"Bagi orang lain, pernikahan adalah ibadah. Bagi Dira dan Bagas, pernikahan adalah kompetisi bertahan hidup dari kebodohan masing-masing."
Dira tidak pernah menyangka jodohnya adalah laki-laki yang dia temui di IGD dalam kondisi kepala kejepit pagar rumah tetangga. Di sisi lain, Bagas jatuh cinta pada Dira hanya karena Dira adalah satu-satunya orang yang tidak menertawakannya saat melihatnya(padahal Dira cuma lagi sibuk nyelametin nyawa karena keselek biji kedondong).
Kini, mereka resmi menikah. Jangan harap romansa ala drakor. Panggilan sayang mereka adalah "NDORO" dan "TAPIR" .
Ikuti keseharian pasangan paling absurd abad ini yang mencoba terlihat normal di depan tetangga, meski sebenarnya otak mereka sudah pindah ke dengkul.
"Karena menikah itu berat, biar kami aja yang gila."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Tantangan Zen dan Diplomasi Sandal Jepit
Pagi itu, rumah terasa sangat hening. Tidak ada suara Bagas yang teriak karena kaus kakinya hilang, tidak ada suara Dira yang ngomel karena Bagas naruh handuk basah di atas kasur. Kenapa? Karena semalam mereka sepakat melakukan taruhan "24 Jam Tanpa Emosi".
Syaratnya simpel: Siapa yang pertama kali teriak, ngomel, atau melempar sandal jepit, dia kalah. Hukumannya? Menjadi pelayan pribadi Supra selama seminggu penuh, termasuk membersihkan kotak pasir tanpa masker.
"Selamat pagi, Suamiku yang sangat kreatif," sapa Dira dengan senyum yang dipaksakan sampai pipinya pegal. Suaranya lembut sekali, mirip operator bank yang lagi nawarin kartu kredit.
Bagas yang baru keluar kamar dengan rambut acak-acakan, menoleh. Dia hampir saja mau teriak kaget liat wajah Dira yang penuh masker putih, tapi dia ingat taruhan itu. Bagas menarik napas dalam-dalam, lalu membalas dengan suara yang dikalibrasi jadi super tenang ala biksu di puncak gunung.
"Selamat pagi juga, Istriku yang bagaikan embun di padang pasir. Apakah hari ini kita akan menikmati sarapan dengan penuh kedamaian?"
Mereka berdua duduk di meja makan. Bagas menyajikan roti bakar. Pas Dira mau makan, dia baru sadar kalau rotinya bukan gosong lagi, tapi sudah menjadi karbon aktif. Hitam legam.
Dira menatap roti itu, lalu menatap Bagas. Urat di dahinya mulai berdenyut. "Sabar, Dira. Sabar. Ingat kotak pasir Supra... ingat baunya...."
"Wah, roti ini sangat... eksotis ya, Pir? Warnanya melambangkan kedalaman jiwa yang gelap," ujar Dira dengan suara yang gemetar menahan emosi.
"Betul, Ndoro. Ini mengandung banyak serat... kayu," sahut Bagas santai.
Ujian kedua datang saat Bagas hendak berangkat kerja. Dia tidak sengaja menyenggol vas bunga kesayangan Dira (yang sebenarnya hadiah dari Aris si Mantan Sempurna, makanya Bagas agak sengaja).
PRANG!
Vas itu hancur berkeping-keping. Dira berdiri mematung. Matanya melotot. Tangannya sudah meraih sandal jepit di dekat pintu. Tapi Bagas langsung memasang wajah "Zen".
"Aduh, vas nya memilih untuk kembali ke tanah. Sungguh sebuah siklus alam yang indah, bukan, Ndoro?" ujar Bagas sambil tersenyum tulus (yang sebenarnya sangat menyebalkan).
Dira menarik napas dalam-dalam sampai dadanya sesak. "Iya, Pir. Sangat indah. Seindah bayangan gue saat lo tidur di luar nanti malam... dengan penuh kedamaian."
Sore harinya, tensi makin panas. Bagas pulang kantor dengan membawa "oleh-oleh" baru. Bagas membawa sebuah drum plastik besar.
"Ini apa lagi, Bagas?!" Dira hampir saja berteriak, tapi dia langsung menurunkan nadanya menjadi bisikan horor. "Maksud saya, Suamiku tercinta, benda bulat besar ini untuk apa?"
"Ini adalah bak mandi air panas buatan, Ndoro. Gue mau kita spa di ruang tamu sambil nonton berita," jawab Bagas sambil mulai mengisi drum itu dengan air selang.
Masalahnya, drum itu bocor. Air mulai menggenangi lantai ruang tamu yang baru saja dipel Dira. Supra mulai berenang-renang panik di atas keset.
Dira melihat air mendekati kabel stop kontak. Ini bukan soal taruhan lagi, ini soal keselamatan nyawa. Tapi Dira masih tidak mau kalah. Dira malah mengambil payung, membukanya di tengah ruang tamu, lalu duduk di atas meja.
"Wah, Pir. Rumah kita sekarang punya fitur waterpark ya? Kreatif sekali," ujar Dira dengan mata yang sudah berkaca-kaca menahan ledakan amarah.
Bagas mulai panik karena airnya makin banyak.
"Ndoro, lo nggak marah? Ini lantai kayu loh, ntar melengkung!"
"Kenapa harus marah? Hidup ini cuma mampir minum, dan sekarang kita punya air minum yang meluap-luap di lantai," sahut Dira tenang, tapi tangannya sudah memegang sapu lidi dengan kencang.
Bagas akhirnya tidak tahan. Dia yang justru frustasi melihat Dira yang jadi "terlalu suci" dan tidak mau marah. Bagas butuh omelan Dira agar dirinya merasa hidupnya normal kembali.
"OKE GUE MENYERAH!" teriak Bagas akhirnya.
"DIR! MARAH DONG! GUE NGGAK KUAT LIAT LO SENYUM KAYAK GITU! LO KELIHATAN KAYAK PSIKOPAT DI FILM THRILLER!"
Dira langsung melompat dari meja, sapu lidinya langsung melayang ke arah bokong Bagas.
"AKHIRNYA! BAGAS TAPIRRRRRR! LO TAU NGGAK HARGA VAS ITU BERAPA?! TERUS INI LANTAI GIMANA?! LO PIKIR GUE DUYUNG APA?!"
Bagas berlari keliling ruang tamu sambil dikejar Dira dan Supra. "ADUH! AMPUN NDORO! GUE KALAH! GUE BAKAL BERSIHIN PASIR SUPRA SEMINGGU! TAPI TOLONG BERHENTI SENYUM KAYAK TADI, GUE SEREM!"
Taruhan berakhir dengan kemenangan Dira, meski rumah mereka sekarang lebih mirip rawa-rawa daripada rumah normal. Bagas resmi menjadi pelayan Supra, dan Supra tampak sangat menikmati kekuasaan barunya dengan meminta makan setiap sepuluh menit.
Dira duduk di sofa yang basah, mengatur napasnya. "Pir, jangan pernah lagi ngajak gue taruhan jadi orang sabar. Ternyata marah itu adalah bumbu penyedap dalam hidup kita."
"Setuju, Ndoro. Rumah ini kalau nggak ada suara teriakan lo, rasanya kayak sayur tanpa garem. Hambar," sahut Bagas sambil mengepel lantai dengan daster lama Dira (lagi).
Tapi, ketenangan mereka terusik saat sebuah paket misterius datang ke depan pintu. Paket itu tidak ada nama pengirimnya, isinya cuma satu:
Biji Kedondong yang sudah kering dan diberi bingkai emas.
"Siapa yang ngirim ginian, Pir?" tanya Dira heran.
Bagas menatap bingkai itu dengan serius. "Gue rasa... ini adalah awal dari sebuah misteri besar, Ndoro. Atau mungkin... ada orang yang mau beli hak paten kisah pertemuan kita?"
apalagi bagas ada aja ide kreatif nya, dan bisa merubah segala macam situasi 😃
dsini dira yang masih waras meski idenya bikin geleng kepala pas suruh lawan pelakor 🤣
up terus kaka semangat 🤗🤗
semangat up kaka🤗
dan suka karakter bagas yang ga menye menye😃
idenya kreatif kak, bisa bikin cerita lucu dngan berbagai ide yang unik 🤗
suka karakter manda yang super mistis, 🤣🤣🤣
yang pasti bnyak ketawa nya
menarik banget
ketawa terus pas setiap baca perbab
semangat up iya kaka🤗
semoga makin asyik kedepannya 👍