NovelToon NovelToon
Yun Miao 1: Satu Sabda Penyembuh

Yun Miao 1: Satu Sabda Penyembuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Penyelamat / Dunia Masa Depan
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Auzora Maleeka

"Di saat napas terakhir Pak Tua Arman dianggap sebagai akhir dari kejayaan keluarga Chandra, seorang asing berpakaian putih muncul tanpa suara. Tak ada obat, tak ada mantra rumit. Ia hanya membungkuk, membisikkan satu kalimat di telinga kakek yang sekarat itu, lalu berbalik pergi. Detik berikutnya, jantung kembali berdetak kuat, membuat para anak tercengang. Siapakah dia? Dan apa yang diucapkannya untuk menantang kematian?"

"Sebuah kalimat yang mengubah takdir. Saat dunia medis menyatakan Kakek sekarat, seorang asing bernama Yun Miao muncul dan menyembuhkannya hanya dengan satu kalimat perintah. Siapakah Yun Miao, dan bagaimana kalimat sederhana bisa melawan maut?"

Mohon maaf ya teman-teman kalau novel pertamaku belum bisa membuat kalian puas bacanya. InsyaAllah aku akan terus berusaha agar novelku selanjutnya bisa memenuhi keinginan dan kriteria kalian semua.... Terimakasih

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Auzora Maleeka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

06

"ini ... Nona Nadira adalah keturunan orang yang disukai Ayah. Kalau melayaninya seperti Leluhur, bukankah sama saja dengan menghina ibu ?" Tanya Nyonya Sonia ke Tuan Rendi.

"Benar… Kak Rendi. Kau sedang bicara apa ? Apa kau tidak mempertimbangkan perasaan ibu." Kata Tuan Rayhan.

Tuan Rendi menghela nafas pelan, lalu melambaikan tangannya untuk mengusir Kepala Pelayan yang sedang berada disitu. Karena dia ingin berbicara serius dengan Adik dan Istrinya. Setelah Kepala Pelayan pergi Tuan Rendi pun kembali berbicara.

"Tapi, aku sudah terlanjur menyetujuinya kepada Ayah." Kata Tuan Rendi.

"Ayahmu pikun saat menjelang ajal, apa kau juga sudah pikun ? Nona apa ? Pelayan ? Kak Rendi, apakah menurutmu ayah kita, orang yang begitu berkuasa, dulu adalah pelayan orang lain ?" Kata Tuan Rayhan.

"Benar, mana mungkin." Sambung Nyonya Sonia yang tidak percaya itu.

"Tapi, apakah kalian pernah berpikir nggak ? Ayah sudah hidup 92 tahun, nggak pernah minum alkohol, selalu menjaga kesadarannya tetap jernih, walau pun mengalami kilas balik terakhir, apa mungkin dia menjadi pikun ?" Ujar Tuan Rendi kepada adik dan Istrinya itu.

"Kak Rendi, apa yang sebenarnya ingin kau katakan ?" Tanya Tuan Rayhan.

"Yang kukatakan adalah, Ayah sama sekali nggak pikun."Jawab Tuan Rendi.

Sedangkan, Tuan Rayhan dan Nyonya Sonia bingung akan ucapan Tuan Rendi seakan-akan mereka tidak percaya apa yang dikatakan oleh Tuan Rendi. Mungkin, apa yang di katakan Tuan Rendi adalah suatu kebenaran, tapi mereka menepisnya karena mereka masih tidak percaya.

"Maksudmu, Ayah beberan berlutut pada Nona Nadira yang asli, dan bukan keturunannya ?" Tanya Nyonya Sonia.

"Nggak mungkin. Kalau gadis itu beneran sudah hidup puluhan tahun, kenapa masih begitu muda, bukankah dia sudah jadi roh ?" Sanggah Tuan Rayhan.

"Pokoknya apapun yang terjadi, kita harus cari tahu asal-usulnya dulu baru bertindak. Apalagi, aku sudah berjanji pada Ayah." Kata Tuan Rendi.

Ketika Tuan Rendi sedang berbicara kepada Tuan Rayhan dan Nyonya Sonia, Adrian muncul karena dia dipanggil oleh Ayahnya melalui seorang pelayan untuk menemui dirinya.

"Ayah, anda mencari ku ?" Tanya Adrian kepada Ayahnya sambil tangannya dimasukkan kedalam mantel yang ia kenakan.

"Beberapa hari ini, selain berjaga malam, di siang hari, layani Nona Nadira tanpa beranjak dari sisinya." Kata Tuan Rendi.

"Ayah, apa kau nggak membiarkan aku hidup ? Siang hari aku jadi pelayan, malam hari jadi anak berbakti. Lebih baik kau membunuhku" Tanya Adrian.

Sedangkan Tuan Rayhan dan Nyonya Sonia hanya diam membisu mendengar pembicaraan Ayah dan anak itu, seakan-akan mereka tidak tahu harus berbuat apa.

"Aku sudah bersumpah di depan Kakekmu. Nona Nadira sekarang adalah tamu penting Keluarga kita. Apa melayaninya sudah membuatmu menderita ? Kalau sudah mengerti, cepat pergi." Jawab Tuan Rendi.

Sedangkan Adrian yang diusir oleh Ayahnya itu, hanya bisa menghela nafas karena tugasnya menjadi bertambah. Sebelum ia beranjak pergi ia bertanya pada Ayahnya.

"Oh ya, aku ingat sebelum Kakek meninggal, Kakek bilang kalau Nona Nadira turun gunung, tapi aku lihat gerak-gerik, cara bicara, penampilan dan pembawaan Nona Nadira nggak mirip orang yang tinggal digunung. Ayah, aku merasa latar belakangnya sangat misterius." Kata Adrian.

"Ini adalah alasanku menyuruhmu untuk menyelidikinya."Kata Tuan Rendi menyuruh kepada Anaknya itu.

"Aku merasa dia sangat misterius." Tanya Adrian sambil ber sedekap dada.

"Serahkan saja pada pamanmu. Yang penting kau melayani Nona Nadira saja. Mengerti nggak ? Cepat pergi."Kata Tuan Rendi sambil menunjuk ke arah Tuan Rayhan dan langsung mengusir anaknya dari hadapannya itu.

Sedangkan Tuan Rayhan yang ditunjuk oleh Tuan Rendi memahaminya, untuk segera mencari tahu asal usul Nona Nadira tersebut.

"Baik..... Baik.... Baik...." Jawab Adrian lesu.

Setelah Adrian pergi dari hadapan mereka, mereka pun melanjutkan obrolan mereka kembali untuk memahami apa yang harus mereka lakukan kedepannya.

"Kita harus pergi."Ajak Tuan Rayhan kepada Tuan Rendi dan Nyonya Sonia.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Keesokan paginya, Adrian masih saja tertidur padahal hari sudah pagi, dan matahari sudah muncul di sela-sela jendela kamarnya. Dia membuka matanya sedikit dan melihat ke arah jendela kemudian dia menggeliat sedikit dan akhirnya pun dia bangun dari tidurnya.

Setelah selesai bersiap-siap, akhirnya Adrian keluar dari kamarnya dengan keadaan yang telah rapi.

Setalah itu saat akan pergi menuju ke arah kamar Nadira, dia pun bertemu dengan Pak Eko dan beberapa pelayan yang mondar-mandir disekitarnya. Dan dia pun melihat Pak Eko, sedangkan Pak Eko juga melihat Adrian. Kemudian Adrian menghampiri Pak Eko untuk bertanya apa yang sebenarnya terjadi .

"Ada apa dengan kalian ?" Tanya Adrian.

"Tuan Adrian, Anda kenapa datang kemari ?" Tanya Pak Eko.

"Ayahku menyuruhku untuk melayani Nona Nadira. Kenapa Pak Eko? Apakah Nona Nadira sulit dilayani ?" Kata Adrian.

"Bukan. Semua permintaannya bisa dipenuhi. Cuma saja kesabarannya setipis tissue. Begitu nggak selesai....." Kata Pak Eko.

"Dia akan mengamuk ?" Tanya Adrian.

"Bukan."Jawab Pak Eko.

"Apa dia akan memukul orang ?" Tanya Adrian lagi.

"Tentu juga nggak. Cuma, aku akan merasa sangat bersalah, sangat malu, dan merasa diri sendiri nggak berguna, kenapa nggak bisa memenuhi permintaannya." Jawab Pak Eko.

Sedangkan Adrian pun juga tidak paham kenapa begitu.

"Pak Eko, kau sudah lama tinggal di rumah kami. Rintangan apa yang nggak pernah kau lihat ? Mana mungkin ada mental seperti ini ? Aku memandang rendah padamu." Kata Adrian kepada Pak Eko sambil menepuk pundak Pak Eko.

Kemudian, dia melihat pegawai Baju yang dipesan oleh Pak Eko untuk Nadira datang menghampiri Pak Eko dan juga Adrian, menyampaikan pesan apa yang ingin disampaikan kepada Pak Eko kalau bahwasanya Nona Nadira tidak menyukai bajunya.

"Pak Eko, Nona Nadira bilang dia nggak suka semua baju ini." Kata Pegawai baju .

Kemudian Pak Eko menyuruh mereka untuk pergi dari sana, jikalau pun tidak ada yang cocok dengan selera Nona Nadira.

"Kalian terus antar." Suruh Pak Eko kepada pegawai lainnya yang masih ada di sana.

"Tunggu. Aku saja yang antar." Cegah Adrian kepada pegawai tersebut.

Akhirnya, Adrian mengambil baju yang masih di gantung dan masih di pegang oleh pegawai tersebut untuk diberikan kepada Nona Nadira.

Sedangkan di tempat Nadira, ia pun masih bingung dengan handphone tersebut, dia melihat-lihat handphone tersebut dari dekat dan membolak-balikkan handphone itu seakan-akan ingin mengetahui apa fungsi dari benda tersebut.

Dan akhirnya, Adrian pun sampai di depan Nadira sambil membawa baju tersebut. Dan Nadira melihat Adrian yang membawa baju ke hadapannya.

"Beberapa ini.... Ini..."Gantung Adrian, karena melihat tatapan dari Nadira seakan dia sangat takut kepada Nadira. Padahal Nadira hanya melihatnya biasa saja.

"Bawa keluar bajunya." Kata Nadira.

"Semua baju ini nggak pantas di pakai oleh Nona Nadira. Aku memang nggak berguna. Hal sekecil begini saja nggak bisa lakukan."Gumam Adrian dalam hati.

Nadira, terus saja masih memperhatikan handphone tersebut yang masih di pegangnya seakan ingin tahu kegunaannya.

Sedangkan Adrian merasa tidak becus dalam melayani Nadira sehingga ia jadi tidak bersemangat.

"Nggak benar. Kenapa aku juga bisa berpikir begitu ?" Gumam Adrian.

"Nona Nadira, Ivana, mendiang pendiri Keluarga Perancang, saat hidup pernah merancang sebuah gaun putih. Menurutku sangat cocok denganmu. Bagaimana kalau aku suruh orang untuk mengantarnya ?" Kata Adrian.

"Ivana ? Sepertinya di Keluarga Chandra kalian nggak semuanya orang bodoh." Tanya Nadira sambil melihat ke arah Adrian.

"Hahaha. Nona Nadira, kau sedang memujiku pintar ?" Sahut Adrian dalam hati sambil merapikan jaket yang ia kenakan.

"Masih terlalu cepat untuk mengatakan itu." Kata Nadira sambil memegang handphone.

Sedangkan Adrian menjadi salah tingkah setelah mendengar apa yang diucapkan olah Nadira.

"Ok."

1
Andira Rahmawati
absend dulu thor...
Chen Nadari
mampir Thorr
Dewiendahsetiowati
hadir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!