Kirana adalah gadis ceria, polos dan kebal bully apa jadinya kalau ia bertemu dengan seorang pemuda raja bully yang tidak sengaja mobilnya ia tabrak saat pulang dari kampus, dan parahnya ia harus rela menjadi pelayan dirumah pemuda itu, karena sang pemuda dendam gara-gara kejadian itu ia diputuskan pacarnya, baca keseruan, kekonyolan dan kekocakan mereka berdua di novel ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabia X, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hampir ketahuan
Pagi yang cerah itu tiba-tiba gaduh karena Ana yang bangun kesiangan.
“Astaga jam tujuh.” teriak Ana heboh langsung berdiri, sementara Dewa hanya memandang dengan tatapan malas.
“Gak usah berisik pendek, sudah aku izinkan, hari ini kamu libur gak ngampus.” ucap Dewa tenang.
“Kok gitu, hari ini pengenalan dosen baru, aku gak mau ketinggalan siapa tahu ada dosen cakep yang jadi jodoh.” ucap Ana polos.
“Heh.. gak ada yang kayak gitu, loe itu mau belajar apa mau cari jodoh, gitu masuk manajemen bisnis, otaknya hanya mikir kayak gitu doang.” sindir Dewa tajam.
“Lho gak masalah, kan sambil menyelam minum susu.” jawab Ana sembari kembali duduk.
“Eleh, paling juga tenggelam, berenang aja kagak bisa pake segala sambil minum susu, halu.” jawab Dewa menohok, membuat Ana mengerucutkan bibirnya.
“Cepet lah ambilkan makan aku laper, perutku udah kosong melompong ini.” perintah Dewa dengan tidak sabar, bagaimana ia tidak lapar semalam tiga jam ia bolak-balik kamar mandi, mau menginap di rumah sakit ia tidak mau, alasan takut di infus, ngotot pulang, alhasil hanya dikasih obat, dan Ana yang jadi ribet ngurus bayi besar yang terus ngereog, harus banyak menyetok kesabaran yang kadang hanya setipis tisu dibelah empat, Ana berdecak.
“Buruan pendek.” ucap Dewa lagi.
“Sabar Napa mas, aku juga lapar, rasanya pengen makan orang, dari tadi malam rewel terus, nanti lama-lama mas Dewa yang tak makan mau.” jawab Ana malah lebih galak.
“lha, ini kan semua salah loe ya pendek, kenapa tuh cilok pedes banget.” ucap Dewa masih tidak mau kalah, kembali menyalah kan itu makanan bulat yang kenyal bila digigit, tapi bikin nagih.
“Nah kan, gak tahu diri, mas Dewa tuh sudah tahu gak bisa makan pedes, lalu kenapa masih dimakan, nyalahin aku, mana aku tahu kalau mas Dewa gak bisa makan pedes.” balas Ana tidak mau disalahkan.
“Bawel, buruan, nanti aku mati kelaparan gimana, nunggu kau selesai ngomel tahun depan.” ucap Dewa sadis, Ana hanya mencibir dan berjalan pergi, tidak ada habisnya kalau berdebat dengan mahluk bernama Dewa itu, mana mau mengalah, namun belum sampai didepan pintu, pintu kamar terbuka, bik Sum dan mbak Wati datang membawa makanan.
“Pas banget, bik Sum memang hebat, ada orang yang katanya sudah mau mati kelaparan,” sindir Ana membuat kedua wanita dewasa itu tersenyum geli. Namun bersyukur karena dengan adanya Ana Tuan muda mereka jadi banyak bicara, biasanya hanya diam bak kulkas dua puluh pintu, kalau tidak ada perlu tidak akan ngomong, bahkan jawabannya hanya singkat-singkat saja.
“Maaf ya tuan muda, kami lambat, kami pikir kalian masih tidur tadi.” ucap mba Wati mendorong troli mendekat kearah ranjang.
“Jangan kesini mba, aku mau duduk di sofa saja.” cegah Dewa yang langsung turun dari ranjang. Mba Wati pun mengangguk, menurun kan semua makanan di atas meja dibantu Ana yang sudah sangat bersemangat melihat semua makanan yang terhidang, karena begitu lezat, terlebih ada asam manis cumi kesukaannya, membuat ia menelan salivanya susah payah. Bik Sum dan mba Wati pun pami undur diri, meninggalkan kamar tersebut, Dewa yang melihat mata Ana yang sudah berbinar tersenyum smrik.
“Makanannya enak sekali, jadi tambah laper.” ucap Dewa menggoda, dan Ana mengangguk setuju.
“Aku pergi dulu mas, mau ke dapur.” pamit Ana mau berbalik badan.
“Enak saja, kalau loe pergi, siapa yang nyuapin aku.” ucap Dewa galak.
“Kan mas Dewa punya tangan, kali ini aja mas Dewa makan sendiri ya.” bujuk Ana dengan wajah memelas.
“Gak, aku ini sakit, kok malah di suruh makan sendiri, badan dan tanganku lemes.” ucap Dewa gak mau kalah, Ana hanya menghela nafas, tidak mau berdebat akhirnya duduk disamping Dewa dengan pasrah. Ia pun mengambil piring mengisinya dengan nasi dan juga lauk pauknya. Dewa membuka mulutnya lebar tersenyum tertahan setelah melahap makanan dalam sendok, Ana memanyunkan bibirnya, perutnya juga lapar, terlebih matanya yang melihat makanan begitu banyak dan semuanya enak, bikin ia tidak sabar ingin makan.
“Gak usah manyun, gak iklas banget.” ucap Dewa meledek.
“Tau ah males banget, sudah cepetan makannya,” balas Ana sewot.
“Suka-suka dong namanya orang sakit.” jawab Dewa semena-mena, Ana hanya mendengus kesal terus menyuapi bayi besarnya sampai habis satu piring.
“Udah, aku mau mandi dulu, habiskan makanan nya, awas kalau gak habis.” ucap Dewa berdiri, Ana mencebik kan bibirnya.
“Walau aku suka makan, Emang aku Buto ijo. Bisa makan segini banyak nya,” gerutu Ana yang masih bisa didengar oleh Dewa, ia hanya mesem, tidak menghentikan langkahnya, setelah makan dengan lahap Ana langsung membereskan semuanya kembali ke troli makanan, bertepatan dengan Dewa yang sudah keluar dari kamar mandi.
“Mas Dewa aku turun dulu ya.” pamit Ana.
“Iya.” jawab Dewa singkat, Ana pun mendorong troli itu keluar kamar Dewa, bertepatan dengan mba Wati yang juga sudah datang.
“Biar mba aja non, mandi gih.” ucap mba Wati, Ana mengangguk dan masuk kedalam kamar nya, dan langsung mandi.
Matahari sudah condong kebarat, saat sebuah mobil mewah masuk kedalam halaman rumah Dewa, ketiga pria itu langsung turun dari mobil itu dengan santai.
"Dewa sakit apa sih, sampai gak masuk, tuh anak pake misterius, gak mau dijenguk, jadi curiga, ia hanya bohong, malas aja ngampus alasan sakit." seloroh Aldi.
"HoOh, akhir-akhir ini juga malas kalau di ajak nongkrong kalau pulang ngampus, apa tuh anak punya piaraan baru kali ya." jawab Aldo yang juga penasaran.
"Ribut aja kalian, buruan masuk." tegur Cristian, membuat kedua cowok itu hanya cengengesan. Ana yang melihat kedatangan sahabat Dewa langsung lari tunggang langgang menaiki tangga dan hampir menabrak Dewa yang hendak turun.
“Astaga, loe kenapa sih lari-lari ikan buntal kayak dikejar setan aja.” ucap Dewa kaget setengah mati.
“Mas, gawat mas.” ucap Ana terbata.
“Gawat apa?!” tanya Dewa kesal karena Ana seperti orang gagap saja.
“Ini lebih seram dari setan mas.” jawab Ana lagi, semakin membuat Dewa bingung.
“Ngomong yang bener pendek, aku cubit juga bibir loe nanti.” ucap Dewa semakin kesal, belum Ana menjawab suara Aldo terdengar nyaring lagi bergurau dengan Aldi, membuat Dewa yang tadi kesal jadi ikut panik.
“Astaga, kenapa mereka ada disini, cepat masuk kamar pendek, jangan keluar sampai mereka pulang.” perintah Dewa mendorong tubuh Ana masuk kedalam kamarnya, Ana yang mendapat dorongan itu sampai terhuyung mau menabrak pintu.
“Aduh.. sabar mas.” ucap Ana yang hampir benjol kepalanya.
“Buruan pendek, jangan sampai mereka tahu.” perintah Dewa panik dan setengah kesal, dan juga tidak sabaran melihat Ana yang lambat menurutnya, Ana dengan cepat masuk kamar dan menutup pintu, nafasnya ngos-ngosan, antara capek naik tangga dan juga panik, bertepatan dengan para cowok koplak itu sampai keatas.
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰