Sinopsis:
Liang Chen adalah pengembara yang memilih hidup sederhana dan menjauh dari dunia persilatan. Ia tidak mengejar kekuatan, nama besar, atau kekuasaan—hanya ingin hidup tanpa meninggalkan jejak. Namun sebuah pertemuan dengan seorang pria sekarat menyeretnya pada sebuah warisan berbahaya: sebuah kitab beladiri yang tidak mengajarkan kemenangan, melainkan cara mengakhiri konflik secepat mungkin.
Sejak itu, hidup Liang Chen berubah. Orang-orang mulai memperhatikannya, mengujinya, dan menyebarkan cerita tentangnya. Ia tidak lagi dinilai sebagai orang biasa, melainkan sebagai gangguan terhadap keseimbangan. Setiap keputusan kecil memicu reaksi berantai, setiap pertarungan melahirkan musuh baru yang tidak selalu datang dengan pedang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JALAN YANG TIDAK BISA DIHINDARI
Malam turun lebih cepat di dalam hutan.
Pepohonan tinggi menutup sebagian besar langit, membuat cahaya senja hanya masuk dalam garis-garis tipis yang cepat menghilang. Liang Chen berjalan di depan, langkahnya tetap stabil meski tanah semakin tidak rata. Di belakangnya, Mei Lin mengikuti dengan napas yang mulai berat.
Mereka belum berbicara lagi sejak matahari tenggelam.
Liang Chen berhenti di sebuah tanah lapang kecil, dikelilingi batu-batu besar dan akar pohon tua yang mencuat dari tanah.
“Di sini,” katanya.
Mei Lin langsung duduk di atas batu. Kakinya terasa pegal. Sejak pagi ia hampir tidak berhenti berjalan, dan pertempuran di tepi sungai tadi masih membuat tubuhnya gemetar.
Liang Chen tidak menyalakan api besar. Ia hanya menyalakan api kecil, cukup untuk penerangan.
“Kita tidak boleh menarik perhatian,” katanya.
Mei Lin mengangguk. Ia sudah mulai mengerti cara berpikir Liang Chen. Segala sesuatu dihitung, bukan berdasarkan keberanian, tapi kemungkinan hidup lebih lama.
Mereka makan sisa roti kering. Kali ini tanpa bicara. Hanya suara api kecil yang sesekali berderak.
Beberapa saat kemudian, Mei Lin berkata pelan,
“Desa tempatku tinggal… tidak jauh dari sini.”
Liang Chen menoleh.
“Seberapa jauh?”
“Kalau lewat jalan utama, dua hari. Tapi kalau lewat jalur hutan seperti ini… mungkin satu hari lagi.”
Liang Chen mengangguk pelan. Itu berarti mereka semakin dekat dengan masalah.
“Desamu seperti apa?” tanyanya.
Mei Lin terdiam sejenak, seolah memikirkan sesuatu yang sudah lama tidak ia ceritakan.
“Desa kecil,” katanya. “Tidak ada yang istimewa. Kebanyakan petani. Beberapa keluarga pembuat kain. Tidak ada perguruan besar, tidak ada pendekar terkenal.”
“Lalu kenapa mereka mengejarmu?”
Mei Lin menunduk.
“Ayahku bukan orang biasa.”
Liang Chen tidak langsung bertanya. Ia menunggu.
“Dulu,” lanjut Mei Lin, “ayahku pernah bekerja untuk sebuah keluarga pedagang besar di kota utara. Mereka bukan hanya pedagang. Mereka juga punya hubungan dengan dunia persilatan.”
“Organisasi?”
Mei Lin mengangguk.
“Semacam itu. Aku tidak tahu detailnya. Ayah tidak pernah bercerita banyak. Ia hanya bilang, tempat itu penuh orang yang tersenyum di depan, tapi menyimpan pisau di belakang.”
Liang Chen tersenyum tipis.
“Deskripsi yang cukup akurat.”
Mei Lin melanjutkan,
“Beberapa tahun lalu, ayah tiba-tiba pulang. Ia bilang ingin hidup tenang. Kami pindah ke desa kecil. Tidak lama setelah itu, ia sakit… lalu meninggal.”
Suara Mei Lin mulai bergetar.
“Sebelum meninggal, ia memberiku sesuatu. Benda kecil, dibungkus kain. Ia bilang, apa pun yang terjadi, jangan biarkan benda itu jatuh ke tangan orang-orang dari masa lalunya.”
Liang Chen langsung mengerti.
“Itu yang mereka cari?”
Mei Lin mengangguk.
“Aku bahkan tidak tahu apa isinya. Aku belum pernah membukanya.”
“Kenapa?”
“Ayahku bilang, semakin sedikit aku tahu, semakin aman aku.”
Liang Chen menatap api kecil di depan mereka.
“Kadang, ketidaktahuan memang bisa menyelamatkan.”
“Tapi sekarang justru membuatku diburu,” kata Mei Lin pelan.
Liang Chen tidak menjawab.
Hening kembali turun.
Suara ranting patah terdengar dari arah hutan.
Liang Chen langsung menoleh. Tangannya bergerak ke gagang pedang.
Mei Lin menegang.
Suara itu tidak terdengar seperti langkah hati-hati. Lebih seperti orang yang berjalan tanpa takut diketahui.
Beberapa detik kemudian, seekor rusa kecil muncul dari balik semak. Ia berhenti, menatap mereka, lalu berlari menjauh.
Mei Lin menghela napas lega.
“Cuma rusa,” katanya.
Liang Chen tetap waspada. Ia tahu, hutan yang terlalu sunyi sering lebih berbahaya daripada hutan yang ramai suara.
“Tidur bergantian,” katanya. “Aku jaga dulu.”
Mei Lin mengangguk.
Ia berbaring di dekat batu, menggunakan tas kecilnya sebagai bantal. Tidak butuh waktu lama sampai napasnya menjadi teratur.
Liang Chen duduk, menatap api kecil yang mulai mengecil.
Pikirannya tidak tenang.
Semakin ia berjalan bersama Mei Lin, semakin jelas satu hal: ia tidak lagi bisa keluar dari urusan ini begitu saja.
Orang-orang yang mengejar gadis itu tidak akan berhenti hanya karena ia menyerahkannya di depan gerbang desa. Mereka akan tetap mencari. Dan jika mereka menemukan Mei Lin, desa kecil itu mungkin ikut hancur.
Itu bukan urusannya.
Namun entah kenapa, pikirannya tidak bisa melepaskan kemungkinan itu.
Ia menghela napas pelan.
“Masalah,” gumamnya.
Menjelang tengah malam, angin berubah arah.
Liang Chen mencium sesuatu yang aneh di udara.
Bukan bau hewan. Bukan bau tanah basah.
Bau keringat manusia.
Ia langsung mematikan api dengan tanah.
Hutan kembali gelap.
Liang Chen berdiri, mendengarkan.
Langkah kaki. Beberapa orang. Bergerak pelan, tapi tidak cukup pelan untuk menghilangkan suara sepenuhnya.
Mereka mendekat.
Liang Chen berlutut di samping Mei Lin dan menepuk bahunya.
“Bangun.”
Mei Lin langsung terjaga, matanya masih kabur.
“Ada apa?”
“Orang.”
Wajah Mei Lin langsung pucat.
“Mereka?”
“Tidak tahu. Tapi kita tidak akan menunggu.”
Mereka bergerak tanpa suara. Liang Chen memimpin, memilih jalur sempit di antara batu dan akar pohon.
Namun belum sepuluh langkah, suara dari belakang terdengar.
“Di sana!”
Teriakan itu memecah kesunyian hutan.
Langkah kaki berubah menjadi lari.
Mereka sudah ditemukan.
Liang Chen berhenti mendadak.
“Bersembunyi tidak ada gunanya lagi,” katanya.
Ia menoleh ke arah Mei Lin.
“Ada tempat aman di depan?”
Mei Lin berpikir cepat.
“Ada jurang kecil. Di bawahnya ada jalur batu. Kalau kita turun, mereka akan sulit mengikuti.”
“Seberapa jauh?”
“Tidak sampai setengah li—”
Ia menahan napas. “Beberapa ratus langkah.”
Liang Chen mengangguk.
“Kita ke sana.”
Mereka berlari.
Tanah hutan yang tidak rata membuat langkah mereka tidak stabil, tapi mereka tidak punya pilihan.
Di belakang, suara pengejar semakin dekat.
Liang Chen melirik ke belakang.
Empat orang. Mungkin lima.
Tidak semuanya cepat, tapi cukup untuk menyusul jika mereka terus berlari tanpa rencana.
“Di sana!” kata Mei Lin, menunjuk ke depan.
Tanah mulai menurun tajam. Pepohonan jarang, digantikan batu-batu besar.
Beberapa langkah lagi, mereka sampai di tepi jurang kecil. Tidak terlalu dalam, tapi cukup berbahaya dalam gelap.
Di bawahnya terlihat jalur batu sempit, mengikuti aliran sungai kecil.
“Bisa turun?” tanya Liang Chen.
Mei Lin mengangguk, meski wajahnya tegang.
Liang Chen turun dulu, mencari pijakan. Ia menemukan tonjolan batu yang cukup kuat.
“Ayo.”
Mei Lin turun perlahan. Tangannya gemetar, tapi ia berhasil sampai ke bawah.
Saat kaki mereka menyentuh jalur batu, suara para pengejar sudah sampai di atas.
“Mereka di bawah!”
Liang Chen langsung menarik Mei Lin.
“Kita harus bergerak.”
Jalur itu sempit, hanya cukup untuk satu orang berjalan. Di satu sisi tebing batu, di sisi lain sungai kecil yang mengalir deras.
Suara langkah di atas mengikuti mereka.
Namun jalur itu berkelok-kelok. Tidak semua bagian bisa dilihat dari atas.
Beberapa menit kemudian, suara pengejar mulai menjauh.
Mereka kehilangan jejak.
Liang Chen memperlambat langkah.
“Kita berhenti sebentar.”
Mei Lin bersandar ke batu, napasnya terengah.
“Berapa banyak?” tanyanya.
“Empat atau lima.”
“Pasti mereka.”
Liang Chen mengangguk.
“Kemungkinan besar.”
Mei Lin menatapnya.
“Kalau aku tidak bersamamu, kau tidak akan dikejar seperti ini.”
Liang Chen menjawab tenang,
“Mungkin. Tapi jalan hidupku juga tidak pernah benar-benar sepi.”
Mei Lin tersenyum lemah.
“Kalau kita sampai desa… aku akan cari cara agar kau tidak ikut terseret lagi.”
Liang Chen tidak menanggapi. Ia hanya menatap jalur batu di depan.
Dalam hati, ia tahu satu hal:
Begitu ia melangkah ke desa itu, ia tidak akan bisa keluar dengan mudah.
Masalah ini sudah terlalu dalam.
Dan untuk pertama kalinya sejak lama, ia merasa sedang berjalan menuju sesuatu yang tidak bisa ia hindari.
Bukan karena ia dipaksa.
Melainkan karena ia memilih untuk tidak berbalik.
Angin malam berhembus di sepanjang jalur batu, membawa suara air yang mengalir tanpa henti.
Perjalanan mereka masih belum selesai.
Dan bahaya yang mengejar mereka… juga belum benar-benar pergi.