Astra tak pernah mau meneruskan pekerjaan Ibunya. Di bandingkan menjadi dukun, dia ingin hidup normal sebagai gadis pada umumnya.
Demi bisa terlepas dari hal-hal gaib di desa, Astra nekat melanjutkan study nya di kota. Dengan beasiswa yang susah payah dia raih, dia memasuki sekolah terkenal di kota "High School" dari namanya saja sudah keren bukan?
Astra bermimpi untuk belajar seperti siswa pada umumnya, memiliki teman dan bekerja setelah lulus. Namun kenyataan menampar nya, High School tidak sebaik yang di pikir kan.
Kemanapun dia pergi, kabut gelap selalu terlihat di tubuh setiap orang...
Permainan gaib, nyawa dan kekuasaan menjadi mainan bagi mereka. Sisi baiknya, tidak ada satupun orang yang mengetahui hal gaib lebih baik darinya di sekolah ini...
#25Desember2025
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAS( BY.AR), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
"Pocong!!" Seru Jaka membuat teman-teman nya kaget.
"Mana Jak? Mana?" Seru Rijal kaget. Matanya menatap liar ke arah yang Jaka lihat.
"Itu loh, di depan pintu kostan!"
Semuanya menajamkan mata dan benar saja, mereka melihat pocong sedang berdiri di depan pintu. Mata mereka sontak membulat, perasaan merinding menyelimuti tubuh mereka.
Pak Manto juga menajamkan matanya. "Wah, gak bener ini!" Pak Manto mengambil bedog [ Sejenis pisau besar panjang, seperti pedang namun ukuran nya lebih kecil ]
"Heh! Makhluk dari mana kamu! Pergi dari sini, jangan ganggu!" Seru Pak Manto sambil mengacungkan bedog nya ke hadapan Pocong itu.
Makhluk itu tidak berbalik, dia hanya menatap kosong ke depan pintu seolah mengabaikan pak Manto. Namun napas nya terdengar menyeramkan seolah itu adalah geraman kemarahan.
"Setan Bolot! Init sia, init ka tempat sia! Tong ngaganggu nu hirup!" [ Makhluk Bodoh. Pergi sana, pergi ke tempat mu! Jangan mengganggu yang hidup! ]
"Wih, Jak! Pak Manto berani banget ya!" Bisik-bisik anak-anak muda itu.
Fino diam menatap, dia ingat itu adalah kostan Astra. Apa artinya ada yang ingin mencelakai Astra dengan mengirimkan makhluk gaib?
Namun dia tidak perlu khawatir, malah dia yang seharusnya merasa khawatir kepada hantu itu.
Pocong itu seketika berbalik melihat ke arah pak Manto, pemuda-pemudi yang melihat dengan gugup di warung itu berseru terkejut melihat wajah pocong yang menyeramkan, bulu kuduk mereka berdiri.
Wajah pocong itu pucat pasi seperti kain kafan yang membungkusnya, dengan kulit yang tampak basah, membengkak, dan mengelupas di beberapa bagian hingga menampakkan daging kehitaman yang lembek. Rongga matanya kosong dan gelap gulita bagai dua lubang tanpa dasar, mengalirkan cairan hitam kental seperti tar menuruni pipinya yang kembung. Hidungnya nyaris rata dengan wajah, sementara mulutnya yang tanpa bibir menyeringai abadi, memperlihatkan deretan gigi hitam tak beraturan yang menebarkan bau anyir dari campuran tanah kuburan dan daging busuk.
Tanpa aba-aba setan itu melompat dengan cepat dan berhasil mendorong dada pak Manto dengan kedua kakinya yang terbungkus, pak Manto langsung terhuyung ke belakang setelah menerima serangan yang tak terduga itu.
"Astaga Pak!" Pemuda-pemuda di warung itu dengan panik segera menghampiri pak Manto dan membantu pak Manto berdiri.
Fino akan maju menghadap pocong itu, namun suara kunci di buka dari pintu kostan Astra membuat nya mengurungkan niatnya.
Astra keluar dengan wajah muram, dia sedang istirahat setelah belanja perlengkapan kost dan merapikan rumah kostan nya. Dia sangat lelah namun merasakan kekuatan gaib di depan pintu kost nya, dan suara pak Manto yang terluka.
Di tangan nya Astra membawa segenggam garam kasar, melihat pocong itu tanpa rasa takut--- malah lebih ke tatapan kesal.
"Pergi!!" Bentak nya sambil melemparkan segenggam garam kasar itu, hantu itu gemetar mendapatkan bentakan dan kemudian tubuh nya bergetar setelah menerima lemparan garam kasar.
Setelah itu pocong itu tiba-tiba menghilang dan berubah menjadi asap. Para pemuda itu tercengang, pak Manto saja dengan menggunakan pisau besar dan tampang menyeramkan sudah kalah dalam satu gerakan makhluk itu.
Namun Astra, dengan tampang cantik bal dewi dan pakaian tidur Spongebob yang terkesan menggemaskan dan segenggam garam berhasil membuat makhluk itu menghilang bak asap.
"Pak gakpapa pak?" Tanya Jaka.
Pak Manto tak menjawab hanya mengaduh kesakitan.
Astra berjalan masuk ke dalam rumah, mereka mengira Astra gak tahu diri karena seolah tidak peduli dengan pak Manto yang terluka untuk mengusir makhluk di depan kostan nya. Namun ternyata Astra keluar sambil membawa gelas berisi air putih.
"Minum pak, sisain sedikit buat di oles ke dada yang kena serang nya." Ucap Astra nampak perhatian.
"Uhk, makasih Neng." Pak Manto melakukan yang di suruh Astra, Jaka dan teman-teman nya membantu mengoleskan air itu ke dada pak Manto. Mereka bingung, beliau pikir apakah air putih ini salep?
Namun mereka sangat terkejut melihat dada pak Manto yang terlihat biru. Dengan hati-hati mengoleskan air di dada pak Manto.
"Bapak langsung istirahat ya, makasih udah mau bantu saya."
Para pemuda itu merasa telah salah paham kepada Astra, juga merasa terbawa suasana oleh suara tenang dan merdu Astra, tanpa wajah datar dan dingin. Benar-benar hampir membuat mereka terpesona, jika saja Astra tidak kembali ke setelan awal.
"Makasih," ucap Astra kepada para pemuda itu.
Astra masuk ke rumahnya, dan para pemuda itu membantu pak Manto istirahat ke rumah nya dan menutup warung.
Keesokan harinya.
Pagi-pagi sekali sebelum matahari keluar Astra sudah standby di kelas. Duduk seperti biasa seolah tidak terjadi apa-apa, mengabaikan suara hantu gadis yang sekarang berada di belakang nya meminta tolong. Namun setelah mempersiapkan buku dan alat tulis nya di kolong meja, Astra berbalik ke belakang.
"Pagi-pagi gini jangan buat mood gue ancur lo, berisik! Ke depan sini! Ceritain masalah lo."
Wajah hantu gadis itu membeku, namun hanya sebentar karena selanjutnya senyum yang mirip seringai jahat tercetak di bibirnya.
"Ternyata memang benar kamu bisa melihat ku."
Astra menatap hantu gadis itu dengan datar. "Kenapa harus gue? Gue pikir ada banyak orang di kelas ini selain gue yang mampu bantu lo."
Hantu gadis itu mengangguk membenarkan. "Aku sudah meminta bantuan kepada orang-orang yang mampu di kelas ini, namun mereka menolak. Aku tidak bisa memaksa karena mereka di lindungi makhluk lain."
Astra mengangguk, ternyata sesuai yang di pikirkan nya. "Ceritain masalah lo."
Lima menit setelah mendengarkan cerita hantu itu.
Benar seperti dugaan Astra, Clara adalah orang yang terlibat. Namun ternyata ini lebih pelik, karena Clara hanya perantara. Kenyataan nya orang di belakang Clara lah yang membuat Hantu gadis ini meninggal.
"Tolong balaskan dendam ku."
"Gue ngerti, gue bakal bantuin lo. Tapi jangan gangguin gue terus!"
Hantu gadis itu mengangguk, dan kemudian menghilang.
Sepuluh menit kemudian, Astra bersandar di depan pintu. Posisinya ada di dalam kelas, dia menghitung sesuatu dengan tangan nya. Lalu melihat jam. 'bagus'
Perhitungan nya Clara akan datang paling awal pukul 06:10, Astra menunggu selama beberapa detik lagi. Dia mendengar suara langkah mendekat, saat pintu terbuka...
Astra langsung menarik leher orang yang membuka pintu itu, menutup pintu kembali dan memojokkan nya ke dinding.
"A-apa maksud lo! Ukh!" Clara terkejut, dia ingin melepaskan tangan Astra di lehernya. Namun saat ia mencoba melepaskan nya, cekikikan Astra di lehernya makin menguat membuat nya susah napas.
"L-lepas!"
Boncab dong Thor
semangat menjalani harimu
ayo up lagi malam ini.
aku suka banget ceritanya.
bagus
dan semakin bikin aku penasaran akan kelanjutannya.
ayooooooooo up lagiiiiiiiiiiiiiiii
kenapa kok gak ada semangatnya.
semoga author dapet ide-ide bagus buat lanjutin Babnya, biar gak terlalu pendek-pendek amat ceritanya kalo tamat😊🤭🤭🤣🤣🤣🤣
semoga semangat mubgak kendor ya thor. jangan putuskan hubungan ini... eh, novel ini di tengah jalan thorkuuuu....
semoga lolos ya thooor
🎶Sampai kapan kau gantung
Cerita cintaku memberi harapan🎶