Hujan turun tanpa jeda malam itu, di kamar kos sempit berbau lembab, Dian terbaring sendirian, tidak ada keluarga yang menemani Dia hidup sebatang karang, hanya terdengar suara tetesan air dari atap bocor, nafasnya semakin berat. Perutnya kosong sejak kemarin Dian belum makan apapun, Dian sudah terbiasa menahan lapar, sejak kecil Dia hidup tanpa orang tua bekerja serabutan berpindah-pindah tempat tinggal. Menahan hinaan, rasa dingin sendirian, seakan dunia tidak pernah memberinya pilihan.
Namun malam ini terasa berbeda, tubuhnya terlalu lemah untuk bangkit, pandangannya mulai kabur, Dia menatap langit-langit atap yang bocor dan tersenyum tipis, "Apa memang hidupku cuma sampai disini..?"
Malam itu hujan turun semakin deras, angin menyusup dari celah jendela membawa hawa dingin yang menusuk tulang.
Nantikan kelanjutan cerita yaa🌹🌹
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Twis G, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 13
Keesokan paginya, matahari baru saja muncul di balik pengunungan ketika dapur kecil keluarga Yin sudah kembali sibuk.
Aroma roti gandum madu yang manis memenuhi udara, Lin Mei Hua sedang menguleni adonan baru, Yin Chen membantu menggiling gandum lagi, sementara Lin Meli dan Xiao Lan dengan serius membentuk adonan kecil-kecil di atas meja kayu.
Yin Yin berdiri di depan tungku sambil menyilangkan tangan, seperti jendral dapur.
"Batch kedua sudah matang!" katanya penuh semangat.
Ayahnya, Yin Guo Shan, tertawa kecil sambil memasukkan roti yang sudah dingin ke dalam keranjang bambu.
"Sepertinya kita benar-benar akan membuka toko roti hari ini."
Yin Yin mengangguk penuh percaya diri, "Bukan toko roti, Ayah, kita akan menaklukkan pasar!"
Semua orang tertawa mendengarnya.
Tak lama kemudian, keranjang bambu besar sudah penuh dengan roti gandum madu yang harum, roti-roti itu dibungkus dengan daun bersih agar tetap hangat.
Lin Mei Hua menghela napas puas, "Baiklah, Yin Yin dan ayah saja yang pergi ke pasar, Ibu dan adik-adik akan tetap di rumah membuat stok lagi."
Yin Chen mengangguk, "Kalau laku terjual, kita harus membuat lebih banyak lagi."
Xiao Lan mengangkat tangan kecilnya, "Aku juga mau ikut!"
Ibunya langsung menepuk kepala Xiao Lan, "Tidak, kamu bantu kakakmu di rumah."
Xiao Lan mengerucutkan bibir, "Baiklah."
Sementara itu, harimau kecil putih duduk di dekat pintu sambil menjilat cakarnya, Yin Yin menatapnya curiga, "Kamu tidak boleh ikut."
Harimau kecil itu memiringkan kepala, "Krr?"
"Kamu terlalu mencolok."
Namun sebelum Yin Yin sempat berkata lagi, harimau kecil itu sudah melompat masuk ke dalam keranjang kosong di samping roti.
Yin Yin langsung panik, "Hei! Keluar dari situ!"
Harimau kecil itu malah melingkar dan pura-pura tidur,
Yin Yin menatapnya diam, lalu memanggil sistem, "Sistem, apa tidak masalah aku membawanya ke pasar?"
DING!
[Tidak masalah selama harimau itu ada dalam jangkauanmu, dia akan aman.]
Yin Yin memijit pelipisnya, Dia sebenarnya tidak ini membawanya, akan merepotkan jika ada yang melihatnya.
"Baiklah, tapi jangan berkeliaran di pasar."
Harimau kecil itu mengibas ekor santai, "Krr."
Beberapa saat kemudian, Yin Yin dan ayahnya berjalan menuju pasar desa, di sepanjang jalan desa sudah mulai ramai oleh penduduk yang membawa hasil panen, seperti ayam, sayuran, dan berbagai barang untuk dijual.
Keranjang besar berisi roti dibawa oleh Yin Guo Shan di punggungnya, "Apa kamu yakin roti ini akan laku?" tanya ayahnya.
Yin Yin berjalan di samping ayahnya dengan penuh percaya diri,
"Percaya saja padaku, ayah."
Tak lama kemudian mereka tiba di pasar kecil desa, pasar itu sederhana, hanya deretan meja kayu dan tikar tanah, namun sudah cukup ramai.
Yin Yin dan ayahnya memilih tempat kosong di dekat penjual sayur, Yin Guo Shan meletakkan keranjang di atas tikar, saat Yin Yin membuka daun pembukus roti, seketika aroma manis roti gandum madu menyebar ke udara.
Beberapa orang yang lewat langsung berhenti,
"Eh? Aroma apa ini?"
Seorang wanita paruh baya mendekat, "Apa yang kalian jual?"
Yin Yin langsung tersenyum lebar, "Roti gandum madu! masih panas, baru keluar dari tungku pagi ini!"
Wanita itu mengerutkan kening penasaran, "Roti?"
Yin Yin mengangguk dengan cepat mengambil satu dan membelanya, aroma hangat langsung keluar, wanita itu mencicipi sedikit, matanya langsung melebar. "Ini enak sekali!"
Suara itu langsung menarik perhatian orang-orang di sekitar.
"Apa? Enak?"
"Saya mau coba."
Tak lama kemudian beberapa orang mulai mengerumuni tikar kecil mereka, Yin Guo Shan bahkan belum sempat bereaksi ketika seseorang berkata,
"Aku beli dua!"
"Aku juga!"
"Berapa harganya?"
Yin Yin tersenyum licik, "Satu roti harganya dua koin tembaga!"
Ayahnya hampir tersedak mendengarnya, "Ini, kenapa mahal_"
Namun sebelum ayahnya selesai bicara_
"Baik! Aku ambil tiga!"
"Saya juga!"
"Aku dulu, heh, kamu antre aku duluan disini!"
"Sabar, aku juga baru sampai."
Yin Yin yang melihat mereka hampir bertengkar menahannya, "Rotinya masih banyak, tenang... semua kebagian."
Dalam waktu singkat, roti di keranjang mulai berkurang dengan cepat, Yin Guo Shan menatap keranjang yang semakin kosong dengan ekspresi tidak percaya, "I-ini, benar-benar laku."
Yin Yin mengangkat dagunya bangga, "Tentu saja Ayah, kita akan semakin banyak uang"
Melihat ekspresi anaknya, Yin Guo Shan hampir terbahak-bahak, "Baik-baik, tuan pedagang."
Sementara itu, didalam keranjang kosong disamping mereka sepasang mata emas kecil perlahan terbuka, harimau kecil itu mengendus, mencium aroma roti, "Krr.."
Namun tepat saat itu, beberapa orang berjubah berjalan memasuki pasar desa dari arah jalan utama, aura mereka berbeda dari penduduk biasa, ya mereka para kultivator. Salah satu dari mereka berhenti sejenak, Dia sedikit mengerutkan kening, "Hm?, aku merasa sesuatu yang aneh."
Harimau kecil di keranjang perlahan membuka matanya sepenuhnya, dan Yin Yin yang sedang menghitung koin tembaga tiba-tiba merasakan firasat buruk.
DING!
[Terdeteksi energi spiritual kuat di sekitar pasar]
Mendengar suara sistem, Yin Yin kaget, Dia menoleh perlahan ke arah pintu masuk pasar, dalam hati Dia hanya punya satu pikiran, "Kenapa kultivator datang ke pasar desa pagi-pagi begini?"
Tanpa Dia sadari, harimau kecil di keranjang mulai menggoyangkan ekornya lagi, siap meloncat keluar dari keranjang.
Bersambung.....