NovelToon NovelToon
Jerat Sentuhan Berbahaya

Jerat Sentuhan Berbahaya

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Obsesi / Harem
Popularitas:911
Nilai: 5
Nama Author: Lily Quinza

"Aku membencimu saat kau menyentuhku!"

"Benarkah? Tapi aku melihat bagaimana respon tubuhmu."

"Hentikan! Jangan sentuh aku!"

"Jika aku tak mau?"

"Kau tidak waras!"

Rodriguez De La Vega Navarro, CEO paling berkuasa di London, kehilangan satu hal yang tak bisa dibeli dengan uang Valeria De Luca.

Dua tahun setelah perpisahan tanpa penjelasan, takdir mempertemukan mereka kembali di toko kue milik Valeria. Satu tatapan cukup untuk membuka luka lama dan membangkitkan perasaan yang seharusnya telah mati.

Cinta berubah menjadi obsesi. Akankah Valeria bertahan.....
atau Rodrigo menghancurkan segalanya demi memilikinya kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lily Quinza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13 Harapan

Pagi itu, langit masih diselimuti kabut tipis. Udara dingin menggigit lembut kulit, sementara deretan bangunan bata merah di sepanjang jalan tampak berkilau oleh embun.

Didalam toko aroma mentega dan gula yang dipanggang perlahan mulai menguar, bercampur dengan wangi kopi hitam yang baru diseduh.

Hari itu ia membuka toko lebih terlambat dari biasanya.

Beberapa pelanggan sudah berdiri di luar, sebagian menggosok-gosokkan tangan untuk mengusir dingin.

“Ada apa, nona? Kau tidak biasanya,” sapa seorang pria tua langganan tetapnya, Paman Harold, begitu pintu kayu itu akhirnya dibuka.

Valeria menangkupkan kedua tangannya di depan dada, wajahnya sedikit memerah karena malu. “Maaf, Paman. Hari ini aku telat membuka toko. Karena bangun kesiangan.”

“Aku mengira kau tidak enak badan, nona.”

“Aku baik-baik saja, Paman. Hanya kurang tidur,” jawabnya dengan senyum tipis.

“Baiklah kalau begitu. Berikan aku kue macaron dan pastry seperti biasa.”

Valeria mengangguk sigap. “Baiklah!”

Belum sempat ia menyelesaikan pesanan Paman Harold, seorang wanita muda berambut pirang masuk sambil membawa anak kecil yang berlarian kecil di dalam toko.

“Kak Valeria! Croissant cokelatnya masih hangat?” tanyanya antusias.

“Baru keluar dari oven sepuluh menit lalu,” jawab Valeria ramah.

“Dua, ya. Dan satu eclair untuk Emily.” Anak kecil itu menunjuk etalase dengan mata berbinar. “Yang ada stroberinya!”

Valeria terkekeh pelan. “Baik, satu eclair stroberi untuk putri cantik.”

Tak lama, dua mahasiswa masuk dengan ransel besar di punggung.

“Pagi, Kak Val! Kami butuh yang manis sebelum kuliah,” salah satunya berseru.

“Kalian selalu begitu,” sahut Valeria. “Cinnamon roll atau tart lemon?”

“Tart lemon. Dua. Dan kopi paling kuat yang kau punya.”

Toko kecil itu segera dipenuhi suara lonceng pintu, percakapan ringan, dan tawa. Uap kopi mengepul di udara, bercampur aroma gula karamel. Valeria bergerak cekatan di balik meja kasir, celemek kremnya sedikit ternoda tepung.

Ia tampak biasa saja.

Tak seorang pun tahu bahwa di lantai atas, di kamar rumah toko yang lampunya redup, sepasang mata tengah mengawasinya.

Rodrigo duduk bersandar di sofa empuk, ponsel di tangannya menampilkan layar hitam putih dari kamera kecil yang tersembunyi di sudut ruangan toko.

Sejak kapan ia memasangnya?

Bahkan Valeria tidak menyadari benda kecil seukuran kancing itu tersembunyi di antara hiasan bunga kering di rak dinding.

Rodrigo tersenyum tipis.

“Masih sama,” gumamnya pelan. “Caramu melayani pelanggan. Caramu tersenyum.”

Matanya menelusuri sosok Valeria di layar. Celemek sederhana, rambut yang diikat asal, pipi yang memerah karena sibuk.

Cantik.

Terlalu cantik untuk dunia yang kejam.

Tangannya tanpa sadar menyentuh perban di sisi perutnya. Luka tusukan semalam masih terasa nyeri, denyutnya konstan seperti pengingat bahwa ia hampir kehilangan segalanya.

Ia memejamkan mata sejenak, mengingat malam berdarah itu. Bayangan pisau berkilat di bawah lampu jalan, tubuhnya yang roboh, dan satu nama yang terlintas di pikirannya saat itu, Valeria.

***

Menjelang pukul sebelas siang, toko mulai sepi. Hanya tersisa beberapa pastry di etalase. Valeria menghela napas panjang, menyeka meja, lalu melirik ke arah tangga kecil di sudut ruangan.

Ia mengambil nampan berisi sup hangat, roti lembut, dan segelas air. Langkahnya pelan saat menaiki tangga kayu. Setiap pijakan berbunyi lirih.

Ia mengetuk pelan pintu kamar.

“Aku masuk.”

Rodrigo segera mematikan layar ponselnya dan meletakkannya di samping. Valeria membuka pintu perlahan. Cahaya siang masuk melalui celah tirai, menyorot wajah Rodrigo yang pucat. Namun, tetap tampan. Kemeja putihnya terbuka sedikit di bagian perut, memperlihatkan balutan perban.

“Kau seharusnya beristirahat,” ucap Valeria pelan, menaruh nampan di meja kecil.

“Aku sudah cukup istirahat.”

“Kau hampir kehilangan nyawa semalam, Rodrigo.”

Ia mendekat, hendak memeriksa perbannya. Namun saat tangannya menyentuh kain kasa, Rodrigo menahan pergelangan tangannya dengan lembut.

Sentuhan itu membuat Valeria terdiam.

Mereka saling menatap.

Mata Rodrigo gelap, dalam, penuh sesuatu yang sulit dijelaskan, bukan kemarahan. Bukan ancaman.

Melainkan intensitas.

“Aku baik-baik saja,” katanya lirih. “Luka seperti ini tidak sebanding dengan dua tahun tanpamu.”

Valeria menarik tangannya perlahan. “Jangan mulai lagi.”

“Aku tidak menyalahkanmu.”

“Kau tidak tahu apa yang terjadi waktu itu.”

“Aku tahu kau pergi,” potongnya pelan. “Dan itu cukup membuatku hampir gila.”

Valeria menunduk. “Aku tidak ingin membahas masa lalu.”

Rodrigo tersenyum samar. “Baik. Kita tidak perlu membahasnya.” Ia menatapnya lebih lembut. “Aku hanya ingin berada di tempat yang sama denganmu. Itu saja.”

“Dengan memasang kamera tersembunyi?” tanya Valeria tiba-tiba, seolah menguji.

Rodrigo terdiam sepersekian detik, lalu terkekeh pelan. “Kau selalu cerdas.”

“Aku melihat kabel kecil di rak bunga kemarin malam.”

Sunyi menggantung.

Namun anehnya, Valeria tidak tampak marah. Lebih seperti, gelisah.

“Aku hanya ingin memastikan kau aman,” ujar Rodrigo jujur. “Setelah kejadian semalam, aku tidak bisa tenang.”

“Itu tetap salah, Rodrigo.”

“Aku tahu.” Ia menatapnya lurus. “Tapi kau adalah satu-satunya hal yang masih membuatku ingin bertahan.”

Valeria menelan ludah. Jarak mereka kini begitu dekat. Ia bisa melihat jelas bayangan lelah di bawah mata pria itu. Bisa merasakan napasnya yang hangat meski udara kamar dingin.

“Kau harus sembuh dulu,” katanya akhirnya, suaranya melembut. “Setelah itu kita pikirkan semuanya.”

Rodrigo mengangguk perlahan.

“Baik. Aku akan sembuh,” katanya. “Karena aku belum selesai memperjuangkanmu.”

Valeria terdiam.

Di luar, lonceng pintu toko berbunyi lagi, memanggilnya kembali ke dunia nyata. Ia berbalik menuju pintu. Namun, sebelum keluar, ia menoleh.

Rodrigo masih menatapnya.

Bukan dengan ancaman. Melainkan dengan obsesi yang tenang, berbahaya dalam diam. Namun, tertahan oleh perasaan yang terlalu dalam untuk disebut sekadar cinta.

Lonceng pintu di lantai bawah berbunyi nyaring.

Valeria tersentak dari tatapan itu.

“Ada pelanggan,” gumamnya pelan, seolah mencari alasan untuk memutus jarak yang tiba-tiba terasa terlalu sempit.

Rodrigo tidak menahannya kali ini. Ia hanya bersandar kembali ke sandaran kursi. Namun, matanya tetap mengikuti setiap gerak Valeria hingga pintu tertutup.

Begitu langkah kaki Valeria menjauh menuruni tangga, ekspresi lembut di wajah Rodrigo perlahan berubah menjadi serius. Ia meraih ponselnya lagi.

Layar CCTV kembali menyala, menampilkan sosok Valeria yang turun dengan tergesa, memperbaiki celemeknya, lalu tersenyum profesional saat membuka pintu.

Rodrigo menghembuskan napas panjang.

“Aku tidak akan menyakitimu,” bisiknya pada layar.

"Aku hanya ingin memastikan sampai kapan kau akan seperti ini Val, kau membohongi perasaanmu sendiri.”

Di bawah, seorang pria asing berdiri di depan etalase. Jas abu-abu rapi, sepatu mengilap, dan sorot mata yang terlalu tajam untuk sekadar pembeli kue.

“Selamat siang. Maaf menunggu,” sapa Valeria ramah.

“Tak apa. Saya hanya lewat dan tertarik dengan toko ini,” jawab pria itu. “Tempat yang nyaman.”

“Terima kasih. Ada yang bisa ku bantu?”

Pria itu mengamati ruangan sejenak sebelum kembali menatapnya. “Saya dengar Anda tinggal di atas toko ini sendirian?”

Valeria sedikit terdiam. “Maaf?”

“Saya hanya memastikan keamanan. Daerah ini tidak selalu ramah untuk wanita yang tinggal sendiri.”

Nada suaranya terdengar biasa, tapi ada sesuatu yang membuat tengkuk Valeria merinding.

“Saya tidak sendirian,” jawabnya singkat.

“Oh?” Pria itu tersenyum tipis. “Suami?”

Pertanyaan itu menggantung. Valeria hendak menjawab ketika suara langkah berat terdengar dari tangga.

Rodrigo muncul.

Ia tidak mengenakan jas atau pakaian formal, hanya kemeja putih yang masih sedikit terbuka di bagian perut, perban samar terlihat di balik kain. Wajahnya pucat, tapi sorot matanya tegas.

“Ada yang bisa ku bantu?” tanyanya datar.

Valeria terkejut. “Rodrigo, kau seharusnya—”

“Aku baik,” potongnya pelan tanpa melepas pandangan dari pria asing itu.

Dua pria itu saling menatap. Udara di dalam toko terasa berubah.

Pria berjas itu tersenyum tipis. “Saya hanya pelanggan.”

“Tentu,” jawab Rodrigo tenang. “Kalau begitu, silakan pesan dan pergi.”

Kalimatnya terdengar sopan. Tapi nadanya jelas peringatan. Pria itu akhirnya memesan satu kotak macaron, membayar tanpa banyak bicara, lalu keluar.

Begitu pintu tertutup dan lonceng berhenti berdenting, Valeria menoleh tajam ke arah Rodrigo.

“Kau tidak boleh turun begitu saja! Lukamu—”

Rodrigo sedikit terhuyung, dan refleks Valeria langsung menahannya.

Tangannya meraih lengan Rodrigo, merasakan tubuh pria itu yang lebih hangat dari biasanya.

“Kau lihat caranya menatapmu?” bisik Rodrigo pelan. “Aku tidak suka.”

“Itu hanya pelanggan.”

“Tidak.” Rahang Rodrigo mengeras. “Aku tahu tatapan pria yang mengincar sesuatu.”

Valeria terdiam. “Kau terlalu berlebihan.”

Rodrigo tersenyum tipis, bukan mengejek, lebih seperti menahan sesuatu.

“Mungkin,” katanya lirih. “Tapi aku lebih baik terlihat berlebihan daripada kehilanganmu lagi.”

Kalimat itu membuat napas Valeria tercekat.

“Rodrigo…” suaranya melembut, campur aduk antara kesal dan khawatir. “Aku bisa menjaga diriku sendiri.”

“Aku tahu kau bisa,” jawabnya cepat. “Kau selalu kuat.”

Tangannya terangkat perlahan, ragu sejenak, lalu menyentuh pipi Valeria dengan sangat hati-hati, seolah ia menyentuh sesuatu yang rapuh.

Bukan posesif.

Bukan memaksa.

Valeria bisa melihatnya sekarang, obsesi itu bukan seperti api liar yang membakar. Dan tidak seperti Rodrigo sebelumnya.

“Naiklah,” ucapnya pelan. “Kalau perbanmu terbuka lagi, aku tidak akan memaafkanmu.”

Rodrigo terkekeh kecil. “Baik, Nona Cantik.”

Ia menurut.

Namun sebelum menaiki tangga, ia berhenti dan menoleh. “Valeria.”

“Apa lagi?”

“Kalau pria itu kembali, beri tahu aku.”

Valeria menghela napas. “Baik.”

Rodrigo naik perlahan. Setiap langkah terdengar berat, tapi tekadnya jelas. Sore menjelang, toko benar-benar sepi. Valeria menutup tirai setengah, membalik papan tanda menjadi Closed, lalu bersandar sejenak di pintu.

Pikirannya kacau. Tentang pria asing tadi.

Tentang kamera tersembunyi. Tentang cara Rodrigo menatapnya, seolah dunia bisa runtuh asalkan ia tetap berdiri di hadapannya.

Ia naik ke atas lagi. Kali ini tanpa membawa nampan.

Rodrigo duduk di tepi tempat tidur, sedang mengganti perbannya sendiri dengan gerakan hati-hati.

“Biar aku,” ucap Valeria pelan.

Rodrigo menatapnya, lalu mengangguk.

Valeria mendekat, lututnya hampir menyentuh lutut Rodrigo saat ia mulai membuka perban lama.

Bekas luka tusukan itu masih memerah, garis panjang di sisi perutnya.

Valeria menghela napas, lalu menempelkan kain antiseptik dengan lembut. Rodrigo sedikit meringis, tapi tidak bersuara.

“Kau tidak harus menanggung semuanya sendiri,” katanya pelan.

Rodrigo tersenyum samar. “Aku terbiasa.”

Sunyi menyelimuti mereka. Jarak terlalu dekat.

Napas bercampur.

“Kenapa kau kembali, Rodrigo?” akhirnya Valeria bertanya. “Setelah dua tahun, kenapa sekarang?”

Rodrigo menatapnya lama.

“Karena aku sadar satu hal,” jawabnya pelan. “Sejauh apa pun aku pergi, sejauh apa pun aku mencoba melupakan pusat hidupku tetap di sini.”

Tangannya terangkat, bukan untuk menahan, bukan untuk memaksa. Hanya menggenggam ujung celemek Valeria.

“Aku tidak ingin memiliki duniamu,” lanjutnya. “Aku hanya ingin menjadi bagian kecil di dalamnya.”

Valeria terdiam.

Untuk pertama kalinya, ia tidak menarik tangannya.

Di dalam kamar kecil itu, dua orang dengan masa lalu yang retak duduk berhadapan. Dan obsesi yang selama ini tersembunyi pelan-pelan berubah menjadi sesuatu yang lebih berbahaya.

Harapan.

1
Agus Tina
mampir thor bagus kayaknya 😍
Lilyyy: halo say silahkan yah jangan lupa nanti rating 😍🙏
total 1 replies
Dewi wijayanti Ryan setiawan
lanjut thor😍
Lilyyy: ih makasih kak komentar kakak semangat aku 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!