Alitza Zeefanya Bella, atau sering disapa Zee adalah seorang gadis cantik yang ceria. Seperti nama yang diberikan oleh orang tuanya yang berarti gadis cantik yang ceria yang selalu ada dalam lindungan Tuhan.
Hidupnya baik-baik saja, terlahir cantik serta besar di lingkungan keluarga kaya yang harmonis membuat dirinya tumbuh menjadi gadis ceria dan penuh kepedulian.
Semua baik-baik saja sampai dirinya harus kehilangan seluruh alasan kebahagiaan nya. Membuat dirinya harus bekerja untuk menghidupi dirinya dan seorang wanita tua yang menjadi pengasuhnya sejak bayi.
Bekerja didunia malam membuat dirinya dipandang miring oleh semua orang. Namun dirinya tak peduli, hanya dirinya yang tahu seperti apa sesungguhnya yang ia jalani.
Akankah nasib baik kembali berpihak padanya? atau justru kehidupannya semakin sulit?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novia_dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terluka
"Sumpah deh Zee.. eike benci banget ama tuh pere sinting". Maya masih mencak-mencak tak terima dengan perlakuan Sinta.
" Aku kan udah bilang sama kamu berkali-kali. Nggak usah ladenin orang kaya mbak Sinta. Kamu rugi sendiri nanti May.. " Omel Zee sambil menatap galak Maya.
"Dia yang mulai loh. Kok aku yang diomelin". Keluh Maya dengan bibir mengerucut.
Zee menghela nafas panjang. Menatap Maya dengan intens membuat Maya salah tingkah dan mengalihkan pandangannya kemanapun asal tidak bertemu tatap dengan Zee.
" Mbak Sinta tu orang nekat May.. jauhi masalah sama dia. Aku bukan takut sama dia, tapi aku cuma takut sahabat aku kenapa-kenapa ". Zee memegang tangan Maya.
" Aaaahhh so sweet banget sih yey.. " Maya memeluk Zee erat. Dalam hidupnya, kehadiran Zee seperti anugrah yang begitu besar. Ia sangat bersyukur mengenal Zee.
Keduanya melanjutkan langkahnya. Untung bos tempat mereka bekerja itu orang yang sangat baik dan pengertian. Jika tidak, mungkin sudah di pecat mereka itu karena sering ilang-ilangan saat bekerja.
"Zee.. " Yang dipanggil menoleh. Melihat Pras sang bartender menatap Zee.
"Iya mas.. " Sahut Zee
"Kamu dicari si bos. Kayanya temennya pada dateng". Zee mengangguk. Ia segera menuju ruang yang biasa bos nya pakai untuk pertemuan nya dengan para temannya.
" Kamu dari mana? ". Zee yang baru akan menaiki anak tangga menghentikan langkah nya saat suara sang bos terdengar.
" Maaf pak, tadi ke belakang dulu". Sahut Zee berbohong.
"Yasudah.. ruangan biasa. Bawa sekalian minumannya". Zee mengangguk patuh, ia kembali ke meja bartender untuk mengambil minuman yang diminta sang bos.
Setelahnya ia kembali melangkahkan kakinya menaiki satu persatu anak tangga dengan membawa nampan berisi minuman.
tok.. tok.. tok..
Mendengar sahutan dari dalam, Zee segera masuk kedalam ruangan. Hanya ada empat orang disana termasuk bosnya dan tunangan bos nya.
" Selamat malam pak Zacky, selamat malam pak Ben.. " Sapa Zee pada dua tamu bos nya.
"Malam Zee.. " Balas Zacky ramah. Sementara Ben hanya berdehem menanggapi sapaan Zee.
"Malam kak.. " Sapa Zee pada Aurel yang langsung menariknya duduk disamping wanita itu.
"Tadi aku cari kamu, tapi nggak ada". Aurel menatap Zee.
" Ooh.. tadi ke belakang dulu kak". Zee mempertahankan kebohongannya. Tak mungkin ia bilang jika menyusul Maya yang tengah ribut dengan Sinta.
"Zee.. " Yang dipanggil segera menoleh.
"Iya pak Zacky? ". Zee menatap Zacky yang memanggilnya.
" Nggak jadi deh.. ". Semua menatap Zacky dengan tatapan heran. Tak terkecuali Ben yang menatap asistennya dengan kedua alis nyaris bertaut.
" Ada yang bisa saya bantu pak? Atau pak Zacky butuh sesuatu? ". Tanya Zee lagi namun Zacky menggeleng.
Setelah itu, Zee sudah dikuasai oleh Aurel. Entah apa yang Aurel ceritakan pada Zee hingga beberapa kali gadis muda itu tertawa.
" Cantik.. " Gumam Ben tak sadar. Suaranya sangat pelan bahkan hampir tak terdengar.
Tiba-tiba Zee teringat Maya. Memikirkan Maya sedang apa, ia takut Maya kembali bersitegang dengan Sinta.
Zee meraba saku celananya mencari ponselnya, namun tak ada. Ia berpikir sejenak dan mengingat dimana terakhir memakai ponselnya.
"Kamu kenapa Zee? ". Tanya Aurel yang menyadari sikap Zee yang mendadak tidak tenang.
" Eh.. "
"Nggak apa-apa kak. Nyariin hp aku, tapi kayanya ketinggalan di loker". Sahut Zee sambil tersenyum menatap Aurel.
" Pak Leon maaf, saya iizin ambil ponsel dulu". Meskipun Leon selalu memberi keleluasaan padanya saat bekerja, namun Zee bukan orang yang tidak tahu diri.
"Apaan sih kamu panggil pak segala". Bukan Leon namun Aurel yang protes.
" Biar sopan kak.. gimanapun juga bang Leon tetep bos aku disini". Aurel mencebikkan bibirnya, tak setuju dengan Zee.
"Ambil dulu aja, sekalian kalo mau istirahat dulu". Leon menengahi pembicaraan kedua wanita cantik itu.
" Makasih pak.. hehe" Zee segera bangkit dari duduknya setelah mendapat izin dari bos nya.
"Mari pak Zacky, pak Ben.. " Keduanya mengangguk, setelahnya Zee keluar diiringi tatapan semua orang yang ada dalam ruangan tersebut.
Zee bergegas menuju loker untuk mengambil ponselnya. Ia ingin segera menghubungi Maya dan menanyakan dimana Maya kini.
"Mau kemana Zee? ". Tanya Pras yang berpapasan dengan Zee.
" Mau ambil hp mas.. kayanya ketinggalan di loker". Sahut Zee
"Oh ya sudah sana. Nggak usah lari-lari kamu, nanti jatuh". Peringat Pras penuh perhatian membuat Zee mengangguk dan tersenyum.
Pras tersenyum menatap punggung Zee yang kian menjauh dan akhirnya menghilang dari pandangannya.
Zee bersenggolan dengan seseorang saat sampai di depan ruang loker. Orang yang menabrak Zee terlihat panik dan ketakutan?
" Mbak Sinta.. " Sapa Zee sambil menatap wajah Sinta.
"Aneh.. " Gumam Zee saat Sinta justru berlari menjauh dari nya. Zee menatap Sinta dengan tatapan bingung. Tidak biasanya Sinta pergi begitu saja tanpa membuat keributan.
Dari jauh Zee melihat tangan Sinta yang seperti berdarah. Pikiran Zee tiba-tiba melayang pada sahabat nya, Maya.
"Maya..!! ". Zee bergegas masuk kedalam ruang loker, matanya menyisir setiap sudut ruangan yang cukup luas itu. Ia sudah melupakan tujuan awalnya datang kesana untuk apa.
" MAYAAAA!!!!! ". Teriakan Zee menggema di ruangan itu kala netranya menangkap sosok yang sangat ia kenal terkulai tak berdaya di lantai dengan darah disekitarnya. Ia membekap mulutnya yang terbuka.
" May!! May bangun May.. ini aku.. ini aku Zee May!! ". Zee histeris melihat kondisi Maya yang sudah setengah sadar.
" Toloooong!!!!" Teriak Zee sekuat tenaganya. Ia hanya berharap ada rekan kerja nya yang lewat dan mendengar teriakannya. Karena ruangan loker berada dibelakang, jelas tidak akan ada yang mendengar karena tertutup suara musik yang begitu keras.
"May!! Kamu denger aku kan!! ". Zee menepuk pipi Maya. Tapi perhatiannya teralihkan melihat perut Maya yang terus mengeluarkan darah segar.
Tanpa pikir panjang Zee melepas rompi nya. Menggulung nya dan kemudian ia gunakan untuk menekan luka Maya.
" May jangan bikin aku takut May". Zee menangis, ia benar-benar takut terjadi hal buruk pada Maya.
"TOLOOOONG!!! ". Zee kembali berteriak sekuat tenaga nya. Doa tak henti ia rapalkan agar segera ada bantuan.
" AAAAAKKKHHH. Maya!!!!". Zee menoleh saat mendengar teriakan, ia melihat rekannya berdiri dengan tubuh gemetar.
"M-M-Maya kenapa?! ". Tanyanya dengan suara gemetar, kepalanya berdenyut melihat darah dimana-mana. Bahkan kini tangan Zee sudah berlumuran darah.
" Nanti aja jelasinnya. Cepet cari bantuan sekarang Des!!! ". Pinta Zee mencoba menguasai diri. Kini nyawa Maya tergantung pada ketenangannya, ia tak mau Maya kenapa-kenapa.
" DESII!!! ". Sentak Zee saat melihat temannya justru diam terpaku ditempatnya.
" Maya butuh bantuan secepat nya!! Pak Leon ada di VIP 5 seperti biasa! Minta seseorang buat telepon ambulans. SEKARANG!!! ". Perintah Zee dengan nada tegas pada temannya yang bernama Desi itu.
"DESIII!!!! ". Tegur Zee keras membuat kesadaran Desi kembali.
" I-iya.. " Desi berlari keluar, pikirannya masih kacau hingga dirinya malah bingung sendiri harus apa dulu.
Desi memutuskan mencari bos tempatnya bekerja dulu. Dengan kepanikannya ia yang sebenarnya hafal dimana letak semua ruangan terlihat kebingungan.
plak!!!
Desi menampar pipinya sendiri. Nyawa Maya dalam bahaya dan akan semakin dalam bahaya jika dirinya lemot seperti ini.
Masa bodoh dengan omelan atau apapun itu yang nanti akan ia terima. Yang penting Maya segera ditolong, itu pikir Desi saat masuk kedalam ruangan VIP 5 tanpa mengetuk pintu lebih dulu.
"M-Maaf pak.. " Nafas Desi tersengal karena terus berlari sejak tadi bahkan saat menaiki tangga pun ia tetap berlari.
"Ma-M-Maya pak.. "
"Itu.. huh.. huh.. " Desi mencoba mengatur nafasnya dan mengendalikan dirinya yang gugup karena ditatap semua orang.
"Ada apa? Bicara yang jelas". Tegas Leon dengan wajah serius. Ia sudah berdiri menatap anak buahnya itu.
" Maya.. Zee pak.. itu" Aaah.. susah sekali Desi menyampaikan apa yang ingin ia katakan. Padahal sudah di ujung lidah, tapi kenapa sulit sekali. Nafasnya pun masih memburu.
"Kenapa Zee?! ". Leon sudah bangkit dari duduknya, pun dengan Aurel dan yang lain.
" Dimana dia? ". Tanya Leon sudah mulai melangkah keluar.
" Ruang loker.. " Setelah mendengar dimana keberadaan Zee, semua orang tanpa terkecuali segera berlari. Meninggalkan Desi sendiri yang masih mencoba mengatur nafasnya.
"Hah.. Hah.. lari lagi ini? ". Tanya gadis itu pada dirinya sendiri.
...¥¥¥°°°°¥¥¥...
...Nggak apa-apa Des lari juga. Itung-itung olahraga malam lah kan ya🤭😅...
...Mayaaaa... jangan end ya, tugas kamu masih banyak loh, apalagi kamu belum insaf.. jadi jangan buru-buru dulu ya🤭...
...Jangan lupa ritualnya readers sayang 💕💕 Like komennya jangan ketinggalan yaaa.....
...Sarangheyo readerskuuuu🫰🫰❤❤💋💋💋💋💋😍😘😘😘🤩🥰🤩🥰...