Di balik kelembutan sikap sang suami, ternyata ia menyimpan sejuta duri...
Rengganis tidak pernah menyangka jika di hari ulang tahun pernikahan yang ke sepuluh, ia akan mendapatkan sebuah kado yang sangat spesial. Kado yang menjadi awal petunjuk bahwa ada banyak dusta yang disembunyikan oleh sang suami.
Berawal dari sebuah foto USG yang ia temukan di dalam saku kemeja sang suami, Rengganis berhasil membuka sebuah rahasia yang selama ini disembunyikan. Satu rahasia bahwa ternyata sang suami diam-diam telah menikah sirri dengan wanita lain.
Lantas, jalan apakah yang akan diambil oleh Rengganis di saat pernikahannya sudah dipenuhi dusta oleh sang suami? Apakah ia akan tetap mempertahankan pernikahannya dengan menerima wanita lain untuk menjadi madunya? Atau apakah ia akan mengakhiri biduk rumah tangganya yang sudah berlayar sepuluh tahun dengan melepaskan sang suami?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laviolla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anniv 21. Suasana Hangat
Krisna menatap lekat punggung Ganis yang tengah sibuk di dapur membuat mie instan. Setelah pergumulannya di ranjang yang menghabiskan waktu hampir dua jam, akhirnya sepasang suami-istri itu memilih untuk berada di dapur. Memasak mie instan untuk kembali mengisi tenaga setelah terforsir habis-habisan saat bercinta.
"Sudah matang... Ayo makan Mas!"
Harum khas aroma mie instan rasa soto spesial yang menusuk indera penciuman nyatanya tidak membuat Krisna menggeser pandangannya. Netra lelaki itu tetap tertuju pada sang istri yang kini bahkan sudah bergeser dan duduk di hadapannya.
"Mas!" seru Ganis seraya menepuk lengan tangan Krisna. Hingga membuat Krisna terkesiap dan mengerjapkan matanya.
"Eh iya Sayang?"
"Kenapa melamun?" tanya Ganis sembari berdecak lirih. Ia menggeser mangkuk berisi mie instan untuk bisa lebih dekat di hadapan Krisna. "Mie nya sudah matang. Ayo di makan, mumpung masih panas!"
Krisna meraih sendok dan garpu yang sudah disediakan oleh Ganis. Perlahan, mie instan yang ada di hadapannya ini mulai memanjakan indera pengecapnya. Enak, selalu saja enak. Meski yang dimasak oleh Ganis hanya mie instan biasa namun rasanya tetap saja beda. Seperti ada bumbu rahasia yang dipakai oleh istrinya ini.
"Aku merasa ada yang beda denganmu Sayang."
Akhirnya keluar juga kata-kata dari bibir Krisna. Kata-kata yang menggambarkan apa yang saat ini sedang ia pikirkan.
"Beda? Beda dalam hal apa Mas?" tanya Ganis penasaran dengan kernyitan di dahi.
"Setelah sekian lama aku tidak melihatmu begitu liar di atas ranjang, malam ini aku kembali melihatmu begitu liar. Apa ada sesuatu yang membuatmu kembali seperti dulu Sayang?" tanya Krisna dengan memasang wajah serius.
Ganis terkekeh pelan. "Astaga, jadi hanya perkara itu kamu sampai bengong dan melamun gitu Mas? Padahal aku rasa tidak ada yang berbeda dariku. Aku masih tetap Rengganis yang kamu nikahi sejak sepuluh tahun yang lalu. Bahkan untuk saat ini yang berbeda adalah kamu."
"Aku?" tanya Krisna dengan menunjuk wajahnya sendiri. "Berbeda apanya Sayang?"
"Ya berbeda, karena saat ini ada dua hati yang sedang kamu genggam," jawab Ganis dengan senyum getir yang terbit di wajahnya.
Krisna nampak sedikit terkejut mendengar ucapan Ganis. Seperti ada benda tak kasat mata yang menghunus dadanya.
"Maafkan aku Sayang, jika semuanya jadi begini. Aku sama sekali tidak menyangka jika jalan takdirku seperti ini," ucap Krisna. "Memiliki dua istri," sambungnya lirih.
Ganis tersenyum sumbang. "Itu bukan takdir Mas, tapi pilihan. Kamu memilih untuk memiliki istri lagi tanpa kamu beritahu terlebih dahulu apa yang menjadi alasannya."
"Nis...."
Suara Krisna tercekat di tenggorokan. Entah mengapa malam ini, ketika ia bercinta dengan sang istri di kamar yang begitu sempit seperti yang ditempati, membuat hatinya dipenuhi oleh rasa iba. Bahkan luka di sorot mata Rengganis malam ini nampak lebih pekat hingga membuat wajah sang istri nampak begitu sendu.
"Mengapa kamu tidak bersabar sebentar lagi Mas? Mengapa kamu memilih untuk menyerah dengan menduakanku hanya karena kamu ingin segera memiliki momongan?"
"Nis, aku..."
"Hahaha tapi sudahlah. Nasi sudah menjadi bubur. Kamu sudah menikahi Dinda dan saat ini ia tengah mengandung anakmu. Akan kuusahakan agar bubur itu tetap enak untuk dinikmati. Akan aku tambah dengan suwiran ayam, bawang goreng, daun bawang dan juga kerupuk di atasnya," ucap Ganis dengan gelak tawa yang nampak begitu terpaksa.
Krisna semakin intens menatap wajah sang istri. Mendengar sang istri tertawa justru semakin membuat hatinya terasa nyeri. Ia paham jika saat ini Ganis memaksakan senyumnya untuk menutupi luka yang ia rasakan.
"Oh iya Mas, tadi kamu bertanya mengapa malam ini aku terlihat lebih liar kan?" tanya Ganis mencoba untuk mengganti topik pembicaraan.
Krisna menganggukkan kepala. "Memang kenapa Sayang?"
"Kata dokter, hari ini sampai tiga hari ke depan adalah masa suburku. Kalau tidak seperti itu, mana bisa aku mengajakmu untuk berhubungan badan."
"Astaga Sayang, katapun kamu meminta langsung pasti juga akan aku penuhi."
"Ya biar ada sensasinya juga sih Mas."
Sepasang suami-istri itu larut dalam canda dan tawa. Membicarakan hal-hal sepele dan yang tidak terlalu penting namun bisa memangkas jarak yang beberapa hari ini terjadi. Mereka seperti kembali ke masa-masa awal menikah. Di mana kehidupan mereka hanya di penuhi oleh kebahagiaan tanpa tetes air mata ataupun hati yang luka.
***
Pagi ini Ganis tengah sibuk di dapur. Mengingat hari ini tidak ada sang madu, maka dialah yang memasak untuk sang suami. Meskipun ada rasa kecewa karena sang suami menikah lagi, namun ia tidak ingin kehilangan pahala dalam melayani lelaki yang saat ini masih sah menjadi suaminya.
"Waaahhh... Akhirnya aku bisa menikmati masakanmu lagi, Sayang. Aku benar-benar rindu masakanmu."
Wajah Krisna berbinar terang kala masakan sang istri sudah tersaji di meja makan. Terlebih pagi ini Ganis memasak sup matahari, lengkap dengan ayam goreng, tempe garit dan sambal tomat. Menu lengkap yang pastinya akan memanjakan perutnya.
"Iya Mas, makan gih yang banyak. Besok-besok mungkin aku sudah tidak akan memasak lagi," ucap Ganis sembari memberi satu informasi.
"Hmmmm.. Kenapa tidak kamu saja Nis yang setiap hari masak?" tanya Puspa sembari menikmati masakan Ganis. Wanita itu juga nampak begitu lahap memakan masakan sang menantu.
"Tidak ada kewajiban bagiku memasak untuk maduku, Ma. Jadi kalau aku memasak ya memang untuk suamiku saja," ujar Ganis. "Ini pun Mama dan papa ikut makan sebenarnya harus bilang ke aku dulu karena aku bukan pembantu di rumah ini."
Uhukkk... uhukk... Uhukkkk...
"Gak sopan kamu Nis. Masa kamu bisa bicara seperti itu ke aku yang notabene mertuamu?" protes Puspa sembari meneguk air putih setelah tersedak.
"Oh Mama masih menganggap aku ini menantu? Aku kira menantu Mama hanya maduku seorang. Sikap Mama kepadaku loh beda jauh dengan sikap Mama ke maduku," protes Ganis.
"Nis, kamu...."
"Ssstttt... Sudah Ma, tidak usah diperpanjang lagi!" sela Krisna memangkas ucapan sang Mama. Ia tidak ingin jika sampai suasana pagi yang begitu damai ini dirusak oleh pembahasan yang tidak penting yang akhirnya membuat keributan.
Ganis mengambil beberapa vitamin yang diresepkan oleh Rangga. Satu persatu vitamin itu masuk ke mulutnya. Suasana hatinya pagi ini begitu baik. Sebaik prasangkanya kepada Allah jika upayanya kali ini akan membuahkan hasil.
"Itu yang kamu minum apa Nis?" tanya Puspa kepo.
"Vitamin Ma."
"Biar cepat hamil?" tanya Puspa dengan nada remeh. "Aku sih yakin kalau promilmu saat ini juga tidak akan berhasil seperti yang sudah-sudah."
Ganis hanya tersenyum kecil. Ia mencoba tetap tenang dan tidak terpancing emosi.
"Yang menentukan takdirku bukan keyakinan Mama. Jadi terserah Mama mau bicara apa."
"Hmmmmm.. Tapi ya percuma saja sih kalau kamu juga hamil. Aku akan jauh lebih menyayangi anak Dinda daripada anakmu. Karena dari Dinda lah aku mendapatkan cucu pertama."
"Tanpa kasih sayang dari Mama pun, anakku nantinya juga tidak akan kekurangan kasih sayang. Karena kasih sayang yang akan aku curahkan melebihi kasih sayang dari siapapun," jawab Ganis tegas yang seketika membuat Puspa terdiam.
.
.
.