[kiamat + ruang dimensi + wanita tangguh]
oh yeah, untuk jodoh Lin yan mungkin akan penuh plot twist dan tidak seperti novel pada umumnya yang pria mana yang bersama Lin yan bisa jadi itu jodohnya, nah bukan ya jadi jodohnya mungkin akan terlambat atau apakah selama ini berada di sekitarnya? tidak ada yang tau bagaimana jodoh si gadis gila akan muncul.
Sinopsis :
Bagaimana jika seorang gadis dari rumah sakit jiwa bertansmigrasi ke novel kiamat? apakah dia akan mengacaukan alur cerita novel atau mengikuti alur novel itu?
kehidupan Lin Yan si gadis gila dari rumah sakit jiwa dengan sifat psikopat gila akan memenuhi hari dengan kegilaan nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
misi malas
Dua minggu telah berlalu sejak pertemuan dengan kelompok Gu Beichuan. Di dalam kastil megah kaki Gunung Qingcheng, kehidupan berjalan dalam rutinitas yang nyaman. Terlalu nyaman, menurut Sistem Xiyue.
Pukul 09.00 pagi, Lin Yan masih berguling-guling di ranjangnya. Rambut pendeknya berantakan seperti sarang tawon, selimut sutra hitam membungkus tubuhnya seperti kepompong raksasa, dan ia mendengkur pelan—suara kecil yang lucu, kontras dengan penampilannya yang garang. Di meja samping, rokok setengah batang sudah padam di asbak, meninggalkan bau khas.
Tiba-tiba...
【BANGUN! BANGUN! BANGUN! BANGUN! BANGUN!】
Suara Sistem Xiyue meledak di kepalanya, berkali-kali lipat lebih keras dari biasanya. Layar hologram berwarna merah menyala, ikon si gadis kecil berteriak-teriak dengan mulut terbuka lebar. Lin Yan mengerang kesakitan, menarik bantal menutupi kepala.
"Kemarin udah latihan keras... latihan iblis level 5... hari Minggu... libur..." gumamnya malas, suara tertahan bantal.
【TIDAK ADA LIBUR DI DUNIA KIAMAT! BANGUN! MISI BARU!】
"Aku nggak mau misi... mau tidur... mimpi indah lagi makan siomay..."
【KALAU KAU BANGUN, AKAN ADA HADIAH! LABORATORIUM CANGIH! PERALATAN TEKNOLOGI TINGGI! ANALISIS KRISTAL! VAKSIN ANTI ZOMBIE! SEMUA BISA DIBUAT!】
Lin Yan membuka satu mata. Mata merah delima itu redup, tapi ada kilatan penasaran. "Hadiah?"
【IYA! TAPI KAU HARUS BANGUN DULU, DASAR PEMALAS! ATAU AKU PAKAI PETIR MURNI! KAU TAHU RASA DISAMBAR PETIR?】 Layar sistem berkedip-kedip merah, seperti marah.
Dengan gerakan super lambat—seperti kura-kura yang bangun dari hibernasi—Lin Yan bangkit. Rambutnya berantakan, matanya masih separuh tertutup, bajunya kusut, tapi rasa penasaran mulai mengalahkan kemalasan.
"Laboratorium? Buat apa?" tanyanya sambil menguap lebar, memperlihatkan deretan gigi putihnya.
【UNTUK PENELITIAN! NANTI KALAU ZOMBIE MAKIN KUAT, KAU BUTUH ANALISIS! KRISTAL, VIRUS, OBAT—SEMUA BISA DITELITI! KAU PIKIR BISA MUKUL TERUS SAMPAI MATI? ZOMBIE LEVEL 5 NANTI BISA TERBANG!】
Lin Yan mengerutkan kening. "Zombie terbang? Gila."
【IYA GILA! SEPERTI KAU! SEKARANG BANGUN! MANDI! PERSIAP! ATAU AKU... AKU... AKU MATIKAN FITUR HIBURAN DI PONSELMU!】
Ancaman itu efektif. Lin Yan langsung bangkit. "TIDAK! KAU JAHAT BANGET!"
Satu jam kemudian, Lin Yan berdiri di depan cermin besar di kamarnya. Penampilannya hari ini: kaos hitam ketat yang memperlihatkan sedikit otot lengannya, jaket hitam dengan tudung, dan di belakang jaket—sebuah logo besar. Bunga mawar merah dan hitam yang saling melilit, dikelilingi duri-duri tajam. Logo itu menyala samar dengan cahaya merah, memberi kesan misterius dan mematikan. Di bagian bawah logo, ada tulisan kecil: "Surga Gila".
Ia menaikkan tudung, hanya menyisakan mata merah delima yang bersinar di balik bayangan. Sarung tangan hitam menutupi tangannya, sepatu bot siap menginjak apa pun.
【Penampilan keren. Sekarang pergi. Misi: kumpulkan 50 inti kristal zombie level 2 dan bunuh 100 zombie level 1. Lokasi: fasilitas penelitian terpencil di timur—Badan Penelitian Bioteknologi Qingcheng.】
"Banyak banget, sialan." Lin Yan mengeluh. "100 zombie? Malas ah."
【GAK USAH BANYAK PROTES LU MANUSIA! ATAU MAU KU SAMBAR PETIR KAU? SEKARANG?】 Layar sistem berkedip-kedip, dan di luar jendela, awan gelap mulai berkumpul.
"Iya iya ih, kejam banget ih." Lin Yan cemberut, tapi segera fokus.
Ia memejamkan mata, memvisualisasikan lokasi—atap gedung fasilitas penelitian itu, gambar yang ia lihat dari drone sistem. Kekuatan Reality Warper-nya merespons. Tubuhnya bergetar, lalu lenyap.
Lin Yan muncul di atap sebuah gedung tinggi. Angin bertiup kencang, membuat jaketnya berkibar. Di bawahnya, terbentang kompleks fasilitas penelitian besar—gedung-gedung putih dengan kaca pecah berserakan, halaman penuh mobil terbengkalai, beberapa masih terbakar dengan asap hitam mengepul, dan mayat-mayat bergelimpangan dalam berbagai posisi mengerikan. Dari dalam terdengar raungan zombie yang berbeda—lebih dalam, lebih mengancam, seperti auman binatang buas.
【Zombie level 2. Hati-hati. Mereka lebih cepat dan mulai punya kesadaran dasar.】
Lin Yan melompat turun, mendarat ringan di halaman dengan suara hampir tak terdengar. Tiga zombie langsung mendekat dari berbagai arah—gerakan mereka lebih cepat, lebih terkoordinasi, tidak seperti zombie level 1 yang berjalan terseok-seok. Mata mereka bersinar merah samar.
"Level 2, ya?" Lin Yan menghunus pedang Jian di pinggangnya. Bilahnya berkilau terkena sinar matahari redup. "Coba lihat."
Ia bergerak. Tebasan pertama—zombie menghindar dengan lompatan ke samping! Lin Yan terkejut, tapi refleksnya cepat. Ia berputar, tendangan melayang mematahkan kaki zombie, lalu tebasan ke leher. Zombie pertama tumbang. Dua lainnya menyerang bersamaan, satu dari kiri, satu dari kanan, dengan gerakan sinkron.
Lin Yan melompat tinggi, berputar di udara, dan kedua zombie kehilangan kepala dalam satu ayunan pedang. Darah hitam menyembur, mayat jatuh bersamaan.
"Nggak sesulit itu," gumamnya, membersihkan darah dari pedang.
【Itu baru tiga. Masih 97 lagi di dalam. Plus 50 level 2.】
Lin Yan menghela napas panjang, mengeluarkan rokok, menyalakannya dengan jentikan jari. Ia mulai masuk ke gedung utama, bersiap untuk "bekerja".
Tapi kali ini, ia ingin bereksperimen.
Saat bertemu zombie keempat—seorang level 2 dengan otot besar—ia tidak menggunakan pedang. Ia mengangkat tangan kiri, dan sebilah panah api terbentuk di udara, melesat tepat di kepala zombie. Zombie itu terbakar hebat, menjerit dengan suara serak, lalu roboh dalam kobaran api.
"Wah, bisa juga." Lin Yan tersenyum senang. Ia mencoba panah es—membekukan zombie kelima dalam balok es, lalu pecah berkeping-keping. Panah tanah—menembus tepat di kepala zombie keenam. Panah petir—membuat zombie ketujuh meledak dengan suara menggelegar.
【Kau sedang bermain?】
"Eksperimen. Biar nggak bosan." Lin Yan terus berjalan menyusuri lorong-lorong gelap fasilitas penelitian sambil sesekali menciptakan berbagai panah elemen. Setiap panah tepat sasaran, membunuh zombie level 2 dengan efisien. Kadang ia menciptakan bola api, kadang tombak es, kadang cakram angin. Semua elemen ia coba, seperti anak kecil dengan mainan baru.
Satu jam kemudian, ia sudah mengumpulkan 8 inti kristal—batu kecil berkilau dengan warna berbeda tergantung elemen zombie. Zombie api memberi kristal merah menyala, zombie es kristal biru membeku, zombie tanah kristal coklat kasar, zombie petir kristal kuning berkilau. Setiap kristal sebesar kelereng, terasa hangat atau dingin di telapak tangan.
Tiba-tiba, ia mendengar suara dari dalam gedung utama. Bukan raungan zombie, tapi suara manusia—teriakan panik, diikuti suara benda jatuh.
"TOLONG! ADA ORANG DI SINI! TOLONG KAMI!"
Lin Yan mengerutkan kening. "Manusia?"
【Deteksi: tiga manusia di lantai 3. Terjebak di laboratorium. Ilmuwan, kemungkinan besar. Dari seragamnya, mereka peneliti di sini.】
"Ilmuwan?" Lin Yan mendengus. "Berguna? Repot. Ntar ngerepotin aja."
【Iya, berguna. Mereka bisa bantu analisis kristal, teliti virus, bikin vaksin. Otak mereka lebih berharga daripada otot mereka. Pikir masa depan! Mau selamanya cuma andalkan otot?】
Tapi kakinya sudah melangkah masuk. Entah karena penasaran, atau karena rasa ingin tahu yang aneh.