan mengintimidasi, seolah mampu menembus isi pikirannya.
Elisa refleks membelalak. Tanpa berpikir panjang ia langsung mundur satu langkah, lalu bersembunyi di belakang tubuh Suri yang memang lebih tinggi dari tubuhnya, sambil mencengkeram lengan kakaknya.
Suri yang merasakan tarikan itu menoleh bingung."Ada apa denganmu?"
Elisa hanya menggeleng cepat."Tidak apa-apa."
Suri malah kembali melirik ke arah Erlan."Eh, apa penglihatanku ada masalah? Sepertinya pangeran sedang melihat ke arah kita?"
Elisa buru-buru menyembunyikan wajahnya lebih dalam di balik punggung sang kakak."Jangan percaya diri begitu, pasti kedua matamu yang bermasalah." gumamnya pelan, meski ia sendiri sama sekali tidak berani memastikan apakah tatapan itu masih tertuju padanya. Mungkin pangeran Erlan tidak sengaja melihat pencuri bunganya jadi dia menatapnya dengan tajam, pikir Elisa. Pria itu benar-benar sangat menyeramkan.
Melihat tingkah Elisa yang berusaha bersembunyi, sudut bibir Pangeran Erlan perlahan terangkat membentuk senyum yang nyaris tak terlihat.
Gadis yang sedari tadi ia cari, berhasil ditemukan. Tubuh mungil itu bersembunyi di balik tubuh seseorang, seolah mengira cara itu bisa menghilangkannya dari pandangan sang pangeran.
Entah sejak kapan, matanya terus mencari keberadaan gadis itu ditengah kerumunan, dan setelah berhasil menemukannya, Nandikara justru bersembunyi.
Namun, tatapan Erlan tak bergeser sedikit pun dari gadis mungil itu. Ia terus mengamatinya, seolah menunggu momen ketika rasa takut kembali memenuhi mata Nandikara Winter.