Sejak kecil, hidup Nadira tak pernah benar-benar aman. Jaka—mantan yang terlalu obsesif—menjadi bayangan gelap pertama yang menjeratnya. Keenan datang sesudahnya, lembut dan perhatian, tapi jauh di dalam hati Nadira tahu: perhatian tidak selalu cukup untuk menyembuhkan luka.
Lalu hadir Nalen. Seseorang yang membuat Nadira untuk pertama kalinya merasa dicintai tanpa syarat. Namun ketika ia mulai percaya bahwa hidupnya bisa berubah… justru pada malam hujan itu, dunia Nadira hancur di tangan orang yang seharusnya melindunginya.
Erwin. Sepupunya sendiri.
Pria yang memaksanya, merobek pakaiannya, membungkam teriakannya, menggagahi tubuh yang bahkan belum mengerti bagaimana cara melawan. Malam itu mencuri segalanya—harga diri, keamanan, suara, dan masa depan Nadira.
Tak ada pelukan yang cukup kuat untuk menghapus ingatan itu. Tidak Jaka, tidak Keenan… bahkan tidak Nalen yang datang paling akhir, saat semuanya sudah terlambat.
Yang tersisa hanyalah Nadira—dengan tubuh memar, jiwa koyak, dan hidup yang terus memaksanya berdiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim Varesta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sakit
🦋
Mengikuti begitu banyak perkemahan dan perlombaan membuat Nadira merasa seperti hidupnya punya arti.
Setiap kali namanya dipanggil sebagai pemenang, ketika piala itu diserahkan ke tangannya, ada sensasi hangat yang menjalar di dada, rasa bangga yang benar-benar tulus. Ia jarang mendapat pujian di rumah, jadi kemenangan-kemenangan itu adalah satu-satunya tempat di mana ia merasa dihargai.
Tapi tubuh… tidak pernah bisa berbohong.
Rambutnya mulai rontok lebih banyak. Napasnya sering memburu. Kadang matanya terasa gelap untuk sesaat.
Ia mengabaikannya. Ia pikir itu hanya rasa lelah yang biasa. Lagi pula, siapa yang akan mengurus semuanya kalau ia istirahat? Meskipun hanya sejenak
Rumah itu tidak pernah memberi ruang untuk yang namanya 'sakit'.
***
Pagi itu, tubuh Nadira akhirnya menyerah.
Ia baru selesai menyapu halaman ketika lututnya tiba-tiba melemas. Dunia bergeser. Semua warna hilang, digantikan putih pekat yang menyilaukan.
"Ah…" Nadira memegang sisi meja dapur, tapi tangannya terpeleset.
BRUK!
Tubuhnya jatuh menghantam lantai. Kepalanya terbentur ringan, tapi cukup membuatnya meringis. Napasnya memburu seperti habis berlari, padahal ia hanya berdiri.
Tangannya dingin. Kakinya kebas. Keringat dingin membanjiri pelipisnya.
Ia mencoba bangun, tapi tubuhnya menolak.
Pandangan Nadira berdenyut—bergerak maju mundur, seperti kamera yang gagal fokus. Di antara rasa sakit itu muncul kenyataan bahwa ia tidak bisa mengikuti perkemahan terakhir.
Itu yang paling merobek hatinya. Ia berjuang keras berbulan-bulan. Ia selalu hadir latihan meski tubuhnya remuk. Ia bahkan mengabaikan tugas rumah demi tampil sebaik mungkin.
Dan sekarang… semua usahanya terhenti begitu saja.
Nadira memejamkan mata. "Sial…" bisiknya pelan.
Tapi meski tubuhnya rebah, tak ada satu pun yang menghampiri dan berkata, "Dira, istirahatlah."
Tidak ada. Yang dia dapat justru suara dari ruang tengah:
"DIRA! LANTAI MASIH KOTOR!"
"KAIN DI MESIN CUCI BELUM KAMU JEMUR!"
"DIRA PIRING MENUMPUK!"
Semua tuntutan. Semua beban yang tidak pernah berkurang.
Jadi, dengan tubuh menggigil, Nadira menyeret dirinya ke kamar mandi. Ia memeras sisa tenaga yang ia punya untuk mencuci pakaian. Setiap putaran tangannya seperti dicabut ototnya. Tapi ia terus melanjutkan.
Bajunya basah oleh keringat dingin. Tangan kanannya bergetar tak terkendali. Suaranya hilang.
Ketika ia selesai, ia nyaris pingsan lagi. Ia bersandar pada wastafel, menatap wajahnya di cermin.
Pucat.
Kosong.
Mati rasa.
Ada dua obat di meja makan—entah milik siapa, entah untuk apa. Tubuhnya sangat menjerit, otaknya berdenyut seperti digedor dari dalam.
Ia lelah berpikir, ia lelah mendengar, ia lelah hidup di rumah itu.
Tanpa membaca aturannya, ia meraih kedua obat itu dan menelannya sekaligus. Dengan air seteguk atau mungkin tidak sampai seteguk.
Saat itu yang ada di kepalanya hanya satu hal 'Biar sakitnya hilang sebentar aja…'
Tapi obat bukan penyembuh. Itu awal dari bencana.
Lima belas menit kemudian, tubuhnya mulai goyah. Dunia berputar hebat. Lantai seperti bergelombang.
"Kenapa… aku… pusing banget…"
Ia memegang ujung meja, tapi tangannya terpeleset.
Brukk dan semuanya gelap.
Tubuh Nadira menumbuk lantai dengan suara samar. Lengan kirinya tertekuk tak natural. Matanya terpejam rapat.
Tidak ada yang melihat. Tidak ada yang peduli.
Rumah itu sunyi. Kecuali suara jam dinding yang berdetak tak tahu tragedi apa yang sedang terjadi di bawahnya.
Namun di balik dinding, ada Erwin yang memperhatikan Nadira dengan tatapan dinginnya. Tanpa ada niatan untuk membantu
***
Beberapa hari kemudian, setelah demam tinggi, muntah-muntah, dan tubuhnya rasanya tak ubahnya mayat hidup, Nadira akhirnya membaik.
Tidak sepenuhnya, tapi cukup untuk berdiri dan kembali ke sekolah.
Ia datang dengan wajah pucat. Kakinya masih goyah. Tapi ia tetap tersenyum kecil setiap kali temannya menyapa.
Upacara penyerahan piala pun dimulai. Nama Nadira dipanggil oleh pembina.
"Dua piala ini berkat kerja keras Nadira," ucap gurunya dengan senyum bangga.
Tepuk tangan menggema.
Nadira menunduk, mencoba tersenyum. Ada sesuatu di dadanya yang menghangat, rasa bangga kecil yang membuatnya bertahan selama ini.
Tapi di balik itu semua… tubuhnya masih sakit. Ia tahu itu dan ia bisa merasa.
Namun senyum itu tetap ia tahan, meski tipis.
Dari kejauhan, seseorang memperhatikannya. Seorang siswa laki-laki bersandar di depan kelas, tas di bahu, rambut sedikit berantakan tertiup angin.
Keenan.
Ia memperhatikan Nadira dengan pandangan aneh, bukan sekadar memperhatikan, tapi seperti mencari sesuatu yang hilang.
Biasanya Nadira selalu melirik ke arahnya. Kadang tanpa sengaja. Kadang sambil tersenyum kecil. Kadang sekadar memandangnya lama tanpa sadar bahwa Keenan memperhatikan balik.
Tapi beberapa minggu terakhir… Tidak ada tatapan itu. Tidak ada senyum itu. Tidak ada perhatian itu.
Nadira… menjauh. Dan untuk pertama kalinya, Keenan merasa itu sangat mengganggu.
"Kenapa sih? Kok Nadira nggak pernah lihat aku lagi?" gumamnya tanpa sadar.
Teman-temannya yang sedang nongkrong di dekatnya menoleh.
"Kenapa? Cariin Nadira?"
"Wah, ada apa nih, Ken?"
Keenan menggeleng cepat. "Bukan gitu. Cuma… dia keliatan beda. Kalian liat nggak?"
Daren, yang sedang membuka bekal, nyeletuk santai, "Lah kamu nggak tau? Nadira udah punya pacar."
Keenan langsung menegakkan tubuh.
"APA?*
Suara itu terlalu keras sampai beberapa orang menoleh. Keenan menurunkan volume suaranya buru-buru.
"Pacar?"
"Iya," jawab Daren datar. "Dari desa sebelah. Yang deket pesisir. Namanya Jaka, kalo nggak salah."
Jaka.
Nama itu jatuh seperti batu ke dalam dada Keenan.
Ia tidak marah. Tidak cemburu.
Namun ada sensasi aneh, seperti ditarik dari dalam. Seperti kehilangan sesuatu yang bahkan belum sempat ia genggam.
Ia menelan ludah. "Sejak kapan?"
"Tahun lalu katanya. Pacar pertamanya."
Keenan menatap tanah.
Pacar.
Jaka.
Nadira tidak memperhatikannya lagi karena… ada orang lain?
Ada sesuatu yang menusuk di dadanya, tidak besar tapi cukup untuk membuatnya tersadar.
Selama ini, Keenan tidak pernah benar-benar memperhatikan Nadira. Ia hanya menerima kehadirannya. Tatapannya. Senyum kecilnya. Perhatian-perhatian yang Nadira berikan tanpa ia sadari.
Dan ketika semua itu hilang… Ia baru merasa ada kekosongan aneh di dalam dirinya.
"Jadi gitu…" gumam Keenan lirih.
Sementara itu, di dalam kelas, Nadira duduk diam sambil memegang piala kecil di pangkuannya.
Tangannya gemetar halus. Matanya merah, bukan karena menangis, tapi karena kurang tidur dan tubuh yang belum pulih sepenuhnya.
Ia tersenyum pada Izarra, Wilona dan Vanya, tapi tidak mencapai matanya.
Ia mencoba bercanda, tapi suara tawanya patah.
Karena di dalam dirinya…
Nadira sedang berjuang menyatukan pecahan-pecahan dirinya yang retak, retakan dari sakit fisik, tekanan rumah, dan hubungan masa lalu yang tak pernah benar-benar sembuh.
Ia tidak tahu seseorang diam-diam memperhatikannya dengan cara berbeda. Tapi ia tidak tahu ada hati yang mulai menangisi jaraknya.
Yang ia tahu hanyalah satu:
Hidup terus bergerak. Dan ia harus bertahan apapun kondisinya dan bagaimanapun caranya.
Walaupun setiap hari rasanya seperti menunggu hujan badai lain yang siap meruntuhkannya lagi.