"Di depanmu aku tetap buta, tapi di belakangmu aku sedang menggali kuburanmu!"
Gwen, sang pewaris kaya, terbangun dari kebutaannya. Namun, hal pertama yang ia lihat justru suaminya sedang bercumbu dengan sahabatnya sendiri—tepat di samping ranjangnya!
Bukannya melabrak, Gwen memilih tetap berakting buta. Ia menyusun rencana balas dendam yang rapi di bawah hidung mereka.
Keadaan makin panas saat ia menyewa Elang, bodyguard dingin yang menyimpan dendam pada keluarga Gwen. Diam-diam, Elang tahu Gwen hanya berpura-pura.
"Nona, aktingmu hebat. Tapi di depanku, matamu tidak bisa berbohong," bisik Elang.
Bisakah Gwen menghancurkan para pengkhianat itu sebelum rahasianya dibongkar oleh sang bodyguard misterius?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13: SISA API DAN HATI YANG MEMBEKU
Asap hitam membubung tinggi ke langit malam yang pekat. Ledakan di gudang pelabuhan itu begitu dahsyat hingga getarannya terasa sampai ke sumsum tulang. Puing-puing beton dan besi beterbangan, menciptakan hujan api yang mengerikan.
Di tengah reruntuhan yang masih membara, sebuah tangan kekar muncul dari balik tumpukan kayu palet yang hancur. Elang terbatuk hebat, paru-parunya terasa terbakar oleh debu dan panas. Seluruh tubuhnya perih, tapi pikirannya hanya tertuju pada satu nama.
"Gwen..." bisiknya parau.
Elang merangkak dengan sisa kekuatannya. Di bawah lampu darurat yang berkedip redup, ia melihat sosok wanita tergeletak tak jauh dari sana. Elang menerjang maju, hatinya mencelos melihat tubuh itu tertutup debu bangunan.
"Gwen! Bangun! Aku mohon..." Elang mendekap tubuh itu, air mata yang jarang terlihat kini menggenang di sudut matanya.
Wanita itu terbatuk, pelan namun nyata. Saat ia membuka mata, sepasang manik mata tajam yang kini tampak redup menatap Elang. Itu Gwen. Dia selamat karena Elang sempat memeluknya dan melompat ke arah celah perlindungan tepat sebelum api melahap lantai atas.
Namun, alih-alih pelukan hangat, Gwen justru mendorong dada Elang dengan sisa tenaganya. Dia menarik diri, menjauh dari dekapan pria itu seolah-olah Elang adalah bara api yang lebih menyakitkan daripada ledakan tadi.
"Jangan... sentuh aku," desis Gwen. Suaranya dingin, sebeku es di kutub utara.
Elang terpaku. "Gwen, kamu terluka. Kita harus keluar dari sini sebelum bangunan ini runtuh sepenuhnya."
Gwen tertawa sumir sambil menyeka darah di sudut bibirnya. Dia berdiri dengan tertatih, menolak uluran tangan Elang. Matanya menyisir ruangan yang hancur, mencari sosok lain.
"Di mana Sarah-mu?" tanya Gwen. Kata 'Sarah' diucapkan dengan penekanan yang penuh racun. "Kenapa kamu di sini? Bukankah tadi kamu sempat ragu? Bukankah tadi tanganmu gemetar ingin menyelamatkannya juga?"
"Gwen, situasi tadi sangat kacau. Aku menyelamatkanmu! Aku memilihmu!" bentak Elang, frustrasi karena dituduh di saat nyawa mereka baru saja di ujung tanduk.
"Kamu menyelamatkanku karena tugas, Elang. Tapi hatimu... hatimu tetap tertinggal pada wanita yang mengkhianatimu itu," Gwen menatap Elang dengan pandangan yang sangat asing. Tidak ada lagi gairah yang terlihat di Bab 10. Yang ada hanyalah kebencian yang murni. "Jangan pernah anggap ciuman di gudang bawah tanah itu berarti sesuatu. Mulai detik ini, kamu hanyalah pengawal yang kubayar. Tidak kurang, tidak lebih."
Gwen berjalan keluar dari reruntuhan dengan punggung tegak, meskipun bahunya gemetar. Di luar, Hendra dan tim intelijen yang Gwen sewa diam-diam sudah menunggu dengan mobil medis.
"Nona! Anda baik-baik saja?" Hendra berlari mendekat.
"Amankan tempat ini. Cari jasad Reno dan wanita itu. Jika mereka masih hidup, pastikan mereka tidak bisa melihat matahari besok," perintah Gwen dingin. Dia masuk ke dalam mobil tanpa menoleh sedikit pun ke arah Elang yang berdiri mematung di tengah puing.
Elang hanya bisa mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya melukai telapak tangannya sendiri. Dia tahu, dia telah menghancurkan satu-satunya kepercayaan yang baru saja Gwen bangun.
Mansion Adiguna, Tiga Hari Kemudian.
Gwen duduk di kursi kerjanya yang megah. Wajahnya tertutup makeup tebal untuk menyembunyikan memar di pipinya. Di depannya, tumpukan berkas Adiguna Group sudah menanti. Dia bekerja seperti mesin, tanpa emosi, tanpa lelah.
Tok, tok.
Pintu terbuka. Elang masuk dengan tangan yang masih dibalut perban. Dia meletakkan sebuah laporan di meja Gwen.
"Reno belum ditemukan. Tim pembersih Pratama kemungkinan besar sudah membawanya pergi. Sedangkan Sarah... dia menghilang tanpa jejak sebelum ledakan kedua terjadi," lapor Elang dengan nada profesional yang dipaksakan.
Gwen tidak mendongak. Jemarinya tetap lincah menari di atas keyboard laptop. "Terima kasih atas laporannya, Tuan Elang. Kamu boleh keluar."
"Gwen, kita perlu bicara soal malam itu—"
"Tidak ada yang perlu dibicarakan," potong Gwen tajam. Dia akhirnya mendongak, menatap Elang dengan tatapan yang sangat datar. "Sebagai bosmu, aku memberikanmu cuti seminggu. Pergilah cari mantan tunanganmu itu. Selesaikan urusan 'cinta sejatimu' agar tidak mengganggu pekerjaanku lagi."
"Aku tidak mencintainya lagi, Gwen! Apa yang kamu lihat malam itu adalah keterkejutan, bukan cinta!" Elang melangkah maju, tangannya menggebrak meja kerja Gwen. "Jangan bertingkah seolah-olah aku mengkhianatimu!"
Gwen berdiri, wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari Elang. "Kamu tidak mengkhianatiku, Elang. Karena untuk dikhianati, aku harus memilikimu terlebih dahulu. Dan aku sadar... aku tidak pernah memilikimu. Kamu adalah pria yang penuh dengan hantu masa lalu, dan aku tidak punya waktu untuk bermain dengan hantu."
Gwen menarik sebuah amplop dari laci dan melemparkannya ke dada Elang. "Itu cek bonusmu karena sudah menyelamatkan nyawaku di gudang. Sekarang, keluar dari ruanganku sebelum aku memanggil keamanan untuk menyeretmu."
Elang menatap cek itu, lalu menatap Gwen dengan kilatan amarah dan luka yang dalam. Tanpa berkata apa-apa, dia merobek cek itu menjadi dua di depan wajah Gwen, menjatuhkan potongan kertasnya di atas meja, dan berbalik pergi dengan langkah kaki yang menggetarkan lantai.
Setelah pintu tertutup rapat, pertahanan Gwen runtuh. Dia terduduk lemas di kursinya, air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya jatuh membasahi berkas-berkas penting di mejanya.
"Aku membencimu, Elang... Aku sangat membencimu karena membuatku merasa lemah seperti ini," isaknya dalam diam.
Namun, kesedihan Gwen tidak berlangsung lama. Sebuah panggilan masuk dari nomor pribadi yang terenkripsi muncul di layar ponselnya.
"Halo?" suara Gwen kembali tegas.
"Nona Adiguna," suara di seberang sana sangat berat dan berwibawa. "Saya adalah utusan dari Global Syndicate. Paman Anda, Pratama, telah gagal menjalankan Proyek Gerhana. Sekarang, kami menawarkan kerja sama langsung dengan Anda."
Gwen menyipitkan mata. "Apa imbalannya?"
"Kematian Reno, Sarah, dan kebebasan mutlak bagi Adiguna Group. Tapi sebagai gantinya, Anda harus menyerahkan data terakhir yang disimpan ayah Anda di dalam jantung 'Elang'."
Gwen membeku. "Apa maksudmu? Jantung Elang?"
"Tanyakan pada pengawal kesayangan Anda itu, Nona. Kenapa ayahnya menanamkan micro-chip Proyek Gerhana di dalam implan medis di dekat jantung anaknya sendiri sebelum ledakan sepuluh tahun lalu. Elang bukan hanya pelindungmu... dia adalah kunci yang paling dicari oleh seluruh dunia bawah tanah."
Gwen menutup telepon dengan tangan gemetar. Dia menatap pintu tempat Elang baru saja keluar.
Ternyata, rahasia Elang jauh lebih besar dari sekadar mantan tunangan yang bangkit dari kubur. Dan sekarang, Gwen harus memilih: melindungi pria yang baru saja ia benci setengah mati, atau menyerahkannya kepada serigala demi kejayaan perusahaannya.
masih saja dikhianati atau mungkin sejak awal tujuan Reno memang bukan membentuk keluarga yang bahagia