NovelToon NovelToon
Buku Harian Sang Antagonis

Buku Harian Sang Antagonis

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:469
Nilai: 5
Nama Author: Wirabumi

Jaka Utama adalah seorang "Antagonis" profesional. Tugasnya sederhana: menjadi tunangan jahat yang menyebalkan, dipermalukan oleh sang pahlawan, lalu mati secara tragis agar cerita berakhir bahagia. Namun, di reinkarnasinya yang ke-99, sebuah kesalahan fatal terjadi. Kalimat puitis yang ia ucapkan saat sekarat justru membuat sang Heroine (pahlawan wanita) jatuh hati padanya, membantai sang jagoan utama, dan merusak seluruh alur dunia!
​Kini, Jaka terbangun kembali di Joglo miliknya untuk kesempatan ke-100—kesempatan terakhirnya. Kali ini, ia dibekali sebuah sistem baru: Buku Harian Ajaib. Cukup dengan menuliskan keluh kesah dan rencana jahatnya setiap hari, ia akan mendapatkan kekuatan luar biasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wirabumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

Asisten berbaju biru itu membungkuk hormat kepada Langgeng Sakti.

“Salam, Den Langgeng.”

“Nama saya Siti, saya adalah pengelola harian di Gedung Kelam.”

“Nyai pemilik gedung mengundang Anda naik ke lantai tujuh, silakan ikuti saya.”

Nyai pemilik gedung mengundangku ke lantai tujuh? Kenapa?

Langgeng Sakti sempat terpaku sejenak. Dia pernah mendengar desas-desus bahwa tidak sembarang orang bisa menginjakkan kaki di lantai tujuh yang sakral itu.

“Baiklah.”

Meskipun bingung, Langgeng tetap berdiri dan mengikuti langkah Siti.

Melihat hal ini, semua orang di aula utama menunjukkan ekspresi takjub. Perlu diketahui bahwa pemilik Gedung Kelam, Nyai Ratih, adalah salah satu dari tiga kembang desa tercantik di Kota Merapi. Kabarnya, tingkat kesaktian Nyai Ratih setara dengan penguasa terkuat di kota ini, yaitu Bupati Surya, yang berada di tingkat 'Penyatuan Asal'!

Sejauh ini, satu-satunya orang yang pernah diundang naik ke lantai paling atas hanyalah Bapak Bupati sendiri, itu pun setelah melakukan lobi yang sangat melelahkan. Lantas, siapakah anak muda ini? Bagaimana bisa dia mendapatkan undangan istimewa dari Nyai Ratih?

Semua orang memperhatikan Langgeng Sakti lebih teliti. Wajahnya memang tampan, tapi pakaiannya agak sederhana. Dia memakai kain hitam biasa yang harganya murah, dan cincin akiknya pun terlihat berkualitas rendah. Menilik dari aura tenaga dalam yang terpancar, dia hanya berada di tingkat 'Pengumpul Tenaga Dalam'.

Dilihat dari sisi mana pun, dia tidak terlihat seperti putra bangsawan atau murid padepokan besar. Hampir tidak ada yang percaya dia benar-benar diundang oleh sang Nyai.

Tiba-tiba, seorang pria berotot dengan kumis tebal berdiri menghalangi jalan Langgeng.

“Bocah, kenapa Nyai mengundangmu ke lantai tujuh?” tanya si kumis tebal dengan nada menyelidik.

Langgeng Sakti tidak menjawab, hanya menatap pria itu dengan wajah datar. Si kumis tebal pun semakin meremehkannya.

“Heh! Aku lihat kesaktianmu masih mentok di tingkat 'Pengumpul Tenaga Dalam'. Apa hebatnya kamu selain cuma punya wajah mulus, hah?!”

Tatapan Langgeng seketika mendingin. Dia paling benci orang yang sombong dan memandang rendah orang lain. “Apa urusanmu!” jawabnya dingin.

Si kumis tebal mencibir, “Cih, aku cuma tidak suka melihat mukamu.”

Langgeng menyipitkan mata, “Terus?”

Pria itu mengorek telinganya dengan ibu jari, lalu berkata dengan jijik. “Jangan bilang aku menindas anak kecil. Kita sama-sama di tingkat 'Pengumpul Tenaga Dalam'. Kalau kamu bisa mengalahkanku, aku biarkan kamu naik. Kalau tidak, kamu harus merangkak keluar dari gedung ini lewat kolong selangkanganku!”

Tawa pecah di seluruh aula mendengar tantangan itu. Langgeng Sakti juga tertawa, namun tawa penuh amarah. “Heh, alasannya? Kenapa aku harus meladenimu?”

Pria berotot itu mendengus tidak sabar, “Banyak omong kamu, cerewet seperti emak-emak!”

Sambil bicara, dia diam-diam mendekat dan menjentikkan kotoran telinganya yang kuning kehitaman dari jempolnya ke arah Langgeng. Langgeng menghindar dengan kaget. Gumpalan kotoran itu melesat melewati ujung hidungnya dan masuk ke mulut seorang pemuda yang sedang menonton di kerumunan.

Hueekk!!!

Pemuda yang apes itu langsung pingsan sambil mulutnya berbusa. Kerumunan orang langsung menutupi hidung dan mundur teratur.

Langgeng Sakti seketika murka. “Cari mati kamu!”

Dia meledakkan tenaga dalamnya dan melesat ke depan pria berkumis itu. Dalam sekejap, sebuah pukulan keras mendarat telak di wajah pria itu. Si kumis tebal terpental terbang tanpa sempat menangkis. Setelah menghantam tiang penyangga kayu jati dan mendarat di lantai dengan bunyi Bugh, matanya berputar ke atas dan dia pingsan seketika.

“Cuih, cuma besar mulut saja!”

Langgeng menarik kembali kepalan tangannya dan meludahi wajah pria pingsan itu. Ludah itu melesat tepat ke bibir hitam si kumis tebal.

Hanya satu gerakan... suasana di aula berubah seketika. Semua mata menatap Langgeng dengan hormat sekaligus ngeri. Meskipun sama-sama di tingkat 'Pengumpul Tenaga Dalam', Langgeng bisa menang dalam sekejap! Bahkan beberapa pendekar tingkat dua 'Lautan Qi' merasakan tekanan dari kekuatan pukulan Langgeng barusan.

Baru saat itulah seseorang mengenali sosoknya.

“Aku tahu! Dia Langgeng Sakti!”

“Hah? Langgeng Sakti?”

Aula itu mendadak gaduh dengan bisik-bisik.

“Ooh, ini pria yang bikin geger pesta ulang tahun Nona Ratna tadi malam?”

“Yang mengalahkan Gusti Jaka sampai muntah darah dan pingsan?”

“Pantas saja Nyai pemilik gedung mengundangnya!”

“Anak muda ini benar-benar luar biasa!”

Siti, sang asisten, juga tampak terkejut. Dia tahu berita tentang Langgeng dari desas-desus tadi malam, tapi melihat kekuatannya secara langsung hari ini benar-benar membuatnya terpana. Pantas saja Nyai ingin bertemu dengannya secara pribadi.

Sepertinya Nyai sudah tahu bakat terpendamnya, pikir Siti sambil menatap punggung Langgeng dengan rasa ingin tahu yang besar.

Langgeng Sakti berbalik dengan gaya pendekar gagah ke arah Siti. “Mbak Siti, mari kita ke lantai tujuh. Silakan pimpin jalannya.”

Setelah bicara, dia memberikan senyum nakal yang menawan. Jantung Siti seketika berdegup kencang. Tatapan percaya diri dan aura gagah itu membuat wajahnya terasa panas dan pusing. Siti tidak bisa menahan rona merah di pipinya.

“Den... Den Langgeng, mari... mari silakan ikuti saya...” jawab Siti dengan suara gugup.

Mereka pun naik ke lantai tujuh. Di lantai paling atas ini, hanya ada satu ruangan luas: kediaman pribadi Nyai Ratih. Siti membukakan pintu untuk Langgeng, lalu menutupnya kembali. Sebelum pintu benar-benar rapat, Siti sempat mencuri pandang ke arah punggung Langgeng dengan wajah yang masih memerah.

Ruangan itu sangat luas, elegan, dan dipenuhi aroma semerbak kembang melati dan mawar. Langgeng berdiri tegak, matanya menatap tajam ke sekeliling. Dia yakin sang Nyai sedang mengawasinya. Jadi, dia harus terlihat sekeren mungkin.

Di depannya terdapat sebuah penyekat (screen) kayu ukir yang indah. Di balik penyekat itu, uap panas mengepul tebal, aroma bunga sangat tajam, dan terdengar suara air yang gemericik dibarengi senandung merdu seorang wanita.

Nyai ini sedang mandi?

Hati Langgeng dipenuhi antisipasi. Memanggilku ke sini sendirian di saat sedang mandi... apakah dia sedang mengujiku? Atau menggodaku? Pasti dia sudah menyelidiki kemampuanku dan ingin menjadikanku miliknya!

Sudut mulut Langgeng terangkat penuh percaya diri. Dia melangkah perlahan menuju penyekat itu. Namun, tepat saat dia akan melewatinya, gelombang suara tak kasat mata bergejolak dari balik penyekat.

Bagaikan ribuan jarum kecil, gelombang itu menusuk telinga dan mengoyak otak Langgeng. Dunianya seketika jungkir balik, dipenuhi dengungan yang memekakkan telinga.

“Aaakkhhh...!”

Langgeng memegangi kepalanya, berlutut karena kesakitan yang luar biasa. Wajahnya merah padam dan urat di dahinya menonjol. Dia merasa seolah jiwanya akan dicabut paksa dari tubuhnya!

Beberapa saat kemudian, gelombang suara itu menghilang. Langgeng terkulai lemas di lantai, pakaiannya basah kuyup oleh keringat dingin. Napasnya tersengal-sengal dan kepalanya masih berputar.

“Langgeng Sakti, ya? Bisa menahan 'Ajian Getaran Jiwa'-ku tanpa pingsan... kamu cukup tangguh juga.”

Suara wanita yang dewasa dan merdu terdengar di telinganya. Langgeng mendongak dengan susah payah. Di depannya berdiri sesosok wanita yang baru saja selesai mandi. Kulitnya yang kuning langsat masih menyisakan tetesan air. Dia mengenakan kemben biru panjang dengan jarik sutra yang memperlihatkan lekuk tubuh yang sempurna dan pusar yang eksotis.

Rambutnya disanggul anggun dengan tusuk konde emas kencana. Wajahnya cantik jelita bak dewi, matanya teduh namun penuh misteri, dan senyumannya sangat menawan.

Keanggunannya benar-benar luar biasa.

“Cantik sekali...” gumam Langgeng tak sadar.

Jika Ratna Menur adalah bunga melati yang segar di pagi hari, maka Nyai Ratih adalah bunga mawar yang sedang mekar sempurna di tengah malam. Dia layak disebut sebagai salah satu wanita tercantik di Kota Merapi!

Nyai Ratih melihat Langgeng yang menatapnya dengan bodoh. Dia sedikit terkejut. Inikah yang disebut 'Protagonis' di buku harian itu? Ternyata dia cukup lemah, pikirnya dalam hati.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!