NovelToon NovelToon
Hantu Tampan Si Mesum

Hantu Tampan Si Mesum

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Dunia Lain / Spiritual / Hantu / Suami Hantu
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: Jing_Jing22

Angin Siang Itu Berhembus Cukup Kencang, Memainkan Helai Rambut Panjang Milik Jelita Yang Sedang Duduk Santai Di Selasar Universitas. Bagi Jelita, Dunia Hanya Sebatas Apa Yang Bisa Dilihat Oleh Mata Dan Logika. Baginya, Cerita Hantu Hanyalah Dongeng Pengantar Tidur Untuk Orang-Orang Penakut.​"Hari Ini Kita Gak Ada Kelas! Gimana Kalau Kita Ke Gedung Kosong Sebelah," Ajak Salah Satu Teman Jelita Yang Bernama Dinda. Matanya Berkilat Penuh Rencana Tersembunyi.​Jelita Mengangkat Alisnya Sebelah, Menatap Dinda Dengan Tatapan Remeh. "Buat Apa Kita Kesana? Kamu Mau Ngajak Mojok Ya?" Selidik Jelita Sambil Tersenyum Tipis.​"Kamu Kan Gak Pernah Takut Dan Gak Pernah Percaya Hal Kaya Gitu. Kita Mau Tantang Kamu Kesana Untuk Uji Nyali," Kata Dinda Tegas.​"Bener Juga! Lumayan Hiburan Di Saat Lagi Kelas Kosong," Sambung Ira Yang Tiba-Tiba Bergabung, Memberikan Dorongan Ekstra Agar Jelita Terpojok.​Jelita Tertawa Kecil, Sebuah Tawa Yang Mengandung Kesombongan. "Oke, Siapa Takut? Ayok Kita Kesana."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

Dinda semakin kalut. Di bawah remang lampu jalan yang berkedip-kedip, dua sosok pria muncul dari balik kabut yang tiba-tiba menebal. Mereka berdiri dengan tegap, mengenakan pakaian hitam klasik yang elegan, dengan aura dingin yang sanggup membekukan udara di sekitar. Wajah mereka luar biasa tampan, dengan pahatan rahang yang tegas dan mata yang memancarkan pendar cahaya kebiruan—persis seperti Arjuna.

​"Nona, Sang Pangeran meminta kami untuk memastikan kalian tidak mengganggu perjalanan Sang Ratu," ucap salah satu dari mereka dengan suara bariton yang halus namun berwibawa.

​"Aaaaaakkhhh! Pergi kalian!" Dinda menjerit histeris sambil bersembunyi di balik punggung Ira. Namun, di sela tangis ketakutannya, ia sempat melirik wajah kedua makhluk itu. "Dasar Arjuna sialan! Dia malah menyuruh makhluk lainnya datang menghampiri kita... kenapa kalian juga tampan-tampan begini, sih?! Hiks... hiks... Ini tidak adil!"

​Ira segera memasang posisi siaga, tangannya mencengkeram botol air suci dengan kuat. "Jangan mendekat! Siapa kalian sebenarnya?"

​"Kami adalah pelayan setia Sang Pangeran," sahut pria yang satunya lagi sambil membungkuk hormat, namun matanya tetap menatap tajam. "Nama saya Bimasena, dan ini kawan saya, Nakula. Tugas kami sederhana: menahan kalian di sini sampai fajar menyingsing."

Bimasena melangkah maju satu tindak. Seketika, permukaan aspal di bawah kakinya tertutup lapisan es tipis. Dinda yang melihat itu semakin menangis kencang sambil terus mengomel tidak keruan.

​"Jangan menangis, Nona manis. Air mata kalian hanya akan membuat malam ini terasa lebih dingin," bisik Nakula yang tiba-tiba sudah berada hanya beberapa jengkal di samping Dinda, membuat gadis itu hampir melompat saking kagetnya.

​"Jangan sentuh dia!" bentak Ira sambil menyiramkan sedikit air suci ke arah Nakula.

​Nakula menghindar dengan gerakan secepat kilat, namun setetes air itu sempat mengenai lengan bajunya dan mengeluarkan asap hitam. Seringai tipis muncul di wajah tampannya. "Air yang kuat... tapi tidak cukup kuat untuk menghentikan kami."

Dinda yang tadinya sangat takut, kini malah terlihat sangat bingung antara ingin lari atau terus menatap wajah tampan kedua utusan itu. "Ira... bagaimana ini? Mereka tampan sekali, tapi mereka hantu! Aku tidak mau mati di tangan laki-laki tampan yang sudah jadi mayat!"

​"Dinda, sadar!" teriak Ira. "Mereka cuma pengalih perhatian! Jelita sedang dibawa menuju gedung itu, dan jika kita tertahan di sini, Arjuna akan benar-benar mengambilnya!"

​Ira melihat ke sekeliling, mencari celah. Kedua utusan itu tidak menyerang, mereka hanya berdiri mengepung Ira dan Dinda dengan tatapan yang seolah-olah mengunci ruang gerak mereka. Arjuna benar-benar licik; ia tahu Dinda mudah teralihkan oleh ketampanan, dan ia mengirimkan "godaan" untuk menghambat langkah mereka.

Ira tidak membuang waktu. Saat Bimasena dan Nakula sedang sibuk memamerkan aura karismatik mereka, Ira sengaja menjatuhkan botol air sucinya. Begitu kedua makhluk itu melirik ke bawah, Ira justru mengeluarkan segenggam garam kasar yang sudah dicampur serbuk belerang dari saku jaketnya dan melemparkannya ke udara sambil merapalkan doa singkat yang diajarkan Kakek Wiryo.

​Blarr! Percikan cahaya keperakan meledak di depan mata kedua utusan itu, menciptakan tirai asap yang sangat pedih bagi makhluk halus.

​"Lari, Dinda! Sekarang!" teriak Ira sambil menarik paksa tangan sahabatnya.

​Mereka berlari tunggang-langgang menembus kegelapan, meninggalkan kepulan asap yang masih mengurung Bimasena dan Nakula. Beruntung, sebuah angkutan umum kosong lewat dan mereka segera melompat masuk tanpa memedulikan tatapan heran sang sopir.

​"Kau memang pintar, Ira! Tapi serius, kenapa hantu-hantu itu mesti tampan?!" celetuk Dinda di sela napasnya yang memburu. Ia merapikan rambutnya yang berantakan sambil menoleh ke belakang. "Apakah tidak ada manusia normal yang tampan seperti mereka? Kenapa yang kualitas super begitu malah sudah jadi almarhum ratusan tahun?"

​Ira hanya bisa menggelengkan kepala, tangannya mencengkeram lutut untuk mengatur napas. "Berhenti memikirkan ketampanan laki-laki, Dinda! Semua itu hanya godaan untuk menghambat kita. Arjuna sengaja mengirim mereka karena dia tahu titik lemahmu itu cuma satu: cowok tampan!"

​"Ya habisnya, Ira... matanya biru begitu, kan sayang kalau cuma buat nakut-nakutin," gumam Dinda, meski wajahnya tetap pucat karena sisa ketakutan.

​"Tujuan kita saat ini adalah Jelita!" tegas Ira, suaranya kembali mengeras. "Pikirkan nasib sahabatmu. Kalau kita terlambat, dia bukan cuma akan dicium seperti tadi pagi, tapi benar-benar akan dijadikan permaisuri di dunia sana. Kamu mau Jelita menghilang selamanya dari kampus hanya karena kamu sibuk mengagumi pelayan hantu?"

​Dinda langsung terdiam, ia menelan ludah dengan susah payah. Memori tentang Jelita yang dibawa pergi dengan taksi hitam gaib tadi kembali menghantam kesadarannya. "Benar... maaf, Ira. Ayo cepat! Pak Sopir, tolong lebih cepat ke arah gedung tua itu!"

Angkutan umum itu berhenti tepat di depan gerbang gedung tua yang kini tampak diselimuti cahaya rembulan yang tidak wajar. Langit di atas gedung itu berwarna ungu gelap, sangat kontras dengan bagian langit lainnya.

Taksi hitam gaib yang membawa Jelita sudah terparkir kosong di depan lobi. Pintu gedung yang besar dan tua itu terbuka lebar, mengeluarkan aroma melati dan darah yang sangat kuat.

Tidak ada suara apa pun dari dalam, namun mereka bisa melihat bayangan Jelita sedang berjalan pelan di koridor lantai satu, menuju tangga bawah tanah—tempat jantung kekuatan Arjuna berada.

"Dia sudah di dalam," bisik Ira, ia mengeluarkan sisa air suci yang ia simpan di botol kecil lainnya. "Ingat Dinda, apa pun yang kamu lihat di dalam, jangan pernah terpesona. Itu semua tipuan!"

"Aku tahu! Ira, aku mengerti, tapi mau bagaimana lagi? Aku selalu kalah kalau sudah terpesona oleh ketampanan seseorang!" celetuk Dinda membela diri, meskipun ia tetap berlari mengikuti langkah cepat Ira.

​"Berhenti bermain-main, Dinda! Ini soal nyawa dan jiwa Jelita!" tegas Ira tanpa menoleh, matanya lurus menatap lobi gedung yang tampak seperti mulut raksasa yang siap menelan mereka.

Sementara di dalam gedung tua itu, kenyataan telah bergeser sepenuhnya. Begitu Jelita melangkah melewati ambang pintu, debu dan sarang laba-laba menghilang, berganti dengan pilar-pilar marmer yang megah dan jajaran pelayan tak kasat mata yang membungkuk hormat di sepanjang koridor.

Jelita berjalan seperti dalam mimpi, gaunnya perlahan berubah menjadi kain sutra halus yang menjuntai indah. Di ujung aula bawah tanah yang kini berubah menjadi kamar peraduan kerajaan yang sangat mewah, Arjuna sudah menunggu.

​Pangeran itu berdiri dengan gagah. Ia tidak lagi memancarkan aura mengerikan, melainkan kehangatan yang memabukkan. Ia melangkah mendekat, lalu dengan lembut merengkuh pinggang Jelita, menarik tubuh gadis itu ke dalam dekapan dadanya yang bidang.

​Cup!

​Arjuna mendaratkan ciuman lembut namun penuh penekanan di kening Jelita. Kecupan itu terasa hangat, mengalirkan energi yang membuat Jelita kehilangan seluruh keinginannya untuk melawan.

​"Akhirnya kamu kembali, Ratu Kecilku," sapa Arjuna dengan suara bariton yang rendah dan bergetar penuh cinta. Ia tersenyum penuh kemenangan, menatap mata Jelita yang kini sayu dan sepenuhnya berada di bawah pengaruhnya.

1
Ani Suryani
merah merah karena hantu
Mingyu gf😘
Arjuna jahat
Mingyu gf😘
sadar jelita sadar
Stanalise (Deep)🖌️
Ya, kalau setannya kayak gini visualisasi nya siapa yang ga kepincut. Beneran 🐊 nih the mycth
Stanalise (Deep)🖌️
Tapi thor, sebenarnya nih si Jelita dia emang bisa nglihat atau ngga Thor? #Bertanya dengan nada lembut. 🥺
Greta Ela🦋🌺
Jangan woi. Hantu ini gak tahu tempat, dah tahu sekarang lagi jam kuliah malah diganggu
Greta Ela🦋🌺
Ya wajib lah dengerin dosen. Kocak amat lu
Greta Ela🦋🌺
Hantunya ganteng gini mah🤣
Greta Ela🦋🌺
Hantunya ini ngada2 ya🤣
Blueberry Solenne
Cape banget Ini yang Jadi temen-temennya, harus rebutan Jelita sama Hantu
Wida_Ast Jcy
tidak semudah itu juga kali. kalau teror berakhir otomatis ceritamu tamat donk. ya kan thor
Wida_Ast Jcy
Bukan masalah begitu jelita. namanya juga sahabat mungkin mereka ingin membantu. dan kesian harus membiarkan dirimu
studibivalvia
merinding tapi bikin terang-sang ya kan jel? 🤣
chemistrynana
ALAMAKK TAKUTNYA
arunika25
memangnya hantu tampan itu lebih menakutkan dari hantu biasa. suka posesif gitu padahal baru ketemu.😱
Ani Suryani
hantu cabul
CACASTAR
jujur cerita ini rada bikin merinding tapi campuran romantika saat penggambaran tokoh ya muncul..hantu kok tampan sih
CACASTAR
kenapa jadi gerah bacanya yaaa🤭
CACASTAR
kak Jing Jing ilustrasinya bikin salfok 😄
Blueberry Solenne
Leluhur si Jelitanya jahat banget, wajar lah si Arjuna nuntut haknya, eweh tapi serem ya bagaimana mungkin dua makhluk beda alam bersatu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!