NovelToon NovelToon
Terjerat Cinta Sang Kapten

Terjerat Cinta Sang Kapten

Status: sedang berlangsung
Genre:Enemy to Lovers
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rita Sri Rosita

Kirana, putri seorang menteri yang sedang naik daun, datang ke pedalaman demi meningkatkan citra politik ayahnya. Bersama reporter Carmen dan kameramen Dion, dia membuat konten kemanusiaan mengajar anak-anak desa dan memberi bantuan bersama prajurit TNI.
Kapten Damar ditugaskan mengawal kunjungan itu. sanf kapten menganggap Kirana hanyalah bagian dari panggung politik yang penuh pencitraan.
Semua berjalan lancar, hingga segerombolan pemberontak bersenjata menyerbu desa. Dalam kekacauan dan tembakan yang membabi buta, Damar harus membawa Kirana menyelamatkan diri ke dalam hutan.
Terpisah dari rombongan dan jauh dari sorotan kamera, Kirana untuk pertama kalinya menghadapi dunia tanpa privilese. Di tengah bahaya dan perjuangan bertahan hidup, tumbuh perasaan yang tak seharusnya ada antara seorang perwira yang terikat sumpah dan putri pejabat yang mulai melihat arti ketulusan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Sri Rosita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Berhasil Selamat

Langit masih gelap kabut tipis menyelimuti jalanan, dan udara pagi terasa dingin menusuk. Damar membuka pintu kamar perlahan, memastikan tidak ada siapa pun di luar.

“Ikut saya,” bisiknya. Kirana mengangguk, jantungnya berdegup cepat.

Mereka melangkah keluar dengan hati-hati, menuju belakang pondok, Damar tidak langsung menyalakan motor dia mendorongnya perlahan menjauh dari pondok itu.

“Kenapa nggak langsung dinyalakan?” bisik Kirana.

“Suara mesin bisa menarik perhatian,” jawab Damar tanpa menoleh. “Kita menjauh dulu.” Kirana mengangguk percaya dengan keputusan Damar.

Beberapa meter dari tempat itu, barulah Damar berhenti dia menoleh ke sekitar, memastikan tak ada orang yang melihat mereka.

“Naik.”

Kirana langsung sigap naik, Mesin motor akhirnya menyala pelan.

Mereka melaju meninggalkan tempat itu, tanpa mereka sadari dari kejauhan, sepasang mata melihat kepergian mereka, seorang pria berdiri menyipitkan mata.

“Motor itu…” gumamnya dia seperti mengenali sepeda motor itu, raut wajahnya berubah panik.

“Jangan-jangan…” dia buru-buru mengangkat radio komunikasi.

“Tadi saya melihat target, memakai motor teman kita," ucapnya cepat. “Mereka keluar dari pondok.”

“Lokasi?” suara di radio terdengar tegas.

“Jalan utama, menuju arah timur.”

“Terus pantauan.” Radio itu mati.

Pria itu tersenyum bengis menggenggam radio komunikasi.

“Kali ini mereka tidak akan lolos.”

Di tempat lain Beberapa motor langsung melaju kencang, membelah jalanan sepi.

“Target bergerak ke arah timur!” teriak salah satu dari mereka.

Deru mesin memecah keheningan pagi, sementara itu, Damar dan Kirana terus melaju, matahari mulai muncul di ufuk, cahaya perlahan menerangi jalanan.

Beberapa rumah mulai terlihat Damar menghentikan motor sejenak di sebuah pemukiman kecil.

“Aku butuh telpon,” katanya melirik kearah Kirana.

Tak lama Damar menghampiri seorang warga yang sedang menyapu halaman.

“Peemisi, boleh saya pinjam ponsel sebentar?"

Perempuan itu menatap Damar ragu, mengamati sejenak namun sosok Damar yang tampan dan berwibawa, sulit rasanya perempuan itu untuk merasa curiga.

Perempuan itu mengangguk lalu memberikan ponsel miliknya kepada Damar.

“Boleh," Seraya tersenyum ramah ke arah Damar.

Damar segera menekan nomor darurat yang hanya di ketahui pasukan khusus seperti dirinya

“Saya Kapten Damar, butuh bantuan, posisi saya di...”

dia menyebutkan lokasi dengan cepat dan untuk beberapa saat Damar menyimak intruksi dengan serius.

“Baik terima kasih.” sambungan telpon pun terputus Damar segera mengembalikan ponsel itu.

“Terima kasih, Ibu” kata Damar terlihat sopan.

“Kenapa, Mas?” tanya warga itu penasaran.

“Tidak apa-apa dompet sama ponsel saya hilang” Jawab Damar sambil tersenyum.

Damar kembali ke motor Kirana menatapnya penuh harap.

“Gimana?” Tanya Kirana cemas.

“Pos TNI sekitar 10 kilometer dari sini,” jawab Damar. “Kalau kita sampai sana,” Damar menatap Kirana lalu tersenyum.

“Kita selamat.” kata Damar lagi masih tersenyum.

Kirana menghembuskan napas lega lalu mendekap Damar dari arah belakang.

“Syukur lah," ucap kirana pelan.

Untuk beberapa saat Jatung Damar seperti berhenti berdetak dekapan Kirana membuatnya tertegun.

Mereka kembali melaju dengan kecepaan standar, namun beberapa menit kemudian Damar melihat sesuatu dari kaca spion.

Empat motor mengejar mereka jaraknya semakin dekat tatapan Damar langsung berubah.

“Kirana," Suara Damar meninggi

“Ada apa?” Kirana sedikit terhentak.

“Kita diikuti.” kata Damar lagi, Kirana spontan menoleh ke belakang dan wajahnya langsung pucat.

Damar langsung menarik gas lebih dalam motor melesat lebih cepat.

“Pegangan yang kuat!” teriaknya Kirana langsung memeluknya erat.

DOR!

Tembakan pertama terdengar jarak mereka terlalu jauh peluru meleset.

DOR!

Tembakan kedua masih meleset.

“Damar” teriak Kirana ketakutan, jarak mereka semakin dekat.

DOR!

“ARGH!”

Akhirnya peluru menembus lengan Damar motor langsung oleng.

“Damar!” Kirana berteriak lagi.

“Aku tidak apa-apa!” Damar berteriak menahan sakit darah mulai mengalir dari lengannya namun dia tetap menggenggam setang dengan kuat.

“Sedikit lagi…” gumamnya menahan nyeri, sekaligus menenangkan Kirana agar tida panik motor terus melaju, meski seskali goyah.

Dari kejauhan suara kendaraan lain terdengar, beberapa motor muncul dari arah berlawanan seragam mereka terlihat jelas dari kesatuan Damar.

“Berhenti!” teriak salah satu dari mereka, mereka tak lagi mengejar.

DOR! DOR!

Tembakan balasan dilepaskan para penyerang langsung berbalik arah, memutar motor mereka dan kabur.

“Kejar!” teriak salah satu anggota.

Namun sebagian lain langsung menghampiri Damar dan Kirana,.Damar akhirnya menghentikan motor tenaganya mulai habis beberapa orang berlari mendekat.

“Kapten!” seru salah satu dari mereka.

Kirana turun dari motor dengan gemetar.

“Dia tertembak!” suara Kirana panik Damar masih berusaha tersenyum menatap Kirana.

“Kamu sudah aman” kata Damar pelan.

“Jangan bicara!” Kirana menahan tangis menghampiri Damar.

“Kita sudah sampai! Kamu juga akan selamat!” kata Kirana lembut masih terisak seraya membatu memapah Damar.

Tubuh Damar mulai goyah dia hampir jatuh beberapa anggota langsung menahannya.

“Kapten,"

"Cepat dia tertembak di lengan,”

“Di bahu juga,” potong yang lain saat melihat bahunya. Darah juga mengalir dari sana menujuk punggungnya

“Cepat! Bawa ke mobil!” Mereka segera memasukkan Damar ke dalam kendaraan.

“Kirim helikopter medis sekarang juga!” teriak salah satu komandan melalui radio.

“Ulangi, kirim helikopter medis! Kondisi kritis!”

Kirana berdiri terpaku tangannya gemetar air matanya jatuh tanpa bisa ditahan, orang yang menyelamatkannya, yang sejak awal melindunginya kini terbaring tak berdaya.

“Damar,.” suaranya tercekat.

Di dalam mobil Damar sudah mulai kehilangan kesadaran matanya perlahan terpejam.

“KAPTEN!” teriak salah satu anggota namun tidak ada respons.

Kirana menutup mulutnya, menahan tangis yang pecah dan untuk pertama kalinya dia benar-benar takut kehilangan.

1
sitanggang
mcnya ternyata goblok🤦🤦
Rosie: Baca J.R.R Tolkien aja cocok buat anda jangan novel online.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!