Rio terpaksa menyetujui menikah dengan Rayi demi warisan supaya tak jatuh pada Rayi yang merupakan cucu dari teman sejati Kakek Brata.
Mereka kuliah di satu kampus dengan jurusan berbeda. Rayi terpaksa menerima syarat dari Rio bahwa di kampus mereka pura-pura tak kenal.
Namun mulai timbul masalah saat Didit teman satu kampus Rayi naksir gadis itu, dan Lala mantan Didit yang ingin mencelakai Rayi, serta Aruna teman sekolah naksir Rio kembali disaat hati Rio mulai bimbang untuk melepaskan Rayi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosida0161, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berlatih Membawa Kuda Pada Jembatan Setengah Lingkaran
Di lapangan latihan Airin menuntun kudanya dan Rayi yang juga berjalan di samping Coklat Susunya memanggil.
",Airin ..."
Airin menoleh dan tersenyum pada Rayi kemudian mengajak kuda miliknya yang berwarna putih itu berbalik arah mendekati Rayi.
"Kak apa kabar," sapa Airin setelah berdiri di samping Rayi.
"Kabarnya kamu dipanggil Om Aji," tertawa kecil Rayi.
"Oh ya?"
"Yuk aku antar tadi dia di sana," ajak Rayi menunjuk ke ujung lapangan."Hap ..." segera dia naik ke punggung kudanya dan langsung memberi aba2 pada si Coklat Susu.
Airin pun segera melakukan hal yang sama, dan mereka kini berada di atas punggung kuda yang saling berkejaran.
Setelah sampai di samping Siswoaji yang sedang memberi pengarahan pada dua penunggang kuda yang masih usia remaja, keduanya segera melompat dari punggung kuda mereka yang sudah berhenti.
"Nah diingat, ya, harus ada kesepakatan antara penunggang kuda dengan kudanya. Jangan lengah dan karena untuk menghasilkan yang terbaik harus sang joki atau penunggang memahami karakter kudanya, hingga dengan demikian akan tercipta harmoni antara penunggang dengan kuda yang berlari. Artinya secara tak langsung ada kesepakatan antar kuda dan tuannya, kalau tidak maka apa mau kita berlaunan dengan keinginan kuda, paham sampai di sini?"
Kedua remaja yang fokus pada keterangan pelatihnya itu, mengangguk.
"Baiklah. ayo silahkan kalian melanjutkan latihannya ..."
"Baik, Om .." ujar salah satu remaja itu lalu menaiki punggung kudanya diikuti remaja satunya lagi.
Setelah kedua remaja itu saling berlomba lari dengan kudanya, barulah Siswoaji menoleh pada Airin dan Rayi.
"Airin ..."
"Ya, Pak,"
"Selamat ya kamu mendapat tugas untuk berpacu di event balap kuda sejabotabek bersama Rayi," ujar Siswoaji yang sudah menggembleng Airin empat tahun dan melihat kemajuan demi kemajuan gadis itu saat menunggang kuda, dan mengendalikan lari kuda, sampai pada bujuk membujuk kuda tunggangannya semua sangat bagus. Yang dimaksud bujuk membujuk kuda, adalah pengertian pada kuda, serta kerjasama yang kompak.
"Oh serius, Pak ...?" Terkejut juga Airin mendengar pelatih telah memilih dirinya dalam pertandingan balap kuda.
"Oh ya tentu serius, makanya mulai hari ini adakan latihan latihan rutin," ujar Siswoaji pada gadis yang kedua bola matanya berbinar, "Perbanyak latihan jumping ya,"
"Siap, Pak," ujar Airin yang memang sudah mempelajari menunggang kuda dengan berbagai rintangan supaya kudanya pandai melompati rintangan. Baik rintangan berupa melompati pagar, atau parit buatan. Selama kosentrasi penuh maka akan menciptakan penunggang memiliki kesepakatan ritme dengan kuda yang diberi tugas melakukan lompatan.
"Jaga keseimbangan, dan ciptakan suasana indah supaya bisa menghasilkan keseimbangan pada kuda. Ini tugas joki harus pandai membawa suasana nyaman dan berani serta tangkas pada kuda, dan jangan lupa kangan sampai membuat kuda kehilangan energi sebelum melakukan loncatan yang diperlukan.
"Baik, Pak," angguk Airin yang sudah menguasai rintangan jembatan setinggi setengah meter serta jembatan yang sengaja dibuat oleh tim di club memiliki panjang lima meter dengan lebar tiga perempat meter. Kudanya berhasil tidak menyentuh pagar kanan kiri jembatan.
"Nah hari ini kalian akan melakukan gaya kuda melompati pagar dan dilanjutkan dengan melalui jembatan yang setengah memutar ..." lalu Siswoaji menunjukkan jembatan yang dimaksud lewat tab di tangannya.
"Ya ..." angguk Airin.
"Siap dan berani?"
"Siap mencoba," angguk Airin.
"Tim pekerja bagian art sudah selesai mengerjakan jembatan itu." Siswoaji menunjuk pada bagian yang ditutupi terpal.
Airin melayangkan pandangannya pada beberapa orang pekerja yang melepaskan terpal penutup.
Maka tampaklah jembatan kayu sepanjang sepuluh meter yang membentuk setengah lingkaran.
Airin menoleh pada Rayi, "Kakak pernah mengalaminya, Kak?"
Rayi menggeleng "Ayo kita mulai mencoba dengan awalan hati-hati mengendalikan kuda kita," ujar Rayi yang memang baru kali ini akan mencoba rintangan yang demikian. Biasanya jenis lompat pagar bukan hanya satu pagar, namun ada tiga pagar uang harud dilompati secara beruntun oleh kudanya. Lalu jembatan yang lurus dimana kuda harus berhasil berlari di atasnya tanpa menyentuh kanan kiri pembatas jembatan.
Pelatih meminta dibuatkan jembatan setengah melingkar untuk berjaga-jaga jika nanti terdapat rintangan demikian kuda sudah mengenal jenis demikian.
"Kemungkinan yang tak terduga sering terjadi di jenis Jump Racing ini. Kuda tiba-tiba sulit dikendalikan karena aneka rintangan. Maka kita harus memupuknya dari sekarang dengan mengajak kerja sama dengan kuda kalian,"
"Siap ..." ujar Rayi walau jabatannya ketua sekaligus pemilik club, tapi saat ini sebagai penunggang kuda yang akan memperjuangkan nama club, tetap harus patuh dan mengikuti arahan pelatih.
"Siap, Pak" ujar Airin .
Baik Airin mau pun Rayi harus mengadakan pengenalan terlebih dahulu pada kuda mereka dengan mengintruksikan serta membujuk kuda yang mereka tunggangi menaiki jembatan secad perlahan terlebih dahulu. Dan itu dilakukan berulang kali, sehingga kuda mereka dapat mengenali medan yang setengah memutar itu.
Setelah melakukan pengenalan kuda mereka beberapa kali melewati jembatan, maka mereka memberi kesempatan kuda masing-masing untuk istirahat.
"Sebaiknya hari ini jangan meminta mereka untuk berlari kencang melewati jembatan. Biar mereka lebih mengenal medan dulu " ujar Rayi sambil memandang pada dua kuda yang tengah beristirahat untuk dilanjutkan tiga puluh menit lagi.
"Setuju Kak," angguk Airin yang tak kalah telatennya pada kuda Silvernya dari cara Rayi memperlakukan lembut si coklat susu kuda yang telah memberinya kemenangan beberapa kali, saat memperkenalkan gaya rintangan jembatan berbentuk setengah putaran.
Saat istirahat Didit mendekati Rayi.
"Hai Kak," seru Rayi pada Didit.
"Wah aku kagum pada caramu membujuk kuda untuk mengenal jembatan setengah lingkaran," ujar Didit yang menunda latihan berkudanya tadi untuk menyaksikan Rayi membimbing dan mengarahkan kuda yang ditunggangi gadis itu meniti jembatan.
"Ya begitulah harus memperlakukan kuda kita sesekali seperti adik kecil yang butuh dimanja dan, lalu adakalanya memperlakukan bagai sahabat untuk sharing ..." Rayi tertawa kecil.
"Ya ... Ya ... Ya ... " angguk Didit, "Tak heran kamu bisa membuat kuda milikmu itu memberikan kerjasama yang apik saat lomba," ujar Didit yang sudah melihat rekaman di youtube saat Rayi mengikuti dua kali lomba antar club yang memenangkan juara pertama.
*
Rio tak tega menolak ajakan Aruna untuk makan malam bersama dan sekaligus menyusuri malam di Tokyo. Menurutnya bersama Aruna bisa juga mengenang masa.di sekolah dulu.
Namun bagi Aruna adalah hal yang sangat luar biasa bisa bersama lelaki yang akan diselidiki apa masih single atau baru putus dengan pacarnya.
Tentu saja harapannya Rio sedang kosong alias tak punya calon. Untuk itu dia akan berusaha secara perlahan masuk di kehidupannya.
Dan saat mereka menyeberangi jalan Rio meraih tangan Aruna dengan maksud untuk memberikan perlindungan pada gadis itu.
Namun genggaman tangan Rio dirasa Aruna sangatlah mengesankan dan membuat dadanya berdesir.
Di sebuah bangku mereka duduk bersisian diantara orang yang berlalu lalang.
"Ah sungguh tak menyangka aku bertemu teman masa remaja di sini," ujar Rio menatap Aruna.
Aruna tersenyum, "Aku juga sangat merasa luar biasa bahagia dengan kita di sini bisa bersama," ujarnya dengan bola mata berbinar.
Rio tertawa.
Aruna tersenyum. Duh Rio melihatmu tertawa dan menyukai pertemuan kita, kok aku bahagia sekali, ya bisik hatinya, enggan melepas tatapannya dari mantan cinta pertamanya yang tak tercapai itu.
Handphone Rio bergetar. Segera dia melihat ada pesan dari siapa.
Ternyata dari Didit.
(Kakak kamu lagi ngapain)
Rio tersenyum lalu membalas pesan Didit.
(Lagi santai di luar hotel)
Datang balasan dari Didit.
(Jangan bilang dapat kenalan cewek dari Hirosima atau Nagasaki)
Membaca pesan Didit membuat Rio senyum-senyum.
(Justru aku bertemu cewek blaster Jakarta Tokyo)
Lalu pesan dikirim.
Lalu datang pesan menggoda dari Didit.
(Wah Kakak lagi kencan ya, yaudah deh aku gak mau ganggu bye ...)
Rio memasukkan kembali handphonenya ke saku celana panjangnya.
Sepanjang Rio berbalas pesan yang diiringi senyum itu tak lepas dari perhatian Aruna, dan tak urung membuat jantung Aruna berpacu karena curiga Rio mendapat pesan dari seorang gadis.
Bersambung
Apa dia lagi chating dengan pacarnya?
suka banget alurnya