Arga Pratama, seorang mekanik tangguh yang hidupnya sederhana namun penuh prinsip, tak sengaja bertemu dengan Clara, wanita cantik pewaris perusahaan besar yang sedang lari dari perjodohan. Karena suatu keadaan terpaksa, mereka harus terikat perjanjian kontrak palsu. Siapa sangka, dari bau oli dan mesin, tumbuhlah benih cinta yang tak pernah disangka-sangka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olshop sukses Jaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertaruhan Kehormatan
"Serang dia! Ajarin preman ini sopan santun!" teriak Hendra dengan wajah memerah menahan amarah.
Tiga orang preman berbadan besar langsung menerjang ke arah Arga. Mereka berpikir akan mudah mengalahkan pria itu hanya dengan jumlah yang lebih banyak. Tapi mereka salah besar.
Arga bukanlah pria biasa. Sejak kecil ia sudah terbiasa bertahan hidup di jalanan dan melindungi bengkelnya dari pemalak. Tubuhnya yang kekar bukan hanya untuk pamer, tapi penuh dengan kekuatan dan refleks yang cepat.
BUKK!
Saat preman pertama mencoba memukul dengan keras, Arga dengan mudah menangkisnya menggunakan lengan kirinya. Dalam sekejap, Arga memutar tangan orang itu dan memukul keras ulu hatinya.
DEG!
"Ughhh!" preman itu tercekik napasnya, lalu ambruk ke tanah.
"Heh! Berani juga ya lo!" seru preman kedua sambil mengayunkan sebatang kayu kecil yang diambilnya dari samping.
Arga mengelak dengan sigap, kayu itu nyaris saja mengenai kepalanya. Tanpa memberi kesempatan, Arga menendang keras kaki orang itu hingga jatuh tersungkur, lalu dihajar dengan pukulan bertubi-tubi ke wajah dan perut.
BAM! PRAKK!
Suara pukulan dan teriakan memenuhi halaman bengkel itu.
Tuan Wijaya dan Hendra berdiri mematung di belakang. Mata mereka terbelalak tak percaya. Mereka mengira Arga hanya mekanik lemah, tapi nyatanya pria itu bertarung seperti seorang ahli bela diri.
"Sialan! Dasar kasar! Tidak punya aturan!" umpat Hendra mulai ketakutan, ia mundur selangkah demi selangkah.
Dalam waktu kurang dari lima menit, ketiga preman itu sudah tergeletak di tanah meringis kesakitan, hidung mereka berdarah, wajah bengkak.
Arga berdiri tegak di tengah mereka, napasnya sedikit memburu tapi wajahnya tetap dingin dan menakutkan. Kemeja yang dikenakannya sedikit robek di bagian lengan, memperlihatkan otot yang keras dan beberapa goresan luka kecil.
Ia menyeka darah yang sedikit keluar di sudut bibirnya dengan punggung tangan, lalu menatap tajam ke arah Hendra dan Tuan Wijaya. Tatapan itu begitu mengerikan, seolah-olah ia adalah singa yang sedang melindungi wilayah kekuasaannya.
Langkah demi langkah Arga berjalan mendekat. Setiap langkahnya membuat jantung mereka berdegup kencang ketakutan.
"Kalian... mau lari ke mana?" tanya Arga pelan, suaranya terdengar serak dan garang.
Hendra gemetar hebat. "J-jangan sembarangan! A-aku orang penting! Kalau kau sentuh aku, kau bisa masuk penjara!"
"Orang penting?" Arga tertawa sinis. "Orang penting yang kerjanya main kasar dan menghina orang lain? Omong kosong!"
Arga berhenti tepat di hadapan Hendra. Pria sombong itu kini tampak seperti tikus yang ketakutan di hadapan kucing.
"Kau tadi bilang... aku bau oli dan tidak pantas menyentuh Clara?" Arga mencondongkan wajahnya ke depan. "Baik, aku biarkan kau mencium baunya sekarang."
PLAK!
Dengan cepat Arga menampar pipi Hendra dengan sangat keras. Suara tamparan itu terdengar nyaring dan memekakkan telinga.
"Aww!!" jerit Hendra sambil memegangi pipinya yang langsung memerah. "Ayah Wijaya! Lihat dia! Dia berani memukulku!"
Tuan Wijaya yang tadinya angkuh kini juga kehilangan wibawanya. Ia menunjuk Arga dengan tangan gemetar.
"Kau... kau berani melawan orang tuaku?!"
"Bapak? Sejak kapan bapak menganggapku sebagai anak kalau bapak mau menjualku demi uang?"
Suara lembut namun tegas itu terdengar dari arah pintu.
Semua kepala menoleh. Clara berdiri di sana dengan mata merah dan basah karena air mata. Ia tidak lagi bersembunyi. Ia berjalan mendekat dan langsung berdiri di samping Arga.
Dengan gemetar namun penuh keyakinan, Clara meraih tangan Arga yang kotor dan berdarah itu, lalu menggenggamnya erat-erat.
"Lihat ini, Yah! Aku sudah sah menjadi istrinya! Aku mencintainya! Dan mulai sekarang, jangan pernah injak-injak harga diri suamiku lagi!" tegas Clara.
Arga menoleh, menatap profil wajah istrinya. Ia tidak menyangka wanita secantik dan selembut Clara berani berkata begitu di depan ayahnya sendiri demi membela dirinya.
Hati Arga terasa hangat seketika, bercampur dengan rasa bangga yang luar biasa.
"Kau... kau gila, Clara!" Tuan Wijaya marah besar. "Kau memilih pria rendahan ini daripada masa depanmu?!"
"Aku tidak butuh masa depan yang penuh dengan paksaan dan kebohongan, Yah! Di sini, di samping dia, aku merasa hidup!" balas Clara tak kalah keras.
Tuan Wijaya tertawa marah. "Bagus! Bagus sekali! Kalau begitu anggap saja aku tidak punya anak! Tunggu saja! Aku akan hancurkan bengkel ini dan aku akan hancurkan hidup kalian berdua!"
"Silakan coba," potong Arga dingin. "Selama aku masih bernapas, tidak ada yang boleh menyakiti istriku. Dan ingat... uang tidak bisa membeli segalanya, termasuk harga diri."