NovelToon NovelToon
V.I.P (KILL YOU)

V.I.P (KILL YOU)

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horror Thriller-Horror / Mata-mata/Agen / TKP / Psikopat itu cintaku / Agen Wanita
Popularitas:9.3k
Nilai: 5
Nama Author: Dae_Hwa

“Siapa pun yang masuk ke pulau ini ... tak akan pernah keluar dengan selamat.”

Pulau Darasila diduga menjadi markas penelitian bioteknologi terlarang. Bella, agen BIN yang menyamar sebagai dosen KKN, ditugaskan menyelidikinya. Namun sejak kedatangannya, Bella menemukan tanda-tanda ganjil bermunculan. Beberapa kali ia mendapati penduduk pulau memiliki tatto misterius yang sama persis dengan milik Edwin, suaminya. la pun mulai menduga-duga, mungkinkah sosok sang suami yang dulunya memiliki masa lalu kelam, kembali melakukan kesalahan dan turut terlibat dengan hal yang akan diselidikinya?

Misi Bella yang awalnya hanya soal penyelidikan, kini berubah menjadi perjuangan bertahan hidup. Karena siapa pun yang masuk ke Pulau Darasila tak akan pernah bisa keluar dengan selamat kecuali dengan satu syarat. Akankah Bella mampu menuntaskan misinya dan keluar hidup-hidup?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dae_Hwa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

VIP13

Flashback.

Pada tahun 1991, perekonomian Indonesia tampak bergerak stabil di bawah pemerintahan Orde Baru, dengan pertumbuhan berkisar 6–7 persen per tahun. Industri manufaktur mulai menggeliat, ekspor nonmigas meningkat, dan investasi asing mengalir masuk berkat kebijakan deregulasi yang agresif.

Di atas kertas, angka-angka itu menjanjikan kemakmuran dan keberhasilan pembangunan nasional. Namun, denyut pertumbuhan tersebut tidak pernah dirasakan merata. Pulau-pulau yang tak memiliki sumber daya alam untuk dikeruk, alias tak menjanjikan keuntungan cepat—perlahan terpinggirkan dari peta perhatian negara. Infrastruktur minim, lapangan kerja nyaris tak ada, dan penduduknya hidup dalam stagnasi (tidak mengalami kemajuan dalam waktu lama).

Darasila adalah salah satunya. Pulau yang terabaikan, luput dari gemerlap pembangunan, dan justru menjadi rahim bagi kemarahan, luka, serta kisah kelam yang kelak membentuk jalan hidup Andika — seorang bocah yatim piatu berusia delapan tahun, yang hidupnya hancur di tangan kebiadaban para petinggi bejat.

Kala itu, negara sedang sibuk merayakan pertumbuhan. Rombongan pejabat daerah merapat ke pulau itu. Seorang bupati turun dari kapal, disusul beberapa staf dan dua wartawan yang tak lepas dari kamera dan buku catatan.

“Pak Bupati, apa tujuan Anda berkunjung ke pulau ini?” tanya seorang wartawan sambil mendekatkan mikrofon.

Sang bupati tersenyum lebar, “Kami ingin memastikan tidak ada satu pun anak Indonesia yang tertinggal,” ujarnya mantap. “Pemerintah daerah berkomitmen memberi masa depan yang lebih layak bagi mereka.”

“Awak media mendengar informasi, katanya anak-anak terlantar di pulau ini akan dibawa ke yayasan. Apa benar demikian?” sambung wartawan lain.

“Betul,” jawab sang Bupati tanpa ragu. “Mereka akan kami titipkan di lembaga yang memiliki fasilitas memadai. Pendidikan, pembinaan karakter, semuanya demi masa depan mereka.”

Sang Bupati menoleh ke salah satu staf pria, memberi kode singkat dengan anggukan kecil. Staf tersebut pun mengerti makna anggukan tersebut dan mulai mendata anak-anak terlantar di Pulau Darasila.

Mereka dikumpulkan, difoto. Andika termasuk di antaranya. Ia diberi tahu akan dibawa keluar pulau, ke sebuah yayasan di kota. Tempat yang katanya aman. Tempat anak-anak seperti dirinya bisa “punya masa depan”.

“Kapan program ini mulai berjalan?” salah satu wartawan kembali bertanya, kamera bergeser — menyorot sang Bupati.

“Mulai sekarang,” sahutnya cepat, menatap kamera dengan senyuman manis. “Ini langkah kecil, tapi penting. Bukti bahwa negara hadir, untuk merangkul semua rakyat.”

Begitulah para penjabat menebar janji manis demi pencitraan. Faktanya, anak-anak itu tak pernah sampai di yayasan.

Mereka dibawa ke negara lain menggunakan kontainer kargo, disamarkan sebagai muatan barang pelabuhan.

“Aku haus ....” rengek seorang anak perempuan di sudut gelap.

“Aku juga,” sahut yang lain. “Tapi pintunya nggak kebuka.”

“Kita sebenernya mau dibawa ke mana, ya?” tanya seorang bocah dengan nada ragu. “Katanya ke yayasan. Yayasan itu kayak rumah baru, kan?”

“Kalau rumah baru, kenapa tempat ini gelap?” celetuk yang lain pelan. “Dan kenapa kita dikunci?”

Seorang anak kecil memeluk lututnya erat-erat. “Apa ... apa kita dibuang karena tadi aku makan banyak?” suaranya bergetar. “Huwaaaa ... aku janji nanti nggak akan makan banyak lagi.”

Tangisan dari salah satu bocah pun meledak, dan disusul yang lainnya.

“Kalau kita dibuang ...,” isak yang lain. “Berarti aku nggak bisa ke makam ibu sama bapak lagi?”

Suara tangisan kembali bersahut-sahutan, lalu perlahan berubah menjadi isak pelan. Satu per satu anak-anak itu terlelap karena kelelahan, meringkuk di sudut-sudut kontainer yang pengap dan gelap — sampai hari berganti minggu.

Pintu besi akhirnya terbuka ketika kapal merapat di sebuah pelabuhan tikus di pesisir Filipina. Anak-anak dikeluarkan dalam keadaan lemas. Bahkan, dua di antara mereka sudah terbujur kaku di dalam kontainer beraroma tinja dan pesing.

“Rohman ... Rohim ...,” lirih Andika, menatap tubuh si kembar—teman bermainnya sehari-hari, yang kini tak lagi bernyawa.

Air matanya merembes ketika dua jasad itu diseret menjauh, diperlakukan seperti muatan busuk yang tak lagi bernilai. Mayat-mayat itu dimasukkan ke dalam tong besi berkarat, diisi pemberat dan ditutup rapat, kemudian ditenggelamkan ke dalam laut.

Hari itu, di usia yang seharusnya masih sibuk bermain dan tertawa riang, Andika sudah harus berkenalan dengan sesuatu yang jauh lebih kejam, yakni dendam.

Dendam pada pejabat bejat yang wajahnya masih ia ingat, dendam pada negeri yang membuat masa kecilnya rusak dan cacat. Di hadapan laut yang menelan teman-temannya, Andika berjanji dalam diam—jika suatu hari ia kembali menginjak negeri itu, ia akan datang membawa kehancuran.

Di Filipina, kehidupan Andika tentu saja mengenaskan. Tubuhnya diperdagangkan pada kaum pedofil, hampir setiap malam bocah kecil itu merasakan ngilu nya di rudapaksa. Sampai akhirnya, ketika ia tak lagi bisa memberikan sensasi nikmat karena anussnya rusak parah — berakhir ia pun dibuang ke lorong gelap.

“Ibu ... Bapak ... huuuuuuu ....” Ia mengenang kedua orang tuanya yang telah tiada sambil berusaha bangkit.

Dengan sisa tenaga, Andika melangkah terseok-seok menyusuri jalan gelap. Ia berpegangan pada dinding agar tak roboh. Ia sempat menghembus napas lega ketika melihat sedikit cahaya di kejauhan. Sampai akhirnya, langkah kakinya mendadak terhenti. Wajahnya tegang.

Di balik tumpukan bak sampah, Andika melihat seorang pria dewasa berdiri membungkuk di atas tubuh lain. Tangannya berlumur darah, menggenggam sesuatu yang masih berdenyut—jantung manusia.

Andika menahan napas, ia segera berbalik badan dan berniat kabur dari lorong sempit itu. Namun langkahnya membeku ketika suara dingin itu menyusul—

“Berhenti di situ.”

Pria itu dengan tenang memasukkan jantung ke dalam wadah steril, menutupnya rapat, seolah baru saja menyimpan barang biasa. Lalu ia melangkah mendekat. Tatapannya menelisik wajah Andika.

“T-tolong jangan bunuh saya, Om.”

“Ah ....” Bibir pria itu melengkung samar. “Ternyata benar dugaanku, kita berasal dari negara yang sama.”

Pria itu berjongkok di hadapan Andika sehingga tinggi mereka setara. Ia memperhatikan darah kering yang mengalir dari anuss hingga ke betis.

“Kau terluka rupanya,” ucapnya sambil menyeringai tipis. “Om ini seorang dokter. Om bisa mengobati mu.”

Tubuh Andika semakin bergetar. Ia mundur setengah langkah, sengaja memberi jarak.

“Kau tak perlu takut,” lanjut pria berkulit pucat itu tenang, seolah sedang menenangkan pasien. “Om juga punya seorang putra. Usianya hanya beberapa tahun lebih tua darimu.”

Dokter muda itu mengeluarkan jarum suntik dari sakunya. “Siapa namamu?”

Ia memijat sekejap area intravena, mengarahkan benda runcingnya di kulit Andika.

“Tatap mataku,” perintahnya membuat Andika tergagap. “Siapa namamu?”

“A-andika.”

Pria itu mengangguk pelan, senyumnya melebar. “Ok, Andika. Karena aku bukanlah orang yang suka berbaik hati apalagi bermurah hati—maka hari ini kau boleh menganggap dirimu beruntung. Aku akan menyembuhkan mu. Anggap saja, aku malaikat yang turun ke bumi.”

Cairan bius itu disuntikan hingga habis.

“Kau bisa memanggilku ... Om Dirham.”

*

*

*

1
Sriwahyuu
cepat sembuh author kesayangan kami😍
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
amiinnnn
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
jadi sedih otor. semoga ga ada yang bahaya yah. cepat sembuh dan pulih.
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
belum taaauuuuu dia
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
izzz jabir kalilah kau babang.
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
dasar si babang, masih aja nakal
Anna
Cepet pulih mentor terbaikk kuhhhh, mau selama apapun Anda hiastus. Saya akan tetap setia menunggu 🫶
Anna
Dinda heyyyy tolong. Bahkan Mas Edwin saja di bikin semapot tanpa menyentuh ama Mbak Bella. 🤣
Anna
Definisi peduli tapi gengsi🫢🤣
jay naomi
semoga cepat sembuh semangat othor q.
Wenty Lucia Wardhani
cepat sehat author kesayangan....🥰🥰🥰
youyouen Rahayu
syafakillah kak semg ALLAH mengangkat segala penyakit kak author,diberikan kesehatan seperti semua dn bisa berkarya lagi,love you kak author semngtt sellu yaaa akn ku nanti setiap upnya,dengan sesabar mungkn,maaf ya kak author kalau aku sellu mengintip trs🙈🙈 di cerita ini.
𝙺𝚒𝚔𝚢𝚘𝚒𝚌𝚑𝚒
😂😂
CallmeArin
semoga segera di angkat penyakitnya Thor 🤲🏻
Sayuri
aamiin ya Allah 🥺
Sayuri
y Allah kget q :(
k dehwa lekas sembuh 😩
Sayuri
kmu blm tw ja bu bella gmn din.. klo tau, bs trcngang
Sayuri
yg hcker kpal selam itu y tor?
Sayuri
/Joyful/
Sayuri
ber berbagi apa papa ed?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!