Aurora menyeringai, "Kakak maafkan aku. Aku tidak bermaksud menyakiti mu. Selama ini kami saling mencintai. Karena kamu memaksa, akhirnya Jake menikahi mu. Jadi aku mengambil yang sudah menjadi hak ku."
"Apa maksud mu? Jake suami ku," ucap Caroline dengan nada menekan. Air matanya sudah mengalir, entah semenjak kapan. Ia tidak tau. Sakitnya seperti tercabik-cabik.
Tommy tertawa dan melangkah ke arah Caroline. "Jake suami mu." Sekali lagi ia mengulang ucapan Caroline. Ia mendekatkan mulutnya ke telinga Caroline. "Apa selama ini kau menikmati pelayanan ku?"
.....
Demi balas dendam untuk kekasihnya. Jake Willowind dan Tommy Willowind menggunakan sandiwara. Mereka bergantian tidur dengan Caroline. Seolah Caroline adalah barang. Sehingga suatu hari, Caroline mengetahui semuanya bahwa Jake memiliki saudara kembar dan sering kali berperan sebagai suaminya. Bahkan suaminya diam-diam masih bersama dengan adik tirinya Aurora.
"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sayonk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab tiga belas
Aurora merasa senang. Dia pikir Tommy saat ini sendirian. "Jack aku senang kau bersama Tommy."
Jack meremas telepon yang dia genggam. "Kau ingin memfitnah Aurora?"
"Tidak Kak. Aku hanya ..." Aurora terdiam. Dia merasa Jack berubah padanya. "Aku menyesali telah melakukannya. Aku akan minta maaf pada Caroline. Semua ini demi Kakak."
Jack menarik sebelah alisnya. Antara ingin percaya dan tidak namun dia akan mengawasinya. "Ini." Dia memberikan ponselnya pada Tommya.
Tommy mengambilnya. "Aurora."
"Kak Tommy." Aurora bernafas lega. Akhirnya Tommy membantunya. "Kakak aku ingin bertemu dengan Kakak. Aku merindukan Kakak."
Jack tersenyum tipis. Lama-lama dia merasa Aurora seperti merayunya dan adiknya itu.
"Kapan?" Tanya Tommya. Melihat wajah Jack ia merasakan takut.
"Besok malam di villa xxx."
Jack teringat sesuatu. Dia mengingat hari ulang tahunnya. Aurora, dirinya dan Tommy selalu merayakannya di Villa.
'Pasti Aurora ingin membuat kejutan'
"Baiklah aku akan datang." Jawab Tommy. Dia menutuskan ponselnya dan memasukkannya ke dalam saku.
"Tommy jangan mengganggu Caroline. Anggap saja di masa lalu kau tidak memiliki hubungan apa pun dan tidak mengenalnya. Sekalipun dia kakak ipar mu. Tommy katakan dengan jujur. Kau pernah menyentuh Caroline?"
Tommy mengangguk, dia menikmati sandiwara itu dan begitu dalam mengikat Caroline. "Iya. Aku sudah pernah berbagi dengannya."
"Lupakan, aku tidak akan mempermasalahkannya karena semuanya salah ku."
"Bagaimana kalau Caroline hamil anak ku? Kau tidak mungkin memisahkan seorang anak dan ayahnya."
Plak
Jack menampar Tommy. Tangannya gemetar dan giginya bergemelatuk. "Begitu indahnya kau mengatakan Caroline mengandung anak mu? Tommy, dia tetap menjadi anak ku."
Jack melangkah ke arah kamar Caroline. Hatinya di penuhi dengan kemarahan karena Tommy mengatakan hal yang tidak akan terjadi. Malam ini ia akan tidur dengan Caroline. Selama pernikahannya, dia tidak pernah menginjakkan kedua kakinya di kamar Caroline.
Jack membuka pintu kamar Caroline tanpa mengetuk pintu. Namun sayangnya, kamar itu terkunci. Dia mengambil kunci cadangan dan membukanya.
Dia merasa senang karena pintu terkunci itu terbuka. Dia masuk dan melihat cahaya remang-remang. Tampaj Caroline sedang tidur nyenyak.
Dengan langkah hati-hati dia mendekati Caroline. Wajah tidurnya yang polos tanpa riasana terlihat segar dan cantik.
Jack berjongkok, dia mengambil beberapa helai rambut Caroline dan menciumnya. Di tatapnya wajah cantiknya itu seperti cahaya bulan. Begitu indah dan memikat.
"Caroline aku telah salah menilai mu. Aku kira ..."
Jack teringat kejadian di masa lalu. Dulu Aurora memeluknya sambil menangis bahwa Caroline menganiayaya dirinya. Bahwa Caroline bersikap kasar padanya. Dan saat itu kebetulan Caroline tersenyum melihat ayahnya yang mengusap pucuk kepalanya.
"Daddy lebih menyayangi Caroline dari pada aku. Padahal aku juga ingin di sayang," ucap Aurora.
Jack merasa kasihan hingga membenci Caroline dan melakukan apa saja demi Aurora.
"Aku telah salah menilai mu. Di masa lalu aku menyakiti mu. Caroline apa masih ada kesempatan untuk ku? Begitu bodohnya diriku tidak mempercayai mu. Aku begitu saja menyakiti mu."
Jack beralih duduk di samping Caroline. Kedua netranya tertuju pada sebuah figura kecil. "Seandainya dulu aku tidak bodoh. Mungkin kita sudah bahagia."
Pikirannya mengingat perkataan Tommy. Tidak mungkin Caroline hamil anak Tommy. Jika pun benar ia akan mengakuinya dan tidak akan membiarkan Tommy menyentuh Caroline.
Caroline membuka kedua matanya. Ia merasa tidak nyaman dan benar saja ada penampakan di depannya.
Caroline beranjak duduk dan menatap tajam pada Jack. "Kenapa kau bisa ada di sini? Padahal aku .."
Ia jadi ingat, pria di hadapannya ternyata menerobos masuk.
Jack merasa bersalah. Ia memaksa masum hanya karena ingin bertemu dan tidur di kamar Caroline.
"Aku lelah, aku mau tidur."
Jack mengelilingi ranjang Caroline. Dia membaringkan tubuhnya dengan membelakangi Caroline.
Caroline kesal, pria itu tidak meminta izinnya untuk tidur di ranjang yang sama. Ia langsung menendang pinggang Jack sontak Jack jatuh ke lantai.
"A..."
Jack mengepalkan tangannya. Ia berdiri dan menatap sengit. "Caroline apa kau ingin aku terluka? Kau menendang ku."
"Pergi," ucap Caroline tanpa ekspresi. Wajahnya dingin sedingin es batu.
Jack menatap Caroline dengan tatapan tidak percaya. Seharusnya Caroline senang dia datang. "Caroline aku mau tidur di sini dan aku sudah memenuhi ajakan mu selama ini."
Jack menaiki kembali ranjangnya. Caroline mengambil bantal dan melemparkan ke tubuh Jack.
"Jack aku bilang pergi ya pergi. Apa kau tuli."
Jack tersadar, ia perlahan menoleh dan melihat wajah Caroline. Tadi ia pikir hanya candaan namun Caroline sungguhan menyuruhnya pergi.
"Caroline aku hanya ingin tidur di sini. Apa aku tidak boleh?" Tanya Jack dengan nada lembut.
Caroline menarik sudut bibirnya. "Tubuh mu kotor Jack. Kekotoran di tubuhnya jangan pernah membawanya pada ku. Aku tidak akan menerima tubuh mu bahkan satu ranjang dengan ku."
"Apa maksud mu?" Tanya Jack. Ia merasa terhina karena selama ini ia selalu menjaga tubuhnya.
Caroline memalingkan wajahnya. "Kau pasti sudah memahaminya."
Jack merangkak dan memegang kedua lengan Caroline. Rasanya sakit hati di tuduh melakukan kesenangan dengan Aurora.
"Kau pikir aku dan Aurora sudah pernah tidur bersama? Caroline aku masih menjaga tubuh ku. Aku tidak pernah menyentuh Aurora."
"Kau pikir hanya menyentuh saja. Bahkan bibir mu saja kotor Jack." Bentak Caroline. Kesabarannya sudah mencapai batas. "Aku sudah menyetujui bercerai dengan mu. Jadi jaga batas mu. Sekarang pergilah, jangan mengganggu tidur ku."
Jack menarik dalam nafasnya. "Apa kau sama sekali tidak ingin berbaikan dengan ku?"
"Tidak sama sekali." Tegas Caroline. Baginya sudah cukup di masa lalu dan ia tidak akan mengulanginya. "Kalau kau memaksa. Aku akan menghubungi kakek." Ancamnya.
"Baiklah." Bukannya ia tidak ingin memperbaiki keadaan dengan Caroline. Tetapi ia takut kakeknya menyetujui perceraian dengannya. "Aku pergi. Caroline aku benar-benar minta maaf pada mu."
Caroline tidak menjawab, kata maaf dari mulut Jack sudah basi. "Kau sudah menyakiti ku terlalu dalam dan tidak akan kembali lagi. Pecahan itu tidak bisa kau perbaiki."
Jack menunduk dan memejamkan kedua matanya. "Caroline apa yang harus aku lakukan agar kau mau memaafkan aku. Kita mulai dari awal."
"Jack aku pernah mati dan aku sudah mati. Tidak ada Caroline yang dulu. Keputusan ku tidak akan berubah."
Jack mengepalkan tangannya di iringi dengan kesakitan di dalam dadanya. Begitu sakit dan nyeri. Nyaris ia tidak bisa bernafas. Sakitnya terlalu dalam.
"Aku akan menebusnya."
"Tebuslah dengan nyawa mu Jack." Caroline menatap lurus ke arah Jack. "Tebuslah dengan nyawamu mungkin aku bisa mempertimbangkan, tapi aku tidak menjamin bahwa aku akan memaafkan mu dan kembali pada mu."
"Sekali aku mengatakan kotor. Tetap kotor Jack. Kau mempermainkan perasaan ku bersama Tommy. Tidak ada kesempatan untuk mu Jack."