NovelToon NovelToon
Pernikahan Weton Sang Pewaris Tunggal

Pernikahan Weton Sang Pewaris Tunggal

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Beda Dunia / Cinta Seiring Waktu / Kutukan / Romansa / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Realrf

“Mereka menikah bukan karena cinta, tapi karena hitungan. Namun, siapa sangka... justru hitungan Jawa itulah yang akhirnya menulis takdir mereka.

Radya Cokrodinoto, pewaris tunggal keluarga bangsawan modern yang masih memegang teguh adat Jawa, dipaksa menikah dengan Raras Inten, seorang penjual jamu pegel keliling yang sederhana, hanya karena hitungan weton.

Eyangnya percaya, hanya perempuan dengan weton seperti Raras yang bisa menetralkan nasib sial dan “tolak bala” besar yang akan menimpa Radya.

Bagaimana nasib Raras di pernikahan paksa ini? sementara Radya sudah punya kekasih yang teramat ia cintai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Realrf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ayunda dan sekutu baru

Sinta menelan ludah, jarinya melayang sejenak di atas tombol enter sebelum menekannya dengan tegas. Perintah Radya barusan bukan sekadar permintaan, melainkan dekret dingin yang tak terbantahkan.

Lima belas menit. Untuk menarik dan mengompilasi rekaman dari puluhan kamera selama tiga hari terakhir adalah tugas yang nyaris mustahil, tetapi kata ‘tidak’ , tidak ada dalam kamus saat berbicara dengan Radya Maheswara dalam mode seperti ini. Jaringan internal perusahaan mendengung, server bekerja keras di bawah tekanan perintahnya.

Di dalam ruangannya yang sunyi, Radya menunggu. Ia tidak duduk, melainkan berdiri di depan jendela kaca raksasa yang membentang dari lantai ke langit-langit, menatap lalu lintas Jakarta yang bergerak seperti aliran darah yang lambat di bawah sana. Pikirannya berpacu.

Seorang office girl. Seorang petugas kebersihan rendahan menemukan kesalahan fatal yang dilewatkan oleh timnya yang terdiri dari para lulusan terbaik dengan gaji miliaran.

Logikanya menjerit bahwa ini adalah sebuah kebetulan yang luar biasa. Sebuah keberuntungan buta yang menyelamatkan reputasinya. Mungkin gadis itu tidak sengaja melihatnya, mungkin ia pernah bekerja di administrasi sebelumnya, mungkin… mungkin… selalu ada penjelasan rasional.

Namun, di dasar perutnya, ada sesuatu yang mengganjal. Sesuatu yang terasa terlalu rapi, terlalu tepat waktu. Sama seperti serangkaian kesialan yang membawanya pada pernikahan terkutuk ini. Ia benci perasaan ini, perasaan bahwa ada variabel yang tidak bisa ia hitung.

Ping.

Sebuah notifikasi muncul di tablet yang tergeletak di mejanya. Lima belas menit, tepat. Sinta memang efisien. Radya berbalik, langkahnya mantap saat mendekati meja. Ia tidak merasakan antusiasme, hanya kejengkelan seorang ahli matematika yang menemukan kesalahan dalam rumusnya sendiri dan harus menelusurinya kembali dari awal. Ia menyentuh layar, dan puluhan jendela video kecil memenuhi layar tabletnya.

Wajah Rara yang polos dan biasa-biasa saja menatap balik dari salah satu jendela, tertangkap kamera saat sedang mengelap meja di lobi. Radya menyipitkan matanya, jarinya siap menekan tombol play.

***

“Aku sudah nggak tahan lagi, May! Aku bisa gila!” Suara Ayunda terdengar parau di ujung telepon, getarannya sarat akan frustrasi yang telah membusuk selama berminggu-minggu. Ia sedang mengemudikan mobilnya menembus kemacetan sore, tetapi pikirannya jauh dari jalanan.

Di seberang sana, suara Maya terdengar tenang, hampir terlalu tenang.

“Gila kenapa lagi, sih? Bukannya kemarin kamu bilang Radya mulai sering ngajak kamu makan bareng? Kalian juga masih kayak biasanya kan?”

“Makan sih iya! Tapi badannya doang yang di sana, pikirannya nggak tahu ke mana!” desis Ayunda, tangannya mencengkeram setir begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih.

“Dia kayak… kosong. Tiap aku coba bahas soal perempuan itu, dia langsung ganti topik atau marah-marah nggak jelas. Dia nggak pernah kayak gini sebelumnya, May. Dulu, aku adalah satu-satunya pusat dunianya. Sekarang? Aku kayak cuma pengalih perhatian, sial.”

“Sudah kubilang, kan? Lawanmu itu bukan cewek biasa, Yunda. Kamu pikir Eyang Putra yang kolot itu bakal milih orang sembarangan buat jadi ‘penangkal’ cucunya? Pasti ada ‘isinya’.”

Ayunda mendengus sinis.

“‘Isi’? Maksudmu pelet? Guna-guna? Ayolah, May, kita hidup di abad dua puluh satu. Aku ini lulusan luar negeri, aku percaya data dan analisis, bukan dupa dan kembang tujuh rupa.”

Hening sejenak. Maya seperti sedang menimbang kata-katanya.

“Oke, kalau gitu pakai datamu. Analisis. Dulu Radya milikmu seratus persen, kan? Logis, fokus, ambisius. Sejak perempuan itu datang, apa yang terjadi? Proyeknya berantakan, dia jadi emosional, dan dia mulai menjauh darimu. Datanya jelas, kan? Ada variabel baru yang merusak semua perhitunganmu. Kamu mau terus pakai cara logismu yang jelas-jelas gagal, atau kamu mau coba cara lain?”

Kata-kata Maya menusuk tepat di egonya yang terluka. Ayunda membenci kebenaran dalam kalimat itu. Semua strateginya, semua pendekatannya yang canggih, semua pesonanya, semuanya mental di hadapan seorang penjual jamu rendahan. Rasa terhina itu membakar lebih panas dari cemburu.

“Cara lain apa? Maksud kamu?” tanyanya, suaranya kini lebih rendah, nyaris berbisik.

"Tepat... seperti yang kamu pikirin, ini juga yang kamu cari beberapa hari lalu."

"Oke, kapan kita ke sana?"

“Aku jemput kamu di lobi apartemenmu. Setengah jam lagi,” jawab Maya.

“Pakai baju yang biasa aja, jangan yang mencolok. Dan siapkan mentalmu. Tempat yang mau kita datangi ini… bukan buat orang yang cengeng.”

Telepon ditutup bahkan sebelum Ayunda sempat menjawab. Ia mematikan pendingin udara di mobilnya, tiba-tiba merasa sesak. Jantungnya berdebar kencang, campuran antara takut, ragu, dan secercah harapan yang mengerikan.

Logikanya berteriak bahwa ini adalah ide terbodoh yang pernah ia pertimbangkan. Namun, bayangan Radya yang menatapnya dengan tatapan kosong, bayangan Raras yang mungkin sedang tersenyum menang di rumah megah itu, mendorongnya melewati batas kewarasan.

Ia memutar mobilnya di persimpangan berikutnya. Ia tidak pulang. Ia akan menemui Maya.

***

Gang sempit itu berbau apak, campuran antara comberan yang mampat, sampah basah, dan wangi samar bunga melati yang anehnya justru membuat mual. Rumah-rumah berimpitan, catnya mengelupas, kabel-kabel listrik menjuntai rendah seperti jaring laba-laba raksasa. Ini adalah sisi lain Jakarta yang berusaha dilupakan oleh orang-orang seperti Ayunda.

“Di sini tempatnya?” bisik Ayunda pada Maya, tangannya tanpa sadar meremas ujung blazernya yang mahal.

“Sstt, jangan banyak omong,” balas Maya, menuntunnya melewati beberapa belokan lagi hingga mereka berhenti di depan sebuah rumah kayu kecil yang tampak lebih tua dari yang lain. Tidak ada yang istimewa, kecuali sebuah sangkar burung perkutut yang tergantung di teras depan, diam tak bersuara.

Maya mengetuk pintu tiga kali dengan pola yang aneh. Pintu itu berderit terbuka dengan sendirinya. Bagian dalamnya gelap, hanya diterangi oleh beberapa lilin yang berkelip di sudut-sudut ruangan, menebarkan bayangan-bayangan menari yang distortif. Aroma dupa yang pekat langsung menyerbu indra penciuman, begitu kuat hingga membuat mata Ayunda berair.

Seorang pria tua duduk bersila di atas tikar pandan di tengah ruangan. Tubuhnya kurus kering, hanya berbalut sarung kusam yang melilit pinggangnya. Rambutnya putih dan tipis, tetapi matanya… matanya hitam pekat tanpa dasar, seolah bisa menelan semua cahaya di ruangan itu.

“Sudah kuduga kau akan datang, Nona dari menara kaca,” kata pria itu, suaranya serak dan kering seperti daun tembakau. Ia sama sekali tidak melihat ke arah Maya, tatapannya terkunci lurus pada Ayunda.

Ayunda merasakan seluruh udara di paru-parunya tersedot keluar. Bagaimana bisa pria ini…

“Dia Mbah Jagaraga,” bisik Maya, mendorong punggung Ayunda pelan agar maju.

“Ceritakan masalahmu.”

Ayunda melangkah ragu, menjaga jarak aman. Ia mencoba mengumpulkan sisa-sisa arogansinya.

“Saya Ayunda… saya dengar Mbah bisa membantu menyelesaikan… masalah pelik.”

Mbah Jagaraga tersenyum tipis, senyum yang tidak mencapai matanya.

“Masalahmu bukan pelik. Masalahmu sederhana saja. Aku tahu hatimu menginginkan sesuatu yang bukan lagi hakmu.”

“Dia hak saya!” sela Ayunda cepat, suaranya meninggi.

“Perempuan itu yang merebutnya! Dia menggunakan cara kotor, saya yakin itu!”

“Semua cara adalah cara. Hanya niat yang membuatnya bersih atau kotor,” sahut si dukun dengan tenang. Ia menggeser sebuah kotak kayu kecil di depannya.

“Kau datang untuk mengambil kembali milikmu. Dan kau ingin sainganmu menderita. Bukan begitu?”

Ayunda menelan ludah. Pria ini seolah membaca pikirannya seperti buku terbuka. Ia mengangguk kaku.

“Saya mau Radya kembali seperti dulu. Saya mau dia hanya melihat saya. Dan saya mau… saya mau dia jijik setiap kali melihat perempuan itu. Saya mau dia membencinya.”

Keheningan yang pekat menyelimuti ruangan. Mbah Jagaraga mengangguk-angguk perlahan, seolah permintaan itu adalah hal paling wajar di dunia.

“Bisa diatur,” katanya. Ia membuka kotak kayu itu. Di dalamnya, terbaring sebungkus kain mori putih kecil.

“Di dalam sini ada serbuk tulang Jangkrik Kalung. Sebarkan sedikit di bawah ranjangnya, di sudut-sudut kamarnya. Jangan banyak-banyak, cukup seujung kuku.”

Mata Ayunda terpaku pada bungkusan itu. Benda kecil itu terasa seperti pusat dari semua energi gelap di ruangan ini.

“Apa… apa efeknya?”

“Ini pelet pemikat biasa yang membuat laki-laki jadi bodoh,” jelas Mbah Jagaraga.

“Ini ‘Pelet Benci’. Energi di dalamnya akan mengacaukan logikanya. Setiap kali ia melihat targetmu, otaknya akan mengirim sinyal bahaya dan muak. Ia akan melihat perempuan itu seperti melihat bangkai busuk. Sebaliknya, saat ia melihatmu, serbuk ini akan membuatnya merasa tenang dan aman. Ia akan lari dari nerakanya, dan menemukan surga di pelukanmu.”

Penjelasan itu begitu gamblang, begitu mengerikan, sekaligus begitu menggiurkan. Ini adalah solusi instan untuk semua rasa sakit hatinya. Logika dan moralitas yang selama ini ia pegang teguh terasa begitu rapuh, begitu tidak berguna.

“Benar seampuh itu Mbah?" Mata Ayunda berbinar-binar.

"Berapa biaya untuk benda seampuh ini?” tanya Ayunda, suaranya bergetar karena antisipasi.

“Sebutkan saja harganya.”

Mbah Jagaraga tertawa pelan, tawa serak yang membuat bulu kuduk meremang.

“Uangmu tidak laku di sini, Nona. Jin-jin peliharaanku tidak makan kertas bergambar.”

“Lalu… Mbah mau apa?”

Si dukun mencondongkan tubuhnya ke depan, cahaya lilin menyoroti wajahnya yang keriput, membuat matanya tampak semakin dalam.

“Aku butuh mahar. Sebuah medium. Sesuatu yang membawa energi murni dari sumber perlindungan laki-laki itu. Sesuatu yang bisa kujadikan gerbang untuk masuk.”

“Saya tidak mengerti,” kata Ayunda, bingung.

“Lelaki yang menjadi kau Ingin itu berasal dari Keluarga Cokrodinoto kan, Cokroaminoto itu kuat sangat kuat. Perlindungannya berlapis-lapis, dari tanah leluhur dan pusaka yang dijaga,” desis Mbah Jagaraga, seperti sedang kehausan.

“Kau harus membawakanku kuncinya. Sesuatu yang hidup, yang telah menyerap energi rumah itu selama puluhan tahun.”

Ia berhenti sejenak, membiarkan kata-katanya meresap ke dalam benak Ayunda yang panik. Lalu, dengan bisikan kering yang terdengar seperti gesekan kulit ular, ia melanjutkan.

“Bawakan aku segenggam tanah yang kau ambil tepat dari bawah tiang utama paviliun tua mereka. Dan…”

1
Vay
♥️♥️♥️♥️♥️
Vay
💙💙💙💙
Vay
❤️❤️❤️❤️
Vay
♥️♥️♥️♥️
Vay
💙💙💙💙
Vay
♥️♥️♥️♥️
Vay
❤️❤️❤️❤️
Vay
💜💜💜💜
Vay
💙💙💙💙
Vay
💜💜💜💜
juwita
iih ko bayu tau sih
juwita
pdhal g ush di tolong Raras biar bangkrut sekalian perusahaan. klo udh kere ap si ayunda mau sm dia
juwita
waah ternyata bayu org jahat. radya sm. eyangnya miara ular
juwita
semoga g berhasil ada yg lindungi raras
juwita
jahat si bayu mgkn musuh dlm selimut dia
Vay
💜💜💜💜
Vay
❤️❤️❤️❤️
Vay
♥️♥️♥️♥️
Vay
💜💜💜💜
Vay
❤️❤️❤️❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!