Liana adalah seorang wanita bertubuh gemuk yang menemukan kemerdekaan sejatinya melalui tarian. Baginya, setiap gerak tubuhnya adalah bentuk pelarian, sebuah rahasia yang ia simpan rapat-rapat karena ia hanya menari untuk jiwanya sendiri.
Keajaiban—atau mungkin petaka—datang ketika Adrian, seorang produser film ambisius, menemukannya secara tidak sengaja. Adrian sedang mencari sosok penari yang memiliki aura "kebebasan murni" untuk proyek besarnya, dan ia melihat hal itu dalam diri Liana. Namun, saat tawaran diberikan, Liana menggeleng tegas; ia tak ingin tarian sucinya menjadi konsumsi publik.
Tak kehilangan akal, Adrian mulai mendekati Liana dengan pesona dan perhatian palsu. Ia melangkah lebih jauh dengan menyatakan cinta, membuai Liana hingga wanita itu luluh dan setuju untuk tampil di atas panggung dunia. Namun, di puncak popularitasnya, Liana menemukan kebenaran pahit bahwa pernyataan cinta Adrian hanyalah skenario matang untuk memanfaatkannya demi kesuksesan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Lampu-lampu sorot di studio utama menyala dengan intensitas maksimal, menciptakan atmosfer yang megah sekaligus mencekam.
Ini adalah hari penutupan, sebuah take puncak yang akan menentukan akhir dari perjalanan panjang "Gema di Lorong Sunyi".
Lantai studio yang mengilap memantulkan bayangan dua sosok yang kini berdiri di tengah set, dikelilingi oleh puluhan kru yang menahan napas dalam kesunyian yang sakral.
Adrian mengenakan setelan tuksedo hitam yang memancarkan wibawa seorang produser, sementara Liana tampak begitu rapuh namun bersinar dalam gaun sutra putih yang melambai lembut.
Musik piano yang melankolis mulai mengalun, memenuhi setiap sudut ruangan dengan frekuensi duka yang mendalam.
"Kamera siap. Action!"
Adrian melangkah mendekat, matanya memerah menahan gejolak emosi yang bukan lagi sekadar akting.
Ia meraih tangan Liana, menariknya masuk ke dalam dekapan yang begitu erat, seolah tak ingin membiarkan kenyataan memisahkan mereka.
"Jangan pergi, Liana. Aku mencintaimu," ucap Adrian dengan suara serak yang bergetar.
Kalimat itu meluncur dari dasar hatinya, sebuah
permohonan tulus yang melampaui naskah yang tertulis.
Liana perlahan melepaskan diri dari pelukan itu. Ia menatap Adrian dengan air mata yang mulai mengenangi pelupuk matanya.
Dengan gerakan tangan yang gemetar, ia menggelengkan kepalanya perlahan—sebuah penolakan yang menghancurkan jiwa.
"Kita berbeda, Adrian," ucap Liana dengan suara parau yang penuh duka.
"Kamu adalah lelaki tampan, penguasa dunia yang penuh suara dan cahaya. Dan aku hanyalah wanita tuli yang hidup dalam kesunyian abadi. Kita tidak akan pernah bisa bersatu dalam harmoni yang sama."
Kesunyian sesaat menyergap studio. Adrian tidak membalas dengan kata-kata.
Ia melangkah maju, menghapus jarak di antara mereka, dan dengan penuh penyerahan diri, ia menangkup wajah Liana. Ia tidak peduli pada kekurangan yang disebutkan gadis itu.
Baginya, detak jantung Liana adalah satu-satunya melodi yang ingin ia dengar selamanya.
Adrian menundukkan kepalanya, lalu mencium bibir Liana dengan penuh pemujaan di bawah siraman lampu sorot.
Ciuman itu adalah sebuah janji, sebuah pernyataan bahwa cinta tidak butuh suara untuk dimengerti.
Di balik monitor, sutradara tak mampu lagi menahan bendungan air matanya.
Ia menangis sesenggukan, menutup mulutnya dengan tangan agar suaranya tidak merusak adegan.
Rina yang berdiri di sudut set pun tak kuasa menahan tangis; ia melihat kejujuran yang begitu menyakitkan di depan matanya. Bahkan para kru kamera yang biasanya tegar, kini mengusap air mata mereka dengan ujung lengan baju.
Suasana studio terasa begitu magis dan menyesakkan oleh emosi yang tumpah ruah.
"Cut!! Selesai!" teriak sutradara dengan suara yang pecah karena haru.
Adrian dan Liana perlahan melepaskan pagutan mereka.
Mereka masih saling menatap, napas mereka memburu, masih terjebak dalam rasa yang baru saja mereka ledakkan di depan kamera.
"Sempurna, Liana. Sempurna!" seru sutradara sambil berlari mendekati mereka, mengabaikan kabel-kabel yang melintang.
"Kalian baru saja menciptakan sejarah! Ini adalah akting paling jujur yang pernah saya lihat seumur hidup saya!"
Liana tersenyum lemah, air matanya masih mengalir jatuh ke pipinya.
Ia merasa lega sekaligus takut, karena ia tahu setelah lampu-lampu ini padam, drama yang sesungguhnya—tentang Erwin, tentang Arum, dan tentang masa depan mereka—baru saja akan dimulai.
Suasana studio utama yang tadinya tegang dan penuh air mata, perlahan berubah menjadi riuh rendah penuh suka cita.
Para kru mulai membereskan kabel dan lampu, sementara beberapa lainnya saling berpelukan merayakan selesainya proyek besar yang menguras emosi ini.
Sutradara melangkah mendekati Liana yang masih tampak emosional, lalu menepuk bahunya dengan bangga.
"Liana, kamu luar biasa. Film ini tidak akan hidup tanpa jiwamu," puji sutradara dengan mata yang masih sedikit sembap.
"Perayaan kita belum berakhir di sini. Besok adalah hari spesial. Besok ulang tahun produser kita, Pak Adrian, dan kita akan merayakannya secara besar-besaran di sebuah hotel mewah sebagai pesta penutup sekaligus syukuran."
Liana tersentak kecil, ia baru tahu kalau besok adalah hari lahir pria yang kini bertahta di hatinya. Ia melirik ke arah Adrian yang sedang duduk di kursi sutradara bersama Rina.
"Kamu harus ikut, Liana. Jangan sampai absen! Kamu adalah bintang utamanya," tegas sutradara lagi.
Liana menganggukkan kepalanya pelan, sebuah senyum tipis terukir di bibirnya.
Ia menatap Adrian, dan pria itu membalas tatapannya dengan binar posesif yang hangat, seolah sedang mengirimkan pesan rahasia bahwa pesta besok adalah milik mereka berdua.
Namun, di samping Adrian, wajah Rina tampak mendung.
Ia tidak ikut tersenyum. Rina sesekali melirik jam tangannya dengan gelisah, menyadari bahwa setiap detik yang berlalu membawa mereka semakin dekat pada kehancuran yang tak terelakkan.
Sementara itu, ribuan kilometer dari hiruk pikuk studio Jakarta, suasana dingin dan sibuk menyelimuti Bandara Charles de Gaulle, Paris.
Arum berdiri tegak di tengah kerumunan calon penumpang dengan gaya yang sangat modis.
Mantel bulu panjang melingkari tubuhnya, dan kacamata hitam bertengger manis di pangkal hidungnya.
Di tangannya, ia memegang sebuah paspor dan tiket pesawat kelas bisnis menuju Jakarta.
"Tuan-tuan dan nyonya-nyonya, penumpang pesawat tujuan Jakarta dengan nomor penerbangan AF254 dipersilakan naik ke pesawat..." suara pengumuman bandara bergema di ruang tunggu.
Arum menarik napas panjang, menghirup aroma parfum mewahnya sendiri. Ia menyentuh koper kabinnya yang berisi kado jam tangan edisi terbatas untuk Adrian.
"Tunggu aku, Sayang," bisik Arum penuh kemenangan.
"Besok pagi aku akan sampai, dan aku akan menjadi hadiah ulang tahun terindah yang pernah kamu terima."
Dengan langkah penuh percaya diri, Arum melangkah masuk ke dalam garbarata.
Ia tidak tahu bahwa saat ia mendarat besok, ia tidak akan menemukan pelukan hangat yang ia bayangkan, melainkan sebuah panggung sandiwara yang sudah terlalu jauh dimainkan oleh pria yang ia cintai.
Sisa-sisa haru dari studio utama masih terasa di dada, namun Adrian tidak ingin membiarkan momen itu menguap begitu saja.
Setelah kru membubarkan diri untuk bersiap-siap, Adrian menarik tangan Liana lembut, membimbingnya menuju mobil SUV hitamnya yang sudah terparkir di lobi studio.
"Kita tidak langsung pulang, Liana," ucap Adrian sambil membukakan pintu mobil. "Besok adalah hari besarku, tapi aku ingin kamu yang menjadi pusat perhatian dunia."
Mobil mewah itu meluncur membelah kemacetan Jakarta menuju sebuah butik eksklusif di kawasan Menteng.
Begitu pintu butik dibuka, deretan gaun haute couture menyambut mereka dengan kemewahan yang menyilaukan mata.
Adrian menunjuk sebuah gaun off-shoulder berwarna biru gelap dengan taburan payet halus yang tampak seperti hamparan bintang di langit malam.
"Coba yang ini," pintanya dengan nada posesif yang lembut.
Saat Liana keluar dari ruang ganti, Adrian terpaku.
Gaun itu memeluk tubuh Liana dengan sempurna, memberikan kesan elegan namun tetap suci.
"Kamu tampak luar biasa, Liana. Besok, semua orang akan tahu siapa ratu di hatiku," bisik Adrian tepat di telinga Liana saat ia berdiri di belakangnya menghadap cermin besar.
Namun, kejutan Adrian tidak berhenti di sana. Setelah keluar dari butik, ia membawa Liana menuju sebuah toko perhiasan legendaris yang hanya melayani pelanggan melalui janji temu.
"Adrian, gaun tadi saja sudah terlalu mahal..." Liana mencoba memprotes, namun Adrian meletakkan jari telunjuknya di bibir Liana.
"Diamlah, Sayang. Biarkan aku melakukannya," sahut Adrian tegas.
Di dalam ruangan VIP yang beraroma mawar, seorang pelayan mengeluarkan sebuah kotak beludru hitam.
Di dalamnya melingkar sebuah cincin emas putih dengan berlian tunggal yang sangat jernih.
Desainnya minimalis namun sangat berkelas—jauh berbeda dengan anting yang pernah ditemukan Liana di apartemen tempo hari.
Adrian meraih tangan kanan Liana, lalu perlahan menyematkan cincin itu di jari manisnya.
"Cincin ini adalah tanda tanggung jawabku," ucap Adrian dengan suara rendah yang penuh janji.
"Ini bukan sekadar perhiasan untuk pesta besok. Ini adalah simbol bahwa apa yang terjadi di Puncak bukan sekadar sandiwara film bagiku. Kamu adalah kenyataanku, Liana."
Liana menatap cincin yang berkilau di jemarinya, lalu menatap mata Adrian yang dalam.
Rasa hangat menjalar di sekujur tubuhnya. Ia merasa begitu dicintai, begitu dijaga, hingga ia sejenak lupa bahwa ia hanyalah seorang gadis pasar yang masuk ke dalam dunia gemerlap yang penuh rahasia.
"Terima kasih, Adrian..." bisik Liana sambil memeluk lengan pria itu erat.
Malam itu, Jakarta terasa lebih indah bagi mereka berdua.
Adrian mematikan semua urusan kantornya, membiarkan dunianya hanya berputar pada sosok Liana yang kini resmi ia "tandai" dengan sebuah lingkaran berlian yang abadi.
ditunggu crazy upnya