Jangan lupa follow Ig noer_azzura16 for visualnya ya.
Diandra menjadi sugar baby seorang pria dingin selama tiga tahun lebih ketika dia berada di luar negeri. Selain nama dan nomor ponselnya, Diandra sama sekali tidak tahu apapun tentang pria itu.
Namun, tiba-tiba ayahnya menyuruhnya kembali, setelah mengasingkannya selama 7 tahun, ketika adik tirinya akan bertunangan.
Diandra yang memang punya dendam pada ayahnya dan keluarga baru ayahnya itu. Memutuskan kembali, ada dendam yang harus dia tuntaskan.
Namun, siapa sangka. Jika tunangan sang adik tiri, ternyata adalah seseorang yang mengenal Diandra luar dan dalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32- MCI 32
Sementara itu di kediaman Kusuma. Genelia yang bahkan tidak bisa tidur nyenyak, karena semua mimpi buruk yang datang tiba-tiba padanya. Semakin menjadi emosi.
Seseorang yang selalu ingin menjadi yang terbaik. Seseorang yang selalu berusaha mendapatkan apa yang dia inginkan. Saat ini kehilangan semuanya.
Ketika dia melihat ponselnya, semua berita yang ada disana adalah tentang pertunangannya yang berakhir kacau. Banyak sekali teman-teman media sosial yang mengikutinya mengirimkan pesan. Ada yang bertanya, ada yang menyampaikan simpati, tapi semua itu malah terbaca seperti sebuah penghinaan bagi Genelia.
Tak ada kata-kata yang terbaca bagus dimatanya. Semua seperti ejekan, sindiran dan hinaan. Padahal kebanyakan semua postingan dan komentar itu menyudutkan Diandra.
Banyak yang berkomentar Diandra adakan saudara tiri yang sangat kejam. Yang dengan tega menggoda dan merebut tunangan adik tirinya sendiri. Semua orang sebenarnya di kolom komentar itu menghujat Diandra. Tapi tetap saja, bagi Genelia dia yang gagal. Dia benci sekali setiap orang yang menuliskan kata Diandra. Dia benci membaca nama itu.
"Non, nona Genelia sudah bangun?" tanya seorang pelayan yang mendengar suara dari dalam kamar.
Sebelum pergi, Kamila berpesan pada pelayan supaya menjaga Genelia. Saat ini Genelia bahkan tidur di kamar tamu. Karena memang kamarnya sangat berantakan. Baru selesai dirapikan pagi tadi.
"Pergi!" teriak Genelia dari dalam.
Pelayan itu tampak ragu untuk pergi. Masalahnya Kamila juga berpesan, kalau Genelia bangun, bawakan sarapan segera untuk Genelia. Sejak semalam, Genelia tidak makan dan minum apapun.
"Nona, kata nyonya kami harus membawakan sarapan untuk nona!"
Genelia tidak menggubris, dia masih terus melihat layar ponselnya. Semuanya sudah dekat, tinggal satu langkah lagi dia benar-benar akan menjadi nyonya Dave Mahendra. Kenapa semua bisa seperti ini? dia sangat kesal pada Diandra. Jika wanita itu ada di depannya. Genelia sudah pasti akan menghabisinya.
Ceklek
Dua pelayan membawa nampan berisi sarapan.
"Nona, sarapan...!"
Mata Genelia menetap penuh benci pada dua orang itu. Dia bangun dari tempat tidur, lalu memukul nampan yang dibawa salah atau pelayan dari bawah.
Brakk
Prangg
Semua yang ada di atasnya tumpah.
"Aku sudah bilang! pergi! pergi kalian! pergi!"
Dia pelayan itu sampai gemetaran. Genelia berteriak sangat mengerikan. Keduanya segera meninggalkan kamar Genelia.
"Loh, kenapa di bawa keluar..."
"Bi, kami takut bi. Nona Genelia terus mengamuk. Seperti orang stresss...!"
"Hussst!" sela kepala pelayan di rumah itu.
"Tapi bi, kami takut!"
"Ya sudah, kalian ke belakang!" kata kepala pelayan itu lagi.
Keduanya cepat berjalan ke belakang. Kepala pelayan itu terlihat menghela nafas berat.
**
Sementara itu di tempat lain, mobil Raez juga sudah berada di rumah sakit. Pria itu turun dari dalam mobil, lalu membuka pintu mobil bagian penumpang sebelahnya.
"Ayo turun!"
Diandra tampak ragu, mana dia tidak bisa menghubungi Celine. Ponselnya ditahan lagi oleh Raez.
"Mau aku gendong...!"
"Tidak, tidak! tidak usah!" kata Diandra yang segera turun dari mobil Raez dengan cepat.
Otak kecilnya itu mendadak blank. Dia tidak bisa memikirkan alasan yang tepat untuk menolak pemeriksaan itu.
"Ibuku juga di rawat disini. Mungkin ayahmu dan ibu tirimu juga ada di sini sekarang!"
Diandra menatap Raez.
'Kenapa dia mengatakan semua itu padaku?' hatinya bingung.
Tapi, begitu mendengar ayahnya dan ibu tirinya ada di rumah sakit ini. Diandra menjadi kesal.
"Mungkin mereka ingin membahas masalah pertunangan lagi! mungkin mereka akan menyalahkan mu dan minta ibuku mengatur ulang acara pertunangan..."
"Heh, mana boleh begitu. Kamu tidak bisa tunangan dengan Genelia! anakku bagaimana?" tanya Diandra.
Raez terkekeh kecil.
"Kalau begitu kita periksa, supaya ibuku tidak anggap kamu berbohong atau berpura-pura!"
Diandra kembali diam. Tapi setelah dia berpikir lagi, dia mengangguk dan melangkah maju mengikuti Raez.
'Tinggal histeris saja nanti kalau misalnya laporannya keluar, dan mengatakan laporannya salah karena aku periksa bareng sama wanita yang benar-benar hamil. Nah begitu saja!' batin Diandra yang sudah menyiapkan jawaban.
Dia pikir, jika pertunangan itu di atur ulang. Maka dia juga akan cari cara lain lagi nanti. Yang penting sekarang aman dulu.
Raez menoleh sekilas. Wajah Diandra sama sekali tidak bisa menyembunyikan apapun darinya. Bahkan Raez saat ini tahu, kalau Diandra sedang memikirkan sesuatu yang licik lagi.
"Selamat pagi Diandra..."
Mata Diandra melebar, rupanya ada dokter Vincent.
"Dokter Vincent..."
"Iya, aku bekerja di rumah sakit ini. Masuklah temanku dokter Olivia akan memeriksa mu, dia dokter kandungan terbaik di rumah sakit ini!"
Diandra tersenyum hambar. Dan langsung masuk mengikutinya dokter Vincent.
Ketika Raez akan masuk, Diandra menahannya.
"Heh, kenapa kamu masuk?" tanya Diandra.
"Kenapa?"
"Bukannya nanti akan di periksa itunya..."
"Bagian tubuh mana darimu yang belum pernah aku lihat?" celetuk Raez yang me buat wajah Diandra memerah.
'Dasar mesumm!' pekik Diandra dalam hatinya.
"Cepat masuk!" kata Raez sedikit memberikan dorongan pada Diandra.
Beberapa pemeriksaan kemudian dilakukan, hingga dokter Olivia menawarkan untuk pemeriksaan USG.
"Tidak usah dok..."
"Kenapa tidak usah?" sela Raez.
"Masih kecil kan dok, masih satu bulan, kan gak terlihat juga pasti!" jawab Diandra memberi alasan.
"Satu bulan? sudah dua bulan!" kata dokter Olivia.
Mata Diandra membelalak. Diandra benar-benar kaget. Diandra menelan salivanya dengan susah payah.
"Du... dua bulan?" tanyanya dengan suara gemetar.
Dia sungguh tidak percaya ini, dia benar-benar hamil? bagaimana bisa?
"Periode sendiri kamu lupa! terakhir kali, katamu hanya dua hari!" kata Raez.
"Jadi aku, aku benar-benar..." Diandra tak bisa berkata-kata. Dia menyentuh perutnya yang masih sangat rata itu.
Dia bahkan tidak menyangka kalau dia hamil, benar-benar hamil.
Mata diandra berkaca-kaca.
"USG!" kata Raez.
Diandra masih diam, dia masih sangat terkejut. Dia melihat layar besar di depannya. Penjelasan dokter Olivia bahkan tak jelas di dengarnya. Diandra masih shock.
Kebohongannya kenapa jadi kenyataan begini.
Raez menyentuh tangan Diandra. Saat itu Diandra baru tersadar.
"Aku, aku..."
"Saat Vincent memeriksa mu, dia bilang padaku kamu mungkin hamil. Tapi dia minta aku membawamu ke rumah sakit untuk memastikan! suruh siapa kamu kabur?"
"Kamu menyebalkan!" keluh Diandra.
Raez meraih tangan Diandra.
"Jangan harap bisa kabur lagi! kamu mengandung anakku. Kamu milikku!"
Kata-kata Raez terdengar mengerikan. Diandra menarik tangannya dengan cepat.
"Lalu pertunanganmu dengan Genelia?" tanya Diandra.
"Kenapa bertanya? bukankah kamu selalu ingin pertunangan ini batal. Sekarang kamu harus tanggung jawab, namaku sudah buruk!"
Diandra melebarkan matanya. Apa yang dibicarakan pria di depannya itu.
"Bram sudah ada di kantor catatan sipil. Kita tinggal datang kesana, dan menikah!"
Mata Diandra melebar. Raez akan menikahinya?
***
Bersambung...
Oleh dunia yang fana sebagai tempat ujian bagi kita
Dunia sementara akhirat selama lamanya
Orang kaya mati
Orang miskin mati
Raja raja mati
Rakyat biasa mati
Semua pergi menghapap Illahi
Dunia yang dicari
Tak ada yang berarti.. 🎶🎤
Genelia mati..
Kamila mati..
Romi gila..
Diandra bahagia..
Terimakasih Kak Noer untuk updatenya.. ❤❤❤❤❤
cepat sekali sudah tamat...
aku kira masih ada cerita selanjutnya...
GK taunya udah endingnya 😭😭😭