Dengan kecerdasan aku menantang jalan ku sendiri. Aku bukanlah pahlawan atau penjahat besar tapi aku ada untuk keluargaku sendiri.
Dengan segala yang kumiliki aku menantang takdir, langit dan bumi dan menjadi penguasa dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 — Meningkat Drastis
Wang Yan menatap dua butir Pil Pengumpul Spiritual terakhir di telapak tangannya. Logikanya sempat berbisik untuk berhenti, namun rasa lapar akan kekuatan dari Teknik Kultivasi Penipu Langit jauh lebih dominan. Tanpa membuang waktu, ia melemparkan kedua pil itu sekaligus ke dalam mulutnya.
BOOM!
Ledakan energi spiritual kembali menghantam, namun sensasinya berbeda dari yang pertama. Jalur meridiannya yang tadi terasa seperti disayat logam cair panas, kini terasa lebih elastis—lebih mudah dilewati.
Arus energi spiritual yang masif itu mengalir deras seperti air bah, namun alih-alih merusak, ia justru mengisi setiap sudut sel tubuhnya yang telah terbuka. Rasa sakit itu masih ada, namun kini lebih berupa tekanan berat yang menuntut kendali penuh.
Wang Yan memusatkan seluruh kesadarannya. Ia memandu aliran liar itu melewati sekat-sekat meridian yang masih tersumbat kotoran fana.
KRETEK!
Suara halus dari dalam tubuhnya menandai runtuhnya hambatan terakhir. Selesai. Dalam satu sesi meditasi yang gila, ia telah melompati batas kewajaran.
Lautan Spiritual lapisan keempat?!
Wang Yan tersungkur pelan, tangannya menumpu pada lantai kayu yang kini menyebarkan aroma busuk menyengat.
Seluruh kulitnya tertutup lapisan hitam berminyak—ampas racun dari tulang dan sumsumnya yang berhasil dipaksa keluar.
“Hah... hah...” Wang Yan terkekeh lelah. Suaranya serak, namun matanya berkilat tajam. “Empat lapisan... dalam satu sesi dengan 3 pil pengumpul spiritual pemberian paman? Teknik Kultivasi Penipu Langit, sungguh teknik yang menjungkirbalikkan logika!”
Ia segera bangkit dengan sisa tenaga yang ada. Bau ampas tubuhnya terlalu berbahaya jika dibiarkan memenuhi kamar.
Wang Yan bergegas ke kamar mandi, mengguyur seluruh tubuhnya dengan air dingin yang segar. Setiap guyuran air seolah membawa pergi beban berat yang selama ini menghimpit pundaknya.
Selesai mandi, ia bercermin sejenak. Kulitnya tampak lebih bersih, dan otot-ototnya, meski tidak menonjol secara berlebihan, terasa sepadat kayu saat disentuh.
Wang Yan terdiam sejenak, jemarinya menyentuh bagian bawah pusarnya.
“Buku-buku medis mengatakan meridian adalah jalur yang halus, tapi bagiku, saat ini mereka terasa seperti sungai kering yang tiba-tiba dihantam air bah. Di pusat pertemuan jalur-jalur itu, aku bisa merasakan Dantian-ku terbentuk; sebuah pusaran kecil yang menyimpan energi spiritual. Rasanya seolah-olah seluruh kecerdasan yang kupupuk selama belasan tahun kini menemukan wadah fisiknya.”
...........
Di sudut Pasar Qingshi yang bising, aroma kain baru dan tumpukan jubah katun memenuhi udara.
Lin Yue sedang merapikan lipatan pakaian di atas meja kayu panjang milik toko Tuan Guang Ming. Tangannya lincah, namun matanya sesekali melamun, menatap kosong ke arah kerumunan pembeli.
Huo Ting, yang baru saja selesai menata manekin kayu dengan zirah kain sederhana, memperhatikan kegelisahan itu.
“Yue’er, kau sudah salah melipat jubah itu berkali-kali. Ada apa?”
Lin Yue menghela napas panjang, bahunya merosot sambil memegang sepotong kain katun. “Paman... aku memikirkan Yan’ge. Tadi pagi dia bersikeras ingin berlatih sendiri. Apa Paman yakin Yan’ge bisa melakukannya tanpa bimbingan? Bagaimana jika dia mengalami penyimpangan kultivasi seperti banyak cerita yang beredar? Aku takut Yan’ge terlalu memaksakan diri.”
Huo Ting terdiam sejenak, jemarinya yang kapalan meraba tekstur kain dagangan mereka. Guratan di wajah tuanya menunjukkan keprihatinan yang sama, namun ia segera tersenyum menenangkan.
“Paman juga sempat memikirkan hal yang sama, Yue’er. Sangat khawatir,” ucap Huo Ting dengan nada rendah.
“Tapi coba ingat lagi siapa kakakmu itu. Wang Yan bukan pemuda yang hanya mengandalkan nekat. Dia adalah orang paling cerdas. Jika ada satu orang di dunia ini yang bisa menemukan jalan di tengah kegelapan, itu adalah dia.”
Huo Ting menepuk bahu Lin Yue dengan hangat. “Dia pasti bisa, Yue’er. Kita hanya perlu percaya padanya. Lagi pula, sore ini setelah kita pulang berdagang, Paman juga akan mulai melatihmu, bukan? Kita semua akan menjadi lebih kuat bersama-sama.”
Lin Yue menatap pamannya, lalu perlahan mengangguk. Kecemasannya sedikit mencair mendengar keyakinan besar sang paman terhadap kakaknya. “Benar, Paman. Aku juga harus bersemangat untuk latihan nanti sore!”
...........
Sementara itu, di halaman belakang rumah yang tertutup pagar batu merah tinggi.
Wang Yan berdiri tegak dengan napas yang teratur.
Tubuh bagian atasnya yang polos bersimbah keringat, menonjolkan garis otot yang kini jauh lebih terdefinisi.
Berkat Teknik Kultivasi Penipu Langit, energi spiritual alam semesta mengalir di dalam dantiannya dan tiga butir pil pemberian Paman Huo telah sepenuhnya hancur, berubah menjadi fondasi kekuatan di dalam dirinya.
Ia baru saja mencapai Lautan Spiritual lapisan keempat dan sekarang adalah waktunya untuk menguji seberapa jauh perkembangan kekuatannya.
WUSH!
Wang Yan meluncurkan pukulan lurus ke udara kosong. Tanpa teknik rumit, hanya gerakan dasar seni beladiri yang sering ia pelajari secara teoritis. Namun kali ini, kepalan tangannya membelah udara dengan suara desing yang tajam. Kecepatannya meningkat pesat dari biasanya.
Ia berputar, menyapu kaki ke bawah lalu menyambungnya dengan tendangan samping yang mendarat tepat di sebuah tiang kayu latihan di pojok halaman.
PRAK!
Tiang kayu tebal itu retak. Getarannya merambat hingga ke tanah, namun Wang Yan tidak merasakan sakit sedikit pun di kakinya. Sebaliknya, ia merasa ada aliran energi spiritual hangat yang melindungi setiap tulang dan sendinya.
“Luar biasa, jadi begini kekuatan seorang kultivator sejati.” gumam Wang Yan pendek.
Meskipun Wang Yan baru saja melangkah di jalan kultivator, retakan yang dihasilkan olehnya terlalu rapi dan dalam. Membuktikan bahwa energi spiritualnya telah memadat dan konsentrasi kekuatan yang sempurna.
Ia terus bergerak—memukul, menangkis, dan menerjang bayangan imajiner. Setiap gerakan menguras sedikit kabut spiritual di dalam dantiannya, namun memberikannya daya ledak yang nyata. Jika dulu ia hanya bisa mengandalkan otak untuk menjebak lawan seperti Feng Bo dengan Bara Pelebur Jiwa, sekarang ia merasa sanggup menjatuhkan Feng Bo dengan satu serangan fisik yang terukur.
Wang Yan berhenti, mengepalkan tangannya yang gemetar karena adrenalin. Ia menatap telapak tangannya sendiri dengan tatapan tajam.
“Bara Pelebur Jiwa? Bagaimana penampakannya jika aku sekarang telah menjadi kultivator?”
...