Aluna,seorang staf admintrasi bawahan, ia tidak menyangka kalau hidupnya akan berjungkar balik dalam waktu sehari .
Mendapat tekanan dari pekerjaan, niat hati ingin berkeluh kesah dan memeluk kekasiihnya namun kenyataan pahit ia terima kekasihnya berselingkuh didepan matanya.
Dengan derai air mata ia pulang kerumah namun lagi - lagi ia mendapati pemandangan yang memilukan Ayahnya bersimbah darah karena ulah kakak tirinya .
Hidup Aluna berubah menjadi mimpi buruk dalam semalam. Ayahnya kritis akibat dianiaya oleh kakak tirinya, dan kini Aluna terancam "dijual" untuk melunasi utang judi sang kakak.
Di ambang maut, sang ayah memohon satu hal: Aluna harus segera menikah agar punya pelindung.
Masalahnya, Aluna baru saja diselingkuhi dan menyandang status jomblo . Dalam kondisi panik dan terdesak di rumah sakit, ia nekat menarik lengan seorang pemuda asing yang kebetulan lewat. "Tolong, nikahi aku sekarang!"
Bagaiman kisah Aluna selanjutnya ? siapa sebenarnya suami dadakan Aluna ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana di Balik Fajar
Cahaya fajar menyembul malu-malu di balik cakrawala Jakarta, menembus kaca jendela Kamar 204 Ruang Dahlia dengan semburat warna keemasan yang lembut.
Udara pagi itu membawa kesegaran yang langka di tengah kepungan polusi ibu kota.
Di dalam kamar rawat, suara dengus halus dari mesin monitor jantung Pak Kusuma beradu ritem dengan helaan napas teratur pria tua itu yang masih terlelap nyaman. Efek pengobatan intensif selama beberapa hari ini benar-benar membawa perubahan besar; wajahnya tidak lagi sepucat kemarin, dan guratan rasa sakit di dahinya perlahan mulai memudar.
Aluna terbangun dengan posisi kepala bersandar di tepi tempat tidur ayahnya. Ia mengedipkan mata beberapa kali, berusaha mengusir sisa kantuk yang masih menggelayuti kelopak matanya. Ketika ia menegakkan tubuh, sehelai jaket jins tebal dan wangi maskulin yang khas perlahan merosot dari bahunya.
Aluna tertegun sejenak, memandangi jaket milik Elvan yang sengaja diselimutkan ke tubuhnya demi menghalau dinginnya hembusan pendingin udara rumah sakit sepanjang malam.
Ia menoleh ke arah sudut dekat jendela. Kursi plastik yang semalam ditempati Elvan kini kosong. Namun, Aluna tidak lagi diserang kepanikan seperti hari sebelumnya. Rasa percaya yang telah ditanamkan oleh Elvan lewat tindakan-tindakannya yang nyata telah mengakar kuat di dalam hatinya. Ia tahu suaminya tidak sedang melarikan diri; pria itu pasti sedang mengurus sesuatu untuk kebaikan mereka.
Aluna merapikan rambutnya yang sedikit kusut, lalu berdiri untuk melipat jaket Elvan dengan hati-hati. Tepat pada saat itu, pintu kamar terbuka perlahan. Elvan melangkah masuk dengan membawakan dua kotak bubur ayam hangat dan sebotol besar air mineral. Kaus polos hitamnya tampak segar, dan rambutnya yang sedikit basah menandakan ia baru saja membasuh diri di kamar mandi umum lobi bawah.
"Sudah bangun?" tanya Elvan dengan suara baritonnya yang khas pagi hari, rendah, serak, namun penuh kehangatan. Ia meletakkan sarapan itu di atas meja nakas.
"Aku baru saja dari bawah membeli sarapan untukmu. Dan ada kabar baik dari bagian administrasi."
Aluna menatap Elvan dengan mata berbinar. "Kabar baik apa, Mas?"
Elvan berjalan mendekat, mengambil jaket jinsnya dari tangan Aluna lalu menyampirkan benda itu di sandaran kursi. "Seluruh biaya administrasi dan deposit operasi ayahmu sudah dinyatakan lunas oleh pihak rumah sakit. Resep obat untuk tiga hari ke depan juga sudah ditebus. Jadi, ketika dokter memberikan izin pulang dua atau tiga hari lagi, kita hanya perlu menandatangani berkas kepulangan tanpa perlu mengkhawatirkan biaya tambahan apa pun."
Aluna terkesiap, rasa tidak percaya bercampur syukur yang mendalam seketika memenuhi dadanya. "Lunas, Mas? Bagaimana bisa? Uang tabungan yang kupercayakan padamu kemarin kan jumlahnya tidak sebanyak itu. Biaya operasi kepala dan ruang rawat inap VIP seperti ini pasti memakan biaya puluhan juta rupiah. Dari mana kekurangannya?"
Elvan tersenyum tipis, sebuah senyuman misterius yang selalu berhasil membuat jantung Aluna berdesir aneh. Ia telah menginstruksikan Bram untuk menyelesaikan seluruh tagihan rumah sakit tersebut melalui yayasan medis fiktif agar tidak memicu kecurigaan Aluna.
"Temanku yang memiliki rumah paviliun itu ternyata memiliki relasi yang cukup kuat dengan direksi rumah sakit ini," dusta Elvan dengan sangat lancar tanpa mengedipkan mata. "Dia memasukkan nama ayahmu ke dalam program subsidi penanganan trauma kepala untuk keluarga kurang mampu. Potongannya sangat besar, Aluna. Sisa uang tabunganmu bahkan masih cukup untuk membeli obat-obatan khusus nanti."
Aluna menutup mulutnya dengan kedua tangan, air mata haru hampir saja kembali menetes. "Temanmu itu ... dia benar-benar orang yang sangat baik, Mas. Aku tidak tahu bagaimana cara membalas budi kepadanya, juga kepadamu yang sudah mengurus semua ini dengan begitu cekatan."
"Kamu tidak perlu membalas apa pun," ucap Elvan lembut, jemarinya bergerak menepuk puncak kepala Aluna dengan gestur protektif yang sangat alami. "Cukup pastikan dirimu makan dengan baik dan jangan jatuh sakit. Hari ini akan menjadi hari yang sibuk. Aku harus pergi menemui temanku itu untuk mengambil kunci rumah paviliun dan mulai membersihkan tempatnya agar siap ditempati."
"Aku ikut denganmu, Mas," sela Aluna cepat. "Ayah sudah aman di sini bersama suster jaga. Aku ingin membantumu membersihkan rumah baru kita. Aku tidak mau kamu kelelahan sendirian."
Elvan menatap manik mata Aluna yang penuh kesungguhan, melihat ada keinginan kuat dari wanita itu untuk mulai membangun kehidupan baru bersamanya.
Namun, Elvan tahu ada beberapa hal yang harus ia selesaikan secara rahasia di lokasi rumah baru tersebut yang tidak boleh dilihat oleh Aluna, seperti penempatan personel keamanan rahasia Adhitama Group di sekitar area komplek.
"Jangan sekarang, Aluna," tolak Elvan secara halus namun tetap terdengar tegas. "Rumah itu sudah lama tidak ditempati, debunya pasti sangat tebal dan tidak baik untuk pernapasanmu. Lagipula, ayahmu akan segera terbangun dan dia membutuhkanmu untuk menyuapinya sarapan. Biarkan aku yang menangani urusan pembersihan awal. Setelah tempatnya rapi dan layak, aku akan menjemputmu untuk melihatnya bersama-sama."
Aluna terdiam sejenak, menimbang kata-kata Elvan yang selalu masuk akal. Akhirnya ia mengangguk patuh. "Baiklah kalau begitu, Mas. Tapi ber janjilah padaku untuk tidak memaksakan dirimu. Jika lelah, beristirahatlah."
"Iya, aku berjanji," jawab Elvan dengan tatapan mata yang melembut.
Setelah menemani Aluna sarapan sebentar dan memberikan salam hormat kepada Pak Kusuma yang baru saja terbangun, Elvan berpamitan untuk keluar dari rumah sakit.
Begitu melangkah keluar dari area lingkungan rumah sakit, aura kehangatan seorang suami dari tubuh Elvan instan menguap, digantikan oleh pembawaan dingin sang pewaris tunggal Adhitama Group yang mutlak. Ia berjalan menuju sebuah kedai kopi waralaba yang terletak sekitar dua blok dari rumah sakit, tempat yang cukup tenang untuk melakukan koordinasi rahasia.
Di sudut kedai yang tersembunyi, Bram sudah menunggu dengan sebuah gawai tablet di tangannya. Begitu melihat Elvan masuk, Bram langsung berdiri dan membungkuk hormat sebelum mempersilakan tuannya duduk.
"Bagaimana persiapan rumah paviliun di pinggiran kota, Bram?" tanya Elvan tanpa basa-basi, suaranya terdengar dingin dan tajam.
"Semua sudah selesai sesuai dengan instruksi Anda, Tuan Muda," lapor Bram sambil menunjukkan tata letak rumah pada layar gawai tabletnya. "Rumah paviliun di kawasan perumahan klaster asri itu telah kami beli atas nama salah satu perusahaan cangkang kita agar tidak terlacak oleh Nyonya Besar. Fasilitas di dalamnya sudah dilengkapi dengan peralatan medis standar rawat jalan, pendingin udara khusus, dan interior yang nyaman untuk pemulihan orang sakit."
Bram menggeser layar untuk menunjukkan area luar rumah. "Mengenai keamanan, kami telah menempatkan empat personel keamanan rahasia berpakaian preman yang akan berpatroli secara bergantian selama dua puluh empat jam penuh di sekitar klaster.
Gerbang masuk klaster menggunakan sistem kartu akses tunggal. Jaringan rentenir kelas teri seperti Gito atau kakak tirinya, Doni, dipastikan tidak akan pernah bisa melintasi radius satu kilometer dari area tersebut tanpa memicu alarm kami."
Elvan mengangguk puas, matanya menyisir detail keamanan yang dipaparkan oleh asistennya. "Bagus. Pastikan penyamaran para penjaga itu tidak mencolok. Istriku tidak boleh tahu tentang keterlibatan Adhitama Group dalam hal ini. Dia hanya tahu tempat itu adalah rumah sewaan dari seorang teman lamaku yang murah hati."
"Dimengerti, Tuan Muda," jawab Bram patuh. "Namun, ada satu hal lagi yang perlu saya laporkan. Pihak intelijen kita mendeteksi bahwa pergerakan anak buah Nyonya Besar di pusat kota semakin intensif. Mereka mulai memeriksa beberapa area tempat tinggal kelas bawah setelah mengetahui Anda tidak berada di hotel atau apartemen mewah mana pun. Penyamaran Anda di lingkungan kontrakan lama Aluna mungkin tidak akan bertahan lama jika mereka memperluas radius pencarian."
Rahang Elvan mengetat mendengarnya. Ibu tirinya benar-benar laksana lintah yang tidak mau melepaskan mangsanya demi menguasai seluruh aset warisan sang ayah. "Biarkan mereka mencari di tempat yang salah. Dengan kepindahan kami ke pinggiran kota besok, jejak kami akan semakin terkubur rapat. Fokuskan seluruh perhatianmu pada perlindungan Pak Kusuma dan Aluna. Mereka adalah prioritas utamaku saat ini."
"Baik, Tuan Muda. Kunci rumah dan seluruh dokumen kepemilikan samaran sudah saya siapkan di dalam amplop ini," ucap Bram sambil menyerahkan sebuah amplop cokelat tebal ke atas meja.
Elvan mengambil amplop tersebut, lalu berdiri dari kursinya. "Aku akan pergi ke rumah itu sekarang untuk memastikan semuanya benar-benar siap secara visual sebelum aku membawa Aluna ke sana sore nanti."
Sore harinya, sekitar pukul empat, Elvan kembali ke rumah sakit umum daerah untuk menjemput Aluna sesuai janjinya.
Aluna yang sejak tadi sudah tidak sabar langsung menyambut kedatangan suaminya dengan senyuman lebar. Setelah memastikan kondisi Pak Kusuma aman di bawah pengawasan ketat dokter jaga, keduanya melangkah keluar dari rumah sakit menuju sebuah taksi yang telah dipesan.
Perjalanan menuju pinggiran kota memakan waktu sekitar satu jam karena kepadatan arus lalu lintas sore hari. Namun, begitu taksi memasuki kawasan perumahan klaster yang dituju, suasana bising dan pengap kota Jakarta seolah lenyap seketika. Komplek perumahan itu dipenuhi oleh pepohonan rindang yang hijau, jalanan aspal yang bersih, dan deretan rumah bergaya minimalis yang rapi dengan tingkat keamanan yang sangat tinggi di gerbang utama.
Taksi berhenti di depan sebuah rumah paviliun berlantai satu yang terletak di sudut jalan klaster. Rumah itu memiliki halaman rumput kecil yang tertata rapi di bagian depan, dengan dinding berwarna putih bersih dan jendela kaca besar yang memberikan kesan luas dan terang.
Aluna turun dari taksi dengan pandangan mata yang dipenuhi oleh rasa takjub yang luar biasa. "Mas ... apakah ini benar-benar tempatnya? Ini ... ini terlalu indah dan mewah untuk ukuran rumah sewaan yang bersahabat."
Elvan tersenyum, melangkah maju untuk membuka pintu pagar besi kecil di depan mereka menggunakan kunci yang ia bawa. "Sudah kubilang, temanku itu sedang bertugas di luar negeri dalam jangka waktu yang sangat lama. Daripada rumah ini kosong dan rusak tidak terawat, dia lebih memilih menyewakannya dengan harga murah kepada orang yang bisa merawatnya dengan baik. Mari masuk ke dalam."
Elvan mendorong pintu utama kayu jati yang kokoh tersebut terbuka. Aluna melangkah masuk ke dalam ruang tamu, dan matanya kembali membelalak kagum. Ruangan itu sudah bersih sempurna tanpa ada sebutir debu pun, hasil kerja keras tim pembersih rahasia Bram siang tadi. Udara di dalam rumah terasa sangat sejuk berkat pendingin udara yang sudah dinyalakan terlebih dahulu. Furnitur di dalamnya bergaya minimalis namun terlihat sangat berkelas, dengan sebuah sofa empuk berwarna abu-abu dan sebuah televisi layar datar yang terpasang di dinding.
"Ada tiga kamar di sini," Elvan menuntun Aluna berjalan menuju koridor dalam. "Kamar utama di sebelah kanan sengaja disiapkan dengan tempat tidur medis yang nyaman dan jendela besar yang menghadap langsung ke taman belakang, khusus untuk tempat istirahat ayahmu agar beliau bisa mendapatkan udara segar setiap pagi. Dan kamar di sebelahnya ... adalah kamar kita."
Mendengar kata 'kamar kita', wajah Aluna seketika merona merah muda yang sangat cantik. Detak jantungnya kembali berpacu cepat karena teringat akan status pernikahan sah mereka yang kini akan mulai mereka jalani di bawah satu atap yang sesungguhnya.
Selama ini di rumah sakit, mereka hanya berinteraksi sebagai penjaga pasien, namun mulai besok di rumah ini, mereka akan hidup bersama sebagai sepasang suami istri sejati.
Aluna berbalik menatap Elvan yang berdiri menjulang di belakangnya. Rasa syukur yang teramat sangat besar membuat matanya kembali berkaca-kaca karena bahagia. "Mas Elvan ... terima kasih. Tempat ini lebih dari sekadar rumah untukku dan Ayah. Ini adalah sebuah awal kehidupan baru yang tidak pernah berani kuimpikan sebelumnya. Di tempat ini, aku merasa ... aku benar-benar bisa bernapas dengan bebas tanpa rasa takut lagi."
Elvan melangkah maju, memperkecil jarak di antara mereka hingga Aluna bisa mencium aroma maskulin tubuhnya yang menenangkan. Elvan mengulurkan kedua tangannya untuk menggenggam lembut kedua bahu Aluna, menatap langsung ke dalam mata istrinya yang berbinar penuh harapan.
"Mulai hari ini dan seterusnya, Aluna ... rasa takut adalah hal yang harus kamu lupakan," ucap Elvan dengan suara baritonnya yang penuh komitmen yang mutlak. "Di rumah ini, di bawah perlindunganku ... tidak akan ada satu pun badai masa lalu yang bisa menyentuhmu lagi. Kita akan mulai menulis babak baru kehidupan kita di sini, bersama-sama."
Di bawah temaram cahaya lampu sore yang mulai menyala di dalam rumah paviliun yang hangat itu, ikatan takdir antara sang pewaris rahasia dan wanita yang terluka itu kian terikat kokoh, siap menghadapi masa depan baru dengan rasa aman yang seutuhnya.