NovelToon NovelToon
Cinta Yang Kembali Di Hari Vonis

Cinta Yang Kembali Di Hari Vonis

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Dark Romance / Angst
Popularitas:8.1k
Nilai: 5
Nama Author: linda huang

Rasa putus asa menyelimuti Jessica Zhou saat hakim menjatuhkan vonis hukuman mati atas dirinya karena dituduh membunuh kedua orang tuanya demi warisan.

Bandingnya ditolak. Harapan seakan habis.

Hingga kasus itu sampai ke tangan Hakim Li—Adrian Li—yang dijuluki “Hakim Gila” karena ketegasan dan caranya yang tak biasa dalam mencari kebenaran.

Adrian, yang selama ini hanya fokus pada pekerjaannya, dicintai oleh dua wanita: Jessica Zhou dan Holdie Fu. Holdie berambisi tinggi dan berusaha mendapatkan hati pria dingin itu, sementara Jessica memilih memendam perasaannya setelah cintanya ditolak sepuluh tahun lalu.

Kini, nasib Jessica berada di tangannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

Malam hari

Jessica berbaring di lantai sel yang dingin. Hanya ada alas tipis dan bantal kecil yang hampir tidak terasa empuknya. Lampu di lorong masih menyala, membuat bayangan jeruji memanjang di dinding.

Ia menatap langit-langit dengan mata terbuka.

Ucapan siang tadi kembali terngiang di kepalanya.

“Jangan percaya pada siapa pun…”

Suara Adrian terdengar begitu jelas dalam ingatannya. “…termasuk keluarga sendiri.

Jessica memejamkan mata.

“Kakak Nico dan Kakak Catty berharap aku dihukum mati…” gumamnya lirih. “Pamanku yang paling mencemaskanku…”

Ia membalikkan tubuhnya pelan. Lantai dingin meresap hingga ke tulang.

“Lalu siapa yang harus aku percaya…?” bisiknya.

Tidak ada jawaban.

Hanya suara langkah penjaga yang sesekali terdengar dari kejauhan.

Untuk pertama kalinya, Jessica mulai merasa benar-benar sendirian.

***

Ruangan Kantor Hakim Chen

Malam itu suasana di kantor Hakim Chen jauh dari kata tenang.

Pintu ruangan tertutup rapat. Di dalam, ketegangan terasa menyesakkan.

Seorang pria berdiri di depan meja kerja dengan topi dan masker yang menutupi sebagian wajahnya. Namun tatapan matanya tajam dan penuh tekanan.

“Kenapa kau masih menunda eksekusi hukuman mati itu?” suaranya dingin namun penuh ancaman. “Apakah kau tidak ingin melihat putrimu lagi?”

Hakim Chen yang duduk di balik meja tampak gelisah. Keringat tipis terlihat di dahinya meski ruangan berpendingin udara.

“Apakah kau mengira prosesnya bisa dilakukan begitu saja?” balasnya dengan nada tertahan. “Walaupun aku hakim, aku tidak bisa langsung melaksanakan eksekusi tanpa prosedur lengkap.”

Pria itu mendengus kesal.

“Prosedur?” ejeknya. “Kau hanya perlu mempercepat tanda tangan. Sisanya akan berjalan sendiri.”

Hakim Chen berdiri dari kursinya.

“Ini bukan perkara kecil! Berkasnya sudah masuk ke tingkat provinsi. Jika ada penyelidikan ulang—”

“Bowie Chen,” potong pria itu tajam.

Hakim Chen terdiam. Nama kecilnya disebut dengan nada yang membuat bulu kuduknya meremang.

“Dengar baik-baik,” lanjut pria itu sambil mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan. “Jika dalam dua hari Jessica masih belum dieksekusi… maka jangan salahkan aku ketika putrimu hilang jejak.”

Ancaman itu diucapkan dengan sangat tenang. Justru karena itulah terasa lebih mengerikan.

Wajah Hakim Chen memucat.

“Kau tidak akan berani—”

Pria itu terkekeh pelan.

“Coba saja.”

Tanpa menunggu jawaban, ia berbalik dan berjalan menuju pintu.

Pintu terbuka dan tertutup kembali dengan suara keras.

Ruangan kembali sunyi.

Hakim Chen berdiri kaku di tempatnya.

Tangannya mengepal kuat di atas meja.

Di satu sisi ada hukum.

Di sisi lain… ada darah dagingnya sendiri.

Dan waktu terus berjalan.

Keesokan harinya

Pagi itu suasana ruang kerja Adrian terasa lebih tegang dari biasanya. Berkas-berkas menumpuk di atas meja, sementara cahaya matahari menembus tirai tipis di belakangnya.

Ketukan terdengar di pintu.

“Masuk,” ucap Adrian tanpa mengalihkan pandangan dari dokumen di tangannya.

Jaksa Wu melangkah masuk dengan map tebal di pelukannya. Wajahnya terlihat serius.

“Hakim Li,” katanya sambil berdiri tegak di depan meja, “pelaku yang lolos kemarin telah ditangkap oleh Detektif Max. Setelah ini Ferry Yu pasti akan segera dibebaskan.”

Adrian akhirnya mengangkat wajahnya. Tatapannya tenang, namun sorot matanya tajam.

“Belakangan ini aku terlalu sibuk,” ujarnya pelan, lalu menutup berkas di depannya. “Kasus itu aku serahkan kepada Max saja. Kita hanya perlu menunggu jadwal persidangan. Tanpa persetujuanku,” lanjutnya dengan suara tegas, “Ferry Yu tidak boleh disentuh.”

Jaksa Wu mengangguk cepat.

“Vic Lim juga akan disidang di hari yang sama,” tambah Adrian. “Sebagai atasan Max, dia tidak menjalankan tugasnya dengan baik.”

Nada suaranya berubah lebih dingin.

“Bagaimana hasil laporan medis pemeriksaan Jessica?”

Jaksa Wu segera membuka map yang dibawanya dan menyerahkan beberapa lembar laporan.

“Hasilnya sudah keluar,” katanya hati-hati. “Sesuai dengan yang Anda katakan sebelumnya.”

Adrian menerima berkas itu dan mulai membacanya dengan saksama.

“Jessica memang telah diberikan suntikan sebelum kejadian,” lanjut Jaksa Wu. “Dan setelah diperiksa lebih lanjut, suntikan itu adalah obat tidur dosis tinggi yang juga memiliki efek menghilangkan ingatan sementara.”

Ruangan itu mendadak terasa hening.

“Dan suntikan itu dilakukan di hari yang sama dengan kasus pembunuhan tersebut,” tambahnya.

Adrian menghentikan bacaannya. Rahangnya mengeras. “Itu berarti…” gumamnya pelan.

“Itu berarti Jessica memang dijebak oleh seseorang,” tegas Jaksa Wu.

“Midazolam…” gumamnya pelan, membaca dengan suara rendah namun jelas. “Kadar dalam darahnya masih terdeteksi meski sudah lewat dua puluh empat jam. Dosisnya cukup untuk menyebabkan amnesia anterograde dan penurunan kesadaran.”

Ia menutup berkas itu setengah, lalu menatap Jaksa Wu. “Jadi benar. Dia tidak mungkin mengingat apa pun setelah waktu penyuntikan.”

Tangannya kembali membuka halaman terakhir, membaca bagian kesimpulan dokter forensik.

“Penyuntikan dilakukan beberapa jam sebelum waktu kematian korban. Tidak ada indikasi pemberian sukarela. Bekas tusukan ditemukan di lengan kiri… sudutnya menunjukkan dilakukan oleh orang lain.”

Adrian tersenyum tipis, tapi matanya tetap dingin. “Mereka tidak hanya ingin membuatnya tidak sadar. Mereka ingin memastikan ia tidak mampu membela diri… dan tidak mampu mengingat siapa yang melakukannya.”

Ia meletakkan laporan itu di meja dengan tenang.

“Si pelaku terlalu percaya diri. Obat ini bukan sesuatu yang bisa dibeli sembarangan. Lacak distribusinya. Aku ingin daftar rumah sakit, klinik, dan dokter yang memiliki akses. Jika Jessica dijebak, maka orang yang melakukannya pasti memiliki pengetahuan medis… atau koneksi yang kuat.”

"Dan kali ini aku yang akan menjebak pelakunya hingga ia mengaku sendiri," ucap Adrian.

1
Maria Mariati
hehhhhh
Raine
nah sesuai dugaan sebelumnya, kalau jj dalangnya dan cuman pura pura koma
erviana erastus
ya jj itu pura2 koma 🤭🤭🤭
Nadila Fathania Alfi
makin seru 😍😍
Melinda Cen
seruu lanjutkan lg
Nadila Fathania Alfi
min bikin cerita jangan pendek", panjang panjang aja 😄😄
erviana erastus
apakah dalangx JJ pura² koma🤔🤔🤔
Anonymous
Seru2…. Up yg bnyk Thor 💪💪💪
Melinda Cen
lanjut bykkan eps nya
Dian Fitriana
update
Melinda Cen
perbyk dong eps nya kk lg seru nih
Dian Fitriana
update
erviana erastus
selamat hakim chen kamu bakalan habis sama Adrian Li 🤭
Maria Mariati
kapokkk hadapin tuh hakin neraka ,main2 sama nyawa orang,siap2 hadapin hakim neraka
Dian Fitriana
update
erviana erastus
habis hidup mu chen ckckck keluar kadang harimau masuk ke kandang macan 🤣
Melinda Cen
lanjut kan kk, perbyk eps nya biar ga penasaran😄
Dian Fitriana
update
falea sezi
lanjut donk
falea sezi
seru kayaknya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!