NovelToon NovelToon
Aku Terlempar Ke Zaman Kuno Jadi Ibu Jahat

Aku Terlempar Ke Zaman Kuno Jadi Ibu Jahat

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Erchapram

Aruna tidak pernah menyangka pekerjaannya sebagai editor akan membawanya masuk ke dalam kengerian zaman kuno. Setelah kecelakaan fatal, ia terbangun sebagai Lady Ratri, wanita bangsawan yang namanya identik dengan kekejaman. Tubuhnya rongsok, tenggorokannya terbakar racun. Arel, yang selama ini ia siksa memusuhinya.

​Di dunia barunya, Aruna tidak punya kawan. Suami jenderalnya menganggapnya sampah. Namun, sebuah layar transparan muncul Sistem Karma Ibu. Setiap tindakan baiknya pada Arel memberikan poin untuk bertahan hidup, sementara kekejaman akan mempercepat kematiannya.

Aruna harus memutar otak. Ia harus menjinakkan Arel yang sudah terlanjur trauma, menghadapi Lady Selina yang manipulatif, dan bertahan dari degradasi fisik.

Ini bukan sekadar cerita tentang tobat, tapi tentang perjuangan berdarah seorang wanita yang mencoba mencintai di tempat yang hanya mengenal benci. Bisakah Aruna mengubah takdir Ibu Jahat menjadi pelindung tangguh sebelum rahasia identitas aslinya terbongkar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35 - Barter Nyawa dan Tinta

​Suara sirine ambulans di luar rumah terasa seperti bor yang melubangi gendang telinga Aruna. Di dalam ruangan yang remang-remang itu, ia berdiri terpaku menatap layar laptopnya. Tulisan merah darah dari Editor Utama itu berkedip-kedip, seolah-olah sedang menertawakan penderitaannya.

​"Ibu Aruna, tolong tenang! Kami di sini untuk membantu!" petugas medis itu melangkah mendekat, namun langkahnya terasa sangat lambat di mata Aruna.

​Aruna tidak melihat mereka. Matanya tertuju pada pedang kayu mainan di lantai. Satu-satunya jejak nyata bahwa Arvand baru saja ada di sana. Di luar jendela, bayangan Arvand dan Arel di balik tirai cahaya semakin menipis, seolah-olah mereka sedang dihapus oleh penghapus raksasa yang tak terlihat.

​"Pilih, Aruna! Sepuluh detik!" suara Editor itu menggelegar hanya di dalam kepalanya, membuat Aruna jatuh berlutut sambil memegangi kepala.

​"Jangan ambil mereka..." bisik Aruna.

​"Sembilan... Delapan..."

​Aruna menatap ke jendela. Ia melihat Arvand menggerakkan bibirnya tanpa suara. Pilihlah hidupmu, Ratri. Jangan pilih kami. Tapi di sampingnya, Arel menangis, tangan kecilnya mencoba menggapai kaca jendela yang membatasi dimensi mereka.

​Aruna tahu, jika ia membiarkan mereka kembali ke dunia novel, mereka mungkin akan terjebak dalam siklus konflik abadi yang dibuat oleh Editor Utama sebagai hukuman. Mereka akan menderita selamanya demi menghibur pembaca yang haus darah. Tapi jika ia membawa Arvand ke sini...

​"Lima... Empat..."

​"Aku pilih dia di sini!" Aruna berteriak sekuat tenaga, suaranya serak karena emosi. "Aku pilih Arvand di dunia nyata! Ambil apa pun dariku, tapi jangan biarkan dia kembali ke neraka naskah itu!"

​DEG!

​Cahaya putih yang sangat menyilaukan meledak dari layar laptop, mementalkan petugas medis dan polisi yang mencoba mendekati Aruna. Ruangan itu berguncang hebat. Tumpukan kertas naskah beterbangan seperti badai salju di dalam rumah sempit itu.

​Aruna merasakan sesuatu yang sangat menyakitkan di punggungnya, seolah-olah ada beban ribuan ton yang mendadak jatuh menimpanya. Ia tersungkur ke lantai, napasnya tersengal-sengal.

​Saat cahaya itu meredup, suasana menjadi sunyi senyap. Petugas medis tadi tampak pingsan di dekat pintu. Aruna mencoba bangkit, tapi kakinya terasa lemas. Ia menoleh ke arah meja kerja.

​Di sana, di lantai tempat pedang kayu tadi berada, kini tergeletak seorang pria. Arvand. Ia tidak lagi mengenakan zirah perang yang gagah. Ia mengenakan kemeja katun lusuh yang bersimbah keringat. Wajahnya sangat pucat, dan yang paling mengerikan, kedua kakinya tampak layu, tidak bertenaga sama sekali.

​"Ar... vand?" Aruna merangkak mendekat, air mata mengucur deras.

​Arvand membuka matanya perlahan. Mata itu tidak lagi memiliki kilatan magis, hanya ada rasa sakit yang mendalam dan kelelahan yang luar biasa. Ia mencoba menggerakkan kakinya, namun gagal.

​"Ratri..." suaranya parau, nyaris seperti bisikan. "Kau... benar-benar melakukannya?"

​Aruna memeluk Arvand erat-erat, tidak peduli dengan petugas medis yang mulai siuman di belakang mereka. "Maafkan aku... aku tidak bisa membiarkanmu pergi lagi. Aku tidak peduli kalau kamu tidak bisa berjalan, yang penting kamu di sini."

​Namun, di tengah haru itu, Aruna menyadari sesuatu. "Arel? Di mana Arel?!" Tanyanya panik.

​Aruna melihat ke sekeliling ruangan dengan panik. Tidak ada siapa-siapa lagi. Layar laptopnya kini sudah hitam pekat, namun ada satu baris kalimat yang tertinggal di sana:

​"SALDO TIDAK CUKUP. SATU NYAWA UNTUK SATU KONDISI. ANAK ITU TETAP MILIK KAMI."

​"TIDAK! AREL!" Aruna menjerit, memukul-mukul meja kerjanya.

​"Ratri, tenanglah..." Arvand mencoba menenangkan Aruna, meski suaranya sendiri bergetar. Ia menarik tangan Aruna, memintanya untuk melihat ke arah buku catatan merah yang tadi ia pegang.

​Buku itu kini terbuka di halaman paling belakang yang tadinya kosong. Di sana, muncul sebuah sketsa baru. Sketsa seorang anak laki-laki yang duduk di atas takhta duri di tengah kegelapan, dengan mahkota emas yang retak di kepalanya.

​"Dia menjadikannya antagonis utama untuk musim selanjutnya," Arvand berbisik, matanya penuh duka. "Editor itu tahu bahwa satu-satunya cara untuk menghancurkanmu adalah dengan membuatmu melawan anakmu sendiri."

​Sebelum Aruna sempat menjawab, polisi sudah merangsek masuk dan memisahkan mereka. Aruna dibawa kembali ke ambulans dengan pengawalan ketat karena dianggap mengalami gangguan jiwa berat, sementara Arvand dibawa ke rumah sakit yang berbeda sebagai "pria misterius tanpa identitas" yang ditemukan di lokasi.

​Satu minggu kemudian.

​Aruna duduk di kursi taman rumah sakit rehabilitasi. Rambutnya yang biasanya berantakan kini disisir rapi. Ia tampak tenang, namun matanya terus menatap ke arah gerbang utama. Ia sudah dinyatakan stabil, meski tim dokter masih menganggap ceritanya tentang "dunia novel" sebagai mekanisme pertahanan diri terhadap trauma kehilangan anak dan suaminya di dunia nyata.

​Seorang pria dengan kursi roda didorong oleh seorang perawat menuju ke arahnya. Aruna langsung berdiri, matanya berbinar.

​"Arvand!"

​Arvand tersenyum, meski wajahnya masih tampak sangat letih. Perawat itu meninggalkan mereka berdua di bawah pohon mahoni yang rindang.

​"Bagaimana keadaanmu?" tanya Aruna sambil menggenggam tangan Arvand.

​"Belajar membiasakan diri dengan roda ini," jawab Arvand sambil menepuk kakinya yang mati rasa. "Terasa aneh bagi seorang jenderal untuk tidak bisa berdiri tegak, tapi setidaknya udara di sini terasa nyata. Bukan tinta."

​"Aku sudah mencari informasi tentang naskah itu," bisik Aruna, suaranya merendah. "Novel itu sudah dikunci oleh platform. Aku tidak bisa mengeditnya lagi. Tapi pembaca... mereka mulai menulis teori-teori gila tentang Arel."

​"Apa yang mereka katakan?"

​"Mereka bilang Arel adalah 'Pangeran Kegelapan' yang akan menghancurkan dunia nyata untuk menjemput ibunya," Aruna menelan ludah. "Editor Utama sengaja memancing emosi pembaca agar mereka memberikan energi negatif pada karakter Arel. Semakin mereka membenci Arel, semakin kuat dia di dalam sana."

​Arvand menatap langit biru yang bersih. "Kita harus masuk kembali, Ratri. Bukan sebagai penulis dan karakter, tapi sebagai orang tua."

​"Tapi bagaimana caranya? Aku tidak punya akses lagi!"

​Tiba-tiba, seorang gadis remaja dengan seragam sekolah lewat di depan mereka. Ia berhenti sejenak, menjatuhkan sebuah majalah remaja tepat di pangkuan Aruna, lalu pergi tanpa berkata apa-apa.

​Aruna membuka majalah itu. Di dalamnya ada sebuah iklan satu halaman penuh tentang kompetisi menulis baru yang diadakan oleh platform NovelToon. Temanya: "TULIS ULANG TAKDIRMU: KATEGORI HOROR & TRAGEDI."

​Di sudut iklan itu, ada sebuah kode rahasia yang tertulis dengan tinta emas yang hanya bisa dilihat jika terkena sinar matahari.

​"Sera..." gumam Aruna. "Dia masih di sana. Dia mengirimkan pintu masuknya lewat kompetisi ini."

​"Ratri, jangan," Arvand memegang tangan Aruna lebih erat. "Jika kau ikut kompetisi ini, kau akan terikat kontrak baru. Editor itu pasti sudah menyiapkan jebakan."

​"Aku tidak punya pilihan, Arvand. Arel sedang sendirian di kegelapan itu. Dia berpikir kita membuangnya," Aruna menatap mata suaminya dengan tekad baja. "Aku akan menulis satu bab terakhir. Bab di mana aku masuk ke dalam naskah itu bukan sebagai dewa, tapi sebagai musuh nomor satu dari sistem itu sendiri."

​Malam itu, Aruna menyelundupkan sebuah ponsel dari salah satu pasien lain. Ia duduk di pojok ruangan yang gelap, cahaya layar ponsel menerangi wajahnya yang tegang. Ia membuka aplikasi NovelToon, memasukkan kode dari Sera, dan seketika layar ponselnya berubah menjadi merah menyala.

​"SELAMAT DATANG DI KOMPETISI MAUT, ARUNA. SYARAT PERTAMA: TULISKAN SATU KATA YANG PALING KAU BENCI."

​Aruna mengetikkan kata: "TAMAT."

​Seketika, suhu di ruangan itu turun drastis. Bayangan di dinding mulai bergerak-gerak sendiri, membentuk sosok anak kecil yang familiar. Bayangan itu merayap di lantai, menuju ke arah tempat tidur Aruna.

​"Ibu... kenapa Ibu meninggalkan Arel di tempat dingin ini?" suara itu bukan berasal dari ponsel, tapi dari bawah kolong tempat tidurnya.

​Aruna membeku. Ia melihat sebuah tangan kecil yang pucat, penuh dengan bekas luka coretan pena, muncul dari bawah tempat tidurnya dan mencengkeram sprei dengan kuat.

​"Ibu bilang kita akan selalu bersama..." bayangan itu mulai naik ke atas tempat tidur, menyingkapkan wajah Arel yang kini tidak memiliki mata, hanya ada lubang hitam yang mengalirkan tinta pekat. "Sekarang, Arel yang akan menulis cerita untuk Ibu. Cerita tentang bagaimana Ibu akan memohon untuk mati."

​Aruna hendak berteriak, namun mulutnya tiba-tiba tertutup oleh lakban digital yang muncul dari udara. Ponsel di tangannya bergetar hebat, menampilkan pesan terakhir dari Editor Utama sebelum layar itu pecah berkeping-keping.

​"BAB 36: PERBURUAN SANG IBU DIMULAI SEKARANG. SEMOGA BERUNTUNG, ARUNA."

​Tiba-tiba, lantai di bawah tempat tidur Aruna menghilang, berubah menjadi pusaran tinta hitam yang menghisapnya masuk ke dalam kegelapan yang tak berujung.

​Apakah Aruna benar-benar ditarik masuk ke dalam naskah horor ciptaan anaknya sendiri? Bagaimana nasib Arvand yang kini lumpuh di dunia nyata, mampukah ia membantu Aruna tanpa kekuatannya? Dan rahasia mengerikan apa yang disembunyikan Seraphina di balik kode kompetisi menulis tersebut?

1
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Mama Mia
apakah ini berry atau yg mulia summer /Facepalm//Facepalm/
Linda pransiska manalu: hhhhhhh
total 3 replies
vj'z tri
hadeuhhhh gak bisa liat orang senyum dikit ni mahluk 🤧🤧🤧🤧
vj'z tri
/Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob/ semoga bisa bersama kalian
Erchapram
LUAR BIAS!
Travel Diaryska
utk yg suka cerita intens perang ya mgkn bagus aja ceritanya.
tp kalo ak sih kurang sama cerita yg dr awal sampe akhir intens kaya gini. bukannya seru dan penasaran, malah kesel dr awal sampe akhir. maaf ya author kesabaranku setipis tissu bagi 4. semangat terus 👍🏻
Travel Diaryska
mc nya ga OP, sistemnya cuma jd notif doang, ga kasih hadiah obat bagus apa gitu biar mc fit. ga ada waktu buat mc heal dlu.
vj'z tri
kelennnnn lahhhh pokoke oyeeee🎉🎉🎉🎉
Erchapram
Sudah bab 18, teman-teman yang sudah baca tapi belum lanjut. Diharap segera melanjutkan karena sebentar lagi akan masuk bab 20.

Mohon bantuannya, supaya Novel ini lolos bab terbaik.

Terima kasih.
XZR-1ERLAND
Sungguh plotwits nyaa
vj'z tri
hadeuhhh olah raga jantung terus ini /Determined//Determined//Determined//Determined//Determined/
vj'z tri
OMG pilihan apa lagi ini/Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob/ kasihan jendral
vj'z tri
eeedodoeeee wes keracunan masih tenggak racun lagi /CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy/
XZR-1ERLAND
duh thorr gw gak sabar liat ending nya , semoga happy ending ya thorrr, semangat trs thorr 💪
XZR-1ERLAND: iya kak Sama-sama, kakak juga jgn lupa mampir baca novel ku ya,btw aku masih jadi athour pemula, mohon dukungannya, kritik atau saran Kakak 👍
total 2 replies
vj'z tri
tahan diset loh ngobrol nya mau meledak ini /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
vj'z tri
oalahhhh ini biang Lala nya ternyata 🤧🤧🤧
vj'z tri: sabarrrrr tunggu up /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 2 replies
vj'z tri
/Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob/ siapa lagi itulah sabar sabar
vj'z tri
kerennnnn 🎉🎉🎉🎉
vj'z tri
sabar sabar tunggu kelanjutan /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
vj'z tri
bener bener ni ya kelakuan pangeran kaleng /Shame//Shame//Shame//Shame/
vj'z tri
benar benar konspirasi /Panic//Panic//Panic//Panic//Panic/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!