NovelToon NovelToon
Zee Dan Kamera Tua

Zee Dan Kamera Tua

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Time Travel / Mengubah Takdir
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: _SyahLaaila

Setelah bertahun-tahun tak pernah dibuka, gudang tua di belakang rumah akhirnya kembali disentuh Zee. Dia hanya berniat merapikan peninggalan kedua orang tuanya yang telah lama tiada. Di antara debu dan kardus usang, Dia menemukan sebuah kamera analog tua yang tak pernah Dia ingat sebelumnya, kamera itu masih menyimpan satu gulungan film.

Karena penasaran, Zee mencoba memotret halaman belakang rumahnya, tempat sumur lama yang sudah kering berdiri sunyi di dalam pagar, tidak ada yang aneh saat Dia menekan tombol rana. Namun saat hasil cetaknya muncul, Dia terkejut.

Di dekat sumur kering itu, tampak sebuah pintu tua transparan, berdiri tegak tanpa dinding, seolah-olah mengarah tepat ke bibir sumur, pintu itu tidak ada saat Dia memotret.

Zee bingung apa maksud dari jepretan kamera tua itu? Penasaran lanjutan cerita nya? Yukk ikutin kelanjutan ceritanya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon _SyahLaaila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

17.

Hari demi hari berlalu dengan cepat. suara palu, gesekan kayu, dan langkah para tukang yang hilir berganti akhirnya perlahan menghilang.

Pembangunan toko kecil di samping rumah Zee selesai. Bangunannya sederhana, namun rapi. Dindingnya kokoh, atapnya terpasang sempurna, dan pintu depan menghadap langsung ke jalan.

Toko itu menyatu dengan rumahnya, seperti yang Zee rencanakan sejak awal. Tidak mencolok, tapi cukup untuk menjadi awal usahanya.

Zee berdiri di depan tokonya di pagi hari, dengan menatapnya dalam diam. Ada kepuasan kecil di hatinya, walaupun Dia tahu ini baru permulaan.

Tanpa membuang waktu, Zee kembali ke kamarnya. Dia duduk di tepi tempat tidur, lalu membuka ponselnya.

Aplikasi AetherShop kembali di buka, cahaya lembut dari layar memantul di wajahnya. Zee mulai memilih barang sembako satu per satu. Beras, minyak goreng, gula, mie instan, telur, susu, sampo, hingga kebutuhan sehari-hari lainnya.

Semuanya Dia pilih dengan teliti. Tidak berlebihan, namun cukup untuk mengisi toko kecilnya.

Setelah semuanya siap, Zee menekan tombol pesan. Tak lama kemudian, notifikasi muncul.

*Pesanan sedang di kirimkan.

Zee menghela napas pelan, Dia tahu, dalam waktu singkat... semua pesanannya akan datang.

Benar saja, tak lama kemudian, satu mobil box besar berhenti di depan tokonya.

Ting tong...

"Iya sebentar," jawab Zee

"Dengan Nona Zee." tanya kurir nya

Zee mengangguk. "Iya saya sendiri."

"Oke Nona, ini kami dari AetherShop membawa pesanan Anda." jelas kurir

"Oh iya mas, silahkan di masukkan semuanya di dalam saja ya mas." ujar Zee

"Iya Nona." jawab kurirnya

Setelah itu tanpa menunggu lama, Zee membuka pintu tokonya. Dua orang kurir itu pun memindahkan semua pesanan Zee ke dalam tokonya.

Beberapa menit berlalu semua barangnya sudah berada di dalamnya, tinggal Zee menatapnya di bagian rak masing-masing yang sudah di berikan nama produknya.

Kurirnya pun berpamitan dan balik. Zee langsung masuk kedalam tokonya, pintunya di kunci dari dalam. Dengan pikirannya Zee mengatur semua barang-barang dengan rapi di setiap rak-rak yang sebelumnya kosong kini mulai terisi penuh.

Satu jam kemudian semuanya sudah tersusun rapi. Zee berjalan pelan di dalamnya, tangannya menyentuh beberapa barang dengan mata yang berbinar cerah.

Pak Ali menutup pekerjaannya di kebun, Bu Maya kembali ke dapur.

Dan tak lama, rumah itu kembali tenang, namun damai. Zee masuk ke dalam rumah.

Langkahnya pelan, tapi pasti. Dia langsung menuju kamarnya.

Begitu pintu tertutup, Zee berjalan ke arah meja kecil di sudut ruangan. Di sana, berlian itu masih berada.

Batu teleportasi, Zee menggenggamnya erat. Matanya terpejam. Dia membayangkan balkon apartemennya.

Sling!

Dalam sekejap_

Dunia berubah, Ketika Zee membuka mata, Dia sudah berdiri di balkon apartemen itu.

Angin laut langsung menyambutnya. Tanpa berlama-lama, Zee segera masuk ke dalam. Dia mengambil beberapa karung dan kotak. Kemudian membuka kembali AetherShop.

Kali ini, Dia memesan dalam jumlah lebih besar. Beras, minyak, gula, mie instan, dan berbagai sembako lainnya.

Tak lama, barang-barang itu mulai muncul, memenuhi ruangan. Zee memasukkannya ke dalam karung dan kotak dengan rapi. Dia tidak terburu-buru. Namun jelas… semua ini sudah Dia rencanakan.

Beberapa saat kemudian, Zee kembali berdiri di balkon. Matanya menatap ke arah desa pesisir. Dia menggenggam berlian itu sekali lagi.

Sling!

Angin laut kembali terasa, Zee kini berdiri di dekat desa pesisir. Langit sudah mulai gelap, namun suasana desa terasa berbeda.

Lebih hidup dan rapi, jalan beton terlihat jelas. Dermaga berdiri kokoh di kejauhan. Zee berjalan menuju rumah Pak Sam. Doni yang melihatnya dari jauh langsung berlari.

“Kak Zee!” teriaknya senang. Zee tersenyum. “Doni…”

Tak lama, Pak Sam dan Bu Yati keluar, mereka tampak terkejut sekaligus senang.

“Nak Zee…” ujar Bu Yati.

Zee tidak banyak bicara, Dia langsung menunjukkan karung dan kotak yang Dia bawa.

“Ini… untuk Bapak dan warga,” katanya.

Pak Sam terdiam, Dia membuka salah satu karung, matanya langsung membesar.

“Ini… sembako?”

Zee mengangguk. “Untuk membantu sementara,” ujarnya tenang.

Bu Yati terlihat hampir menangis. “Terima kasih, Nak…”

Namun Zee menggeleng pelan. “Saya tidak hanya ingin membantu sekali,” katanya.

Pak Sam menatapnya serius. “Maksudmu?”

Zee menarik napas pelan. “Pak… saya ingin Bapak jadi perantara.”

“Perantara?” ulang Pak Sam.

Zee mengangguk. “Saya punya akses untuk mendapatkan barang-barang ini,” lanjutnya. “Tapi saya tidak bisa selalu datang dan menjual langsung.”

Dia menatap Pak Sam lurus. “Kalau Bapak bersedia… Bapak bisa jadi agen. Menjual sembako ini ke warga dengan harga yang wajar.”

Suasana hening sejenak.

Pak Sam terlihat terkejut. “Kenapa saya?” tanyanya.

Zee tersenyum tipis. “Karena Bapak kepala desa,” jawabnya. “Dan warga percaya sama Bapak.”

Doni menatap ayahnya dengan penuh harap. Bu Yati menggenggam tangan suaminya pelan.

Pak Sam terdiam lama, lalu akhirnya, Dia mengangguk. “Baik,” katanya mantap. “Saya akan lakukan.”

Zee tersenyum kecil. “Terima kasih, Pak.”

Angin laut berembus lembut, dan di malam itu, Bukan hanya laut yang mulai pulih.

Namun juga, kehidupan desa itu, perlahan, mulai berubah. Angin sore berhembus lembut di desa pesisir.

Zee berdiri di depan rumah Pak Sam, menatap lahan kosong yang berada tepat di sampingnya. Tanah itu tidak terlalu luas, namun cukup strategis menghadap langsung ke jalan beton yang baru saja dibangun.

“Pak,” ucap Zee pelan.

Pak Sam menoleh. “Iya, Nak?” “Saya rasa… kita perlu buat toko kecil di sini,” lanjut Zee sambil menunjuk ke arah lahan tersebut.

Pak Sam mengikuti arah pandangnya. “Toko?” ulangnya.

Zee mengangguk. “Iya. Untuk menjual sembako yang saya bawa… dan nanti barang-barang lainnya.”

Dia menatap Pak Sam dengan tenang. “Kalau warga harus selalu datang ke rumah Bapak, itu tidak praktis. Lebih baik kita buat tempat khusus.”

Pak Sam terdiam sejenak, lalu perlahan mengangguk.

“Kamu benar,” katanya. “Itu akan lebih memudahkan semua orang.”

Doni yang berdiri di dekat mereka langsung tersenyum lebar. “Wah! Nanti jadi toko seperti punya Kak Zee ya?”

Zee tersenyum tipis. “Kurang lebih.”

Beberapa hari kemudian…

Toko kecil di depan rumah Pak Sam akhirnya berdiri. Tidak besar, namun cukup rapi dan kokoh. Rak-rak sederhana sudah terpasang, dan beberapa barang mulai tersusun.

Warga yang lewat mulai melirik rasa penasaran mereka tumbuh. Dan seperti yang Zee rencanakan, perubahan mulai terasa.

Zee kembali datang beberapa hari setelahnya. Kali ini, bukan hanya membawa barang.

Di dalam toko kecil itu, Zee duduk bersama Pak Sam. Beberapa karung sembako terbuka di depan mereka.

“Pak, ini bukan hanya soal jual beli,” ujar Zee.

Pak Sam mengangguk, mendengarkan serius.

Zee mengambil satu karung beras. “Kalau kita tidak atur dengan baik… barang bisa cepat habis, atau malah terbuang,” lanjutnya.

Dia mulai menjelaskan, cara menyimpan barang agar tahan lama. Mencatat keluar masuk barang, menentukan harga yang tetap terjangkau, tapi masih memberi keuntungan kecil.

Dan yang paling penting, cara menjaga kepercayaan warga.

Pak Sam menyimak dengan penuh perhatian. Sesekali ia mengangguk, sesekali bertanya.

“Kalau stoknya hampir habis, bagaimana?” tanyanya.

“Sampaikan ke saya,” jawab Zee. “Atau nanti… kita buat sistem agar Bapak bisa pesan sendiri.”

Pak Sam terlihat semakin yakin. “Saya mengerti sekarang,” katanya.

Pak Sam menatapnya dalam. “Terima kasih, Nak… ini lebih dari sekadar bantuan.”

Zee tidak menjawab, namun dalam hatinya… Dia tahu. Ini memang tujuannya.

Sementara itu, itu tempat yang jauh dari desa pesisir.

Seorang pria berdiri di depan jendela besar!namanya Daniel.

Usianya sekitar dua puluh lima tahun. Penampilannya rapi, dengan aura tenang namun tegas. Tatapannya tajam, seolah terbiasa mengambil keputusan besar.

Namun hari itu, pikirannya tertuju pada satu hal sederhana, yaitu buah yang berada di atas meja. Dia membalikkan tubuhnya, menatap meja di belakangnya.

Di sana, beberapa buah tersisa, ukuran yang tidak biasa. Warna yang lebih segar dari buah pada umumnya.

Daniel terdiam, dia teringat kejadian beberapa hari lalu. Asisten rumah tangganya, Bu Mila, pulang dari kampung.

Membawa oleh-oleh, buah-buahan ini, awalnya… tidak ada yang aneh.

Namun setelah dimakan, semuanya berubah.

Omanya, yang selama ini penglihatannya buram bahkan harus menggunakan kacamata tebal. Keesokan harinya bisa melihat dengan jelas.

Daniel sendiri, yang biasanya kelelahan sepulang dari hotel, mendadak merasa segar.

Seolah energinya kembali, dan kakeknya yang sering mengeluh sakit di kaki, tiba-tiba bisa berjalan tanpa keluhan. Hal itu, tidak masuk akal, namun nyata.

Daniel menghela napas pelan. “Bu Mila,” panggilnya.

Tak lama, seorang wanita paruh baya masuk. “Iya, Tuan?”

“Buah ini… beli di mana?” tanya Daniel langsung.

Bu Mila berpikir sejenak. “Di kecamatan Rambutan, Tuan,” jawabnya. “Ada yang jual di sana.”

Daniel mengangguk pelan, tatapannya berubah serius.

“Siapkan mobil, hari ini juga saya ke sana.”

katanya singkat.

Bu Mila sedikit terkejut, namun langsung mengangguk. “Baik, Tuan.”

Beberapa saat kemudian, mobil hitam melaju keluar dari halaman rumah.

Menuju satu tempat, yang tanpa Daniel sadari akan mengubah arah hidupnya.

1
Ida Kurniasari
Doble up thorr
Ida Kurniasari
Doble up thor
Ida Kurniasari
Doble up dong thorr😍
keyza formoza
lanjut thoorr
Ida Kurniasari
sangat sangat menarik thor
SyahLaaila: siap kak☺️
total 1 replies
Ida Kurniasari
bagus banget thorr,lanjutt up😍
Ida Kurniasari
😍
Chen Nadari
The best Thorr
SyahLaaila: makasih kak☺️
total 1 replies
Ida Kurniasari
baru bab satu aja udah deg degan thor,ceritamu bikin penasaran
Musdalifa Ifa
menguji kesabaran
Andira Rahmawati
mau nabung dulu biar puas entar bacanya👍👍💪💪💪
Andira Rahmawati
trusss semangat💪💪💪 lanjuttt
Andira Rahmawati
lama amattt jadi penasaran...
Andira Rahmawati
hadir thorr
Twis G
semangat author 🌹🌹🌹
Narina
lanjut thor semakin penasaran 😍😍
Narina
cerita nya seru thor lanjut 🌷🌷🌷
SyahLaaila: siap kak ☺️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!