NovelToon NovelToon
TRAPPED: Menjadi Istri Sang Antagonis

TRAPPED: Menjadi Istri Sang Antagonis

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mafia / Cinta Seiring Waktu / Reinkarnasi / Berbaikan
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: raintara

Tidak pernah terbayangkan dalam benak Alissa bahwa dia akan terjebak di dalam sebuah novel.

Menjadi istri pajangan dari antagonis yang mecintai adik kandungnya sendiri.

Istri antagonis yang akan mati di tangan suaminya sendiri, karena dicap sebagai penghalang antara sang antagonis dan adik kandung yang dicintainya.

"Aku ingin cerai!!" teriak Alissa lantang, tak menghiraukan tatapan tajam dari sang suami.

Sean terkekeh dingin. "Cerai? ingat ini Alissa, aku tidak akan pernah melepaskanmu bahkan jika kematian yang menjemput."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

9. Bosan?

Secara sembunyi-sembunyi, Alissa pergi ke ruangan kerja Sean. Untungnya laki-laki itu kini tengah pergi ke kantor sehingga dia bisa leluasa mencari surat pernikahannya dengan Sean.

"Kira-kira, di mana dia menyembunyikannya ya?" monolog Alissa memeriksa rak buku berisi buku-buku tebal.

"Ck, di sini juga tidak ada!" keluh perempuan itu ketika tidak menemukan apa yang dicarinya.

"Oh, mungkin di laci." Alissa berpindah ke meja kerja Sean. Berjongkok dan membuka laci untuk melakukan penggeledahan.

"Ck, juga tidak ada." decak Alissa kesal.

"Di mana dia menyembunyikannya Tuhan!"

Melakukan pencarian itu melelahkan. Alissa duduk pada kursi kerja Sean untuk beristirahat sejenak. Ia sandarkan punggungnya dan memainkan kursi layaknya anak kecil.

"Oh, jadi begini rasanya duduk di kursi putar." celetuk perempuan itu ketika kursi mulai bergerak sesuai dengan arahan tubuhnya.

"Ehem..ehem..." dehem Alissa.

Ia silangkan satu kakinya pada kakinya yang lain. Membuat tatapan angkuh sebagaimana Sean sering melakukannya.

"Dasar kau penggoda!" ujar perempuan itu dengan suara yang dibuat berat.

"Kau itu hanya budak pela-curku Alissa. Kau lupa hal sepenting itu?" setelah itu Alissa berdecih.

"Ki hinyi bidik pilicirki ilissi, ki lipi hil sipinting iti?" nyinyirnya dengan geraman tertahan.

"Dasar pria gila! Psikopat gila, bajingan!"

Puas mengatai suaminya sendiri, Alissa bangkit. Masih sedikit kesal, ia jatuhkan semua benda-benda yang berada di atas meja kerja laki-laki itu.

"Sudahlah, sebaiknya aku mencari surat itu di tempat lain. Mungkin memang dia tidak menyimpannya di sini." gumam Alissa setelah puas dengan apa yang telah diperbuatnya.

"Antagonis itu kan, tidak menganggap pernikahan ini. Jadi mungkin dia cuek dengan surat itu." Alissa berpikir di sela-sela langkahnya.

"Mungkinkah surat itu disimpan oleh Alissa asli? Di...kamarku?"

Seakan menemukan pencerahan, Alissa mempercepat langkahnya. Bisa saja tebakannya ini benar. Alissa yakin dia akan segera menemukan surat itu.

Setelahnya, ia akan segera mendaftarkan perceraiannya dan segera pergi dari rumah ini. Menjauhi malaikat mautnya secepat mungkin.

"Nyonya Alissa!"

Di tengah perjalanan, seorang pelayan memanggilnya. Terpaksa Alissa berhenti dan menatap pelayan itu bertanya.

"Ada apa?"

"Saya membuatkan susu untuk Nyonya. Silahkan di minum."

Mendengar itu, bibir Alissa tersungging jijik. Alissa benci susu. Ketika meminumnya dia akan mual-mual dan berakhir memuntahkan isi perutnya.

"Aku tidak suka susu!" tolak Alissa mentah-mentah.

"Tapi Tuan Sean memerintahkan saya untuk memastikan Nyonya meminum susu ini." ujar pelayan itu berharap Alissa dapat mengerti posisinya.

"Tinggal kau minum sendiri, lalu bilang jika aku sudah meminumnya. Kenapa harus ribet?" balas Alissa tidak mau tahu.

"Masalahnya, Tuan Sean akan tahu dan membunuhku!" lagi-lagi jeritan penuh tekanan itu hanya berani pelayan itu ucapkan di dalam hatinya.

"Nyonya saya mohon---

"Syutttt..." Alissa meletakan telunjuknya pada bibirnya. Memerintahkan pelayan itu untuk diam.

"Be.ri.sik." ujar perempuan itu malas.

"Daripada susu, tolong buatkan aku jus buah naga. Nanti kau antar ke kamarku ya!" ujar Alissa dan lalu melenggang pergi. Tanpa mempedulikan raut memelas yang pelayan itu tunjukkan.

"Nyonya, susunya bagaimana?!" seru pelayan itu panik saat Alissa mulai melangkah menjauhinya.

"Buat kau saja!"

Derita seorang pelayan. Apalagi dengan majikan yang dua-duanya tak waras. Yang satu hobi mengancam, yang satunya lagi hobi menyusahkan dan melawan.

Apa susahnya meminum segelas susu. Bukankah harusnya Nyonyanya itu senang karena akhirnya suaminya perhatian padanya.

Tidakkah istri tuannya itu tahu jika di sini bukan hanya pekerjaan, tapi nyawanya juga dipertaruhkan. Jika saja gajinya tidak besar, maka dia sudah lama mengundurkan diri dari pekerjaan ini.

Akhirnya pelayan itu hanya bisa menghela nafas pasrah. Ia tekan headset yang selalu terpasang di telinganya.

"Tuan, Nyonya tidak ingin minimum susu. Dia malah meminta dibuatkan jus buah naga."

"Dasar tidak becus. Aku benci berita kegagalan."

"Tapi Tuan---

"Buatkan apa yang dia minta. Akan ku urus kau nanti."

Bagaimana ini bisa menjadi salahnya. Pelayan itu menarik nafas menahan amarahnya. Mau melampiaskan marah pun tidak bisa. Karena seluruh pergerakan penghuni rumah ini selalu diawasi.

"Kau punya uang, kau punya kuasa." desah pelayan itu di dalam hatinya.

.

.

"Hahaha...Ben lihatlah dia. Sangat lucu sekali, hahaha..."

Asisten pribadi Sean yang bernama Ben itu memaksakan senyumnya saat sang atasan tertawa terbahak-bahak menatap iPad di genggaman. Tampang dingin Sean sangat tidak cocok dengan mimik seperti itu. Terlihat sangat...menyeramkan.

"Ck..ck..ck. Akhir-akhir ini dia sangat menggemaskan." Sean menggeleng pelan. Kembali memutar video cctv di ruang kerjanya.

Kepalanya ia sandarkan di tangan yang bertumpu pada paha. Anteng menatap layar yang menunjukan tingkah Alissa sedang memparodikan dirinya.

Mengingat apa yang dilakukan istri kecilnya itu, Sean terkekeh geli. Apakah Alissa pikir Sean seceroboh itu dengan tidak memakai keamanan di mansionnya.

Bukan hanya cctv, bahkan Sean memasang penyadap di setiap penjuru rumahnya. Oh, ayolah. Dia ini pembisnis besar. Penghianatan bisa terjadi kapan saja. Maka dari itu, Sean telah mengantisipasi semuanya.

"Jadi dia benar-benar ingin bercerai ya..." angguk Sean. Mulai sedikit percaya ketika tahu Alissa menggeledah ruang kerjanya untuk mencari surat pernikahan.

"Tapi kenapa tiba-tiba?" celetuknya penasaran.

Sepertinya baru kemarin, Alissa memakai pakaian se-xi dan menggodanya bak pela-cur. Berujar manja saat berbicara padanya seperti wanita haus belaian. Tersenyum manis saat menatapnya layaknya joker.

Tapi semenjak perempuan itu mengamuk dan melakukan percobaan bunuh diri dengan menyayat pergelangan tangannya, Alissa sedikit berubah.

Bicaranya ketus. Tatapannya nyalang. Dan selalu membicarakan tentang perceraian. Alissa yang sekarang, tampak jauh lebih...menggoda.

"Ben."

"Ya, Tuan?"

"Kau sudah menemukan informasi laki-laki bernama Shawn Mendes itu?" Sean penasaran. Seperti apa rupa laki-laki yang Alissa agung-agungkan itu.

"Belum Tuan. Saya masih harus mencocokkan beberapa hal lagi." lapor Ben apa adanya.

"Ck, kau ini lambat sekali. Gajimu ku potong dua puluh persen." decak Sean.

Sedangkan Ben. Laki-laki itu mati-matian menahan segala umpatannya. Oh, ayolah. Dirinya hanya belum menyelesaikan tugas bukan gagal menyelesaikan tugas. Kenapa gajinya yang menjadi korban.

"Ben."

"Ya, Tuan?" Ben memaksakan senyumnya. Sean yang melihat itu kembali mengatainya.

"Jangan tersenyum. Senyummu jelek."

"Oh, astaga Tuhan!"

"Maaf, Tuan. Ada yang bisa saya kerjakan?" balas Ben yang sudah mendatarkan wajahnya.

"Menurutmu, kenapa seorang perempuan tiba-tiba berubah?"

"Berubah...maksudnya bagaimana Tuan?" Ben mencoba memahami apa yang Sean ujarkan.

"Kau ini bodoh sekali!" lagi dan lagi. Tuannya itu mengejeknya.

"Jika biasanya dia selalu mencari perhatian lalu tiba-tiba bicaranya ketus dan sikapnya cuek. Menurutmu, perempuan itu kenapa?" entahlah, tapi mendadak dia ingin tahu.

Ben nampak berpikir sejenak. Meski sedikit aneh ketika atasannya bertanya hal semacam itu.

"Mungkin...dia bosan Tuan."

"Bosan?" satu alis Sean menaik. Tak suka dengan jawaban yang Ben berikan.

"Ya, ketika perempuan sudah bosan dengan laki-laki, biasanya dia akan mulai menjauh dan bersikap cuek. Berusaha membuat laki-laki itu tidak betah."

Benarkah....Alissa bosan padanya? Jika benar, mungkin otak Alissa sudah karatan.

1
Ahrarara17
Nanti dikabulin panik sendiri kamu, Alissa
Ahrarara17
Dih, gombal banget Sean
Ahrarara17
Wajar aja denial. Takut Sean bohong
Ahrarara17
Semangat nulisnya kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!