Anton adalah seorang pria biasa yang hidupnya hancur dalam semalam setelah dicampakkan dan dipermalukan secara brutal oleh pacarnya demi seorang anak konglomerat. Di titik terendahnya, saat rasa sakit dan keputusasaan memuncak, Anton secara tak terduga membangkitkan [Sistem Mata Dewa] yang memberinya kemampuan luar biasa untuk melihat menembus segala jenis benda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Brak.
Victorio memukul pagar balkon dengan keras. Wajahnya berubah menjadi merah padam karena marah dan merasa dihina.
"Satu miliar dolar. Angka yang luar biasa. Apakah Tuan Victorio ingin melanjutkan?" tanya juru lelang dengan tangan gemetar.
Victorio menatap Anton dengan tatapan membunuh. Dia mengambil mikrofon dari asistennya di balkon.
"Hei anak ingusan. Apa kau tahu dengan siapa kau sedang bermain-main saat ini?" ancam Victorio melalui mikrofon.
"Aku tidak peduli kau siapa. Kalau kau tidak punya uang lagi, tutup saja mulutmu dan duduk manis di sana," balas Anton dengan suara lantang.
Clara menelan ludah. Bosnya ini benar-benar tidak memiliki rasa takut sedikit pun kepada siapa saja.
"Beraninya kau. Penjaga, periksa latar belakang anak itu. Aku ragu dia benar-benar memiliki uang satu miliar dolar secara tunai," perintah Victorio.
Dua orang penjaga kapal berpakaian merah segera berjalan mendekati kursi Anton. Mereka membawa alat pemindai rekening portabel.
"Maaf Tuan. Demi keamanan pelelangan, kami harus memverifikasi ketersediaan dana Anda saat ini juga," ucap salah satu penjaga dengan sopan namun tegas.
"Silakan periksa sesuka kalian," jawab Anton sambil menyerahkan kartu hitam polos miliknya.
Penjaga itu memasukkan kartu Anton ke dalam alat pemindai. Layar kecil di alat itu memproses data selama beberapa detik.
Tiba-tiba mata penjaga itu terbelalak lebar. Mulutnya terbuka namun tidak ada suara yang keluar dari tenggorokannya.
"Ada apa? Kenapa kau diam saja? Beri tahu semua orang bahwa saldonya kosong," teriak Victorio dari atas balkon.
Penjaga itu menelan ludah dengan susah payah. Tangannya gemetar saat mengembalikan kartu itu kepada Anton.
"S-saldo beliau telah diverifikasi. Dananya lebih dari cukup untuk membayar tawaran tersebut Tuan Victorio," lapor penjaga itu dengan suara bergetar.
"Apa kau bilang? Coba periksa lagi yang benar," bentak Victorio tidak percaya.
"Tidak perlu diperiksa lagi. Aku sudah melihat saldo di bank Swiss milikmu menggunakan caraku sendiri," ucap Anton tiba-tiba.
Anton mengaktifkan kemampuan matanya. Dia meretas jaringan komunikasi pribadi Victorio dan masuk ke dalam database perbankannya dalam hitungan detik.
"Saldo pribadimu saat ini hanya tersisa delapan ratus juta dolar. Kau tidak akan bisa melampaui tawaranku malam ini Victorio," lanjut Anton membongkar rahasia lawannya.
Wajah Victorio seketika menjadi pucat pasi. Bagaimana anak itu bisa mengetahui jumlah saldo rahasianya dengan sangat tepat.
"K-kau meretas sistem bank milikku? Siapa kau sebenarnya bajingan," teriak Victorio menunjuk ke arah Anton.
"Aku hanyalah pembeli yang memiliki uang lebih banyak darimu. Sekarang, juru lelang, ketuk palumu," perintah Anton dengan nada absolut.
Juru lelang yang sedari tadi mematung akhirnya sadar. Dia segera mengangkat palu kayunya tinggi-tinggi.
"Satu miliar dolar untuk Inti Meteorit Astral. Satu kali. Dua kali. Tiga kali. Terjual kepada Tuan di barisan tengah," ucap juru lelang.
Tok, tok, tok.
Suara ketukan palu itu menandakan kemenangan mutlak Anton. Para tamu di aula saling berbisik membicarakan identitas pemuda misterius tersebut.
"Ini tidak bisa dibiarkan. Aku akan membunuh anak itu setelah lelang ini selesai," batin Victorio sambil mengepalkan tangannya kuat-kuat.
Victorio berbalik dan berjalan masuk kembali ke dalam ruangan VIP miliknya. Dia menyuruh asistennya untuk memanggil para pembunuh bayaran.
Sementara itu di bawah sana Anton hanya tersenyum tipis. Dia tahu Victorio pasti merencanakan sesuatu yang buruk kepadanya malam ini.
"Tuan Anton, pria itu pasti akan membalas dendam kepada kita nanti," bisik Clara yang merasa nyawanya mulai terancam.
"Biarkan saja dia mencoba. Aku justru sedang menunggu mereka datang mencariku," jawab Anton santai.
Asisten wanita dari panggung berjalan menghampiri Anton. Dia membawa kotak kaca berisi meteorit itu beserta mesin pembayaran portabel.
"Silakan lakukan pembayaran Anda di sini Tuan. Barang ini akan langsung menjadi milik Anda malam ini juga," ucap asisten tersebut.
Anton menempelkan kartunya ke mesin itu. Transaksi satu miliar dolar selesai dalam waktu kurang dari dua detik.
Asisten itu menyerahkan kotak kaca tersebut kepada Anton dengan sangat hati-hati. Anton menerimanya dan meletakkannya di atas pangkuannya.
"Benda ini cukup berat juga ternyata," ucap Anton saat merasakan bobot batu tersebut.
Cahaya biru dari batu itu terlihat sedikit lebih terang saat berada di dekat tubuh Anton. Seolah benda itu merespons kehadiran energi yang ada di dalam diri Anton.
[Peringatan Sistem: Target berhasil diamankan. Energi dari Inti Meteorit Astral mulai dianalisis.]
[Proses Evolusi Tingkat 3 siap diaktifkan kapan saja. Harap cari tempat yang aman untuk memulai proses penyerapan energi.]
"Sebentar lagi Clara. Kita kembali ke kamar sekarang juga," perintah Anton sambil berdiri dari kursinya.
"Baik Tuan. Tapi bagaimana jika orang-orang Victorio mencegat kita di lorong kapal?" tanya Clara mengikuti Anton dari belakang.
"Maka mereka tidak akan pernah bisa melihat matahari terbit besok pagi," jawab Anton dingin.
Mereka berdua berjalan keluar dari aula lelang. Beberapa tamu menatap kepergian mereka dengan pandangan waspada dan penuh minat.
Anton menyusuri lorong kapal dengan langkah tegap. Kotak kaca berisi meteorit itu dia pegang erat menggunakan tangan kanannya.
"Tuan Anton, saya merasa ada yang mengikuti kita dari belakang," bisik Clara sambil menoleh sedikit ke arah belakang.
"Aku sudah tahu. Jumlah mereka ada lima orang dan semuanya membawa senjata api rakitan," jawab Anton tanpa menghentikan langkahnya.
Anton sengaja membelokkan langkahnya menuju lorong yang lebih sepi. Lorong ini mengarah ke area mesin kapal yang jarang dilewati oleh para tamu biasa.
Tap, tap, tap.
Suara langkah kaki dari lima orang pengejar itu terdengar semakin jelas. Mereka berlari kecil untuk menyusul Anton dan Clara.
"Berhenti di sana anak sombong. Serahkan batu itu dan uangmu sekarang juga," teriak salah satu pria berbaju hitam dari ujung lorong.
Anton menghentikan langkahnya. Dia berbalik perlahan dan menatap kelima orang suruhan Victorio tersebut.
"Clara, pegang ini sebentar," ucap Anton sambil menyerahkan kotak kaca itu kepada Clara.
Clara menerimanya dengan tangan gemetar. Dia mundur beberapa langkah menjauhi Anton dan berlindung di balik tiang besi kapal.
Krak.
Anton membunyikan ruas jari-jarinya. Dia menatap kelima orang itu dengan pandangan meremehkan.
"Kalian berlima bisa maju bersamaan. Aku sedang buru-buru malam ini," tantang Anton santai.
"Bunuh dia," teriak pemimpin kelompok tersebut.
Kelima orang itu langsung mencabut pistol mereka dan mengarahkannya ke tubuh Anton. Namun Anton bergerak jauh lebih cepat dari yang mereka bayangkan.
Wush.
Tubuh Anton melesat ke depan seperti bayangan hitam. Matanya yang memiliki kemampuan memori fisik absolut sudah membaca setiap otot dan arah bidikan lawan.
Bugh.
Sebuah pukulan keras bersarang tepat di ulu hati orang pertama. Pria itu langsung memuntahkan darah dan tumbang ke lantai tanpa sempat menarik pelatuknya.
"Sial tembak dia," teriak orang kedua yang berada di sebelah kiri Anton.
Dor, dor.
Dua peluru melesat ke arah Anton. Anton hanya memiringkan kepalanya sedikit ke kanan dan peluru itu meleset menembus udara kosong.
"Terlalu lambat," bisik Anton tepat di telinga orang kedua tersebut.
Krek.
Anton mematahkan lengan orang itu dengan satu gerakan memutar yang cepat. Senjata api itu terjatuh ke lantai diiringi jeritan kesakitan yang sangat keras.
Tiga orang tersisa mulai panik melihat rekan mereka ditumbangkan dalam hitungan detik. Mereka menembakkan senjata secara membabi buta ke arah Anton.
Anton melompat ke dinding lorong. Dia berlari di atas dinding besi itu selama dua langkah sebelum akhirnya menendang dada orang ketiga dengan sangat keras.
Brak.
Orang ketiga terpental ke belakang dan menabrak dua rekannya yang lain. Ketiga pria bertubuh besar itu jatuh bertumpuk di atas lantai baja kapal.
Anton mendarat dengan mulus di lantai. Dia berjalan mendekati tumpukan manusia yang sedang merintih kesakitan tersebut.
"Sampaikan salamku pada Victorio. Katakan padanya aku akan mendatanginya besok pagi," ucap Anton sambil menginjak tangan salah satu penyerang itu hingga terdengar bunyi tulang patah.
"Argh ampun Tuan. Kami hanya menjalankan perintah saja," rintih pria itu menahan sakit.
Anton membalikkan badan dan berjalan kembali menghampiri Clara. Dia mengambil kotak kaca itu dari tangan asistennya.
"Ayo kita lanjutkan perjalanan ke kamar Clara," ajak Anton santai seolah tidak terjadi apa-apa.
Clara mengangguk cepat. Matanya masih menatap ngeri ke arah lima orang pembunuh bayaran elit yang dikalahkan dengan sangat mudah oleh bosnya tersebut.
"Tuan Anton ini manusia atau monster," batin Clara sambil mempercepat langkahnya mengikuti Anton.
Sesampainya di kamar suite mereka Anton langsung mengunci pintu rapat-rapat. Dia meletakkan kotak kaca itu di atas tempat tidur berukuran besar.
"Clara, berjaga di luar pintu. Jangan biarkan siapa pun masuk ke dalam kamar ini apa pun yang terjadi," perintah Anton dengan nada serius.
"Baik Tuan. Saya akan mengunci pintu dari luar dan menjaganya sepanjang malam," jawab Clara dengan patuh.
Setelah Clara keluar Anton segera duduk bersila di atas kasur. Dia menatap batu hitam bercahaya biru itu dengan pandangan fokus.
"Sistem, aku sudah siap. Mulai proses penyerapan energinya sekarang juga," perintah Anton di dalam pikirannya.
[Memulai proses penyerapan energi Inti Meteorit Astral. Estimasi waktu penyelesaian adalah enam jam.]
[Peringatan. Proses ini akan merombak struktur saraf optik Host dan akan menimbulkan rasa sakit yang luar biasa. Harap bersiap.]
Cahaya biru dari batu itu tiba-tiba bersinar sangat terang hingga menyilaukan mata. Cahaya itu perlahan keluar dari kotak kaca dan mengalir masuk ke dalam kedua mata Anton.
"Argh," erang Anton tertahan saat merasakan matanya seperti ditusuk oleh ribuan jarum panas secara bersamaan.
Suhu tubuh Anton meningkat drastis. Keringat dingin bercucuran membasahi kemeja yang dia kenakan.
Proses evolusi paling menyakitkan sekaligus paling mengubah hidup Anton telah dimulai malam ini di tengah lautan Pasifik. Era baru kekuatannya akan segera lahir besok pagi.