Adalah Mia, seorang perempuan yang cintanya dibenturkan pada restu, adat, dan pemikiran yang tak pernah benar-benar memberi ruang baginya.
Ia berdiri di persimpangan antara bertahan demi pernikahan yang ia perjuangkan, atau berbalik arah .
Di tengah perjalanan itu, tekanan tak lagi datang dalam bentuk pertanyaan. Sang mertua menghadirkan pihak ketiga, seolah menjadi jawaban atas ambisi yang selama ini dibungkus atas nama tradisi dan kelanjutan garis keluarga.
Mia dipaksa memilih mempertahankan cinta yang kian terhimpit, atau melepaskan semuanya sebelum ia benar-benar kehilangan dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seroja 86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PPM13
Namun setelah acara makan usai, suasana mendadak berubah. Semua orang terkejut saat seorang wanita muda, seumuran Mia, datang tergesa-gesa dari arah pintu depan.
Beberapa tamu saling pandang karena tidak ada yang mengenalnya.
Kebingungan itu terjawab ketika ibunya Johan yang menyadari kehadiran wanita tersebut segera menoleh ke arah pintu.
Wajahnya langsung berbinar.
“Eerrgh, Mey… masuk, sini, sini,” ujarnya antusias.
Ia menggandeng wanita bernama Mey itu masuk ke dalam ruangan.
“Maaf ya, Tante, macet tadi di jalan,” ujar Mey dengan napas sedikit terengah.
“Tidak apa-apa, bukan Jakarta namanya kalau tidak macet,” sahut ibu mertua Mia sambil tersenyum lebar.
Masih menggandeng Mey, ibunya Johan menghampiri Johan yang berdiri tak jauh dari sana.
“Jo, masih ingat tidak? Ini loh Mey, anaknya Tante Susan, teman sekolah kamu waktu SD,” katanya dengan nada bangga.
Johan tersenyum kaku lalu mengangguk pelan.
“Apa kabar?” sapa Mey sambil mengulurkan tangan.
“Baik,” jawab Johan singkat sambil menyambut uluran tangan itu dengan senyum tipis.
“Oh ya,kenalkan, ini istriku, Mia.”Lanjut Johan.
Senyum di wajah Mey sontak meredup begitu mendengar perkenalan itu. Meski begitu, ia tetap menyalami Mia sebagai bentuk sopan santun.
" Hallo, Mey. "
"Mia."
Acara masih berlanjut. Tawa dan canda terdengar di beberapa sudut ruangan. Kerabat saling bercengkerama, anak-anak berlarian, suasana tampak cair seperti pesta keluarga pada umumnya.
Namun Mia beberapa kali menangkap basah Mey melirik ke arah Johan. Bukan tanpa alasan. Ia menangkap sesuatu yang terasa ganjil dari sikap Mey.
Cara wanita itu berdiri tidak jauh dari Johan, caranya tertawa sedikit lebih lama, dan tatapannya yang sesekali jatuh ke arah suaminya, membuat dada Mia terasa tidak nyaman. Ia tidak mengatakan apa-apa, hanya menyimpannya sendiri.
Waktu semakin malam. Satu per satu tamu mulai berpamitan. Mia dan Johan juga ikut berdiri, menyalami tuan rumah dan kerabat yang masih ada. Saat melangkah menuju pintu, Mia sempat menoleh. Mey masih berada di ruang tengah, berbincang akrab dengan ibunya Johan, seolah tidak terburu-buru untuk pulang.
Perjalanan pulang berlangsung dalam diam. Lampu jalan berderet melewati kaca mobil. Johan mengulurkan tangannya, meraih tangan Mia, lalu meletakkannya di atas pahanya. Genggamannya hangat, sedikit lebih erat dari biasanya.
“Makasih ya, sayang,” ucap Johan pelan.
Mia menoleh.
“Makasih untuk apa?”
Johan menarik napas pendek.
“Makasih karena kamu bertahan dengan sikap Mama selama ini.”
Mia menatap lurus ke depan bibirnya membentuk senyum tipis
“Aku cuma berusaha, Jo.”
Mobil terus melaju, meninggalkan rumah itu bersama perasaan yang belum sempat mereka bicarakan.
Pagi datang seperti biasa. Cahaya matahari masuk melalui sela tirai kamar mereka. Mia sudah bangun lebih dulu, menyiapkan sarapan sederhana di dapur. Gerakannya tenang, tapi pikirannya tidak sepenuhnya hadir.
Beberapa potongan kejadian semalam masih terlintas, terutama tatapan Mey yang sesekali tertuju pada Johan.
Johan keluar dari kamar saat aroma kopi mulai memenuhi ruangan.
“Pagi,” sapanya sambil meraih cangkir.
“Pagi,” jawab Mia singkat.
Mereka sarapan berhadapan. Percakapan mengalir ringan, soal pekerjaan, soal rencana hari itu. Johan terlihat biasa saja, seolah tidak ada yang mengganjal. Mia memperhatikan wajah suaminya diam-diam, mencoba mencari sesuatu yang mungkin terlewat olehnya. Namun Johan tetap Johan yang ia kenal.
“Aku berangkat dulu,” ujar Johan setelah selesai makan.
“Iya, hati-hati,” sahut Mia.
Pintu tertutup. Rumah kembali sunyi. Mia membereskan meja makan, lalu bersiap ke kantor. Di perjalanan, ia berusaha menepis pikirannya sendiri. Ia tidak ingin menaruh curiga tanpa alasan. Namun perasaan tidak nyaman itu belum juga hilang.
Di kantor, Mia kembali tenggelam dalam pekerjaannya. Ia mencoba fokus, membiarkan angka dan layar komputer mengalihkan perhatiannya. Sesekali ponselnya menyala, notifikasi masuk.
Menjelang siang, saat Mia berdiri didalam pantry pikirannya kembali melayang ke satu hal akan sikap Mey yang berubah saat Johan mengenalkannya sebagai istrinya.
Ia menggeleng pelan, seolah menegur dirinya sendiri. Mungkin ia hanya terlalu lelah. Mungkin ia terlalu sensitif. Mia menarik napas panjang, lalu kembali ke mejanya, tanpa tahu bahwa perasaan kecil yang ia abaikan hari itu perlahan akan tumbuh menjadi sesuatu yang jauh lebih besar.
Hampir satu bulan berlalu sejak acara ulang tahun itu. Pagi itu mereka sedang libur kerja. Johan masih tertidur di samping Mia, napasnya teratur. Ponselnya tergeletak di sisi tempat tidur, layarnya menyala menandakan ada pesan masuk.
Tanpa sengaja, mata Mia menangkap nama yang tertera di layar.
“Halo Jo, ini nomor aku, Mey. Kamu kerja di mana sekarang?”
Tidak ada kata manis, tidak ada kalimat bernada pribadi. Namun pesan itu cukup membuat Mia terdiam. Pikirannya segera dipenuhi pertanyaan. Mengapa Mey tiba-tiba menghubungi Johan?
Dari mana ia mendapatkan nomor suaminya? Bukankah ia tahu Johan sudah beristri?
Berbagai kemungkinan berkelebat. Apakah mereka sempat bertemu setelah acara itu? Ataukah… wajah ibu mertuanya tiba-tiba melintas di benak Mia. Mama yang memberikan nomor Johan kepada Mey? Tapi untuk apa? Apa tujuannya?.
Mia mengusap wajahnya perlahan, lalu menarik napas panjang.
“Astagfirullah, aku tidak boleh suudzon,” gumamnya sambil menepuk dadanya pelan, berusaha menenangkan diri meski perasaan itu belum juga reda.
Mia meletakkan kembali ponsel suaminya ke posisi semula, lalu beranjak keluar kamar. Ia menuju dapur untuk menyiapkan sarapan sekaligus bekal makan siang mereka. Tangannya bergerak otomatis, pikirannya masih sibuk merangkai prasangka yang ia paksa untuk ditahan.
Tak lama, terdengar langkah kaki dari arah kamar.
“Cepat sekali kamu bangun, ?” suara Johan tiba-tiba terdengar dari belakang.
Mia sedikit terkejut. Ia menoleh, mendapati Johan sudah duduk di kursi meja makan sambil memeriksa ponselnya. Raut wajah suaminya tampak berubah, keningnya mengernyit tipis.
“Mey… siapa ini?” gumam Johan pelan, namun cukup jelas terdengar oleh Mia.
Mia berpura-pura tidak tahu, meski sebenarnya ia sudah membaca pesan itu lebih dulu.
“Kenapa, Jo?” tanyanya setenang mungkin.
“Ada yang kirim chat, tapi aku nggak kenal.”
“Ooh… coba saja telepon. Barangkali teman kantor atau siapa,” saran Mia bijak, meski dadanya mulai terasa sesak.
Johan mengangguk. Tak lama kemudian, ia menekan layar dan sambungan telepon terhubung, kali ini dengan loudspeaker aktif.
“Halo, maaf ini Mey siapa ya? Tahu dari mana nomor saya?” tanya Johan lugas.
Suara perempuan dari seberang terdengar ramah.
“Mey, teman SD kamu. Yang kemarin datang ke ulang tahunnya Mama kamu. Nomor ini aku dapat dari Mama kamu.”
“Oh… ada perlu apa ya?”
“Nggak ada kok, cuma pengin silaturahmi.”
“Ooh, ya sudah. Maaf ya, aku baru bangun,” jawab Johan singkat lalu menutup panggilan.
Mia mendengar semuanya dengan jelas. Jantungnya berdesir dugaannya benar. Ibu mertuanyalah yang memberikan nomor Johan pada Mey.